
Dengan tangan yang saling bertautan, Maura mendudukkan dirinya di kursi yang sebelumnya di tempati oleh Mama Rina.
Duduknya Maura di kursi itu tentunya tak lepas dari pandangan tajam Mama Rina yang saat ini duduk di sebelah pengacara.
Maura tak peduli dengan tatapan permusuhan itu. Ia memilih untuk menatap lurus kedepan di mana tempat para hakim berada.
"Saudari Maura Queensy Louis, apakah benar anda menjadi korban atas percobaan pembunuhan yang di lakukan oleh saudari Rina Amelia?" tanya hakim yang tentunya ia tujukan kepada Maura.
Dengan perasaan gugup, Maura menjawab, "Benar yang mulia."
Hakim tersebut menganggukkan kepalanya.
"Baik, anda disini akan kita jadikan saksi atas kasus ini. Jadi silahkan anda menceritakan kronologi kejadian," pinta sang hakim.
"Siap yang mulia." Dengan tegas dan tak ada satu kata pun yang terdengar di buat-buat Maura menceritakan secara rinci kejadian yang hampir melukai dirinya sampai saat ditengah-tengah kesaksiannya itu ia utarakan, terdengar gebrakan meja dari arah Mama Rina. Tentunya hal itu mengalihkan seluruh atensi semua orang yang ada di dalam ruang persidangan itu tak terkecuali para hakim, jaksa dan lain sebagainya.
Brak!!
"Itu tidak benar! Kamu bohong! Yang pertama mencari masalah itu kamu bukan aku! Kamu yang tiba-tiba menyeret tubuhku menuju ke depan kamar mayat. Awalnya kamu berniat mengunciku di dalam ruangan itu. Aku melawan pada saat itu karena aku tidak mau di kurung disana dan perlawanan yang aku lakukan dengan cara melayangkan sebuah pisau ke kamu yang kebetulan pisau itu aku bawa setelah mengupas buah untuk putriku! Aku belum sempat menaruh pisau itu karena kamu lebih dulu menyeretku! Apa yang kamu katakan tadi tidak benar adanya. Dia berbohong yang mulai. Dia beralibi! Disini yang salah adalah dia bukan saya!" Mama Rina tak terima padahal bukti sudah jelas jika Mama Rina lah yang salah dalam kasus ini. Para hakim pun juga sudah melihat bukti-bukti itu. Dan alasan mereka menyuruh Maura untuk menceritakan kronologi cerita agar mereka bisa mendalami kasus ini lebih dalam lagi dan agar mereka tidak salah saat menjatuhi hukuman nantinya.
Maura yang mendengar Mama Rina membuat keributan, ia memutar bola matanya malas sembari bergumam, "Pendongeng handal."
Sayang gumaman Maura tadi tak di dengar oleh siapapun.
Sedangkan disisi lain, Mommy Della yang mendengar Mama Rina membalikan fakta, ia mendengus kesal. Jika saja dirinya tak di tahan sang suami untuk memberikan pelajaran kepada wanita gila itu, Mommy Della pasti sudah beranjak mendekati Mama Rina dan menyobek mulut wanita itu. Tapi sayangnya keinginannya itu harus di cegah oleh Daddy Aiden.
Hakim yang tak ingin membuat kacau persidangan siang ini, tangannya bergerak, memukul palu di hadapannya.
Tok tok tok tok!
"Harap tidak membuat keributan disini! Dan untuk anda saudari Rina Amelia, silahkan tutup mulut anda! Biarkan saudari Maura Queensy Louis yang memberikan kesaksiannya," ucap hakim itu dengan tegas.
Kuasa hukum dari Mama Rina pun kini mencekal lengan wanita paruh baya itu dan sedikit menariknya agar Mama Rina kembali duduk di kursinya karena saat menggebrak meja tadi Mama Rina berdiri dari duduknya.
