
Erland menelan salivanya dengan kasar saat melihat Maura yang terus saja makan tanpa henti. Dan lihatlah, di kedua tangannya saat ini tengah memegang dua lobster yang ukurannya lumayan besar dengan mulut yang sesekali mengunyah daging lobster itu. Erland tadi kira Maura memesan dua porsi lobster itu, sekaligus memesankan untuknya juga. Tapi nyatanya tidak, baru juga dua porsi lobster itu sampai, Maura langsung menguasainya. Tak hanya lobster saja yang di pesan oleh Maura melainkan ada beberapa makanan seafood lainnya. Dengan total 10 porsi makanan. Dan itu semua habis di makan Maura. Sedangkan Erland, dia hanya melihat saja karena tidak ada kesempatan dirinya untuk mencicipi makanan itu.
"Kamu mau?" tawar Maura dengan mulut penuh.
Erland menggelengkan kepalanya.
"Gak. Kamu aja yang makan," ujar Erland.
"Oh ya udah kalau gak mau. Tadinya kalau kamu mau, kamu pesan sendiri aja sana toh uang bonus kamu tadi masih banyak kan?" Erland hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Dimana anggukan kepala dari Erland itu membuat Maura kembali melahap makanannya.
Hanya membutuhkan 10 menit saja Maura sudah berhasil membuat kedua lobster tadi habis tak tersisa.
"Sudah kan?" tanya Erland dengan menyesap minumannya. Maura yang makan dirinya yang merasa kenyang.
Maura yang tadinya tengah menjilati tangannya kini menolehkan kepalanya kearah Erland. Dan dengan memperlihatkan cengirannya ia menjawab, "Belum."
Erland yang mendengar jawaban Maura melongo tak percaya.
"Belum? Kamu masih mau makan lagi?" Dengan antusias Maura menganggukkan kepalanya.
"Astaga sayang. Kamu serius? Kamu sudah makan bermacam-macam menu disini dan kalau di total sudah sampai 10 porsi lho plus nasi dua karena nasi punyaku juga kamu makan. Kamu gak merasa kenyang sayang?" Dengan wajah cemberut Maura menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Astagfirullah, aku aja lihatin kamu makan dari tadi aku merasa kenyang lho. Kamu sendiri yang makan malah belum kenyang."
"Ya kan aku memang belum kenyang. Aku masih mau makan lagi," ucap Maura.
"Sayang sumpah demi apapun, ini bukan kamu lho. Kamu yang biasanya menjaga pola makan, kenapa sekarang makannya bar-bar begini bahkan sebelum aku pulang tadi kamu juga makan makanan berat kan? Kamu gak takut gendut lagi?" ucap Erland masih tak percaya dengan apa yang tengah terjadi dengan istrinya itu.
"Tidak. Aku tidak takut kalau aku gendut. Karena kalau aku gendut tinggal diet dan olahraga secara teratur, jadi aku bisa menurunkan berat badanku lagi," ujar Maura.
"Aku beneran masih lapar lho sayang. Jadi ayolah, izinin aku makan lagi ya. Lagian kita kan juga gak tau mau makan kayak gini lagi kapan. Jadi please, izinin." Maura menangkupkan kedua tangannya didepan dada dengan mengeluarkan puppy eyesnya. Sungguh sangat menggemaskan dan ini menjadi kelemahan Erland. Hingga dengan terpaksa Erland menganggukkan kepalanya. Ia bukan terpaksa mensetujui permintaan Muara karena masalah uangnya yang akan terkuras. Tapi ia hanya khawatir jika kolesterol Maura naik sekaligus takut jika istrinya menggendut. Erland sih tidak masalah jika Maura gendut, justru dirinya malah senang karena pasti akan semakin hangat dan empuk saat ia peluk. Tapi yang menjadi masalahnya pasti Erland yang akan di salahkan karena masalah perubahan bentuk badan Maura oleh si Maura sendiri tentunya, walaupun dia tadi tidak mempermasalahkannya tapi tetap saja Erland sangat yakin jika hal itu akan terjadi. Mengingat akhir-akhir ini Maura sangat sensitif, dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah dan yakinlah hal itu membuat Erland bingung sendiri menghadapai Maura. Karena jujur saja menghadapi Maura yang nakal lebih mudah daripada menghadapi Maura yang tengah sensitif. Apapun yang ia lakukan pasti salah di mata Maura.
Maura yang sudah mendapatkan persetujuan dari sang suami pun ia sangat senang bukan main dan dengan cepat ia memanggil pelayan kembali.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut.
"Oh silahkan Kak. Mau tambah apa?" tanya pelayan tadi dengan sangat ramah.
