
Orla dan Mama Rina yang sudah mendapatkan gaun yang pas, mereka saat ini tengah menunggu kehadiran Vivian karena saat ini sudah lebih 30 menit mereka menunggunya.
"Ma, aku sudah tidak sabar bertemu Kakak ipar. Tapi aku juga merasa nervous. Aduh Ma, aku nanti harus gimana?" tanya Orla. Ia sebenarnya baru tau tadi malam jika butik yang sering di kunjungi teman-temannya dan merupakan butik terkenal di kota itu milik Kakak perempuan Erland yaitu Vivian. Itupun dirinya tadi malam melihat-lihat artikel tentang butik tersebut. Dan tentunya ia terkejut melihat fakta itu. Bahkan ia merasa bodoh, selama ini dirinya kemana coba sampai-sampai tidak tau jika salah satu Kakak Erland memiliki butik. Jika saja sudah lama ia tau fakta itu dirinya sudah bergerak cepat untuk mendekati Vivian, mengambil hati perempuan tersebut agar semakin mulus ia mendekati Erland. Tapi walaupun dirinya telat mengetahui fakta itu, ia rasa tidak terlambat jika harus mengambil hati Vivian terlebih dahulu nanti.
Mama Rina yang duduk disampingnya tersenyum dengan tangan yang bergerak, meraih tangan Orla untuk ia genggam.
"Kamu tenang dulu sayang. Jangan gerogi gini dong. Takutnya kalau kamu terlalu gerogi bisa ngompol. Masak iya di depan calon Kakak ipar, kamu malah ngompol sih yang ada malu dan pastinya Vivian akan langsung mencoret nama kamu dari daftar kandidat calon adik ipar dia," ucap Mama Rina sengaja menyelipkan sebuah gurauan agar Orla tak terlalu gerogi. Sedangkan Orla yang mendengar perkataan dari Mama Rina, ia menepuk tangan sang Mama yang sedari tadi ia genggam.
"Mama apa-apaan sih. Orla memang tengah nervous tapi tidak sampai ngompol juga kali. Ishhh," ucap Orla dengan kerucutan di bibirnya yang justru di balas kekehan kecil dari Mama Rina.
"Mama hanya bercanda sayang. Makanya jangan gerogi oke." Orla hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan membalas genggaman tangan dari sang ibunda kembali.
Tanpa mereka sadari percakapan yang terjadi tadi di dengar sangat jelas oleh perempuan lain yang duduk tepat di belakang mereka. Perempuan itu hanya memutar bola matanya malas.
"Heboh bener jadi orang cuma mau ketemu sama Vivian aja. Mana udah percaya diri banget pakai panggil Kakak iparan segala lagi. Memang sudah jelas jika Vivian mau menerima anaknya menjadi adik iparnya? Aku saja yang sudah jelas menjadi salah satu besan di keluarga Abhivandya biasa aja, tidak seheboh mereka. Maura juga dia biasa-biasa saja tuh. Ehhhh tapikan Maura belum tau Vivian Kakak iparnya. Bodoamat lah yang penting kita berdua tidak norak seperti mereka. Mamanya tadi malam sudah koar-koar di grup arisan kalau anaknya sebentar lagi akan menikah dengan keturunan Abhivandya. Iya kalau lamaran mereka di terima, kalau tidak mau di taruh dimana tuh muka tebal mereka. Malu yang pasti," gumam perempuan itu yang tentunya adalah Mama Dian. Ia tak bisa menahan ke-julitannya saat mendengar percakapan dari mereka berdua tadi.
Ibunya tadi malam heboh di grup arisan dan sekarang mereka heboh di butik milik Vivian, huh memuakkan.
Saat sepasang ibu dan anak itu terus bercakap dengan sesekali sang ibu menenangkan putrinya dan Mama Dian selalu julit tentang mereka, dari ujung anak tangga terlihat Vivian yang sepertinya baru turun dari lantai atas.
Perempuan itu berjalan mendekati salah satu karyawan yang tadi sempat memberitahu dirinya jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
"Ci, mana orang yang mau bertemu denganku?" tanya Vivian yang membuat karyawannya yang baru saja di panggil menolehkan kepalanya kearah Vivian.
__ADS_1
"Ehh Kak Vi. Di sana Kak, orang itu tadi yang mencari Kakak." Karyawan tersebut menunjuk ke salah satu tempat duduk yang berada di sudut butik itu. Ia tak salah tunjuk memang, tapi tanpa karyawan itu sadari ternyata Vivian salah melihat orang yang karyawannya itu maksud. Harusnya ia melihat sepasang ibu dan anak yang tengah menatapnya dengan senyuman, Vivian justru melihat kearah seorang perempuan paruh baya yang duduk tepat di belakang mereka berdua. Tentu saja Vivian tau siapa perempuan itu jadi ia melebarkan senyumannya.
"Thanks Vi. Aku kesana dulu," ucap Vivian sebelum dirinya berjalan menuju ke arah tempat duduk dipojok ruangan.
Dan senyuman serta langkah kaki Vivian yang semakin mendekat, membuat Orla semakin menggenggam tangan Mama Rina sangat kuat.
