
Maura terusik dari tidur lelapnya kala ia merasakan jika di sebelah tubuhnya ada seseorang yang terus bergerak tak tenang.
Maura yang tak tau jika di sebelahnya itu Erland, dengan mata yang masih tertutup Maura melayangkan tangannya, memukul dengan keras tepat mengenai wajah Erland, membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
"Awsss! Sayang, kenapa kamu pukul aku sih? Sakit nih," ujar Erland dengan mengelus wajahnya.
Maura yang tadinya mengira jika orang yang bergerak tadi hanya halusinasinya saja atau mungkin penunggu di kamar tersebut, ia kini mengerutkan keningnya dalam posisi mata yang tertutup, namun tubuhnya saat ini sudah miring menghadap kearah Erland berada.
"Kayak kenal suara tadi?" batin Maura.
"Kalau lagi sebal sama aku tuh ya sebal saja jangan pakai kekerasan seperti ini dong. Jatuhnya ini sudah termasuk kedalam kekerasan dalam rumah tangga. Sakit banget lagi." Erland masih ngedumel tiada habisnya membuat Maura semakin yakin jika saat ini dirinya tidak sedang halusinasi jika di sampingnya ada orang lain. Hingga akhirnya ia memilih untuk membuka matanya yang masih berat itu.
Maura mengerjabkan matanya, sebelum ia mendengus kasar.
"Benarkan, dia Erland. Kalau tau gitu, aku tadi mukulnya lebih keras lagi kalau bisa pakai palu sekalian, biar tau rasa nih laki," batin Maura. Ia sedari tadi memang ingin sekali memukul Erland karena tingkah laki-laki itu yang menurutnya keterlaluan. Ia tak masalah jika di cemburui oleh suaminya sendiri, tapi tolonglah kalau sudah di jelaskan secara gamblang, harusnya suaminya itu segara paham bukan malah semakin merajuk dan berakhir membuang-buang waktu Maura selama 2 jam lamanya. Benar-benar sangat menyebalkan.
Erland yang terus menggerutu itu, ia menghentikan gerutuannya saat mendengar suara Maura.
"Ngapain kamu kesini? Balik ke kamar sana. Ganggu orang tidur saja," ujar Maura kemudian dirinya kembali memposisikan tubuhnya membelakangi Erland.
Sedangkan Erland, laki-laki itu menolehkan kepalanya dengan cepat namun kalah cepat dengan pergerakan Maura yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Erland yang tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan night kiss dari istrinya sebelum istrinya itu tidur kembali, ia segara mendekati tubuh Maura, mencoba membuka selimut yang di pakai oleh istrinya tersebut. Namun sayang, Maura lebih kuat mencengkram selimut tersebut sehingga Erland tak bisa membukanya.
"Sayang ih, kenapa jadi kamu yang ngambek sih? Kamu lho disini yang salah buka aku. Dan harusnya yang ngambek itu aku bukan kamu. Harusnya kamu yang bujuk aku biar gak ngambek lagi bukan malah aku," kesal Erland yang membuat Maura memutar bola matanya malas.
"Salahin terus! Mau dijelasin sampai nih mulut berbusa juga tidak akan ngaruh sama sekali. Dan apa kamu tadi tidak sadar siapa orang yang sudah ngambek selama 2 jam mungkin lebih, jika bukan kamu? Dan siapa yang tadi bujuk kamu selama kamu ngambek tadi hah? Hantu gitu?!" ucap Maura tanpa membuka selimutnya.
"Sudah lah Er, ini sudah sangat malam. Aku mau istirahat, jadi lebih baik kamu keluar sana dan kembali ke kamar. Jangan ganggu aku apalagi mencari gara-gara supaya kita bertengkar lagi. Aku sudah tidak mood buat ngeladenin kamu yang ingin berdebat terus denganku," sambung Maura yang membuat Erland kembali mengerucutkan bibirnya.
