PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 116


__ADS_3

"Terimakasih bos, sudah---" Belum juga Afif mengucapkan kata terimakasih karena sang atasan sudah mau ia repotkan. Erland lebih dulu memotongnya.


"Jangan banyak bicara. Turun sekarang juga," perintah Erland layaknya dialah si pemilik mobil yang tengah ia tunggangi saat ini.


Afif yang mendapat tatapan tajam dan mendengar suara tegas yang tak ingin di sanggah pun dengan diam ia segera keluar dari dalam mobilnya sendiri.


Dimana baru saja ia menutup pintu mobil itu, Erland sudah melajukan mobil tersebut dengan bergitu cepat dimana hal itu membuat Afif meringis dengan menggaruk kepalanya.


"Itu kalau sampai terjadi apa-apa dijalan gimana coba? Dan gimana nasib mobilku yang mungkin akan ringsek jika memang terjadi hal yang tidak diinginkan?"


Afif menggelengkan kepalanya, menangkis pikiran negatifnya. Ia sebenarnya tak peduli jika memang Erland kecelakaan tapi yang ia pedulikan adalah nasib mobilnya. Sungguh laknat sekali memang sekertaris Erland satu ini.


"Tapi semoga tidak terjadi apa-apa sama bos Erland sampai tempat tujuan. Karena sayang mobilku kalau harus ringsek masih kredit soalnya," gumam Afif yang sudah tak bisa melihat mobilnya itu. Dan hal tersebut membuat ia melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung apartemen yang ia tinggali tak lupa ia juga selalu melontarkan doa untuk keselamatan Erland karena keselamatan Erland mempengaruhi kondisi mobilnya.


Sedangkan disisi lain, Maura yang sudah selesai bersiap pun ia duduk di pinggir ranjang, menghadap langsung ke pintu yang senantiasa terus tertutup.


Detak jantungnya terus terpacu begitu kencang ditambah rasa gugup yang kini menjalar di tubuhnya. Pikiran-pikiran akan kemungkinan lain pun turut menggerogoti otaknya itu. Bukan, ia bukan lagi memikirkan tentang cerita teman-temannya dulu yang selalu mengatakan pengalaman pertama mereka saat melakukan hubungan badan melainkan ia tengah berpikir, bagaimana jika dirinya yang tak memiliki pengalaman apapun tentang hal ranjang bisa mengimbangi permainan Erland nantinya? Bagaimana jika ia yang sudah berusaha mengimbangi permainan sang suami tapi Erland justru tidak puas akan hal itu yang akan membuat Erland kembali menelan pil pahit akan kekecewaan?


Helaan nafas panjang terus Maura lakukan untuk menghilangkan rasa campur aduk yang tengah menerpanya dengan sesekali ia melirik kearah jarum jam yang semakin lama menunjukkan waktu yang hampir tengah malam itu dan orang yang sedari tadi ia tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Rasa dingin dari hembusan angin malam yang masuk melalui ventilasi udara pun sedari tadi menyapa tubuh Maura yang hanya terbalut pakaian tipis itu. Hingga sesekali Maura harus mengusap-usap lengannya guna menghangatkan tubuhnya.


"Apa Erland masih lama pulangnya?" gumam Maura. Walaupun dia tengah mengkhawatirkan pengalaman pertama yang akan ia terima nantinya, tapi tak urung rasa khawatir, takut Erland terluka di luar sana turut Maura rasakan. Bagaimana dia tidak khawatir jika sudah dua jam lamanya Erland belum juga memunculkan batang hidungnya. Pesan yang sempat Maura kirimkan 30 menit yang lalu pun tak kunjung mendapatkan balasan dari Erland. Jadi tidak salah jika Maura kini mengkhawatirkan laki-laki yang perlahan masuk kedalam hatinya itu.


"Apa aku coba telepon dia saja ya, biar aku tau kondisi dia sekarang gimana dan aku juga bisa tanya dia akan pulang jam berapa. Kalau dia pulangnya masih lama, aku kan bisa melapisi tubuhku ini dengan selimut atau jaket terlebih dahulu. Ya, aku harus telepon dia sekarang juga," ujar Maura. Dan dengan cepat tangannya kini bergerak, mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas nakas tersebut.


Jari jemari tangannya pun dengan cepat mencari nomor sang suami. Setelah mendapatkan nomor tersebut tanpa menunggu waktu lama lagi, ia langsung menghubungi nomor Erland.

__ADS_1


Satu kali, dua kali sampai yang kelima kalinya Erland tak menjawab telepon darinya, dimana hal tersebut membuat Maura benar-benar sangat khawatir sekarang.


"Angkat dong Er," gumam Maura yang mencoba menghubungi nomor Erland. Namun lagi-lagi teleponnya itu tak diangkat oleh Erland.


Dimana hal tersebut membuat tubuh Maura yang tadi terduduk kini mulai berdiri dan mondar-mandir didalam kamar tersebut dengan ia yang masih berusaha untuk menghubungi Erland.


Maura terus melakukan hal yang sama dan tanpa ia sadari jika dirinya kini telah berada di ruang tamu, tanpa memperdulikan jika nanti dirinya akan kedinginan karena ia tak melapisi tubuhnya yang hampir telanjang itu dengan baju hangat.


Sedangkan disisi lain, Erland terus menekan klakson mobilnya saat ia terjebak macet di jalanan yang biasanya lenggang itu.


"Sialan! Kenapa harus macet di saat yang tidak tepat?!" erang Erland dengan terus menekan klakson mobilnya itu. Hingga karena rasa kesalnya itu, ia kini menurunkan kaca mobil tersebut, menyembulkan kepalanya sebelum ia berteriak, "Kalian yang ada di depan! Bisa cepat tidak bergeraknya! Ada istri saya yang sendirian di rumah! Jika terjadi sesuatu kepada dia nanti! Kalian semua yang harus bertanggungjawab!"


