PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 69


__ADS_3

Butuh waktu 30 menit akhirnya mereka telah sampai di salah satu toko buku di kota yang tengah mereka tempati saat ini. Padahal jika Erland tadi menambah kecepatan motornya, mereka pasti akan sampai 15 menit lebih awal dari waktu yang mereka habiskan di jalan tadi.


Erland membantu melepaskan helm di kepala Maura saat dirinya melihat istrinya itu tengah kesusahan setelah perempuan tadi turun dari atas motornya.


"Terimakasih," ucap Maura saat helm yang melindungi kepalanya itu berhasil Erland buka.


Erland yang memang sudah melepaskan helmnya sendiri, senyumannya itu bisa di lihat oleh Maura.


"Masuk yuk," ajak Erland. Namun sebelum dirinya melangkahkan kakinya, tangannya ia gerakan untuk meraih tangan Maura. Ia genggam tangan istrinya itu kemudian membawanya untuk masuk kedalam toko buku. Tanpa Erland ketahui jika apa yang tengah ia lakukan saat ini membuat Maura sempat terkejut sebelum kepalanya ia tundukkan tentunya untuk menyembunyikan senyumannya dan semburat merah di kedua pipinya.


Keduanya yang sudah masuk kedalam toko buku, Erland langsung menuju ke deretan buku tentang agama. Ia melepaskan genggaman tangannya itu kala dirinya telah sampai di deretan buku-buku tentang keagamaan.


Maura memperlihatkan Erland yang tengah sibuk mencari buku yang akan laki-laki itu berikan kepadanya yaitu buku tuntunan sholat.


Tapi beberapa saat setelahnya, Maura mengalihkan pandangannya ke deretan buku-buku itu. Ia mengaruk tengkuknya saat melihat deretan buku islami. Benar-benar tak pernah ada dibayangan Maura jika dirinya pergi ke toko buku dengan tujuan untuk membeli buku tentang agama.


Erland yang sudah mendapatkan buku yang tengah ia cari pun ia mendekati Maura yang tengah melamun tapi tatapan matanya mengarah ke salah satu buku di rak buku tersebut. Erland yang tak menyadari jika Maura tengah melamun, ia justru mengikuti arah pandang Maura saat dirinya sudah berdiri di depan sang istri. Dimana arah pandang Maura kini tertuju ke salah satu buku yang berjudul Secrets of Divine Love.


Erland memincingkan matanya, sebelum ia mengalihkan pandangannya kembali kearah Maura.

__ADS_1


"Kamu mau beli buku itu?" tanya Erland yang berhasil membuat Maura terperanjat kaget, sampai-sampai ia kini memegang dadanya yang tengah berdetak kencang. Ingat detak jantungnya ini bukan karena ia tengah falling in love tapi akibat terkejut.


"Astaga Erland ngagetin tau gak," ucap Maura.


"Ck, aku kan dari tadi disini. Kamunya saja yang kagetan. Lagian kamu ngapain cuma lihatin buku itu dari tadi? Kamu mau beli? Kalau mau ambil saja. Uang aku masih cukup untuk beli buku itu dan buku ini," ujar Erland dengan memperlihatkan buku tuntunan sholat yang sudah berada di tangannya.


"Gak, gak usah Er," tolak Maura karena memang dia tidak berniat untuk membeli buku lain selain buku tuntunan sholat itu. Lagian dia juga tidak suka membaca. Jadi sudah dipastikan jika dirinya membeli buku lain selain tuntunan sholat tersebut, pasti buku itu hanya akan ia anggurkan begitu saja sampai rayap yang akan memakannya nanti. Jadi daripada dia membuang-buang uang Erland, lebih baik ia menolaknya.


"Tidak apa-apa Ra. Kalau mau ambil aja gih," tutur Erland.


Maura dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak Erland. Aku tidak menginginkan buku itu. Jadi lupakan saja masalah aku yang sedari tadi lihatin itu buku. Dan yang terpenting sekarang kita bayar buku tuntunan sholat itu dan segera pergi dari sini," kata Maura.


"Tidak akan Erland. Aku tidak akan menyesal sama sekali. Ayo, kita ke kasir sekarang juga." Maura mendorong tubuh Erland agar menjauh dari rak buku tersebut walaupun dirinya ditatap curiga oleh Erland, ia tak perduli. Ia masih mendorong pelan tubuh suaminya itu hingga akhirnya keduanya telah sampai di depan kasir.


"Bayar gih," ucap Maura dengan mengontrol nafasnya yang terlihat ngos-ngosan. Jujur saja tubuh Erland yang sangat berat membuat dirinya capek sendiri hanya karena mendorong laki-laki itu.


"Kamu yakin tidak jadi beli buku itu." Maura yang tadi sempat mengatur nafasnya dengan sesekali mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya, pergerakannya itu ia hentikan kala mendengar ucapan dari Erland. Dan dengan wajah yang ia buat segarang mungkin tak lupa ia juga memelototkan matanya, Maura menatap wajah Erland.

__ADS_1


Dimana hal itu membuat Erland menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Oh oke. Kamu tidak jadi beli buku itu. Oke-oke aku paham."


Erland kini mengalihkan pandangannya kearah kasir di depannya itu dengan menyodorkan buku ditangannya tersebut ke salah satu pegawai di toko buku tersebut.


"Hanya ini saja, mas?" tanya pegawai toko tersebut dengan sangat ramah yang justru langsung mendapat tatapan maut dari Maura. Entah kenapa ia tak suka ada seseorang yang memanggil Erland dengan sebutan mas, ia rasa sebutan itu hanya pantas digunakan oleh sepasang suami-istri atau kalau tidak ya sepasang adik-kakak.


Si pegawai toko buku itu tampak menundukkan kepalanya kala tak sengaja tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Maura yang sangat-sangat mengerikan bagi si pegawai itu.


Sedangkan Erland, ia yang tak merasa jika nyawa si pegawai toko itu tengah terancam oleh istrinya pun dengan santai ia menjawab, "Iya. Hanya itu saja."


Jawaban Erland memang sangat biasa saja. Bahkan wajah laki-laki itu terlihat sangat datar, tak ada senyum yang dia perlihatkan. Tapi entah kenapa jawaban dari Erland tadi justru semakin membuat Maura kebakaran jenggot.


"Kenapa harus dijawab sih? Mau tebar pesona apa gimana? Sialan memang," batin Maura.


Sang pegawai yang mendengar ucapan dari Erland pun ia menganggukkan kepalanya, kemudian ia dengan cepat menscan buku tersebut kemudian memasukkan kedalam plastik sengat berkata, "Totalnya 15 ribu mas."


Tanpa mengatakan apapun, Erland langsung mengambil uang dari dompetnya kemudian memberikannya kepada pegawai toko tersebut.


"Uangnya 100 ribu, kembaliannya 85 ribu. Terimakasih atas kunjungannya. Silahkan datang kembali," ucap pegawai toko itu masih dengan nada ramah namun kepalanya tak berani ia tegakkan.

__ADS_1


Erland menganggukkan kepalanya sembari mengambil uang kembaliannya tadi. Kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Maura yang masih menatap sengit kearah pegawai toko itu.


"Ayo pulang," ajak Erland dengan meraih tangan Maura, menggenggamnya sebelum dirinya melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam toko buku itu yang otomatis membuat Maura juga ikut melangkahkan kakinya. Tapi tatapan matanya masih menatap kearah pegawai toko yang saat ini tengah curi-curi pandang kepadanya, seakan-akan tatapan mata yang di perlihatkan Maura saat ini tengah berkata, "Awas kamu!"


__ADS_2