
Sesampainya di kamar, Maura tak langsung menidurkan tubuhnya. Ia justru semakin kepo dengan Anya, bocah es yang super dingin itu. Ingin bertanya lebih dalam lagi mengenai Anya kepada Erland, ia takut menganggu suaminya itu yang tengah mengerjakan pekerjaan kantornya. Tapi jika tidak bertanya, ia akan penasaran. Haishhhh sudahlah Maura memilih bertanya saja daripada ia mati penasaran. Kalau nantinya ia membuat Erland marah karena ia menggangu suaminya itu, Maura akan menanggungnya.
"Sayang. Malah sibuk kah?" tanya Maura dengan mengintip kearah laptop di pangkuan Erland.
"Masih sayang. Kenapa?" tanya Erland tanpa mengalihkan pandangannya dari Maura.
"Hmmm, gak jadi deh, nanti saja. Takut ganggu kalau aku mau bertanya sekarang." Maura berubah pikiran.
Dengan membenarkan kaca matanya, Erland menatap kearah Maura.
"Kamu mau tanya tentang apa? Tanya saja, akan aku jawab," ucap Erland.
"Tapi kamu sekarang lagi sibuk sayang."
"Tidak apa-apa aku jeda dulu sebentar untuk menjawab pertanyaan kamu. Jadi katakan apa yang ingin kamu tanyakan." Tubuh Erland saat ini sudah sepenuhnya menghadap kearah Maura yang duduk disampingnya.
Maura tampak mengigit bibir bawahnya sebelum ia menghela nafas dan berakhir ia angkat suara juga.
"Jadi begini. Aku mau tanya tentang anak perempuan yang kamu panggil sweetie itu." Erland menganggukkan kepalanya.
"Apa yang ingin kamu tau tentang dia?" tanya Erland.
"Semuanya yang menyangkut tentang dia membuat aku kepo maksimal. Sifat dinginnya membuat aku tertarik ingin mendekati dia, tapi aku harus kenal lebih dalam lagi dengan dia, biar memudahkan aku untuk berinteraksi nanti. Jadi tolong kasih tau aku siapa anak perempuan itu yang sepertinya memiliki dua marga di belakang namanya. Benar bukan? Atau aku salah mendengarnya tadi?" tanya Maura yang diangguki oleh Erland.
"Kamu tidak salah dengar sayang. Anya memang memiliki dua marga. Awalnya orangtuanya hanya ingin memberikan marga Bagaskara saja seperti nama marga sang ayah. Tapi karena Daddy protes dan harus ada marga Abhivandya maka akhirnya mereka menggunakan marga keluarga ini juga. Dan jadilah Anya memiliki dua marga," ujar Erland.
"Oh kalau begitu, keluarga ini dari pihak ibunya Anya dong?" Erland menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Keluarga ini dari pihak laki-laki." Tentu saja hal itu membuat Maura terkejut.
"Lah kok bisa. Bukannya ayah Anya punya marga sendiri?" tanya Maura tak paham.
"Memang, tapi kan di belakang nama Bagaskara ada nama Abhivandya juga dibelakang nama ayah Anya. Jadi tidak adil dong untuk Anya," jawab Erland yang membuat Maura mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, ayah Anya ini saudara kamu yang nomor berapa? Tidak mungkin anak dari Edrea kan? Karena aku sudah lihat keturunan adik kamu itu," ujar Maura.
"Saudaraku yang nomor 3. Nama ayah Anya, Akalanka Zico Bagaskara Abhivandya. Salah satu pemilik perusahaan yang cukup berkembang di berbagai negara. Mungkin kalau kamu sudah baca artikel tentang keluargaku pasti kamu tau siapa dia," ujar Erland.
"Dan kamu juga tau kan kalau semua keturunan keluarga ini mencar semua. Nah si Jio ini dan keluarga kecilnya menetap di Rusia. Tapi terakhir kontekan sama aku satu minggu yang lalu, dia ingin pindah disini karena ada masalah di kantor pusat yang kebetulan berada di kota ini. Katanya dia waktu itu akan datang satu bulan lagi, taunya malah sekarang," sambung Erland.
