PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 88


__ADS_3

Erland yang tadinya berniat untuk membebaskan Maura dari kunciannya setelah dirinya mengatakan keinginannya tadi, niatannya tersebut ia urungkan kala mendengar ucapan dari Maura. Ucapan yang sangat-sangat tak ia duga sebelumnya. Hingga kini Erland kembali mengunci tubuh Maura tanpa memberikan satu jengkal pun jarak diantara mereka berdua. Dimana hal tersebut membuat Maura menahan nafas.


"Sepertinya aku tau sekarang kenapa kamu memberikan syarat kepadaku tadi. Tapi boleh juga penawaranmu itu. Jadi bagaimana? Mau sekarang atau kita tunggu sampai malam hari nanti saja hmmm?" tanya Erland dengan tangan yang kini bergerak menyentuh bibir Maura secara sensual.


Sedangkan Maura, ia merutuki dirinya sendiri yang tak sengaja mengatakan apa yang ada di pikirannya tadi. Ya, Maura mengatakan ucapan yang mengarah ke hubungan ranjang tanpa ia sadari. Ia spontan saja mengatakannya.


"Astaga Maura. Kenapa kamu tadi bicara asal ceplos aja sih. Ck, begini nih kalau punya mulut bar-bar. Jadinya apa yang sedang di pikirin mesti selalu saja di ucapkan. Ck, menyebalkan menyebalkan menyebalkan. Kalau sudah seperti ini kamu mau gimana coba? Kamu udah bangunin singa tidur Maura yang sewaktu-waktu akan memakan kamu! Arkkhhhhhhh aku belum siap. Tapi bagaimana caraku untuk menolak Erland! Ya Tuhan bantu Maura agar hari ini tidak melepas status prawan Maura. Aamiin!" Teriak Maura didalam hati.


Sedangkan Erland yang melihat keterdiaman dari Maura pun ia menyatukan bibirnya ke bibir Maura. Sudah tak bisa terhitung lagi berapa banyak hari ini ia mencium bibir Maura yang sudah membuatnya candu walaupun hanya menempel saja.


Dan setelah mengecup bibir Maura, Erland berkata, "Kenapa bengong hmmmm? Apa kamu sudah tidak sabar untuk melakukannya? Atau kamu tengah berpikir kita mau pakai gaya apa? Tapi sepertinya berbaring lebih enak untuk kita yang pemula."


Mata Maura terbuka sempurna saat mendengar perkataan yang cukup frontal dari bibir suaminya itu. Dan terus terang saja hal tersebut membuat Maura semakin takut saja.

__ADS_1


"Er---Erland jangan berkata seperti itu. Aku---"


Belum sempat Maura menyelesaikan ucapannya, Erland sudah memotongnya begitu saja.


"Aku apa? Aku sudah tidak sabar begitu? Kalau begitu tunggu apa lagi, kita lakukan sekarang juga. Walaupun jam masih bisa dibilang siang hari, tidak apa rasanya tetap sama," ujar Erland yang sudah dipenuhi dengan perkataan mesumnya itu. Tapi ingat jangan salahkan Erland yang bertindak mesum seperti ini, salah kan saja Maura yang sudah memulai duluan dan memancingnya.


"Hmmm Er, bu--- Aaaaa! Er, turunin aku!" Maura terkejut setengah mati kala tubuhnya sudah diangkat ala karung beras oleh Erland. Padahal dirinya tadi ingin menjelaskan kalau ia belum siap jika Erland meminta haknya. Namun belum juga ia selesai, Erland sudah mengangkat tubuhnya itu. Bahkan ia memberontak dengan memukul-mukul punggung Erland tapi suaminya itu masih melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamarnya untuk mengunci pintu tersebut yang semakin membuat Maura ketar-ketir dibuatnya. Dan setelahnya Erland kembali melangkahkan kakinya menuju ke ranjang di kamar tersebut.