Hening, Maura tak lagi mendengar timpalan suara dari Erland atas ucapannya tadi. Ia pikir Erland sudah pergi dari kamar yang saat ini tengah ia tempati karena ia tadi juga merasakan pergerakan dari Erland yang turun dari atas kasur. Sehingga Maura kini membuka selimutnya, ia mengedarkan pandangannya menatap kearah sekeliling untuk memastikan apakah Erland memang sudah pergi atau belum.
Saat ia mengedarkan pandangannya, matanya itu menangkap seseorang yang tengah duduk di pojok kamar dengan kedua kaki yang tertekuk dan wajah orang itu di sembunyikan di balik lipatan tangannya. Posisi orang tersebut persis seperti seorang anak kecil yang tengah menangis.
Maura menajamkan pengelihatannya. Ia tidak mungkin salah lihat kan jika orang yang duduk di pojokkan itu adalah suaminya karena melihat dari baju yang dikenakan oleh orang tersebut dengan baju Erland sama.
"Astaga, kenapa lagi itu anak. Ya Tuhan, kalau begini caranya aku merasa kalau anakku sudah lahir ke dunia," gumam Maura sebelum ia beranjak dari atas ranjangnya. Melangkah mendekati Erland, lalu ia ikut duduk di samping Erland.
Terdengar isakkan kecil disana, menandakan jika suaminya itu tengah menangis saat ini.
Maura menghela nafas panjang sebelum tangannya kini terulur untuk mengusap kepala Erland. Ia harus segera menenangkan suaminya itu jika dirinya tak mau melihat mata sang suami bengkak nanti pagi.
"Udah nangisnya ya. Oke, aku minta maaf jika aku melakukan kesalahan. Dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sudah aku perbuat. Maafin aku ya. Kamu mau kan maafin istri kamu yang paling cantik ini?" ucap Maura dengan suara yang sangat lembut membuat Erland yang tadinya menyembunyikan wajahnya kini wajah itu ia munculkan, terlihat hidung mancung laki-laki itu tampak memerah yang membuat Maura gemas sendiri jadinya. Namun Maura harus menahan rasa gemasnya itu, karena ia harus fokus menenangkan Erland terlebih dahulu.
"Jadi gimana mau maafin aku gak? Mau kita baikan tidak?" ucap Maura kembali. Untuk sesaat tak ada balasan dari Erland, laki-laki itu hanya menatap lekat wajah Maura.
__ADS_1
Maura memutar bola matanya malas karena tak kunjung mendapatkan balasan dari suaminya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau memaafkanku dan tidak mau kita berbaikan. Aku lebih baik kembali tidur saja," ujar Maura. Tapi saat dirinya ingin beranjak dari hadapan Erland, kakinya dipeluk oleh Erland yang membuat dirinya terkejut bukan main.
"Kamu apa-apaan sih, Er. Jangan peluk kakiku," ujar Maura dengan berusaha melepaskan pelukan Erland dari kakinya. Kalau dalam posisi seperti ini, Maura merasa jika dirinya telah menginjak harga diri suaminya sendiri.
"Tidak mau. Hiks aku tidak mau melepaskan kaki kamu. Hiks aku tidak mengizinkan kamu pergi hiks," ujar Erland yang semakin mengeratkan pelukannya.
Maura yang sudah kewalahan untuk melepaskan pelukan Erland itu, otaknya ia paksa untuk berpikir bagaimana caranya agar Erland sendiri yang melepaskan pelukan tersebut. Sampai akhirnya ia memiliki sebuah ide yang ia jamin ampuh, "Memangnya aku mau pergi kemana? Orang aku hanya ingin tidur saja. Lagian kalau kamu terus seperti ini, takutnya kamu malah membuatku terjatuh dan akan mengakibatkan sesuatu yang fatal terjadi dengan calon baby kita. Apa kamu mau dia terluka gara-gara ulah kamu yang terus memeluk kakiku seperti ini?"
Dapat Maura rasakan jika pelukan Erland mengendur, dan dengan secepat kilat Maura sedikit menjauhkan posisi kakinya dari tubuh Erland. Lalu setelahnya, ia kembali berjongkok dengan kedua tangan yang terbuka lebar, "Mau baikan kan? Kalau mau, sini peluk."