Lagi-lagi Maura menganggukkan kepalanya.
"Tapi sayang, aku juga penasaran kenapa Anya terkesan dingin sama aku ya. Apa memang sifat dingin ini turun temurun dan menjadi ciri khas dari keluargamu?"
"Kan tadi aku sudah bilang sayang, dia bersifat dingin karena belum akrab saja," jawab Erland.
"Tapi aku melihatnya tidak sesederhana itu sayang. Apalagi tatapan dia yang kayak menyiratkan suatu hal yang aku juga tidak tau hal itu apa. Pokoknya dia seperti menyimpan sesuatu, entah itu trauma atau rasa kesedihan yang terlalu berlarut-larut. Pokoknya tatapan dia itu tidak biasa sayang," ujar Maura yang sedari tadi curiga dengan anak itu. Ia hanya takut saja, jika anak itu memiliki masalah entah dengan temannya atau keluarganya sendiri tapi hanya bisa ia pendam dan ia ungkapkan lewat tatapan matanya.
Sedangkan Erland yang mendengar perkataan dari Maura tadi, ia langsung terdiam dan dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah laptop yang masih berada di pangkuannya sembari ia berkata, "Aku lanjut kerja dulu ya sayang. Dan lebih baik kamu tidur. Sleep well sayang."
Tangan Erland menepuk-nepuk pelan kepala Maura tanpa menatap kearah istrinya itu.
"Lho tunggu dulu. Kamu belum jawab ucapanku tadi lho sayang mengenai tatapan Anya," ucap Maura tak terima. Ia sudah kepo maksimal malah suaminya itu memilih untuk kembali bekerja.
"Kerjaan aku sedang menumpuk sayang. Jadi aku kerja dulu ya. Nanti kalau aku udah selesai, aku peluk kamu dan ikut tidur." Entah disengaja atau tidak, ucapan Erland ini sudah jauh keluar dari topik pembicaraan mereka tadi seakan-akan laki-laki itu tengah menghindari untuk menjawab pertanyaan dari Maura tadi.
Saat Maura kembali ingin protes, Erland lebih dulu menolehkan kepalanya kearah Maura dengan menempelkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya, mengisyaratkan agar Maura diam tak bersuara kembali.
Maura yang paham pun ia kini mencebikkan bibirnya.
"Tidur oke," ucap Erland sebelum ia kembali fokus ke laptopnya.
__ADS_1
Maura mengepalkan tangannya dan meninju-ninju udara yang berada tepat di belakang Erland dengan kepalan tangannya tadi sebagai pelampiasan kekesalan dirinya yang tak mendapat jawaban atas rasa penasaran yang tengah melanda hatinya itu. Padahal di dalam hatinya Maura ingin tinjauannya itu mendarat di kepala Erland, tapi ia tak tega melakukannya terlebih ia tak ingin melihat Erland marah. Sehingga ia melakukan hal konyol itu sebelum ia yang puas telah menyalurkan rasa kesalnya tadi, memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan posisi miring yang membekali Erland, lalu ia menarik selimut sampai di atas kepalanya. Ia akan mengurung dirinya di dalam selimut itu untuk menghilangkan rasa kesal yang masih tersisa sedikit itu dari dalam hatinya. Tentunya saat ia berada di dalam selimut itu ia tak menghentikan gerutuannya yang ia tujukan kepada suaminya yang menyebalkan itu. Sampai Maura tertidur karena lelah telah menggerutu didalam hatinya.
Sedangkan Erland, laki-laki itu kini menoleh kearah gundukan selimut itu sebelum ia menyingkirkan laptopnya lalu ia mendekati Maura.
Tangan Erland bergerak untuk membuka selimut yang menutupi wajah Maura secara perlahan sampai selimut itu berhasil ia turunkan dan tak lagi menghalangi Erland untuk menatap wajah cantik dari istrinya tersebut.
