
Erland berlari menghampiri Maura dan Mama mertuanya. Mama Dian yang sedari tadi menguatkan Maura dan terus berada di sampingnya, ia langsung bergeser saat melihat kehadiran Erland disana. Ia membiarkan sang menantu yang mengambil alih posisinya tadi.
Sedangkan Erland yang sudah berada di samping sang istri, ia memeluk tubuh Maura. Air matanya semakin deras keluar dari dalam pelupuk matanya.
"Maaf. Maafin aku. Aku terlambat datang kesini. Sayang, maafin aku," ucap Erland penuh penyesalan. Jika waktu bisa ia undur ke beberapa jam yang lalu, pasti ia tak akan pergi bekerja dan memilih untuk menemani sang istri. Tapi sayangnya waktu tak bisa ia ubah, ia terlambat menemani Maura dalam keadaan kesakitan seperti yang ia lihat saat ini.
Maura yang mendengar perkataan dari sang suami, walaupun ia masih merasakan rasa sakit yang luar biasa, tangannya terulur, mengelus punggung Erland sembari berkata, "Kamu belum telat sayang. Jadi jangan meminta maaf. Dan lihatlah, aku belum melahirkan anak kita. Masih ada dua tahap lagi agar baby kita lahir. Jadi kamu masih bisa menemani aku saat melahirkan nanti."
"Tapi---" Ketika Erland ingin kembali berkata, ucapannya lebih dulu terhenti kala Maura mencengkeram kuat kemeja yang ia kenakan.
Erland yang paham akan aksi Maura ini, ia mengelus kepala Maura dengan lembut sembari berkata, "Cengkram yang kuat sayang. Tumpahkan semua rasa sakit yang kamu rasakan saat ini kepadaku. Walaupun rasa sakit yang aku rasakan nanti tidak sepadan dengan rasa sakitmu tapi setidaknya aku bisa merasakan rasa sakitmu walaupun sedikit. Ayo sayang cengkram yang kuat. Tumpahkan rasa sakitmu."
Maura mengeratkan cengkramannya disertai dengan ringis di bibirnya.
Saat Erland tengah berusaha menjadi suami siaga, Mama Dian yang sedari tadi menatap interaksi keduanya dengan tangan yang mengelus perut buncit Maura. Diam-diam dirinya tersenyum. Tidak salah dirinya dulu memberikan restunya kepada Erland. Terbukti bahwa menantunya itu sangat sayang dengan Maura. Dan ia benar-benar sangat bersyukur akan hal itu.
Suara pintu terbuka membuat Mama Dian mengalihkan pandangannya yang tadinya menatap kearah pasutri muda, kini menatap kearah dokter dan suster yang baru masuk kedalam ruang inap Maura.
Dokter dan para suster tadi tampak terkejut saat menatap kearah Maura dan Erland. Saat mereka ingin menegur laki-laki yang tengah memeluk Maura, niat itu berhenti saat mendengar suara Erland masuk kedalam indra pendengaran mereka. Tentunya jika Erland orangnya maka tak ada satupun dari dokter dan suster berani menegurnya jadi lebih baik mereka membiarkan saja dan memilih untuk melakukan tugas mereka dengan sebisa mungkin tidak mengganggu kegiatan Erland yang terus menenangkan Maura.
__ADS_1
Dokter perempuan yang sudah memeriksa tahap pembukaan Maura, ia menatap suster disampingnya dengan menganggukkan kepalanya, kode jika pembukaan Maura sudah sempurna yang artinya sebentar lagi proses melahirkan akan segara dimulai.
Suster yang paham pun ia turut menganggukkan kepalanya. Lalu ia menghampiri Mama Dian yang masih berdiri di samping Erland.
"Maaf nyonya. Proses melahirkan akan segara kita mulai. Jadi tanpa mengurangi rasa hormat saya, nyonya keluar dulu dari ruangan ini," ucap suster tersebut sangat sopan.
Mama Dian menganggukkan kepalanya, menimpali ucapan dari suster tadi. Dan tanpa banyak bicara, ia langsung melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruang tersebut.