Tanpa ba-bi-bu lagi, Erland merangkak mendekati Maura lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Hiks maafin aku karena udah ngambek sama kamu lebih dari dua jam," ucap Erland.
Maura tersenyum mendengar penuturan dari Erland tadi.
"It's oke, sayang. Tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan ngambek lama-lama ya, kalau udah dijelasin dengan jujur tanpa aku tutup-tutupi tolong langsung percaya sama aku. Sumpah sayang, saat kamu ngambak lama kayak tadi, kepalaku jadi pusing," ujar Maura tak bohong sama sekali.
Erland melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah Maura sebelum bibir bawahnya maju dengan sudut bibir yang melengkung ke bawah.
"Maafin aku yang udah buat kamu pusing, huwaaa maafin aku!" Erland semakin menangis kencang yang membuat Maura kelabakan sendiri.
Dengan sesenggukan Erland menghentikan aksi menangisnya itu walaupun cairan bening masih saja keluar dari mata indahnya yang kini sudah memerah.
"Hiks beneran?" Maura menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Erland kembali memeluk tubuh Maura saat ia melihat anggukkan kepala dari istrinya itu.
"Hiks, jangan sakit lagi," ucap Erland.
"Iya, aku tidak akan sakit lagi jika kamu tidak bikin pusing seperti tadi. Jadi aku minta jangan lama-lama ya ngambeknya. Boleh kan sayang?" Erland menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak akan ngambek seperti tadi. Aku tidak mau kamu merasa pusing lagi," ujar Erland.
Maura tersenyum dengan tangan yang mengelus surai milik Erland tersebut sembari berkata, "Good boy. Ini baru suami aku. Ya sudah kalau begitu kita pindah ke tempat tidur yuk. Ini juga sudah jam..." Maura melirik kearah jam dinding di kamar tersebut sebelum menyambung ucapannya tadi, "Jam setengah dua dini hari. Kamu harus istirahat karena besok kamu harus kerja."
Erland hanya mengangguk patuh dengan perintah Maura tadi. Kemudian ia melepaskan pelukannya.
Maura yang melihat suaminya sudah tidak menangis lagi, ia mencubit gemas hidung Erland lalu ia meraih tangan suaminya itu untuk ia ajak menuju ke ranjang.
Setibanya mereka berdua diatas ranjang dan sudah berbaring, Erland kembali memeluk tubuh Maura, menyebunyikan wajahnya di balik dada empuk milik Maura. Sedangkan Maura, ia memberikan kecupan di kening Erland sebagai night kiss yang sempat membuat Erland tadi gundah gulana. Lalu setelahnya, Maura berkata, "Good night my big baby. Love you."
__ADS_1
Satu kecupan kembali mendarat di kening Erland.
Erland, laki-laki itu kini tersenyum setelah ia mendapatkan night kissnya. Dan yanso merubah posisi tidurnya, Erland membalas ucapan Maura tadi, "Good night too my sweet heart. Love you too."
Maura tersenyum sebelum ia menutup matanya karena kantuk sudah tak bisa ia tahan lagi, namun tangannya tetap bergerak menepuk-nepuk pelan punggung Erland sebelum alam bawah sadarnya merenggut kesadaran Maura dan Erland secara bersamaan. Sepasang suami-istri itu akhirnya menyelesaikan konflik rumah tangga mereka yang banyak drama itu dengan berakhir tidur bersama saling berpelukan.
Tamat....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gak deng canda😂 Aku masih lanjut cerita ini kok walaupun udah ngalur ngidul gak jelas alurnya 🤣 tapi aku tuh belum rela buat melepas mereka. Jadi nikmatin aja ya, dan maaf kalau ngebosenin karena belum tentu cerita-cerita selanjutnya yang akan aku buat ada adegan romantisnya, siapa tau kan tenang pisikopet wkwkwk 😂 Jadi nikmatin cerita ini oke. Bye bye semuanya see you next eps ❤️
__ADS_1