Tentunya tarikan yang di lakukan oleh kuasa hukum itu berhasil membuat Mama Rina duduk kembali, lalu setelahnya kuasa hukum tersebut mendekatkan wajahnya ke telinga Mama Rina untuk berkata, "Anda bisa tenang tidak. Anda tahu, semakin anda tidak memiliki sopan santun, hukuman yang akan anda terima akan semakin berat. Dan apa anda tau sebenarnya anda sudah tidak bisa mengelak karena semua bukti yang di berikan oleh pihak Maura Queensy Louis sudah menyudutkan anda. Anda sudah tidak bisa mengelak lagi seperti yang anda katakan, karena hanya akan percuma saja."
Mama Rina mengepalkan tangannya saat ia mendengar bisikan dari kuasa hukumnya itu. Sepertinya ia salah mencari seorang kuasa hukum sehingga yang harusnya kuasa hukumnya itu membela dirinya, justru yang orang itu membela lawan mereka.
Hakim yang sudah tak melihat gerak-gerik Mama Rina ingin bersuara kembali, ia mengalihkan pandangannya kearah Maura. Lalu ia berkata, "Silahkan lanjutkan kesaksian anda saudari Maura Queensy Louis."
Perintah dari hakim tadi tentunya diangguki oleh Maura. Sehingga dirinya kini melanjutkan memberikan kesaksiannya sampai akhir. Tak ada keributan lagi setelahnya. Mama Rina terdiam tapi terlihat dari sorot matanya, wanita itu benar-benar dendam dengan Maura. Bahkan wanita itu berjanji kepada dirinya sendiri, jika ia nanti sudah bebas dari jeruji besi, ia akan membalas Maura. Ia tak akan pernah memberi kesempatan perempuan yang sudah menghancurkan hidupnya, rumah tangganya dan hubungan dirinya dengan keluarganya itu untuk hidup di bumi ini. Ia bersumpah akan membunuh Maura, walaupun nantinya ia akan berakhir ke dalam jeruji besi lagi, tapi tak apa, selagi ia bisa membunuh Maura, ia sudah puas. Dan jangan lupakan, ia juga harus membalas perbuatan keluarga Abhivandya terutama Erland yang menjadi alasan putrinya masuk rumah sakit. Ia benar-benar akan membalas semua orang yang sudah merubah jalan hidupnya ini.
Saat Mama Rina tengah sibuk dengan rencana jahatnya di masa depan, Daddy Aiden yang menangkap gelagat itu pun ia mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan, lalu ia menepuk pelan paha Erland yang berada di sebelah sang istri.
Erland memincingkan salah satu alisnya sebagai perwakilan dirinya untuk bertanya "Kenapa?" kepada sang Daddy.
Daddy Aiden mengkode Erland lewat pergerakan kepalanya agar putranya itu ikut mencondongkan tubuhnya agar ia bisa leluasa membicarakan sesuatu hal kepada Erland.
Tentunya kode dari Daddy Aiden tadi di tangkap oleh Erland, laki-laki itu kini segara melakukan apa yang sudah Daddy Aiden perintahkan. Dan saat ia sudah mencondongkan tubuhnya, Daddy Aiden semakin mengikis jarak antara wajahnya dan wajah sang putra sebelum ia berkata, "Setelah putusan hakim nanti kamu tetap awasi Maura dimana pun dia berada jangan sampai lengah. Karena Daddy khawatir Rina akan kembali bertidak untuk menyakiti Maura lewat tangan orang lain walaupun dirinya dipenjara. Jadi untuk menghadiri hal-hal yang tidak kita inginkan, kamu lakukan apa yang Daddy tadi katakan. Kalau perlu tambah pengawasan di rumah mertua kamu. Kamu mengerti?"
Awalnya Erland tidak percaya dengan ucapan Daddy-nya itu karena cukup sulit orang yang berada di dalam penjara menyuruh orang lain untuk meneruskan tindakan kriminal yang sebelumnya dia lakukan. Tapi mengingat jika Mama Rina masih memiliki Papa Jaya dan Orla, sepertinya ia memang harus siaga untuk menjaga Maura 24 jam sehingga dirinya kini menganggukkan kepalanya setuju. Padahal tanpa ia tau jika kedua orang yang ia curigai akan bekerja sama dengan Mama Rina itu sudah tidak mau lagi berurusan dengan wanita itu.
