
Maura telah kembali masuk kedalam mobil membawa satu kantong plastik yang didalamnya sudah terdapat cilok yang baru saja ia beli itu. Tak tanggung-tanggung, uang sebesar 20 ribu tadi ia belikan semua makanan tersebut.
Dan tanpa mengenakan seat beltnya terlebih dahulu, bahkan ia tetap fokus kearah cilok, ia berkata, "Jalan!"
Erland hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk yang kesekian kalinya. Tapi ia tak kunjung melakukan apa yang diperintahkan oleh Maura. Ia tepat menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kemudi dengan tatapan mata yang lurus kearah sang istri yang saat ini sudah mulai memasukkan jajanan SD itu ke dalam mulutnya.
Maura yang sadar jika mobil suaminya tersebut tidak segera berjalan, ia dengan kesal menoleh kearah Erland.
"Kenapa tidak jalan?! Aku tadi nyuruh kamu buat jalanin mobil ini! Jadi buruan tunggu apa lagi? Jalan sekarang juga. Aku sudah tidak betah berlama-lama dengan kamu, pembohong handal," ujar Maura sembari mengalihkan pandangannya kembali.
Erland menghela nafas. Sudahlah sepertinya ia akan menerima panggilan baru dari istrinya tercinta itu. Sakit menang tapi ia tidak boleh menyangkalnya karena apa yang di katakan oleh Maura adalah sebuah kenyataan. Dirinya pembohong dan korbannya adalah istrinya sendiri. Erland juga akan menganggap jika sebutan pembohong yang keluar dari bibir sang istri untuk dirinya, ia anggap sebagai panggilan sayang Maura.
"Pakai seat beltnya dulu. Baru aku jalankan mobil ini," ujar Erland yang tak ingin terjadi apapun kepada sang istri.
Maura berdecak, ia dengan berat hati harus menghentikan aksi memakan ciloknya itu dan menaruh makanan tersebut tepat di sampingnya sebelum ia memasang sabuk pengaman.
Saat Maura tengah sibuk memasang seat belt, diam-diam Erland ingin mengambil satu buah cilok milik Maura. Ia cukup rindu dengan jajanan masa kecilnya itu yang sudah cukup lama tak ia beli. Tapi sayangnya saat tangannya baru saja ingin menyentuh tusukan cilok tersebut, tangan Maura memukul tangannya itu sembari ia berkata, "Selain pembohong, kamu juga mau jadi pencuri?"
Erland melongo tak percaya.
"Astaga darimana aku mau mencuri sih. Aku mau minta aja."
"Minta kok gak bilang? Harusnya kalau kamu mau minta itu bilang bukan langsung comot aja," ujar Maura dan dengan gerakan cepat ia menarik makanan tersebut, menjauhkan makanan itu sejauh mungkin dari Erland.
__ADS_1
"Ck, ya udah. Aku minta sini," ucap Erland.
"Gak boleh. Beli aja sana sendiri!" kata Maura.
"Lho heh kok pelit sama suami sendiri? Bagi sini!" Erland berusaha meraih cilok tadi dari tangan Maura. Tapi sayangnya istrinya itu semakin menyembunyikan makanan tersebut.
"Ihhhh apaan sih? Kalau aku bilang gak boleh itu ya gak boleh!"
"Cuma minta satu aja lho!"
"Gak boleh!"
"Satu aja."
"Jangan teriak-teriak," perintah Erland dengan tegas. Ketegasan yang di berikan oleh Erland tadi selalu membuat Maura tak berkutik sehingga dirinya menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Saat Erland melihat anggukkan kepala dari sang istri, ia melepaskan tangannya dari bibir Maura sekaligus menjauhkan dirinya untuk kembali duduk di kursi kemudi. Untuk urusan cilok, Erland mengalah saja. Dia nanti akan beli sendiri daripada dia di keroyok masa karena kesalahpahaman semata.
Sedangkan Maura, ia saat ini menghirup udara dengan rakus. Kemudian ia berkata, "Jalankan mobilnya sekarang juga kalau kamu gak mau teriak lagi!"
