
"Ada apa Ma?" ucapan dari Orla menyadarkan Mama Rina dari banyaknya pertanyaan yang memenuhi otaknya itu. Perempuan paruh baya tersebut pun kini menolehkan kepalanya kearah Orla berada.
"Satpam tadi bilang kalau orangtua Erland datang kesini dan ingin bertemu dengan Mama sama Papa," ucap Mama Rina yang membuat mata Orla berbinar.
"Mommy Della dan Daddy Aiden datang kesini?" tanya Orla yang tak segan-segan untuk memanggil kedua orangtua Erland itu dengan sebutan Mommy dan Daddy.
Mama Rina menganggukkan kepalanya sembari menutup pintu kamar inap sang putri lalu melangkahkan kakinya mendekati Orla.
"Kalau begitu mereka sekarang ada dimana?"
"Mereka sekarang ada di ruang kerja Adam," jawab Mama Rina.
"Kenapa tidak langsung kesini saja? Bukannya mereka mau bertemu dengan Mama sama Papa? Sekaligus kalau mereka langsung kesini kan bisa sekalian jenguk Orla," kata Orla yang langsung mendapat elusan tepat di kepalanya oleh sang ibunda.
"Mungkin mereka akan kesini untuk menjenguk kamu setelah mereka memberitahu hal penting yang akan mereka sampaikan ke Mama sama Papa. Dan mungkin kalau mereka langsung kesini, mereka merasa tak enak kalau harus menggangu waktu istirahat kamu atau pasien lain. Makanya mereka memilih untuk bertemu dengan Mama sama Papa di ruang kerja Adam dulu. Jadi kamu tunggu disini sebentar ya, Mama mau nyamperin mereka dulu, untuk Papa biar dia menyusul nanti," ujar Mama Rina dengan memberikan kecupan tepat di kening Orla. Kemudian setelahnya ia berniat untuk menjauh dari samping brankar sang putri, namun cekalan di lengannya membuat ia mengurungkan niatnya, langkah kaki pun turut ia hentikan.
"Ma, Orla mau ikut," ujar Orla. Jujur saja Orla sangat penasaran hal apa yang akan kedua orangtua dari laki-laki kesayangannya itu akan bicarakan kepada kedua orangtuanya. Apakah ini menyangkut hubungan dirinya dengan Erland atau ada hal lainnya yang tak kalah penting dari hubungannya dengan Erland? Sumpah demi apapun Orla sangat penasaran!
__ADS_1
Mama Rina menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Mama tidak mengizinkan kamu untuk ikut menemui mereka. Kamu tetap disini saja, mereka kan juga bilangnya mau bertemu dengan Mama sama Papa saja bukan dengan kamu juga. Jadi kamu tetap disini ya, toh kamu kan juga harus istirahat. Kondisi kamu belum pulih sepenuhnya sayang," ujar Mama Rina dengan suara yang lembut untuk memberikan pengertian kepada Orla.
Namun bukan Orla namanya jika dia tidak keras kepala. Perempuan muda itu menggelengkan kepalanya, "Tidak mau. Pokoknya Orla harus ikut bertemu dengan mereka. Orla sudah baik-baik saja. Jadi Mama jangan lebay deh, Orla keluar dari kamar inap ini juga dengan membawa infus dan masih berada di dalam area rumah sakit. Kalau pun memang terjadi sesuatu dengan Orla nantinya, Orla yakin semua orang yang melihat Orla kesakitan pasti akan sigap membantu terutama para dokter dan suster disini. Jadi Mama tidak perlu khawatir secara berlebihan dan bawa Orla untuk bertemu dengan calon menantu Orla sekarang juga. Kalau Mama tetap tidak mau, Orla tidak akan segan-segan untuk melukai diri Orla sendiri bahkan jauh lebih bahaya dari apa yang Orla lakukan sebelumnya."
Ancaman yang terlontar dari bibir Orla membuat Mama Rina mendelik tak suka. Ia sangat tau sifat sang putri yang tak akan pernah main-main dengan ancaman yang dia katakan. Dia akan nekat melakukan apa yang sudah ia ucapkan.
