
Baru saja keduanya keluar dari dalam toko buku itu, Maura langsung melepaskan genggaman tangan Erland yang otomatis membuat Erland menghentikan langkahnya kemudian ia menatap Maura yang juga tengah menghentikan langkahnya namun perempuan itu berdiri tepat di belakangnya.
Erland menolehkan kepalanya, berniat bertanya kenapa Maura melepaskan tangannya? Baru saja Erland ingin membuka bibirnya, suara Maura lebih dulu terdengar.
"Hinyi ini siji, mis. Heleh," ucap Maura yang mengulangi ucapan dari pegawai toko buku tadi. Kemudian setelahnya ia berjalan lebih dulu dari Erland. Meninggalkan Erland yang kini menatap dirinya dengan bingung, keningnya pun sampai berkerut.
"Maura kenapa sih? Dan apa tadi yang dia katakan? Kenapa pelafalan huruf vokalnya pakai i semua? Kan jadi aku tidak paham dengan apa yang dia katakan. Tapi kenapa wajah dia tidak enak sekali dipandang. Padahal tadi baik-baik saja. Apa jangan-jangan dia sekarang tengah marah kepadaku hanya karena tidak jadi beli buku yang dia lihatin tadi? Tapi kan aku sudah menawarkan dia, bahkan sampai meyakinkan dia seyakin-yakinnya. Masa iya setelah keluar dia ngambek?" Sumpah Erland sekarang bingung setengah mati dengan sikap Maura yang tiba-tiba berubah itu. Ia mencari-cari kesalahannya, tapi ia rasa hari ini dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dia selalu memperlakukan Maura secara lembut dan tidak memakai intonasi suara tinggi bahkan ia juga tidak dingin seperti sebelum-sebelumnya. Tapi kenapa Maura seakan-akan marah kepadanya? Memangnya kesalahan apa yang tengah ia lakukan? Pikiran Erland terus bertanya-tanya. Namun tak kunjung mendapatkan jawabannya.
Sedangkan Maura yang sudah berada di samping motor milik Erland. Ia menolehkan kepalanya kearah sang suami yang masih berdiri didepan pintu toko itu.
"Erland! Pulang!" Teriak Maura yang berhasil membuat Erland yang tadi tengah bergulat dengan pikirannya yang terus bertanya-tanya itu tersadarkan dari lamunannya itu. Kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Maura, lalu setelahnya barulah dia berjalan mendekati istrinya itu yang masih memasang wajah tak mengenakan. Ingin sekali Erland bertanya namun ia memilih bertanya saat mereka sudah tiba di rumah nanti saja. Karena ia tak ingin bertengkar ditengah jalan yang berakhir ia kelepasan dan melampiaskan kekesalannya itu dengan membawa motor dengan urakan yang berakhir nanti Maura semakin marah kepadanya.
Setibanya Erland di samping motornya yang berarti dia sudah mendekati Maura, Maura malah menggerutu, "Sengaja apa gimana sih berdiri di depan pintu? Mau caper sama si wanita cabe-cabean itu, biar di panggil mas lagi? Emang dasar ya laki mah gitu. Dipanggil mas aja udah merasa sok paling cakep sedunia yang akan berakhir tebar pesona kesana kemari. Emang dia pikir kalau begitu keren apa? Gak sama sekali!"
__ADS_1
Gerutuan yang sebenarnya Maura ucapkan dengan suara lirih dengan tujuan agar Erland tidak mendengar gerutuannya itu. Sayang seribu sayang, Erland justru mendengar dengan jelas setiap perkataan yang keluar dari bibir Maura itu. Dimana ucapan Maura tersebut bisa Erland simpulkan jika penyebab wajah Maura sangat tak enak di pandang itu karena sebutan mas yang pegawai toko tadi ucapkan kepadanya. Oke, kalau begitu Erland paham sekarang dan akhirnya semua pertanyaan yang sedari tadi menghantui otak Erland terjawab sudah.
Tapi Erland tidak akan menimpali ucapan dari Maura tadi, biarlah Maura uring-uringan sendiri dan dia akan menjelaskan kesalahpahaman ini nanti saja di rumah. Dan karena hal tersebut, Erland kini merebut sebuah helm yang sedari tadi di tangan Maura. Lalu setelahnya, ia langsung memakaikan helm tersebut ke kepala Maura sebelum istrinya itu protes. Setelah helm itu terpasang dengan benar Erland menepuk-nepuk helm yang sudah di pasang di kepala istrinya itu dengan pelan sembari berkata, "Singkirkan pikiran negatif kamu."
