
Erland terus menghindari kejaran Maura yang akan memberikan pelajaran kepadanya karena sudah berhasil membuat Maura terbakar api cemburu. Maura terus mengejar Erland hingga karena dirinya merasa lelah, ia mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Nyerah udah. Aku capek. Huh," ucap Maura dengan menyandarkan tubuhnya disandarkan sofa sembari matanya tertutup sempurna. Tak lupa kedua tangannya ia kibas-kibaskan di area wajah yang sudah memerah dengan peluh yang bercucuran. Sumpah, hanya mengelilingi rumah saja ia sudah seperti olahraga di lapangan sepak bola. Bahkan lihatlah dress yang saat ini ia kenakan hampir basa semua karena keringatnya.
Sedangkan Erland yang melihat Maura kelelahan, ia terkekeh. Sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.
Hanya selang beberapa menit saja ia telah kembali mendekati Maura dengan kedua tangannya yang saat ini membawa dua minuman dingin. Dan saat dirinya sudah berdiri di samping Maura, ia mendekatkan salah satu minuman dingin di tangannya itu ke pipi Maura, ia tempelkan minuman tersebut hingga membuat mata Maura terbuka saat perempuan tersebut merasakan ada sesuatu yang dingin di pipinya.
Erland yang melihat Maura sudah membuka matanya, ia menjauhkan minuman tadi dari pipi istrinya itu. Namun setelahnya ia menyodorkannya tepat dihadapan Maura sembari berkata, "Nih minum."
Maura tersenyum kearah Erland sembari tangannya menerima minuman pemberian Erland tadi.
"Terimakasih," ucap Maura yang dibalas anggukan serta senyuman dari laki-laki tersebut. Tapi tak hanya itu saja, Erland juga memberikan elusan di kepala Maura. Kemudian setelahnya ia duduk disamping tubuh Maura.
Dan saat Erland tengah meminum minumannya tanpa ia sadari jika Maura tengah melirik kearahnya dengan senyum miring di bibir perempuan itu sebelum...
__ADS_1
Happp!
"Kena, kamu!" ucap Maura dengan tangan yang menjewer telinga Erland yang membuat laki-laki tersebut meringis kesakitan.
"Awssss. Sakit sayang," erang Erland untung saja dirinya sudah menelan air yang tadi berada di mulutnya. Jika tidak, sudah bisa ia pastikan jika ia akan tersedak minuman itu. Tangan Erland tak tinggal diam, ia mencoba melepaskan jeweran mematikan yang diberikan oleh Maura. Namun semakin dia berusaha untuk melepaskan jeweran tersebut, istrinya justru semakin mengencangkan jeweran sampai Erland merasa jika telinganya ingin lepas dari tempatnya.
Sedangkan Maura yang mendengar erangan dari Erland, ia tak merasa kasian sama sekali. Biarkan saja ia menjadi istri durhaka untuk kali ini saja karena ia melakukan jeweran ini untuk menghukum Erland yang sudah bersandiwara dengan perempuan lain tengah bermesraan, ehhh taunya perempuan itu adiknya. Belum lagi Maura harus menanggung malu karena sempat membuat keributan di toko buku juga bersama dengan tukang ojek gadungan yang baru juga ia tau jika tukang ojek itu alias Bayu adalah teman Erland. Ditambah ia tadi sempat uring-uringan dengan diri dia sendiri, pakai nangis segala lagi. Mengingat itu semua membuat Maura benar-benar kesal dengan suaminya yang super duper jail itu. Ingin sekali dirinya tidak hanya menjewer telinga Erland tapi tangannya juga sangat gatal ingin sekali untuk memukul, mencubit, atau bahkan memberikan bogeman dengan palu diwajah suaminya. Namun berhubung ia tak ingin di penjara karena kasus KDRT, ia memilih untuk menjewernya saja. Jeweran maut yang ia berikan kepada sang suami pun ia sudah merasa sangat kasihan apalagi ia harus melakukan ketiga hal yang ia niatkan tadi. Padahal entah ia lupa atau tidak sadar, Maura tadi sudah melakukan semua yang ia ucapankan tadi saat semuanya belum jelas alias ia masih salah paham dengan Erland.
