PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 185


__ADS_3

Dengan mulut yang terbungkam, Maura dan Erland turun dari lantai dua rumah kedua orangtua Maura tersebut.


Keterdiaman Maura ini tentunya sudah tidak membuat Erland kaget lagi, pasalnya akhir-akhir ini Maura memang sering sekali mendiami dirinya jika mood istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Dan cara satu-satunya, Erland juga harus diam karena jika ia berbicara dengan Maura yang ada istrinya itu justru akan marah-marah tidak jelas. Dan Erland baru akan bicara jika ia mendengar gerutuan Maura yang biasanya mengatakan jika dirinya tidak peka dan lain sebagainya.


Sesampainya mereka berdua di lantai satu, mereka langsung di sambut dengan Mama Dian yang tengah bersantai di ruang keluarga.


"Lho lho lho, ini kalian berdua mau kemana?" tanya Mama Dian sembari melangkahkan kakinya mendekati sepasang suami istri tersebut.


Erland melirik kearah Maura, menunggu apakah istrinya itu menjawab pertanyaan dari Mama Dian atau tidak. Tapi setelah beberapa saat, bibir Maura tidak memperlihatkan tanda-tanda jika perempuan itu ingin bersuara, Erland menghela nafas. Dan dengan memperlihatkan senyumannya Erland menjawab, "Kita mau memastikan sesuatu Ma."


Mama Dian mengerutkan keningnya.


"Sesuatu? Sesuatu apa itu?" tanya Mama Dian dengan kepo.


Saat Erland ingin menjawab lagi, niatannya itu ia hentikan saat Maura lebih dulu berkata, "Mama kepo banget deh. Kalau mau tanya-tanya nanti aja jangan sekarang. Karena kalau sekarang waktunya tidak pas dan Mama akan mengulur waktu kita untuk pergi karena Erland setelah ini juga harus pergi bekerja. Jadi simpan dulu semua pertanyaan Mama itu dan kita pamit pergi dulu."


Maura meraih tangan Mama Dian, mengecup sekilas punggung tangan Mama Dian kemudian setelahnya ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam rumah tersebut.


Mama Dian yang melihat tingkah anaknya pun ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sedangkan Erland, ia merasa tak enak hati dengan mertuanya itu. Ya walaupun Maura putri kandung Mama Dian, tetap saja tanggung jawab Maura saat ini berada di tangan Erland. Jadi semua tingkah Maura saat ini berarti salah dia juga karena belum bisa mendidik Maura dengan baik.


"Maafin Maura ya Ma. Dia lagi badmood soalnya. Maaf kalau dia tadi tidak sopan ke Mama," ucap Erland tentunya membuat Mama Dian langsung menolehkan kepalanya kearah sang menantu.


"Ehhh kenapa kamu yang meminta maaf sama Mama? Sikap Maura yang seperti tadi sudah menjadi makanan Mama sehari-hari dulu. Bahkan dulu lebih parah dari ini. Jadi kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Dan jangan pernah berpikir jika kamu gagal mendidik Maura karena semua itu salah besar. Kamu sudah berhasil merubah dia jauh lebih baik dari dia yang dulu. Terimakasih ya nak, Mama tidak tau akan berbuat apa untuk merubah Maura jika kamu tidak datang dan dengan berani meminta dia untuk kamu jadikan istri. Bahkan dengan mantap kamu mau membantu Mama sama Papa untuk mendidik dia. Dan hasil didikan kamu tidak mengecewakan Mama ataupun Papa. Kita berdua malah bersyukur memiliki menantu seperti kamu. Terimakasih ya nak, terimakasih," ujar Mama Dian sembari mengelus lengan Erland.

__ADS_1


Erland yang mendengar ucapan dari Mama Dian pun ia hanya bisa tersenyum untuk menanggapinya.


"Jaga Maura terus ya nak. Didik dia agar menjadi manusia lebih baik lagi," sambung Mama Dian yang diangguki oleh Erland.


"Erland akan usahakan Ma. Ya sudah kalau begitu Erland pamit dulu ya. Takut Maura nanti marah kalau Erland belum juga menyusul dia," ujar Erland sembari meraih tangan Mama Dian lalu mengecupnya.


"Assalamualaikum Ma. Erland sama Maura pergi dulu," pamit Erland yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Mama Dian, "Waalaikumsalam."


Erland yang melihat anggukan dan balasan salam itupun ia melangkahkan kakinya, meninggalkan Mama Dian yang melihat kepergian sang menantu. Sampai saat Erland sudah membuka pintu utama, Mama Dian baru sadar akan sesuatu sehingga dirinya berteriak, "Kamu dan Maura tidak mau sarapan dulu?! Kalian belum sarapan lho!"


