
Maura tampak terdiam setelah mendengar penuturan dari Erland tadi. Sepertinya ia membenarkan ucapan dari suaminya itu. Kalau saja Erland tidak mendapatkan rezeki yang lebih, uang bulanannya akan terpotong dan akan habis sebelum bulan depan. Apalagi ia belum membayar uang listrik dan uang air yang jatuhnya akhir bulan. Makanya Maura harus mencoba menghemat bahkan sangat hemat dengan uang 2 juta yang diberikan oleh Erland itu. Walaupun tangan Maura sangat gatal ingin menghambur-hamburkan uang itu, tapi ia selalu ingat jika hidupnya tidak seperti dulu yang menjadikan dia selalu bisa mengontrol keinginannya tersebut. Daripada dirinya menghabiskan uang satu hari dan berakhir dirinya pusing nantinya dan harus berhutang kesana kemari untuk menutup biaya hidupnya.
"Kamu mengerti Maura?" Pertanyaan yang tentunya terlontar dari bibir Erland itu membuat Maura yang tadinya berkelana dengan pikirannya, tersadar dari lamunannya itu kemudian ia menatap wajah Erland dengan menganggukkan kepalanya, tak lupa ia juga berkata, "Maaf."
Dimana perkataannya itu dijawab dengan anggukan kepala serta senyuman sangat manis oleh Erland.
Tapi berhubung Maura penasaran dengan apa yang sebenarnya Erland lakukan tadi, kenapa tangan laki-laki itu harus terulur ke hadapannya tadi? Maura kini bertanya kembali.
"Tapi kalau kamu saat ini memiliki uang dan tidak mau meminta uang kepadaku, lalu kenapa kamu tadi menyodorkan tangan kamu ke hadapanku?"
Erland sekarang tau alasan Maura pergi begitu saja tadi dan berakhir perempuan itu memberikannya uang. Ternyata Maura salah mengartikan pergerakan tangannya tadi.
"Aku mengulurkan tanganku tadi untuk bersalaman kepadamu. Kamu pasti pernah lihat kan entah itu dari kedua orangtuamu atau temanmu yang sudah menikah, mereka pasti akan menyalami tangan sang suami saat dia izin pergi ataupun suaminya pergi. Jadi niatku tadi meminta kamu menyalami tanganku tapi berhubung kamu tidak tau ya sudah tidak apa-apa. Dan sekarang aku sudah kasih tau kamu maka, ayo salim," ucap Erland dengan menyodorkan tangannya kehadapan Maura lagi.
Maura tampak menatap sekilas tangan tersebut sebelum dirinya mengambil tangan itu lalu menciumnya. Sumpah demi apapun Maura merasa canggung dengan apa yang dia lakukan saat ini. Tapi tak apa ia harus mulai membiasakan dirinya untuk melakukan hal tersebut dan ia yakin kalau sudah terbiasa ia tak akan secanggung ini.
Maura kini menjauhkan wajahnya dari punggung tangan Erland lalu setelahnya ia melepaskan tangannya dari genggaman Erland itu dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya kearah lain, karena terus terang saja jika dirinya saat ini merasakan suhu panas yang menjalar di wajahnya yang tentunya ia hafal kalau hal itu terjadi maka kedua pipinya akan bersemu kemerahan.
Erland yang melihat hal itu pun ia hanya bisa tersenyum sebelum dirinya kini berucap, "Mau ikut?"
Dengan cepat Maura yang mendengar ajakan dari Erland pun ia kembali menolehkan kepalanya kearah sang suami. Ia cukup terkejut sekaligus tak menyangka jika Erland ingin mengajaknya keluar tanpa ia minta. Tapi walaupun begitu Maura harus tetap memastikan, apakah yang Erland katakan tadi nyata atau hanya sekedar gurauan saja?
__ADS_1
Maka dari itu Maura kini bertanya, "Kamu serius ngajak aku pergi?"
Tanpa terlihat ragu sedikitpun Erland menganggukkan kepalanya. Ia sadar jika Maura tak lagi keluar dari rumah itu setelah kejadian waktu dia pergi ke club malam yang berakhir mabuk berat kala itu.
"Kamu yakin, Er?" Tanya Maura ulang. Ia benar-benar harus mematikannya.
Erland memutar bola matanya malas. Apakah kalau dia menjawab dengan anggukan kepala saja Maura tak akan puas?