Teriakan nyaring itu tentu saja di dengar oleh sebagian orang yang berada di sekitarnya. Namun mereka hanya menggelengkan kepalanya, menganggap jika apa yang dilakukan oleh Erland itu hal yang mustahil sebelum ada pihak kepolisian yang datang ke TKP karena sumber dari kemacetan itu adalah sebuah kecelakaan beruntun yang membuat akses jalanan itu terblokir dan ada juga sebagian orang yang menganggap Erland orang gila, mengancam orang yang tengah merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.


Erland yang merasa teriakkan itu tak membuahkan hasil sama sekali, ia berdecak kesal. Dan dengan perasaannya itu, ia meraih ponselnya yang sedari tadi ia letakkan di kursi yang tadi digunakan oleh Afif.


"Astaga. Pantas saja aku tidak mendengar dering ponselku. Ternyata tidak sengaja aku silent tadi," gumam Erland dengan mengusap kasar wajahnya sebelum ia kini melakukan panggilan telepon kepada Maura.


Satu kali panggilan itu tak mendapat jawaban dari Maura, tapi untuk kedua kakinya akhirnya sambungan telepon tersebut terhubung.


"Halo sayang. Kamu baik-baik saja kan di rumah? Apa ada sesuatu yang terjadi? Katakan," ucap Erland tanpa mengucapakan salam terlebih dahulu.


Maura yang ada di sebrang sana tampak menghela nafas lega. Mendengar suara Erland yang serat akan kekhawatiran pun membuat Maura yang tadi benar-benar sangat khawatir, kekhawatiran itu perlahan menghilang.


📞 : "Aku baik-baik saja Er. Aku menghubungi kamu hanya mau tanya apa kamu masih lama perginya? Kalau masih lama aku hanya ingin izin ke kamu untuk tidur lebih dulu. Tapi kalau sebentar lagi, aku bisa menunggu kamu," ujar Maura. Padahal mau Erland pulang sampai tengah malam pun ia akan tetap menunggu suaminya itu karena ia sudah bertekad sekarang.

__ADS_1


Tak hanya Maura saja yang kini menghela nafas lega, melainkan Erland pun sama.


"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Dan kalau kamu mau tidur duluan tidak apa-apa karena aku juga tidak tau akan sampai rumah jam berapa. Aku sedang terjebak macet soalnya," ujar Erland dengan menatap marah mobil-mobil didepannya yang tak kunjung bergerak itu.


📞 : "Oh begitu ya. Baiklah kalau begitu aku akan tidur terlebih dahulu. Hati-hati dijalan, Er. Jangan sampai dirimu terluka. Assalamualaikum," ucap Maura.


"Waalaikumsalam. Jangan lupa periksa pintu dan jendela. Jangan biarkan penjahat mendapatkan celah sedikitpun untuk masuk kedalam rumah."


📞 : "Iya. Aku akan memeriksanya."


"Baiklah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya karena mobil di depanku sudah mulai berjalan. Tidur yang nyenyak sayang," ujar Erland dan tanpa menunggu jawaban dari Maura terlebih dahulu, ia langsung menutup telepon tersebut karena sepertinya kemacetan sudah mulai bisa teratasi.


Sedangkan Maura, ia memilih kembali masuk kedalam kamarnya, membaringkan tubuhnya keatas ranjang dengan menutup setengah badannya menggunakan selimut hangat itu karena jujur saja semakin lama jika ia membiarkan tubuhnya terkena hembusan angin malam, ia bisa menggigil nantinya. Dan untuk menghindari hal tersebut terjadi, ia memilih untuk membungkus tubuhnya terlebih dahulu dengan selimut tersebut sembari menunggu kepulangan Erland.


Tepat pukul 9 malam, Maura yang matanya mulai sayu bahkan sesekali tertutup itu. Mata tersebut kini terbuka lebar kala telinganya mendengar deru mobil yang memasuki halaman rumahnya itu.


"Apa mobil itu, mobil Erland?" tanya Maura pada dirinya sendiri tentunya.


Hingga tak berselang lama setelah ia tak lagi mendengar deru mobil itu yang ia yakini jika orang yang mengendarai mobil tersebut sudah mematikan mesin mobilnya, Maura yang sedari tadi memasang telinganya, ia kini mendengar jika pintu utama rumah tersebut terbuka. Dan tanpa bertanya pun Maura sangat yakin jika orang yang membuka pintu yang tadi ia kunci itu adalah Erland.


Maura kini membenarkan posisi berbaringnya tadi menjadi posisi duduknya. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tersebut hingga rapi kembali, menyingkirkan selimut yang tadi menutup sebagian tubuhnya hingga seluruh tubuhnya saat ini terlihat kembali.


"Huh, tenang Maura. Yakinlah semuanya akan berjalan lancar," gumam Maura untuk menenangkan dirinya sendiri yang sudah mulai resah sekaligus gugup itu.


Dan baru saja bibirnya itu mengatup, setelah mengatakan kata-kata penenang untuknya sendiri, pintu kamarnya terbuka dan memunculkan seseorang yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya.

__ADS_1


Sedangkan Erland yang baru saja membuka pintu dan ingin melangkahkan kakinya masuk, niatnya itu terhenti kala melihat tepat keatas ranjang. Dimana pemandangan yang tersaji di atas ranjang itu membuat raut wajah Erland yang tadi tampak biasa saja kini terubah menjadi raut wajah yang sangat-sangat terkejut dengan ia yang berusaha untuk menelan salivanya yang entah kenapa tiba-tiba susah sekali ia telan.


__ADS_2