Saat Mama Dian sudah tak terlihat, suster tadi berpindah ke samping Erland. Dan dengan takut-takut ia berkata, "Maaf sebelumnya tuan Erland. Saya minta tuan Erland tidak memeluk tubuh nyonya Maura karena proses melahirkan akan segara kita lakukan. Dan jika tuan terus memeluk seperti ini takutnya akan menghambat pernafasan untuk nyonya Maura dan tentunya akan berakibat fatal nantinya."
Erland yang mendengar perkataan terakhir dari suster itu, ia melirik dengan tatapan tajam. Ia tak suka dengan ucapan dari suster tadi yang seakan-akan Maura akan pergi selamanya ketika ia peluk seperti ini, pikir Erland yang sudah tak bisa berpikir jernih lagi.
Erland yang merasakan Maura tak lagi memeluknya, ia menatap istrinya. Ingin sekali ia protes namun gelengan lemah Maura membuatnya tak jadi melakukannya. Tapi tetap saja, laki-laki itu mendengus kesal. Dan dengan mengusap air matanya dengan kasar, ia menegakkan tubuhnya. Tak lupa ia menggenggam erat salah satu tangan Maura yang langsung disambut genggaman erat dari Maura.
Sedangkan dokter dan para suster sudah bersiap di posisi mereka masing-masing.
"Ikuti instruksi dari saya ya nyonya," ujar Dokter tersebut yang sudah bersiap untuk membantu proses melahirkan Maura.
Maura hanya menganggukkan kepalanya. Anggukkan kepala dari Maura tersebut membuat dokter tadi tersenyum lalu ia berkata, "Ambil nafas dalam nyonya."
__ADS_1
Maura melakukan apa yang di perintahkan oleh dokter tadi. Ia mengambil nafas dalam-dalam kemudian dokter itu kembali memberikan perintah, "Satu, dua, tiga. Mengejan!"
Dengan sekuat tenaga Maura mengejan. Tangannya yang di genggaman oleh Erland, semakin ia eratkan sedangkan satu tangannya yang lain ia gunakan untuk mencengkeram erat sprei yang melapisi kasur rumah sakit.
"Huh!" erang Maura kala ia merasa sudah kehabisan nafas namun bayi yang ada di dalam perutnya belum juga mau keluar.
"Ayo kita coba lagi nyonya. Ambil nafas!" perintah dokter untuk yang kedua kalinya. Dan lagi-lagi Maura melakukannya.
"Mengejan!"
"Enghhhhh Arkkhhhhhhh!" Erangan penuh kesakitan dari Maura membuat Erland kembali meneteskan air matanya sebelum tubuhnya ia condongkan hingga wajahnya berada tepat di depan telinga sang istri bertepatan dengan Maura sudah mengatur nafasnya kembali. Yang artinya percobaan kedua belum membuahkan hasil.
"Ayo sayang semangat. Istriku kuat. Istriku hebat. Semangat sayang kamu pasti bisa," ucapan dari Erland tadi seakan menambah semangat Maura yang hampir menyerah. Sehingga Maura kembali mengejan sekuat tenaganya saat dokter kembali memberikan aba-aba kepadanya.
"Semangat nyonya. Kepala baby sudah terlihat. Ayo sekali lagi!"
Dengan tubuh yang sudah sangat lemas Maura hanya bisa memejamkan matanya sekilas sebelum ia kembali mengambil nafas dalam-dalam dan dengan sisa tenaga yang ia punya ia mengejan, mengarahkan semua tenaganya yang mungkin jika babynya belum juga lahir saat itu juga, Maura lebih dulu pingsan. Tapi syukurnya baby yang ia perjuangkan akhirnya lahir juga dengan di tandai suara tangisannya yang sangat nyaring memenuhi ruangan tersebut.
Dengan wajah pucat pasi, Maura tersenyum kala mendengar suara tangis tersebut. Tak berselang lama, ia merasakan kecupan yang mendarat di seluruh wajahnya yang membuat Maura terkekeh kecil. Karena ia tau siapa pelaku yang menciumnya itu jika bukan sang suami yang baru pertama kali ia lihat tangisannya.
__ADS_1