"Kamu bicara apa sih Orla. Jangan aneh-aneh ya kamu!" tegas Mama Rina.
"Kalau Mama tidak mau Orla terluka lagi, bawa Orla ikut sama Mama!" kekeuh Orla.
Senyum lebar kini terpancar dari bibir Orla setelah mendengar keputusan dari sang Ibunda. Tak sia-sia dirinya melontarkan sebuah ancaman jika ia akan mendapatkan hasil seperti yang ia inginkan.
Dengan berusaha keras Mama Rina akhirnya bisa memindahkan tubuh putrinya ke atas kursi roda.
"Ayo Ma, buruan kita menemui orangtua Erland sekarang juga," ucap Orla tak sabaran. Tidak tau saja dia jika sang ibunda saat ini tengah mengusap keringat yang membasahi keningnya gara-gara mengangkat tubuh Orla yang tak lagi kecil itu.
__ADS_1
"Sabar! Mama lagi ambil nafas," timpal Mama Rina dan dengan mengatur deru nafasnya, memastikan jika tidak ada lagi peluh yang menetes, ia mulai mendorong kursi roda yang sudah berisi Orla disana. Namun sebelumnya, Mama Rina menyempatkan dirinya untuk mengirim sebuah pesan kepada suaminya yang tengah sarapan di kantin rumah sakit. Memberitahu jika Papa Jaya harus segera ke ruang kerja Adam saat ini juga.
Di sela perjalanan Mama Rina dan Orla menuju ke ruang kerja Adam, senyum lebar tak pernah luntur dari bibir Orla sampai sebuah pertanyaan kembali ia ucapkan, "Ma, kira-kira mereka mau membicarakan soal apa ya?"
Orla sedikit menengadahkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah sang ibunda.
Mama Rina menggedikkan bahunya sembari berucap, "Mama juga tidak tau."
Orla tampak mencebikkan bibirnya kala mendengar jawaban dari Mama Rina tadi, tapi tak urung ia kembali bersuara.
"Apa jangan-jangan topik pembicaraan ini nanti akan membahas tentang hubungan Orla dan Erland lagi? Jangan-jangan mereka sudah memberikan restu mereka ke Orla untuk bersatu dengan Erland. Benar kan Ma?" tanya Orla.
Mama Rina tampak terdiam, apa iya, mereka akan bertemu dengan dirinya dan Papa Jaya untuk membicarakan tentang hubungan Orla dan Erland? Hmmm mungkin saja, karena tidak mungkin jika mereka ingin memberikan pelajaran kepadanya atas apa yang ia perbuat kepada Maura tadi yang entah sudah di ketahui oleh mereka atau belum harus melibatkan sang suami juga. Tapi Mama Rina sangat yakin aksinya tadi tidak ada seorangpun yang tau dan terbilang sangat aman.
Orla yang tak kunjung mendapat jawaban pun ia menepuk pelan lengan Mama Rina hingga membuat perempuan paruh baya itu tersadar dari pemikiran di dalam otaknya.
"Mama kenapa diam saja sih? Kenapa gak jawab perkataan Orla tadi? Mama lagi mikirin apa? Dan Orla tidak suka ya kalau Orla bicara tapi tidak di tanggapi oleh orang yang tengah Orla ajak bicara," ucap Orla.
__ADS_1
"Maafin Mama, sayang. Mama tadi berpikir tentang ucapanmu tadi, mungkin apa yang kamu ucapan itu benar jika mereka berdua ingin menemui Mama sama Papa untuk membahas tentang hubunganmu dan Erland," ujar Mama Rina yang diangguki oleh Orla.
"Ternyata filing Mama sama dengan Orla. Uhhh kalau kayak gini kan Orla tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. Orla tidak sabar mendengar kabar baik yang akan mereka sampaikan ke kita. Orla tidak sabar, Ma. Orla benar-benar tidak sabar," ucap Orla yang dibalas senyuman oleh Mama Rina tak lupa usapan lembut pun turut mendarat di kepala Orla kala pintu lift yang akan mengantar mereka ke lantai utama rumah sakit itu tertutup rapat.