PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 95


__ADS_3

"Nangis saja kalau mau nangis. Jangan ditahan. Keluarkan semuanya," ujar Mommy Della dengan mengelus lembut kepala Maura.


Maura semakin menangis kala mendengar ucapan dari Mommy Della tadi. Dan Mommy Della semakin mengeratkan pelukannya, membiarkan sang menantu untuk menumpahkan air matanya di bahunya. Mommy Della maupun Daddy Aiden akan menunggu sampai Maura tenang terlebih dahulu dan barulah nanti ia akan tanyakan masalah yang tengah Maura hadapi saat ini. Mereka yakin masalah Maura ini tidaklah masalah sepele karena keduanya melihat raut wajah Maura yang cukup frustasi. Jadi tidak mungkin bukan jika masalah Maura hanya sepele saja? tebak keduanya.


Hampir 30 menit Maura menghabiskan waktu itu untuk menangis didalam pelukan Mommy Della. Dan saat ini ia sudah tak menangis lagi namun masih sesenggukan.


"Minum dulu," ucap Mommy Della menyodorkan segelas air putih kepada Maura kala pelukan keduanya tadi sudah terlepas.


"Terimakasih," kata Maura sembari mengambil segelas air putih itu dari tangan Mommy Della. Ia menengguk air putih itu hingga tersisa setengah gelas.


"Jadi, bolehkan kita tau alasan kamu sampai menangis seperti ini?" tanya Daddy Aiden yang benar-benar sudah tak sabar mengetahui masalah menantunya itu. Jika semua ini ada kaitannya dengan Erland, ia tak akan segan-segan untuk memarahi anaknya sendiri nantinya. Tapi jika tidak, ia tetap akan memarahi Erland karena tidak peka dengan keadaan sang istri.


Maura tampak mengaitkan kedua tangannya.


"Tak apa katakan saja," ujar Mommy Della mencoba untuk meyakinkan Maura kembali dengan tangan yang kembali mengelus kepala Maura.


"Maaf sebelumnya tu---hmmm Daddy dan Mommy karena kedatangan saya kesini malah membuat kalian berdua khawatir. Tapi sebelumnya apakah saya boleh bertemu dengan Erland sebentar saja. Ada hal yang perlu saya luruskan terlebih dahulu ke dia. Dan untuk masalah saya, maaf saya tidak bisa cerita ke Mommy dan Daddy," ujar Maura yang benar-benar akan menjaga privasi rumah tangganya dan sebisa mungkin ia akan menutup rapat masalah yang tengah rumah tangganya itu hadapi saat ini.


Mommy Della dan Daddy Aiden yang paham pun mereka hanya bisa menganggukkan kepalanya. Tak masalah jika Maura tidak mau bercerita, toh mereka juga bisa mendapatkan informasi tentang masalah Maura itu dari orang lain yang akan mereka suruh untuk mencari tahu masalah itu.


"Jadi bolehkah saya bertemu dengan Erland sekarang?" pinta Maura kembali.

__ADS_1


"Erland ya. Hmmm tunggu sebentar ya, Daddy panggilkan dulu dia," ujar Daddy Aiden kemudian ia mengambil ponselnya yang ada diatas meja dihadapannya itu. Berniat untuk menghubungi sang putra hmmm lebih tepatnya sekretaris dari Erland karena Erland sedang tidak ada di rumah ini dan ia yakin anak laki-lakinya itu tengah berada di kantor dan kalau Erland dikantor, anak itu tidak selalu menyalakan ponselnya jadi ia akan langsung menanyakan keberadaan Erland ke sekertarisnya saja.


Daddy Aiden kini berdiri dari duduknya, menjauh sedikit dari keberadaan Maura dan Mommy Della. Kemudian setelahnya barulah Daddy Aiden mulai menghubungi sekretaris sang putra.


Satu kali, dua kali sampai kelima kalinya, telepon Daddy Aiden itu tak mendapat jawaban apapun dari sekretaris Erland. Hanya ada sautan dari operator saja yang berarti ponsel sekertaris Erland saat ini tidak bisa dihubungi. Dimana hal tersebut tak membuat Daddy Aiden menyerah begitu saja, jadi kali ini ia mulai menghubungi nomor pribadi Erland. Namun hasil yang ia dapatkan sama yaitu ponsel Erland sedang tidak aktif.


"Ck, anak ini kemana sih?" gumam Daddy Aiden.


"Tidak tau apa jika istrinya tengah mencari dia. Kalau kayak gini sandiwara dia selama ini akan terbongkar saat ini juga," sambungnya sembari mencoba untuk terus menghubungi Erland.


Tapi mau ratusan kali ia menghubungi ponsel yang tengah tak aktif, usahanya itu tak akan pernah membuahkan hasil sama sekali.