Lalu setelahnya Erland dan Daddy Aiden kembali duduk tegap seperti sebelumnya. Berlaga seperti mereka tadi sedang tidak bicara apapun agar tak menimbulkan kecurigaan kepada orang-orang disana.
Sedangkan Mommy Della yang sedari tadi menjadi sekat antara Erland dan Daddy Aiden, ia ingin sekali kepo dengan pembahasan yang tadi terjadi antara anak dan suaminya itu, namun sebisa mungkin ia harus menahan rasa keponya tersebut dan lebih baik dirinya kembali menyimak pertanyaan yang di lontarkan dari hakim untuk menantunya itu.
...****************...
__ADS_1
Dengan tangan yang terasa dingin dan bergetar, Maura berdiri dari posisi duduknya, membungkukkan sedikit badannya untuk menghormati hakim di depan lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya yang terasa seperti jeli itu menuju ke tempat keluarga suaminya berada. Keteguhan hatinya yang ingin berani saat melewati banyaknya pertanyaan yang di lontarkan oleh hakim tadi ternyata tak sebanding dengan kenyataannya. Maura tetap saja tak bisa menekan rasa gugupnya. Tapi syukurnya ia masih bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh hakim tadi, ia pun juga bersyukur di berikan kelancaran saat ia menceritakan kronologi kejadian, walaupun tadi saat ia bercerita, Mama Rina terus mengelak dan menuduhnya balik, hampir juga perempuan itu mengamuk tadi, jika saja tak diamankan oleh pihak kepolisian.
Maura kini mendudukkan tubuhnya di kursi yang sebelumnya ia duduki, kepalanya pun langsung ia sandarkan di bahu sang suami sembari ia bergumam, "Gak lagi-lagi deh menghadapi situasi seperti ini. Mau pingsan rasanya huh."
Erland yang tentunya mendengar ucapan dari Maura, ia melebarkan matanya.
"Kamu mau pingsan sayang? Kalau mau pingsan nanti saja ya di rumah. Sekarang ditahan dulu rasa inginmu itu," timpal Erland yang membuat Maura melongo tak percaya sebelum dirinya menatap sengit kepada suaminya lalu dengan ringan tangan ia mencubit lengan Erland.
Erland yang mendapat cubitan itu, hampir saja dirinya menjerit karena terkejut sekaligus merasakan rasa sakit di lengannya. Tapi untungnya Erland yang sadar jika dirinya saat ini tengah berada di ruang pengadilan, ia dengan cepat menutup bibirnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara sedikitpun tentunya dengan menahan nafasnya sampai Maura melepaskan cubitan di lengannya, dan saat itulah Erland baru angkat suara.
"Sayang, kamu apa-apaan sih main cubit aku gitu aja. Untung aku tadi tidak teriak karena refleks, kalau sampai aku teriak tadi gimana coba? Mana dia depan banyak hakim lagi, yang ada jatuhnya aku dianggap tidak sopan sama semua orang bahkan semua masyarakat di Indonesia ini," ujar Erland tentunya dengan suara berbisik sembari tangannya mengelus lengannya yang tadi di cubit oleh Maura.
"Ck, lagian aku cubit kamu juga gara-gara kamu sendiri yang menyuruhku untuk pingsan nanti saat di rumah. Orang pingsan kok di tentukan tempatnya. Dan satu lagi, aku tidak ingin pingsan ya entah itu disini, di rumah atau di tempat manapun itu. Jangan sampai amit-amit deh," ucap Maura.
"Lha bukannya kamu tadi yang bilang kalau mau pingsan?" Maura memutar bola matanya malas.