Erland menatap lekat wajah damai Maura, ia menghela nafas dan dengan membelai lembut kepala Maura, Erland berkata, "Maafkan aku sayang yang tidak bisa memberitahu kamu tentang hal yang ingin kamu ketahui tadi. Karena aku takut saat aku mengatakan ke kamu tentang hal itu, kamu akan memiliki sebuah ketakutan yang akan berdampak pada dirimu sendiri, calon anak kita ataupun kepada masa depan kita. Aku tidak mau hal itu terjadi sayang. Walaupun aku tau nasib orang berbeda-beda tapi mencegah orang untuk tidak merasa takut lebih baik bukan? Jadi maafkan aku."
Erland kini tampak memejamkan matanya sesaat kala ia mengingat 4 tahun yang lalu tentang kejadian yang membuat semua orang bersedih. Dan dengan menghela berat, Erland membuka matanya.
"Tidur yang nyenyak sayang. Aku sangat mencintaimu," ujar Erland diakhiri dengan ia mencium kening Maura. Lalu setelahnya Erland kembali melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat ia tunda.
...****************...
Makan malam pun tiba, meja makan yang berada di dalam rumah keluarga Abhivandya itu kini sudah terdapat empat orang disana namun makan malam itu belum dimulai karena harus menunggu anggota keluarga yang lain yang belum juga memunculkan batang hidungnya.
"Abang kamu kemana sih Er kok lama banget. Keponakan kamu juga tuh kenapa ikut-ikutan ngaret seperti Daddy-nya," ucap Mommy Della yang sudah tidak sabar untuk mengisi perutnya yang terasa keroncongan.
Sedangkan Erland yang ditanyakan, ia menimpali ucapan Mommy Della tadi dengan menggedikkan bahunya. Ia juga tidak tau dimana dan hal apa yang sedang mereka lakukan sehingga jam makan malam tertunda karena menunggu kedatangan mereka.
"Bertapa kali mereka di kamar," timpal Daddy Aiden.
"Bisa jadi. Lebih baik kamu panggil mereka sana Er, suruh mereka untuk kesini sebelum Mommymu ini mati kelaparan," perintah Mommy Della yang membuat Erland memutar bola matanya malas. Tapi tak urung ia berdiri dari duduknya. Namun kala dirinya ingin beranjak, lengannya di cekal oleh Maura.
"Biar aku saja yang memanggil mereka, kamu tunggu disini saja," ujar Maura.
"Kamu beneran sayang?" Maura menganggukkan kepalanya sembari berdiri.
"Mom, Dad, Maura mau panggil Anya dan Daddy-nya dulu," pamit Maura yang diangguki oleh kedua mertuanya itu.
Maura kini melangkahkan kakinya dan saat ia ingin naik ke anak tangga, niatnya itu ia urungkan saat di atas sana ia melihat Anya tengah berlari. Namun yang membuat dirinya penasaran kenapa anak perempuan itu saat ini tidak memakai baju sama sekali hanya Pampers saja yang terpasang di tubuhnya. Dan tak jauh di belakang Anya, terlihat laki-laki tampan yang tengah mengejarnya. Maura bisa menyimpulkan jika laki-laki tampan itu adalah ayah Anya.
"Sweetie stop! Sampai kapan kamu terus berlari? Daddy capek sayang. Jadi sini, Daddy pakaikan kamu baju dulu ya," bujuk Zico dengan nafas yang memburu.
Anya menggelengkan kepalanya sebelum dia kembali berlari lagi yang otomatis membuat sang Daddy mau tak mau mengejarnya lagi.
Muara yang tak berpindah tempat yakini berada di depan tangga, ia terus melihat aksi kejar-kejaran dari sepasang ayah dan anak itu. Sampai saat Anya melintasi depan Maura, Maura dengan sigap menangkap tubuh anak perempuan tersebut, memeluknya dengan sangat erat. Tentunya hal tersebut membuat Anya terkejut sembari berteriak, "Arkkhhhhhhh! Lepasin!"
Anya berusaha melepaskan pelukannya dari Maura tadi.
Sedangkan Maura, ia semakin mengeratkan pelukannya sembari ia berkata, "Tidak akan sebelum kamu pakai baju dulu. Memangnya Anya tidak kasihan dengan Daddy Anya yang sudah ngos-ngosan karena mengejar Anya. Jadi aunty minta, Anya pakai baju dulu ya."