Mommy Della yang melihat keresahan dari sang suami pun ia kini berdiri dari posisi duduknya namun sebelumnya ia berucap kepada Maura, "Sebentar ya."


Mommy Della kini mendekati Daddy Aiden yang masih sibuk dengan ponselnya itu. Dan saat dirinya telah berdiri disamping sang suami, ia menyentuh lengan Daddy Aiden sembari berucap, "Kenapa?"


Daddy Aiden menolehkan kepalanya kearah Mommy Della berada dengan helaan nafas panjang.


"Anak kamu gak bisa di hubungi. Nomor sekertaris dia juga sama saja, tidak bisa dihubungi. Entah gunanya ponsel itu untuk apa sih? Hanya untuk pajangan saja gitu? Hah menyebalkan," gerutu Daddy Aiden.


"Kamu yakin, Erland dan sekretaris dia tidak bisa dihubungi?" tanya Mommy Della untuk memastikan saja dengan mata yang sesekali melirik kearah Maura yang malah tengah melamun itu.

__ADS_1


"Ck, kalau kamu tidak percaya hubungi saja sendiri," kata Daddy Aiden dengan menyodorkan ponselnya kehadapan sang istri yang langsung diterima oleh Mommy Della. Dan dengan cepat Mommy Della menghubungi nomor Erland dan sekretaris sang putra. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh suaminya tadi jika kedua orang itu tak bisa dihubungi.


"Lho kok gak bisa," ucap Mommy Della yang membuat Daddy Aiden memutar bola matanya malas.


"Kan aku tadi sudah bilang. Kamu gimana sih," gemas Daddy Aiden.


"Ck, iya-iya. Tapi kenapa mereka kompak sekali tidak bisa dihubungi? Kemana coba?" Daddy Aiden menggedikkan bahunya. Dan tak berselang lama terdengar suara dari belakang mereka yang membuat keduanya terkejut setengah mati, "Mommy, Daddy. Bang Erland gak bisa dihubungi. Ini kita mau gimana?"


Yap, suara itu berasal dari bibir Edrea yang tiba-tiba ikut bergabung dengan kedua orangtuanya itu.


"Kamu ini ya. Ngagetin aja. Daddy dan Mommy juga sudah mencoba menghubungi Abang kamu bahkan sudah mencoba untuk menghubungi sekertaris Abang kamu. Tapi dua orang itu sangat kompak sekali sampai-sampai satu matiin ponsel, satunya juga ikut-ikutan," ucap Mommy Della.


"Kalau gitu kita harus gimana Mom, Dad. Gak mungkin kan kalau kita bilang bang Erland tidak ada disini. Kalau gitu kan nanti Kak Maura pasti akan khawatir dengan bang Erland," ujar Edrea yang membuat kedua orangtuanya terdiam, sepertinya mereka berdua tengah memikirkan cara untuk memberikan alasan kepada Maura jika Erland tengah tidak ada di rumah ini.


Sedangkan disisi lain, Papa Louis yang tengah gelisah itu ia langsung mengambil ponselnya kala ia mendengar nada dering teleponnya yang berbunyi. Ia menatap sekilas nama orang yang menghubunginya itu dan orang itu adalah sang sekretaris yang ia utus untuk pergi ke perusahaan sang menantu.


"Gimana?" tanya Papa Louis kala sambungan telepon mereka berdua terhubung.


📞 : "Maaf sebelumnya Pak, menurut informasi yang saya dapatkan dari resepsionis tadi jika Pak Erland tengah tidak ada dikantor sekarang. Saya juga sempat bertanya Pak Erland kemana, mereka juga kurang tau," jawab sekertaris Papa Louis yang membuat laki-laki paruh baya itu mengusap wajahnya. Jika tidak ada di kantor, lalu dimana menantunya itu saat ini berada? Ahhhh apa dia tengah pulang ke rumah keluarganya? Baiklah kalau begitu Papa Louis akan menghubungi besannya itu untuk menanyakan keberadaan sang menantu juga menanyakan tentang Maura yang sudah sampai di sana atau belum.


"Ya sudah kalau gitu kamu boleh kembali ke kantor lagi dan terimakasih," kata Papa Louis sebelum sambungan telepon itu ia tutup.

__ADS_1


...****************...


Proses review hari ini lama guys jadi maaf ya kalau kalian nunggunya lama bangat. Ohhh ya yukkk ah 50 like. Aku punya stok eps banyak lho sekitar 10 lebih jadi kalau mau aku keluarin hari ini juga jangan lupa per-eps. Ingat per-eps harus 50 like ya. Dan kalau sampai kelewatan jam 10 malam aku tidak akan keluarin sisa eps yang aku tambun ini. Jadi semangat oke. Kalian semangat aku pun juga semangat! Jangan lupa kasih HADIAH, VOTE dan KOMEN ya. See you🤗


__ADS_2