"Itu hanya perumpamaan saja karena tubuhnya rasanya lemas banget setelah menghadapai ketegangan selama 30 menit. Huh." Untuk kesekian kalinya Maura menghela nafas.
Sedangkan Erland, laki-laki itu ber-oh riya saat mendengar penjelasan dari Maura tadi.
"Ya syukurlah kalau kamu tidak pingsan beneran. Dan aku minta maaf atas apa yang sudah aku katakan tadi, dan lain kali kamu juga harus memperbaiki sikap kamu ya. Jangan melakukan hal seperti sebelumnya di tempat umum seperti saat ini. Gak baik jika sampai aku teriak tadi. Kamu paham kan sayang?" Maura menganggukkan kepalanya.
"Jangan di ulangi lagi ya," ucap Erland yang lagi-lagi hanya dibalas dengan anggukan oleh Maura.
Sedangkan Erland, ia tersenyum sebelum salah satu tangannya bergerak untuk menggenggam kedua telapak tangan Maura yang terasa dingin itu.
"Sayang, bisa jangan senderan dulu," pinta Erland.
"Kenapa?" tanya Maura ada nada tak suka dari suaranya tadi.
"Ada hal yang harus aku lakukan," ucap Erland yang membuat Maura mengerutkan keningnya. Tapi Maura melakukan apa yang di perintahkan oleh sang suami tadi.
"Biarkan aku menghangatkan tangan kamu dulu. Nanti kalau sudah hangat kembali, kamu mau menyandarkan kepala kamu di bahuku selama mungkin terserah kamu," ujar Erland yang tak secara langsung menjawab kekepoan Maura tentang hal apa yang akan Erland lakukan sehingga menyuruh dirinya tadi menegakkan duduknya.
Dan saat Maura tau alasan Erland berkata demikian hanya karena ingin menghangatkan tangannya pun kini tersenyum. Suaminya itu memang terbaik, selalu tau apa yang dia inginkan dan dia butuhkan sebelum dirinya memintanya. Dan hal tersebut yang membuat Maura setiap harinya jatuh cinta dengan laki-laki yang berstatus suaminya itu.
Erland terus menghangatkan tangan Maura selagi para hakim berembuk mengenai tuntutan pidana apa yang akan mereka berikan kepada Mama Rina untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Mama Rina pun saat ini sudah kembali ke kursi depan hakim. Sorot mata perempuan itu tak pernah meredup sekalipun padahal di depan matanya saat ini ada seseorang yang menentukan masa depannya.
Tak berselang lama, para hakim kembali menghadap kearah semua orang yang hadir dalam persidangan tersebut. Dan dengan ditandai sang hakim mengetuk palu, semua orang disana tak ada yang berani berbicara lagi. Mereka semua diam, menunggu hakim akan berbicara.
"Menurut undang-undang yang berlaku, saudari Rina Amelia telah melanggar undang-undang Pasal 338 jo Pasal 53 Ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara!"
Tok tok tok!
Suara lantang hakim tadi disambut dengan ketukan palu, menandakan jika kasus tersebut telah di tutup dengan Mama Rina yang di jatuhi hukuman 20 tahun penjara. Tentunya keputusan tersebut tak membuat Daddy Aiden puas, ia pikir tadi mereka akan menghukum Mama Rina dengan hukuman mati atau paling tidak seumur hidup. Tapi ternyata semuanya tak seperti yang ia inginkan.
"Sepertinya Daddy harus mengajukan banding," ucap Daddy Aiden dengan sorot mata yang terlihat marah.
Maura yang mendengar perkataan dari sang mertua itu, ia segara menatap kearah laki-laki paruh baya tersebut sembari berkata, "Kenapa Daddy ingin mengajukan banding?"
Maura benar-benar tak mengerti alasan mertuanya itu ingin melakukan hal tersebut.
Daddy Aiden yang ditanya pun ia menatap kearah Maura hanya sesaat saja sebelum tatapannya itu kembali ke depan, menatap tepat kearah Mama Rina yang digiring oleh pihak kepolisian untuk mereka masukkan ke sel tahanan.