Erland kini memakai helmnya sendiri setelah dirinya mengatakan perkataannya tadi dimana langsung memacu gerutuan di bibir Maura. Tapi berhubung Erland tidak mendengar gerutuan itu, Erland langsung naik keatas motornya, menyalakan mesin motornya itu kemudian menatap kearah Maura yang masih berdiri disampingnya.
"Naik!" perintah Erland yang berhasil menghentikan gerutuan Maura.
Maura menatap tajam kearah Erland lewat kaca helm full facenya itu. Namun tak urung ia kini bergerak untuk naik keatas motor tersebut dengan cara yang sama seperti yang di ajarkan oleh Erland sebelumnya.
"Gak sudi," jawab Maura penuh dengan penekanan.
Erland yang mendengar jawaban dari Maura tadi, ia sempat terkesiap. Ternyata begini jika perempuan tengah cemburu. Walaupun Erland memiliki seorang mantan atau lebih tepatnya teman tapi mesra dulu saat SMA, tapi saat wanita itu cemburu tidak seperti Maura ini. Haishhhh, kenapa Erland malah memikirkan bahkan sampai membandingkan Maura dengan wanita sialan itu. Sumpah demi apapun, Maura jauh lebih baik dengan perempuan yang bernama Kayla itu jika mereka dibandingkan.
__ADS_1
Erland menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghalau pikirannya itu sebelum dirinya kini berkata, "Kalau jawab ucapan suami itu yang baik, Maura. Tidak boleh kasar seperti tadi, dosa."
"Aku tidak peduli. Jadi buruan jalankan motor ini. Aku sudah muak berlama-lama disini," balas Maura kemudian setelahnya ia menjauhkan tubuhnya yang sempat ia condongkan tadi kala dia berbicara dengan Erland. Bahkan ia juga memundurkan posisi duduknya sampai di ujung motor tersebut. Dimana hal tersebut membuat Erland menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Maura lewat kaca spion di motornya tersebut.
Maura yang melihat tak ada pergerakan dari Erland pun, ia memukul cukup keras punggung Erland sembari berkata, "Buruan jalankan motornya!"
Erland menghela nafas, lalu ia menolehkan kepalanya kearah Maura.
"Kamu yakin mau duduk dengan posisi seperti itu?" tanya Erland mencoba sabar menghadapi Maura yang tengah merajuk.
"Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah kan dengan posisi dudukku? Jadi jangan banyak protes deh, tugas kamu itu sekarang hanya menjalankan motor saja dan pergi dari sini!" jawab Maura dengan nada suara yang benar-benar ketus.
"Oke, baiklah aku akan menjalankan motor ini. Tapi jika terjadi sesuatu nanti denganmu, maka aku tidak akan bertanggungjawab. Karena duduk di posisi seperti itu sangat berbahagia dengan beberapa potensi yang bisa merugikan diri kamu. Yang pertama kamu bisa terjatuh dan yang kedua kamu bisa diapa-apakan oleh laki-laki lain yang mesum saat didalam perjalanan nanti," ujar Erland yang tentunya untuk menakut-nakuti Maura karena tentu saja Erland tidak akan membiarkan dua kemungkin itu menimpa Maura. Kalau sampai dua kemungkinan itu terjadi, Erland justru akan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak becus menjaga Maura.
__ADS_1
Sedangkan Maura yang mendengar perkataan Erland tadi, ia mendelik tajam. Tapi beberapa saat setelahnya, Maura kembali merubah posisi duduknya, lebih dekat lagi dengan Erland. Dan tanpa di minta terlebih dahulu Maura langsung melingkarkan kedua tangannya di perut Erland sembari berkata, "Sudah kan sekarang? Jadi tunggu apa lagi. Menjauh dari sini sekarang!"
Erland yang sudah mendapatkan apa yang dia mau pun ia menganggukkan kepalanya tak lupa dengan senyum tipisnya sebelum dirinya kini menjalankan motornya tersebut seperti yang diinginkan oleh Maura.