Sesampainya Erland di atas ranjangnya ia menurunkan tubuh Maura sepelan mungkin agar istrinya itu tak kesakitan. Dan saat punggung Maura sudah menyentuh ranjang itu, Maura berniat untuk kabur dari atas ranjang karena alarm bahayanya sudah berbunyi. Namun sayang seribu sayang, Erland lebih dulu mengukung tubuhnya bahkan kedua tangannya saat ini dipegang erat oleh Erland dengan satu tangan laki-laki itu tepat diatas kepala Maura yang semakin membuat Maura tak bisa bergerak sedikitpun. Apalagi tubuh Erland yang berada di atas tubuhnya yang semakin tak bisa membuat Maura berbuat apapun.


Dan tanpa menunggu persetujuan dari Maura terlebih dahulu, Erland langsung menyambar bibir Maura. Kali ini bukan hanya kecupan sekilas saja melainkan sebuah ciuman yang menuntut lebih dalam lagi.


Maura yang mendapat ciuman brutal dari Erland pun matanya tampak berkaca-kaca. Ia benar-benar takut kepada Erland. Ia bukannya tak mau memberikan hak Erland kepada suaminya itu tapi ia hanya belum siap saja. Ia juga sangat takut kalau saat berhubungan area sensitifnya menjadi sakit. Bahkan ia dulu saat berada di luar negeri ia banyak mendengar cerita dari para teman-temannya saat mereka dulu pertama kali melakukan hubungan, ada yang sampai pingsan, ada yang area sensitifnya membengkak dan bahkan ada yang sampai di rawat di rumah sakit dan mereka juga bilang kalau pertama kali memang sangat menyakitkan. Jadi mengingat hal itu membuat Maura sekarang benar-benar ingin menangis dan meminta bantuan ke siapa pun yang bisa menolongnya untuk menjauh dari Erland yang terlihat seperti singa kelaparan.

__ADS_1


"Ra, buka!" perintah Erland dengan suara serak. Sepertinya laki-laki itu sudah terpengaruhi oleh napsunya.


Maura menggelengkan kepalanya dengan bibir yang semakin ia katupkan rapat-rapat.


"Ra!" ucap Erland penuh penekanan.


"Er, a---" Lagi dan lagi, ucapan Maura untuk ketiga kalinya diputus dengan seenaknya saja oleh Erland. Laki-laki itu kali ini memutus ucapan Maura bukan dengan suaranya melainkan dengan tindakannya yaitu langsung mencium bibir Maura yang tadi sempat terbuka kecil. Dimana hal tersebut membuat Erland dengan leluasa bisa menjelajah setiap baris gigi Maura.


Sedangkan Maura, perempuan itu memejamkan matanya bertepatan dengan hal itu satu tetes air matanya jatuh.


"Ya Tuhan, Maura belum siap!" ucap Maura didalam hatinya.


Namun sayangnya ucapan didalam hatinya itu tak mempengaruhi dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Bahkan satu tangan Erland yang masih bebas tak memegang tangan Maura kini bergerak menuju ke buah dada Maura.

__ADS_1


Maura yang merasakan tangan Erland sudah berada disalah satu buah dadanya yang masih tertutup kain pun ia semakin menangis dengan rasa penyesalan yang tiba-tiba menghinggapi dirinya. Ia benar-benar menyesal sudah keceplosan seperti tadi. Jika saja ia tak keceplosan pasti Erland tidak akan berbuat sejauh ini. Tapi menyesal pun tidak ada gunanya, jadi Maura sekarang hanya bisa pasrah saja menerima apa yang selanjutnya akan terjadi kepadanya. Kalaupun nanti ia akan berakhir tak sadarkan diri dan harus di rawat di rumah sakit. Tapi Maura berharap kedua hal itu tak terjadi kepadanya karena jika hal itu terjadi pasti akan merogoh biaya yang banyak dan ia tak ingin merepotkan Erland walaupun laki-laki itu yang merupakan penyebabnya.


Maura terus saja berdoa didalam hatinya agar cerita-cerita menakutkan yang sempat ia dengar tak terjadi kepadanya. Air matanya pun juga tak kunjung berhenti kala Erland perlahan mulai memainkan buah dadanya yang masih tertutup itu ditambah bibir Erland yang tak kunjung menyelesaikan aksi menjelajah gigi Maura, bermain-main didalam sana.


__ADS_2