PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 163


__ADS_3

Maura menatap kepergian dari Erland tadi dengan tatapan mata yang tak bisa di baca. Satu sisi ia senang karena ia tidak hamil tapi di sisi lain, karena berita tersebut membuat Erland sangat kecewa dan kekecewaan itu membuat dia bersikap berbeda dari yang sebelumnya. Yakinlah perempuan itu di ciptakan dengan kepekaan yang sangat tajam jadi Maura merasakan jika buah dari kekecewaan tersebut berhasil merubah Erland menjadi sedikit dingin kepadanya. Walaupun Erland tadi sempat tersenyum kepadanya dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja, tapi tetap saja bagi Maura suaminya tak sebaik-baik yang ia katakan tadi. Dan Maura sangat berharap jika perbuatan Erland yang sempat ia rasakan tadi tidak bertahan lama. Hanya sebentar saja setidaknya satu hari tidak lebih dari itu. Terus terang saja Maura tidak tau harus berbuat apa jika Erland akan bersikap seperti tadi atau malah semakin dingin kepadanya. Mungkin dia akan mati berdiri menghadapinya.


Saat hati dan pikiran Maura terus berperang, ia tetap saja menjawab salam dari suaminya tadi, "Waalaikumsalam."


Maura yakin salamnya tadi tidak di dengar oleh Erland karena laki-laki itu sudah tidak terlihat lagi. Bahkan sesaat setelahnya terdengar suara mesin mobil Erland yang mulai meninggalkan pelantar rumah tersebut.


Dimana hal itu membuat Maura menghela nafas panjang sembari bergumam, "Hati-hati dijalan dan segara lah kembali."


Setelah mengucapkan perkataan tadi, Maura langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menutup seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan selimut tentunya hal itu ia lakukan untuk menyembunyikan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja menangis.


Sedangkan disisi lain, Erland melajukan mobilnya cukup kencang dan tentunya tujuan utamanya ke markas saat dia masih muda dulu. Dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, ia telah sampai di markas berlantai dua tersebut. Tentunya kedatangan dirinya membuat beberapa orang yang ada di markas tersebut menatap kearah mobilnya sebelum tatapan mereka beralih kearah Erland yang baru saja turun dari mobil mewah tersebut tak lupa dengan membanting pintu mobil tersebut kala ia menutupnya. Tanpa bertanya pun semua orang tau jika laki-laki yang pernah menjabat sebagai ketua geng motor mereka itu saat ini tengah di landa emosi. Dimana saat itu juga tidak ada seorangpun dari mereka yang berada di depan markas menyapa Erland ketika laki-laki itu melewati mereka dengan tatapan tajamnya.


Namun beda lagi dengan empat orang yang saat ini tengah duduk di satu ruangan yang sama. Dimana saat Erland baru masuk saja salah satu dari mereka berteriak, "Woyyy ada tamu nih!"


Teriakan itu tentunya membuat ketiga orang lainnya yang tadi tengah asik dengan kegiatan mereka mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang laki-laki yang berteriak tadi, alias Odi.


"Tumben si anak rumahan kesini lagi setelah beberapa bulan yang lalu? Ada apa nih?" timpal satu orang lainnya yaitu Galuh.

__ADS_1


"Dilihat-lihat dari aura tubuhnya yang butek itu sepertinya dia tengah ada masalah," seru Septian.


"Wow sepertinya memang---"


"BERISIK!" sentak Erland saat dirinya sudah bergabung dengan keempat sahabatnya yang lain. Dimana sentakan tersebut membuat keempatnya langsung mengatupkan bibirnya tak ada yang berani angkat suara kembali.


Sedangkan Erland, ia memilih langsung mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa yang masih kosong, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan dengan posisi kepala yang menengadah, ia menutup kedua matanya dengan kedua tangannya.


Dimana hal tersebut membuat keempat sahabatnya saling pandang satu sama lain dengan memberikan kode melalui gerakan mata, seakan-akan mereka tengah melemparkan satu pertanyaan yang sama yaitu, "Ada apa dengan Erland?"


Suasana di ruang tamu itu tampak hening tak ada sedikitpun suara bahkan ponsel mereka berempat tadi sempat mereka ubah dengan mode silent agar tidak menggangu Erland. Hingga tiba-tiba seseorang yang baru saja turun dari lantai dua mendekati mereka berlima. Dimana saat orang itu yang tak lain adalah Virza telah sampai di ruang tamu, ia mengerutkan keningnya saat melihat Erland ada disana sekaligus ia juga cukup penasaran kenapa mereka tidak saling bercakap-cakap seperti biasanya, hanya ada keheningan yang meliputi ruangan tersebut.


Dengan keterbingungannya, Virza duduk di sebelah Erland. Dan karena ia benar-benar penasaran apa yang tengah terjadi ia pun berucap, "Ini kenapa pada diam semua sih? Kalian lagi kena sakit sariawan serempak?"


Ucapan dari Virza tadi membuat semua orang disana selain Erland memelototkan matanya kearahnya yang tentunya semakin membuat Virza bingung setengah mati.


"Kalian kenapa sih? Oh aku tau selain sariawan kalian juga sakit mata kan? Kalau kalian lagi mengalami yang namanya sakit komplikasi seperti ini lebih baik segera periksa ke dokter sana gih. Takutnya nanti semakin parah," ucap Virza.

__ADS_1


Keempat laki-laki itu menepuk keningnya secara serempak. Dan mau tak mau salah satu dari mereka berempat membuka suara.n


"Sakit komplikasi matamu! Kita diam begini ya karena teman kamu yang satu tuh. Dia tiba-tiba kesini dan main bentak kita aja dengan mengatakan kalau kita berisik. Jadi untuk kedamaian bersama, kita tidak ada yang bersuara. Ehhh tapi kamu malah tiba-tiba datang dan mengganggu ketenangan Erland. Kalau dia ngamuk sama kamu, baru tau rasa," ujar Galuh yang diangguki setuju oleh ketiganya.


Sedangkan Virza, ia menolehkan pandangannya kearah Erland yang masih saja posisinya seperti sebelumnya tak berubah sedikitpun.


Dan tanpa memperdulikan tatapan keempat temannya yang lain, tangan Virza kini bergerak, menepuk pundak Erland dua kali sebelum ia berucap, "Tenangkan dulu diri kamu. Kita tau kamu sedang memiliki masalah. Dan jika kamu sudah tidak tahan lagi untuk memendam masalah kamu itu, kita dengan senang hati akan mendengar cerita kamu. Tapi jika kamu masih tidak berkenan untuk bercerita, kita tidak akan memaksa kamu. Tapi yang jelas kita akan tetap mendoakan, supaya apapun masalah yang tengah kamu hadapi bisa segera teratasi."


Virza kembali menepuk bahu Erland dua kali sebelum dirinya menegakkan kembali tubuhnya dengan bibir yang terkatup rapat seperti keempat sahabatnya itu.


Situasi di ruang tamu itu kembali sunyi. Hingga tiba-tiba Erland menegakkan tubuhnya, menatap ke lima temannya secara bergantian sebelum digunakan berkata, "Gimana caranya untuk mendapatkan anak secepat mungkin?"


Pertanyaan Erland tadi tentunya membuat ke-lima laki-laki yang duduk di ruangan yang sama dengannya melongo tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


...****************...


Tandai kalau ada yang salah dalam penulisannya. Terimakasih. Jangan lupa LIKE VOTE, HADIAH dan KOMEN. See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2