Erland menolehkan kepalanya kearah Mama Dian, "Maaf untuk hari ini Erland sama Maura sarapan di luar saja Ma. Waktunya tidak akan cukup soalnya."


"Oh begitu ya. Ya sudah kalau begitu pergilah. Hati-hati di jalan," ujar Mama Dian.


"Baik Ma. Erland pergi," ucap Erland sebelum dirinya akhirnya keluar dari dalam rumah tersebut.


"Lama banget sih! Yang nungguin sampai berjamur," ujar Maura dengan ketus.


Tapi Erland tidak marah, ia justru memperlihatkan senyumannya, "Maaf sayang, sudah membuat kamu menunggu lama."


Maura mencebikkan bibirnya, "Kalau begitu tunggu apa lagi? Berangkat sekarang juga!"


Perintah dari Maura tadi langsung di laksanakan oleh Erland. Dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mobil itu membelah jalanan ibu kota yang sudah padat saja dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.


Selama perjalanan, Maura maupun Erland tak saling tukar suara. Mereka terus diam satu sama lain dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya mobil yang di kendarai oleh Erland itu telah sampai di parkiran mobil di rumah sakit milik Kakak pertama Erland, siapa lagi jika bukan Adam.

__ADS_1


Tanpa menunggu Erland membukakan pintu untuknya terlebih dulu, Maura justru langsung turun kala mesin mobil Erland matikan, bahkan sebelum Erland keluar.


Entah untuk yang ke berapa Erland pagi ini sudah menghela nafas agar tak terpancing emosinya, kala menghadapi Maura yang tengah mode menyebalkan itu.


"Huh sabar Erland sabar. Kalau sabar pasti semakin di sayang istri," gumam Erland dengan mengelus dadanya. Lalu setelahnya barulah Erland keluar dari dalam mobilnya. Dan segara mendekati Maura.


"Masuk sekarang yuk," ucap Erland masih dalam mode lembut. Maura hanya menatapnya sekilas saja sebelum dirinya melangkahkan kakinya lebih dulu dari Erland yang sepertinya kesabarannya tengah di uji sekarang ini.


Tanpa mendaftarkan identitas Maura terlebih dahulu di tempat pendaftaran, keduanya langsung pergi ke ruang dokter khusus kandungan karena sebelum pergi ke rumah sakit tersebut, Erland tadi sempat menelepon Adam, meminta bantuan ke Kakaknya itu untuk melakukan pendaftaran terlebih dahulu dengan atas nama Maura. Awalnya Adam sangat penasaran, ingin bertanya ada apa dengan adik iparnya itu. Tapi kekepoan Adam masih bisa ia tahan. Toh cepat atau lambat ia akan tau sendiri saat Erland bercerita nanti di grup keluarga mereka.


Kedatangan sepasang suami istri itu tentunya tak lepas dari pandangan para suster ataupun dokter yang pagi-pagi sudah sangat sibuk itu.


Maura yang menangkap jika tatapan dari para kaum hawa itu tentunya bukan karena melihat keserasian diantara mereka dua melainkan mereka hanya melihat keindahan atas pahatan indah di wajah Erland itu. Dan tentunya hal tersebut membuat Maura tak senang melihatnya.


"Lain kali kalau mau pergi keluar rumah pakai masker sama kacamata hitam kalau perlu pakai topeng sekalian," sindir Maura yang otomatis membuat Erland menolehkan kepalanya kearah Maura.


"Hmmm apa sayang? Kamu bilang apa tadi? Aku tidak mendengarnya," ujar Erland tentunya bohong karena tadi dengan sangat jelas ia mendengar semua perkataan Maura.


Maura menatap tajam kearah Erland. Tapi tak urung dirinya mengulang ucapannya tadi, "Lain kali kalau mau pergi keluar rumah pakai masker sama kacamata hitam kalau perlu pakai topeng sekalian."


Erland tersenyum, ia tau jika istrinya saat ini tengah cemburu kepadanya. Sehingga tanpa melihat situasi dan kondisi di sekitarnya, Erland meraih pinggang Maura dan dengan cepat laki-laki tersebut mencuri kecupan tepat di bibir Maura. Ia ingin memperlihatkan ke semua orang yang saat ini menatapnya penuh puja itu jika dirinya sudah punya istri tanpa harus mengumumkannya dengan suara.


Semua orang yang melihat adegan itu mau tak mau mereka menahan teriakan histeris mereka.


Sedangkan Maura, ia terbengong, otaknya itu masih loading untuk mencerna apa yang tengah terjadi tadi.

__ADS_1


Dan tanpa mereka ketahui, adegan tadi juga dilihat oleh sepasang mata seseorang yang saat ini tengah mengepalkan tangannya.


__ADS_2