Maura yang sepertinya kekesalannya sudah dibayar kontan dengan jeweran itu, ditambah ia sudah melihat telinga Erland sangat merah. Ia melepaskan jewerannya tadi.
Erland sangat terkejut melihat warna telinganya itu sebelum ia menolehkan kepalanya kearah Maura yang melihatnya dengan tawa kecilnya.
"Gimana? Kamu bahagia setelah melakukan kekerasan dengan suami kamu sendiri?" tanya Erland dengan wajah yang ia tekuk bahkan bibirnya yang tadi mengerucut tetap ia pertahankan. Dimana hal itu membuat Maura semakin tertawa sangat keras.
Erland yang mendengar tawa Maura, ia justru kesal sendiri jadinya. Bisa-bisanya istrinya itu tertawa bahagia diatas penderitanya. Kalau tau begitu saat ia melihat Maura menangis tadi, ia harusnya juga tertawa bukan malah menenangkan. Ck, menyebalkan memang istri laknatnya itu.
__ADS_1
"Er Er, wajah kamu lucu tau. Telinga udah merah begitu ditambah bibir kamu yang maju ke depan buat aku gemas pengen nampol pakai raket nyamuk. Hahahaha!" ucap Maura yang semakin membuat Erland tak mood saja.
Dan karena dia sudah benar-benar kesal dengan Maura, ia menatap sekilas kearah Maura sebelum dirinya berdecak kemudian ia menghentakkan kakinya lalu dengan langkah lebar ia berjalan menuju ke kamarnya.
Sikap Erland yang tengah merajuk membuat Maura meredakan tawanya.
"Yah si suami ngambek. Tapi seru juga bikin dia ngambek gini. Mukanya itu lho memang sangat lucu dan menggemaskan tapi bukan menggemaskan untuk di tampol tapi untuk di sayang. Arkhhhh, dasar orang yang lagi jatuh cinta, ucapannya lebay sekali. Tapi tidak apa-apa aku suka dengan ke-lebayan dan ke-alayan ini," gumam Maura yang mengakui dirinya sendiri alay dan lebay. Dan setelah berucap seperti tadi, Maura bergegas, beranjak dari tempat duduknya. Ia berniat untuk menghampiri Erland yang tengah merajuk itu. Maura sekarang harus menekan egonya setelah ia menyadari perasaannya sendiri dan mengetahui perasaan Erland yang ternyata juga sayang dengannya. Dimana kata sayang itu Maura artikan jika Erland juga sudah cinta dengannya. Toh memang itu kenyataannya bukan?
Maura berjalan mendekati pintu kamar Erland. Dan tanpa mengetuk pintu kamar tersebut, Maura langsung memutar kenop pintu dihadapannya. Lalu segara perlahan, ia membuka pintu tersebut secara perlahan hingga ia bisa melihat Erland yang tengah duduk di pinggir ranjang namun dalam posisi ia membelakangi arah pintu kamarnya.
Maura tersenyum hanya karena melihat punggung Erland saja. Dan seperti niatnya tadi, ia kini melangkahkan kakinya perlahan masuk kedalam kamar tersebut tak lupa ia menutup kembali pintu kamar itu.
Semakin lama Maura melangkahkan kakinya dan semakin dekat dengan Erland, ia bisa mendengar ucapan yang saat ini tengah di katakan oleh laki-laki itu.
"Maura kenapa tega banget sih sama aku? Padahal aku kan ngelakuin itu semua karena aku mau membuktikan jika dirinya benar-benar cemburu atau tidak. Aku tadi kan juga sudah minta maaf, harusnya dia maafin apa yang aku lakukan ke dia, kan menurutku apa yang aku lakukan ini untuk kebaikan hubungan kita berdua. Dan kalau tadi aku tidak melakukan aksiku ini, kita juga tidak pernah tau perasaan masing-masing. Tapi taunya dia malah marah sama aku dan berakhir telinga aku yang kena sasaran. Mana telingaku sekarang rasanya kayak mau putus, panas juga perih banget. Ck, Maura mah tega banget, kejam sama suami!" gumam Erland masih dengan kerucutan di bibirnya.
__ADS_1