
Papa Louis semakin dibuat tak tenang setelah ia menghubungi besannya dan mengatakan jika Erland sedang tidak ada di rumah mereka dan besannya itu juga mengatakan jika sang putri sempat menangis tadi, mereka juga mencurigai jika Maura tengah mengalami masalah. Dimana hal tersebut benar-benar membuat Papa Louis tak konsen untuk bekerja. Ia memilih untuk pulang saja, hmmmm lebih tepatnya pergi ke rumah keluarga Abhivandya untuk melihat kondisi sang Putri. Tak lupa juga ia menghubungi sang istri untuk segara pergi ke rumah besan mereka.
Sedangkan di rumah keluarga Abhivandya, ketiga orang yang masih berdiri menjauh dari Maura pun mulai khawatir sekarang.
"Ini gimana Dad, Mom? Kita harus kasih tau Kak Maura gimana kalau suaminya hilang entah kemana?! Ah elah bang Erland juga sialan banget sih. Mau pergi saja gak bilang-bilang. Repot gini kan semua orang jadinya," ucap Edrea yang emosi sendiri dibuatnya.
"Sepertinya Daddy tau alasan apa yang akan kita berikan kepada Maura." Tatapan mata Edrea dan Mommy Della kini terfokus kearah Daddy Aiden.
"Apa?" tanya Edrea dan Mommy Della secara serempak namun masih terdengar sangat lirih karena tak ingin membuat Maura curiga.
"Nanti kalian akan dengar sendiri kalau aku sudah mengatakannya kepada Maura," ucap Daddy Aiden. Lalu kemudian ia berjalan mendekati Maura kembali. Dimana hal tersebut membuat Mommy Della dan Edrea saling pandang sesaat sebelum keduanya menggedikkan bahunya lalu mengikuti kepergian dari Daddy Aiden tadi.
"Maura," panggil Daddy Aiden kala laki-laki paruh baya tersebut telah duduk disalah satu sofa di ruangan tersebut.
Panggilan dari Daddy Aiden tadi membuat Maura mengerjabkan matanya dan dengan cepat ia menghapus air matanya yang sempat menetes tadi.
"Iya Dad?" Daddy Aiden tampak menghela nafas panjang sebelum ia berkata, "Maafkan Daddy yang sempat lupa kalau Erland sebenarnya sedang tidak ada disini."
Tubuh Maura langsung menegang sempurna kala mendengar ucapan dari Daddy Aiden tadi.
__ADS_1
"Ti---tidak ada di sini, Dad?" ulang Maura ingin memastikan yang dibalas dengan anggukan kepalanya oleh Daddy Aiden.
"Kalau begitu Erland kemana dong?" gumam Maura yang masih bisa didengar oleh semua orang yang ada diruangan itu.
"Erland sedang Daddy tugaskan ke luar kota untuk menemui salah satu anak Daddy. Kebetulan istrinya tengah mengidam kerak telor dari ibu kota ini langsung. Nah berhubung anak Daddy tengah sibuk untuk mengantar istrinya kesini dan hamil muda juga sangat rawan akhirnya Daddy memutuskan untuk mengirimkan makanan itu langsung ke kota yang saat ini di tempati oleh anak Daddy itu dengan bantuan Erland. Karena kalau Daddy antar pakai kurir takutnya makanan itu tidak terjamin keamanannya dan lain sebagainya. Jadi kamu tenang saja ya, Erland baik-baik saja kok. Dan maaf Daddy tadi sempat lupa," ujar Daddy Aiden yang tentunya itu sebuah kebohongan.
"Maklum saja ya Ra, Daddy sudah tua jadi sudah mulai pikun," timpal Mommy Della yang membuat Daddy Aiden mencebikkan bibirnya.
Maura yang sedari tadi mendengar penjelasan dari Daddy Aiden, ia mencoba untuk percaya saja walaupun didalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tak percaya sama sekali dengan ucapan Daddy Aiden tadi. Tapi kalaupun ia tak percaya, ia harus bagaimana? Dan kemana lagi ia akan mencari Erland?