"Lobster saus tiram dua, kepiting saus tiram satu, kerang asam manis satu porsi dan ikan bakarnya satu. Udah itu aja dan jangan lama-lama ya mas," ucap Maura menyebutkan semua makanan yang akan ia pesan kembali.
Pelayan itu yang sudah selesai menulis, ia menganggukkan kepalanya tak lupa dengan senyumannya sembari berucap, "Baik Kak. Secepatnya pesanan Kakak akan saya antar."
Maura mengacungkan dua jari jempolnya kearah pelayan tadi sebelum pelayan tersebut kembali ke pekerjaannya.
Sedangkan Erland yang tadi kembali terkejut saat mendengar pesanan dari Maura, ia saat ini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya takjub dengan porsi makan Maura.
__ADS_1
"Kamu benar-benar ingin menghabiskan 5 porsi pesanan yang sudah kamu pesan tadi?"
"Tentu saja. Kenapa tidak? Memangnya kenapa sih? Ada yang salah gitu?" jawab Maura.
"Kalau boleh jujur memang ada yang salah sama kamu sayang. Bukan karena aku tidak rela kamu menghabiskan uangku. Tapi ini sudah jauh di luar nalar, sayang. Kamu makan sangat-sangat banyak hari ini, seakan-akan didalam tubuhmu itu ditempati oleh 10 orang," ujar Erland.
"Ck, mana bisa tubuhku ini di isi 10 orang. Ngaco banget ih kamu mah," ucap Maura.
"Tapi itu yang aku rasakan sayang. Seakan-akan kamu tuh tengah membelah diri. Jadi saat kamu memakan satu porsi, makanan itu masuk ke diri kamu satu dan jika kamu makan satu lagi, berarti kamu memberikan makanan untuk diri kamu yang lain. Atau jangan-jangan kamu saat ini tengah hamil lagi? Kan biasanya orang hamil ada banyak tipe dari yang memilih-milih makanan, tidak menyukai bau ini lah itulah, merasa mual, sampai ada yang tiba-tiba porsi makannya banyak dan suka tidur. Ini yang Edrea dulu pernah katakan ke aku karena dia dulu ngidam si kembar selalu memakai masker karena tidak suka mencium sesuatu yang menurut dia bisa membuat mual. Istrinya temanku ngidamnya hanya pengen tidur terus. Dan entah kenapa kamu masuk ke kriteria tanda-tanda kalau kamu sedang hamil. Pertama kamu akhir-akhir ini suka sekali tidur dan suka makan walaupun baru hari ini saja sih. Tapi tetap saja kamu merasa selalu saja lapar. Jadi aku rasa kamu memang tengah hamil," ucap Erland yang membuat Maura terdiam sejenak sembari berpikir dengan mengetuk-ngetuk dagunya mengunakan jari telunjuknya.
Selang beberapa saat ia menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa aku sedang tidak hamil karena aku kan baru selesai haid 2 minggu yang lalu. Kita juga berhubungan baru 2 kali saja yang jelas kalau mau jadi baby terlalu cepat lah. Jadi tebakmu itu salah," ujar Maura sangat yakin jika dirinya memang sedang tidak mengandung. Tapi ia tetap saja kepikiran akan hal tersebut, mengingat niatnya yang tak ingin memiliki anak karena banyak hal yang perlu di pertimbangkan.
"Tapi kan walaupun kita berhubungan baru dua kali tidak menutup kemungkinan bibit-bibitku itu sangat pintar untuk menerobos sel telur kamu. Apalagi saat kamu dalam fase masa subur, sekali buat saja sudah bisa jadi lho. Jadi lebih baik setelah kita pulang dari sini kita beli testpack buat cek, apa memang kamu hamil atau tidak," ujar Erland.
"Ck, apaan sih pakai testpack segala. Kan aku tadi bilang kalau aku tidak hamil. Aku yang ngerasain lho ini bukan kamu jadi akan bisa tau kalau aku sedang hamil atau tidak. Dan aku rasa aku memang sedang tidak hamil," ucap Maura yang sangat yakin ia memang tidak hamil.
"Iya memang kamu yang merasakannya, tapi setidaknya kita pastikan dulu."
Maura memutar bola matanya malas.
"Terserah kamu lah. Semau kamu saja. Tapi kalau hasilnya negatif, jangan kecewa," tutur Maura dengan mata berbinar kala melihat pesanannya sudah sampai.
__ADS_1
Sedangkan Erland, ia menganggukkan kepalanya walaupun ia tak yakin jika dirinya nanti benar-benar tidak kecewa seperti yang di katakan oleh Maura tadi. Tapi yakinlah Erland sangat yakin jika Maura memang tengah hamil saat ini.