"Iya Maura, iya. Aku yakin dan aku serius mau ajak kamu keluar. Jadi sana kamu ganti baju gih. Aku tunggu kamu disini," jelas Erland yang tentunya membuat wajah Maura langsung sumringah bahkan senyum lembar dagi perempuan itu diperlihatkan.
"Tunggu sebentar oke. Awas kalau sampai kamu ninggal," ujar Maura yang terselip sebuah ancaman.
Maura yang melihat anggukan kepala dari Erland pun ia langsung berlari masuk kedalam kamarnya yang tentunya untuk berganti pakaian. Erland yang melihatnya pun ia terkekeh kecil sembari bergumam, "Persisi seperti anak kecil."
Namun beberapa saat setelahnya senyuman Erland terhenti kala ia mengingat sesuatu.
"Ya Allah aku lupa. Aku sekarang kan bawa motor bukan mobil. Mana di rumah ini hanya ada satu helm saja. Haishhh ya sudahlah aku ambil dulu ke markas selagi Maura masih ganti pakaian," ucap Erland kemudian ia bergegas keluar dari rumahnya tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Maura.
Erland menyalakan motornya dan segera pergi dari rumah tersebut. Bunyi motor Erland membuat pergerakan tangan Maura yang tengah merias diri terhenti, lalu kemudian ia menolehkan kepalanya kearah pintu kamarnya.
"Apa itu tadi suara motor Erland?" tanyanya pada dirinya sendiri. Tapi beberapa saat setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak. Tidak mungkin itu suara motor Erland. Sedangkan Erland saja sudah berjanji kepadaku kalau akan pergi bersama nanti. Jadi tidak mungkin kan Erland ingkar janji? Ya, dia tidak mungkin ingkar janji," ucap Maura untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu ia memilih untuk melanjutkan apa yang tengah ia lakukan saat ini. Hingga ia tersenyum kala tangannya itu sudah selesai mengoleskan makeup ke wajahnya.
Maura berdiri untuk melihat penampilannya yang hanya menggunakan sebuah dress dengan potongan dress satu jengkal diatas lutut yang memperlihatkan paha mulusnya itu.
"Perfect," ucap Maura setelah dirinya puas dengan penampilannya saat ini. Kemudian setelahnya ia bergegas menyambar tas kecil yang tentunya branded itu sebelum dirinya keluar dari dalam kamarnya.
Dan dengan senyumannya Maura melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tamu berada, sembari berkata, "Aku sudah si---ap."
Maura menatap kearah sekelilingnya mencari keberadaan Erland yang ternyata sudah tak ada di tempat duduknya tadi.
"Lho Erland kemana?" tanyanya pada dirinya sendiri sembari ia terus melihat ke sekelilingnya bahkan dirinya kini sudah beranjak dari ruang tamu itu menuju ke dapur. Siapa tau Erland tengah mengambil minuman, tapi saat dirinya sudah berada di dapur ia tak menemukan keberadaan Erland. Maura masih berpikir positif mungkin Erland tengah duduk di belakang rumah atau malah laki-laki itu tengah menunggunya di depan rumah. Jadi Maura kini melangkahkan kakinya ke belakang rumah terlebih dahulu. Namun tetap saja ia tak menemukan suaminya itu. Dan hal itu membuat Maura berlari kecil menuju kearah depan rumah tersebut.
Saat pintu utama rumah itu ia buka, bahu Maura merosot kebawah kala tak juga menemukan Erland disana. Bahkan satu tetes air mata kini membasahi pipinya saat dirinya juga tak melihat motor Erland yang terparkir didepan rumah tersebut.
Maura dengan kasar mengusap air matanya itu. Ia merasa dibohongi sekarang dan dengan kencang Maura menutup pintu utama rumah tersebut sebelum ia mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di ruang tamu. Dimana saat itu juga tangisnya pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari bergumam, "Erland jahat. Kalau memang tidak mau mengajakku kenapa dia harus bohong kepadaku? Hiks Erland jahat!"
...****************...
Yuhuuuu terimakasih 50 likenya. Dan seperti yang aku janjikan tadi hari ini aku double up karena sudah mencapai target Like. Di eps ini jangan sampai kalah dari eps sebelumnya lho ya. LIKE 50 sebelum jam 6 sore. Jangan lupa VOTE, HADIAH, dan KOMEN. See you next eps bye 👋
__ADS_1