"Jadi kamu tenang saja. Erland tidak akan pergi dari kamu kok. Dia hanya pergi untuk sementara saja," ujar Mommy Della dengan mengelus rambut Maura yang dibalas senyum tipis oleh Maura.
Dimana saat Maura melihat kedua orangtuanya lah yang datang berkunjung pun dengan cepat berdiri dari posisi duduknya.
"Papa, Mama," beo Maura, kemudian ia berlari menghampiri kedua orangtuanya, menubruk tubuh sang Papa untuk ia peluk saat dirinya sudah berada dihadapan keduanya.
"Papa hiks. Erland, Pa." Papa Louis tampak menatap kearah besannya yang menggelengkan kepalanya, seolah-olah mereka mengatakan tidak tau permasalahan apa yang tengah dihadapi oleh sepasang suami-istri muda itu.
Papa Louis hanya bisa menghela nafas panjang, "Kamu tenang. Sebaiknya kita duduk dulu dan kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu, masalah apa yang tengah kamu hadapi. Bisa kan?"
__ADS_1
Dengan lesu Maura menganggukkan kepalanya, dan masih dalam posisi dia memeluk tubuh sang Papa mereka berjalan menuju ke sofa kembali. Duduk bergabung dengan ketiga orang lainnya yang sedari tadi sudah berada di sana.
"Jadi bisa katakan sekarang apa masalah kamu ini?" tanyanya.
Maura masih diam, kalau mau bercerita ia ingin jika hanya kedua orangtuanya saja yang tau, bukan dengan Daddy Aiden ataupun Mommy Della, kalau Edrea, tak apa ia tau toh bukannya Edrea adalah adik iparnya jadi tak masalah jika perempuan itu tau.
Namun keterdiaman dari Maura itu membuat semua orang disana tampak bingung, sebelum Edrea yang tampaknya tau situsi dan kondisi Maura pun ia menghela nafas lalu berkata, "Sepertinya kalian semua pergi dari sini dulu deh, biar Edrea saja yang bicara sama Kak Maura."
Keempat orangtua itu saling pandang satu sama lain, kemudian mereka semua menganggukkan kepalanya, mensetujui usulan dari Edrea tadi. Dan setelahnya mereka semua pergi dari ruang keluarga tersebut, memberikan ruang untuk Maura serta Edrea untuk saling mengobrol.
Setelah kepergian dari keempat orang tadi, Edrea berpindah posisi duduknya, ia saat ini duduk di samping Maura. Dan dengan menggenggam tangan Maura, Edrea berkata, "Jadi Edrea boleh kan tau masalah Kakak?"
Maura menatap lekat wajah Edrea sebelumnya ia menganggukkan kepalanya. Mungkin dengan cerita kepada Edrea saja akan lebih pas daripada dengan keempat orang tadi.
"Kalau begitu boleh cerita sekarang? Kalau boleh cerita sekarang juga sih, Edrea akan mendengarkan dengan baik," ujar Edrea.
Dimana hal tersebut langsung membuat Maura mulai bercerita apa saja yang telah terjadi kepadanya dan Erland tanpa ia tutupi sedikitpun. Bahkan masalah tadi malam yang tentang hak Erland yang tak ia berikan kepada suaminya pun turut Maura sebutan. Dimana hal tersebut membuat Edrea yang mendengarnya tersenyum. Pantas saja Kakak iparnya itu sangat sulit mengatakan masalah dia, orang masalahnya saja seintim ini.
Maura terus bercerita sampai akhir dimana hal tersebut membuat Edrea tak melunturkan senyumannya tadi.
__ADS_1
"Sekarang aku tidak tau harus kemana lagi mencari keberadaan Erland. Karena jujur saja aku tidak percaya dengan ucapan Daddy tadi. Entah kenapa aku sangat yakin Erland pergi bukan karena perintah Daddy tapi dia pergi dengan kemauan dirinya sendiri. Dan dia tadi juga sempat meninggalkan kertas ini." Maura menyerahkan kertas berisi pesan dari Erland yang tadi sempat ia remat-remat menjadi gumpalan saja kearah Edrea yang langsung di terima oleh perempuan tersebut.