"Hukuman yang wanita gila itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan. Harusnya hukuman yang pantas untuk dia adalah hukuman mati," ujar Daddy Aiden.
__ADS_1
"Ya, benar itu. Harusnya hakim memberikan hukuman mati bukan malah pidana 20 tahun penjara saja. Ck, menyebalkan!" timpal Mommy Della menggebu-gebu. Perempuan paruh baya itu sama tak terimanya seperti Daddy Aiden.
Maura kini menatap kearah sang suami, meminta bantuan kepada Erland agar mertuanya itu tak melakukan banding. Jujur saja, keputusan hakim tadi sudah cukup memuaskan untuk Maura karena kasus mereka ini tidak parah, ia yang menjadi korban juga tidak terluka sedikitpun, malah sebaliknya Mama Rina yang menjadi tersangka sempat ia lukai. Dan kasus ini juga tidak sampai merenggut nyawanya. Jadi sudah sangat pas hukuman yang di jatuhi oleh hakim untuk Mama Rina tadi.
Erland yang melihat tatapan memelas dari Maura, ia menghela nafas panjang. Padahal ia setuju dengan kedua orangtuanya. Tapi ia juga tak bisa menolak permintaan istrinya itu ditambah melihat tampang Maura yang membuat ia ingin sekali memakannya saat ini juga. Jadi dengan berat hati Erland membantu Maura untuk berbicara kepada Daddy Aiden dan Mommy Della mengenai masalah tersebut.
"Mom, Dad," panggil Erland yang membuat kedua orang yang ia panggil tadi menoleh kearahnya.
"Apa?" tanya Mommy Della dengan galaknya.
"Wusss santai Mom santai. Erland cuma mau mewakili Maura berbicara ini, jika dia tidak mau kalian melakukan banding," ujar Erland to the point kepada intinya sebelum ia habis terkena omelan dari kedua orangtuanya itu jika ia harus basa-basi terlebih dahulu.
Kedua orang itu mengalihkan pandangannya kearah Maura yang saat ini menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak mengizinkan Mommy dan Daddy melakukan banding?" tanya Mommy Della mode serius yang membuat Maura sedikit takut dengan mertuanya itu. Erland yang menangkap gelagat dari istrinya itu ia segara angkat suara.
"Mom, bicara mommy bisa biasa saja tidak? Istri Erland takut gara-gara Mommy nih," ujar Erland sembari memeluk tubuh Maura dari samping.
Mommy Della mendengus kesal. Tapi tak urung ia kembali ke mode dirinya biasanya yang terlihat santai dan bar-bar.
"Oke-oke maafin Mommy yang sudah buat kamu takut tadi Maura. Tapi kalau boleh Mommy tau, alasan kamu menolak kita berdua buat ngajuin banding karena apa?" Ucap Mommy Della dengan mengulang pertanyaan sebelumnya dengan intonasi suara yang lebih lembut lagi.
Maura yang ditanya pun ia mendudukkan kepalanya sembari menjawab, "Ma---Maaf sebelumnya Mom, Dad, Maura tidak ingin Daddy dan Mommy melakukan banding karena Maura merasa hukuman 20 tahun penjara sudah sangat seimbang dengan perbuatan nyonya Jaya tadi. Karena dalam kasus ini tidak terlalu parah, Maura pun yang menjadi korban tidak terluka sedikitpun. Bahkan malah nyonya Jaya lah yang terluka. Jadi Maura mohon ya Dad, Mom jangan ajuin banding. Keputusan tadi benar-benar sudah adil."
"Tidak. Darimana adil coba? Kamu memang tidak terluka Maura tapi percobaan pembunuhan itu merupakan tindakan yang keji. Dan hanya hukum mati yang pantas untuk orang-orang seperti itu," ujar Daddy Aiden.