"Ma, aku gugup."
"Tenang sayang tenang," ucap Mama Rina tanpa melunturkan senyumannya dengan mata yang terus tertuju kearah Vivian.
Dan setelah Vivian hanya berjarak beberapa meter dari mereka, Mama Rina berdiri dari posisi duduknya yang otomatis membuat Orla juga ikut berdiri.
Orla menatap kearah Vivian dengan degup jantung yang berpacu begitu cepat. Dan dengan memasang wajah malu-malu, Orla menundukkan kepalanya saat Vivian sudah berada di hadapan mereka. Bahkan Mama Rina sudah membuka bibirnya, berniat menyapa Vivian. Tapi Mama Rina di buat melongo tak percaya saat Vivian hanya melewati mereka berdua. Dan...
Orla yang mendengar suara Vivian bukan memanggil nama Mama Rina melainkan nama orang lain, ia menegakkan kepalanya, menolehkan kepalanya itu tepat ke sumber suara.
Sedangkan Mama Dian yang tiba-tiba di panggil pun ia terperanjat kaget. Pasalnya ia tadi masih komat-kamit mencibir sepasang ibu dan anak di depannya itu.
Mama Dian menunjuk dirinya sendiri, "Kamu panggil aku, Vi?"
Vivian tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi, kan yang Vivian kenal disini hanya Tante Dian," ucap Vivian yang membuat Mama Dian tersenyum penuh kemenangan bahkan saat dirinya berdiri dari posisi duduknya, ia sempat melirik kearah dua perempuan yang tengah menatap Vivian dengan tatapan emosi jelas terlihat dari dua pasang mata itu.
__ADS_1
Dimana saat Mama Dian sudah berdiri tegak, Vivian langsung memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut.
"Gimana kabar Tante?" tanya Vivian sembari melepaskan pelukannya tadi.
"Ya seperti yang kamu lihat Vi. Tante sangat baik. Bagaimana dengan kamu, suami kamu dan si kecil?"
"Kami baik-baik saja, Tan. Bahkan si kecil sudah bisa jalan lho. Lain kali main lagi dong ke rumah," ucap Vivian. Ya, sebenarnya mereka berdua sudah lama kenal karena perusahaan suami Vivian dan perusahaan milik Papa Louis saling bekerjasama. Kedekatan mereka berdua terjadi saat mereka selalu ikut suami mereka masing-masing untuk melakukan pertemuan. Dan tanpa mereka sangka saat ini mereka sudah menjadi keluarga karena pernikahan Maura dan Erland. Bahkan Vivian saat ini sudah menganggap Mama Dian sebagai ibu ke duanya.
"Wahhhhh cepat sekali ya pertumbuhan dia. Lain kali deh Tante main ke rumah kamu," ucap Mama Dian.
"Baiklah, Vivian akan tunggu kedatangan Tante di rumah. Oh ya, Tante kesini sama siapa? Jangan bilang kalau Tante kesini sendiri lagi," ujar Vivian.
"Tenang saja kali ini Tante tidak sendiri kok tapi sama Maura." Mata Vivian melebar sempurna kala mendengar nama adik iparnya yang sangat sulit untuk ia temui mengingat adiknya harus menyembunyikan identitasnya segala yang membuat dirinya tak bisa dekat dengan Maura.
"Tante sama Maura?" Mama Dian menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, dimana dia sekarang? Vivian mau ketemu sama dia," ucap Vivian terlihat sangat excited.
Dimana hal tersebut membuat kedua perempuan yang sedari tadi di acuhkan oleh Vivian padahal mereka berdua yang sedari tadi menunggu kemunculan perempuan itu kini keduanya mengepalkan tangannya dengan tatapan mata yang masih tertuju kearah Vivian dan Mama Dian. Tapi Mama Dian yang menyadari tatapan dua perempuan itu, ia mana peduli, dirinya malah semakin merasa menang karena bisa membuat kedua perempuan yang memiliki kepercayaan diri setinggi langit itu merasa emosi sekarang.
Mama Dian kini mengusap lengan Vivian sembari berkata, "Kamu tunggu disini dulu. Tante cari Maura di sana, dia masih pilih-pilih pakaian soalnya."
Vivian menganggukkan kepalanya, menuruti apa yang sudah di katakan oleh Mama Dian. Dimana saat Mama Dian melihat anggukkan kepala dari Vivian, ia bergegas mencari keberadaan Maura. Sedangkan Vivian, ia langsung duduk di sofa yang tadi di duduki oleh Mama Dian. Dan baru saja ia mendudukkan tubuhnya disana, matanya menangkap dua perempuan yang berdiri di depannya dengan terhalang sofa itu tengah menatap dirinya.
__ADS_1
Vivian membalas tatapan kedua perempuan di hadapannya dengan senyum serta sedikit menganggukkan kepalanya, sebagai bentuk hormat dia sebagai pemilik bukti kepada pelanggannya. Lalu setelahnya ia memilih memfokuskan dirinya pada benda pipih yang sudah berada di tangannya. Tak peduli dengan dua perempuan yang masih saja menatapnya itu.