Anya tampak terdiam dengan tatapan matanya mengarah kearah Zico yang sedang mengatur nafasnya tepat dihadapannya.
"Pakai baju dulu," ujar Zico kala ia merasa nafasnya sudah tidak seberat tadi.
Tapi baru saja dress kecil yang berada di tangan Zico ingin masuk kedalam kepala Anya, bocah itu tiba-tiba menyikut Maura dan sikutan yang Anya berikan itu tepat mengenai perut Maura. Tentunya saat itu juga Maura langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Anya dan tangannya beralih memegangi perutnya.
"Anjir, sakit juga sikutan si bocil," batin Maura.
Zico yang melihat aksi Anya tadi ia melebarkan matanya. Dan dengan sorot mata yang tajam ia menatap kearah putrinya, saat Zico ingin memanggil nama putrinya agar bocah itu mendekatinya, suara seseorang yang sangat ia kenal lebih dulu terdengar menggelegar di seluruh rumah tersebut.
"Anya!"
Sang pemilik nama yang tadinya nasib asik kabur dari kejaran sang Daddy kini ia menghentikan lariannya. Kemudian ia memutar tubuhnya menghadap kearah sumber suara.
Sedangkan sang pemilik suara alias Erland, ia melangkahkan kakinya dengan langkah lebar mendekati Maura.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Erland dengan khawatir. Namun belum sempat ia menjawab, suara Zico mendahuluinya.
"Evanthe Zifanya Tzuwie Bagaskara Abhivandya, kesini sekarang!" Nada suara yang dikeluarkan oleh Zico memang terkesan lembut namun terdapat ketegasan didalamnya yang membuat nyali Anya menciut, karena ia tau jika Daddy-nya sudah memanggilnya dengan nama lengkap, menandakan jika Daddy-nya itu tengah marah kepadanya. Sehingga mau tidak mau Anya kini berjalan mendekati ketiga orang dewasa disana dengan kepala yang ia tundukkan tak berani menatap kearah Erland apalagi Daddy-nya.
__ADS_1
Dan saat Anya sudah berdiri di depan ketiga orang itu, Zico berucap, "Anya tau kan salah Anya dimana?"
Anya menganggukkan kepalanya.
"Jika Anya tau, coba katakan kesalahan Anya apa? Daddy mau dengar," perintah Zico.
"Anya sudah melukai aunty," jawab Anya masih menundukkan kepalanya.
"Melukai dengan cara?" tanya Zico kembali.
"Dengan cara Anya menyikut perut aunty."
"Benar. Dan Anya tau apa yang harus Anya lakukan sekarang?" Anya menganggukkan kepalanya.
"Katakan apa yang harus Anya lakukan?"
"Anya harus meminta maaf kepada aunty yang sudah Anya sakiti," ujar Anya.
"Bagus, dan minta maaflah dengan aunty sekarang!" perintah Zico yang diangguki patuh oleh Anya.
Anak perempuan itu kini semakin mendekati Maura sampai mereka kini berdiri saling berhadapan.
Anya menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Maura hanya beberapa detik saja sebelum ia kembali menunduk. Dan tak berselang lama setelahnya Anya berucap, "Aunty, maafin Anya yang sudah menyakiti aunty."
Sakit yang tadinya Maura rasakan kini menguap bersamaan dengan permintaan maaf dari anak perempuan di depannya itu. Justru Maura kini tersenyum lalu tangannya bergerak untuk mengusap kepala Anya.
"Sudah tidak apa-apa sayang. Aunty juga baik-baik saja kok. Tadi hanya sakit sedikit. Ini juga salah aunty yang berniat menghentikan kamu lari-larian tadi. Maafin aunty juga ya," ucap Maura. Anya hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari ucapan Maura tadi yang membuat Maura kini menjauhkan tangannya dari atas kepala Anya.
"Kamu beneran tidak kenapa-napa sayang?" tanya Erland masih khawatir.
Maura tersenyum dengan menatap kearah Erland.