"Tidak mau tau, pokoknya Daddy akan mengajukan banding," sambung Daddy Aiden lalu kemudian ia berniat untuk angkat kaki dari hadapan ketiga orang itu. Namun ia hendak melangkahkan kakinya, lengannya di cekal erat oleh seseorang dan saat ia menoleh, ia melihat Maura lah yang tengah mencekal lengannya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dad, Maura mohon jangan ajuin banding. Maura mohon Dad," ucap Maura dengan suara parau.
Erland yang tak tega pun ia mendekat kearah Maura dan sang Daddy, memberikan usapan di punggung Maura. Kemudian ia berkata, "Dad, please turuti keinginan Maura."
Daddy Aiden mengalihkan pandangannya kearah Mommy Della yang sepertinya juga tidak tega melihat Maura memohon-mohon seperti ini kepada mereka, alhasil saat tatapan mata mereka saling bertemu Mommy Della menganggukkan kepalanya, tanda ia setuju agar Daddy Aiden tidak mengajukan banding.
Daddy Aiden menghela nafas berat. Ingin sekali ia tetap melakukannya, tapi ia tak tega melihat menantunya itu sampai pada akhirnya ia berkata, "Baiklah. Daddy tidak jadi mengajukan banding."
Saat itu juga mata Maura berbinar, ia bersyukur saat mertuanya mau menuruti apa yang ia mau.
"Terimakasih Dad, terimakasih banyak," ujar Maura yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh Daddy Aiden.
Maura kini mengalihkan pandangannya kearah Mommy Della yang tengah tersenyum kepadanya dengan menganggukkan kepalanya.
Maura yang melihat anggukan kepala dari Mommy Della pun ia langsung berhambur ke pelukan Mommy Della sembari berkata, "Terimakasih Mom. Terimakasih banyak."
"Sama-sama nak. Tapi jika nanti saat dia sudah keluar dari dalam penjara dan melakukan tindak kejahatan yang sama kepadamu, jangan cegah Daddy ataupun Mommy lagi untuk melakukan apapun agar dia dihukum mati," ujar Mommy Della dengan memberikan usapan lembut di puncak kepala Maura.
Sedangkan Maura, ia menganggukkan kepalanya. Lalu ia melepaskan pelukannya dari tubuh mommy Della.
"Sekali lagi terimakasih Mom, Dad," ucap Maura dengan menatap kedua mertuanya itu secara bergantian.
"Iya-iya sayang. Udah ih ngomong terimakasihnya. Sekarang lebih baik kita pulang saja. Hari ini kamu dan Erland harus menginap di rumah Mommy dan Daddy. Dan kita tidak menerima penolak sama sekali. Tapi sebelum kita pulang, kita harus makan dulu. Kamu pasti lapar kan sayang?" tanya Mommy Della yang ia tujukan kepada Maura.
Dengan malu-malu Maura menganggukkan kepalanya yang otomatis membuat Mommy Della tersenyum.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, kita pergi makan sekarang. Daddy yang akan mentraktir kita. Let's go kita dinner." Mommy Della menggenggam tangan Maura, mengajak menantunya itu untuk jalan bersama.
Sedangkan para laki-laki yang ditinggalkan, mereka dengan kompak menggelengkan kepala mereka sebelum keduanya melangkahkan kakinya menyusul kepergian dari Mommy Della dan Maura tadi.
__ADS_1
...****************...
3000 kata lho ini. Ayo dong LIKEnya banyakin. Masak iya aku aja nih yang semangat kalian gak. Yok 100 like sebelum jam 12 siang, aku bakal tambahi updatenya. Kalian semangat, aku pun semakin semangat nulisnya. Jadi sama-sama semangat oke. Komentar kalian juga aku tungguin lho ini, karena komentar kalian itu bikin moodku naik asalkan jangan komen yang bikin down. Dan siapa tau disini ada anak hukum, jadi kalau tentang hukuman diatas salah tolong kasih tau ya nanti aku benerin. Yokkk ahhhh semangat. Jangan lupa VOTE dan HADIAHNYA juga. See you next eps bye 👋