Erland kali ini langsung menuruti apa yang di mau oleh Maura. Laki-laki itu kini melajukan mobilnya menuju ke rumah mertuanya dengan sesekali melirik kearah Maura tentunya saat ia melihat istrinya itu senyum langsung terbit di bibirnya.
Hingga tak terasa mobil yang ia jalankan kini telah sampai di rumah mertuanya. Dan baru saja mesin mobil ia matikan, Maura langsung keluar dari dalam mobil tersebut, berlari menuju kearah pintu utama.
__ADS_1
Sedangkan Erland, ia menghela nafas panjang sebelum ia ikut turun dan mengambil koper milik Maura. Ia memang berat membiarkan Maura untuk tinggal dengan orangtuanya kembali. Tapi ia akan memberikan waktu Maura untuk meredakan amarahnya. Walaupun di luar Maura saat ini bertingkah seolah-olah perempuan itu tidak sedang marah besar kepadanya, tapi Erland yakin di dalam lubuk hatinya, Maura saat ini tengah hancur karena kebohongan yang Erland buat.
Toh sejak pernikahan mereka, Maura tidak pernah pulang ke rumah kedua orangtuanya dan baru pulang pada hari dimana malamnya ia justru di lamar oleh perempuan gila itu. Jadi untuk ketenangan Maura dan agar istrinya itu bisa mengobati rasa rindunya, Erland akan membiarkan Maura tinggal dengan kedua orangtuanya. Tapi tetap saja Erland hanya akan memberikan waktu dua sampai tiga hari saja, setelah itu Erland akan menemui Maura untuk menjemput dia pulang kembali bersamanya, sekaligus ia akan menjelaskan semuanya.
Erland kini berjalan mendekati Maura yang sedari tadi menggedor-gedor pintu itu sembari berteriak memanggil nama kedua orangtuanya.
"Kalau bertamu di rumah orang itu yang sopan. Jangan teriak-teriak. Ketuk pintunya bukan di gedor dan ucapkan salam," ujar Erland menasehati Maura.
Entah karena sudah terbiasa di nasehati oleh Erland, Maura yang semula seperti orang kesetanan, kini berubah menjadi tenang. Bahkan dirinya melakukan apa yang di sarankan oleh Erland tadi.
Tok tok tok!!!
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa. Maura pulang!" kata Maura. Dan tak berselang lama pintu dihadapan dirinya dan Erland terbuka memunculkan wajah Mama Dian di balik pintu tersebut.
"Nah kalau gini kan enak di dengar. Waalaikumsalam," ujar Mama Dian yang sepertinya sengaja tidak membuka pintu rumahnya kala Maura tadi menggedor-gedor pintu itu.
Maura mencebikkan bibirnya, tapi beberapa saat setelahnya, ia langsung menubruk tubuh Mama Dian sampai-sampai perempuan paruh baya itu memundurkan langkah kakinya. Dan untung saja ia bisa langsung menyeimbangkan tubuhnya kalau tidak sudah di pastikan ia akan jatuh dan tubuh Maura akan menindih tubuhnya.
Saat Mama Dian ingin mengomeli Maura, bibirnya yang sudah terbuka ia tutup kembali saat suaranya kalah cepat dari suara Maura yang berkata, "Ma, Maura tinggal sama Mama aja. Maura tidak mau tinggal sama Erland lagi. Erland jahat. Selain pembohong dia juga pencuri. Dan katakan ke Erland, kalau dia mau bertemu dengan Maura, bilang Maura sibuk, gak bisa diganggu. Maura mau ke kamar dulu."
Maura mengecup sekilas pipi ibunya yang masih loading menangkap ucapan dari Maura tadi. Dan setelah memberikan kecupan singkat tersebut, Maura memutar tubuhnya menjadi menghadap kearah Erland. Dengan dengan cepat ia mengambil koper dari tangan Erland sebelum ia melengos pergi begitu saja, menjauh dari ibundanya dan suaminya.
...****************...
__ADS_1
Kasih tau kalau ada Typo! Atau penulisan kata yang salah! Terimakasih ❤️ See you next eps bye 👋 Love you ❤️