"Tidak perlu khawatir semuanya naikh saja," balas Maura yang membuat Erland menghela nafas lega.
Tatapan mata Erland kini berpindah ke Anya yang baru saja selesai memakai pakaiannya.
"Anya, apa kamu tau, di dalam perut aunty ini ada baby. Jadi saat Anya tadi mengikut perut aunty, Anya juga melukai baby," ujar Erland yang berhasil membuat Anya kini menatapnya dengan mulut terbuka.
"Baby? Diperut aunty?" Erland menganggukkan kepalanya. Sedangkan Anya, ia langsung berlari mendekati Maura kembali. Lalu saat ia sudah berada di depan Maura, tangannya bergerak untuk mengusap perut Maura.
"Baby maafin Anya yang sudah melukai baby. Anya tidak tau jika baby ada di dalam sana. Anya tidak bermaksud melukai baby. Maafin Anya," ucap Anya yang membuat siapa saja yang mendengar ucapan dari anak perempuan itu tak bisa menahan bibir merka untuk tidak tertarik keatas dan membentuk sebuah senyuman.
Sedangkan Maura, ia membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya kini sejajar dengan wajah Anya. Maura mengelus pipi chubby anak perempuan itu sembari berkata, "Tidak apa-apa Kakak Anya. Baby baik-baik saja."
Tentunya Maura menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
Anya terdiam dengan mata yang mengerjab lucu saat wajahnya sangat dekat dengan wajah Maura. Sebelum suara seseorang yang tak jauh dari tempat mereka berempat berkumpul masuk kedalam telinga semua orang yang ada di rumah tersebut, dan berhasil mengalihkan atensi semua orang termasuk keempat orang tadi.
"Heyy kalian! Sampai kapan kalian akan berdiri terus disana! Tidak tau kah kalau kita berdua sudah kelaparan! Kesini cepat sebelum kalian melihat kita mati mengenaskan!" teriakan membahana itu siapa lagi pelakunya jika bukan Mommy Della.
Ketiga orang dewasa tadi tampak nyengir dan dengan kompak menggaruk tengkuknya yang tak gatal sebelum ketiganya menjawab, "Iya Mom. Kita kesana sekarang!"
Jawaban itu pun mereka katakan secara bersama. Sangat lucu jika di dengar buktinya beberapa maid yang mendengar jawaban kompak dari anak dan menantu majikannya itu terkekeh gemas. Namun tak dipedulikan oleh ketiga orang dewasa itu, mereka memilih untuk melangkahkan kakinya menuju ruang makan dengan Maura yang refleks menggandeng tangan Anya yang dibalas Anya secara tidak sadar. Dan di belakangnya terdapat Zico serta Erland yang mengikuti langkah mereka dengan tatapan takjub melihat Anya mau di gandeng oleh orang yang baru saja dia kenal.
"Sepertinya Anya sedikit ada kemajuan," celetuk Erland.
"Aku rasa juga begitu. Kalau memang iya, syukurlah karena artinya dia tidak akan sedingin dulu dengan orang lain dan dia tidak akan kesulitan untuk bersosialisasi. Oh ya Er, selamat atas kehamilan istri kamu," ucap Zico dengan mengulurkan tangannya ke hadapan Erland yang langsung dibalas oleh laki-laki tersebut dengan senyum yang mengembang.
"Thanks bro," ucap Erland yang diangguki oleh Zico.
Kini keempat orang itu telah sampai di ruang makan. Dan reaksi Mommy Della serta Daddy Aiden saat melihat Maura dan Anya tak jauh berbeda dengan reaksi Zico beserta Erland tadi. Tapi kedua orang paruh baya itu hanya tersenyum dan membiarkan dua perempuan berbeda umur itu duduk di kursi yang bersebelahan. Awalnya Erland mau protes karena ia ingin duduk di samping istrinya, namun pelototan Mommy Della membuat Erland bungkam dan memilih duduk berhadapan dengan Maura saja daripada ia di marahi habis-habisan oleh Mommy Della jika dirinya tetap memaksa untuk duduk di sebelah Maura menghentikan Anya disana.
__ADS_1