
Edrea dengan cepat mengetik ide yang baru saja di katakan oleh suaminya tadi tanpa peduli Leon yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Edrea bahkan wajah suaminya itu tenggelam di ceruk leher Edrea, mengendus wangi sang istri sebelum ia mencuri sebuah kecupan di leher tersebut.
Dimana hal tersebut membuat konsentrasi Edrea saat ini terbagi. Bahkan ia kini mengerang geli kala mendapatkan sentuhan dari Leon yang tak kenal tempat, tangan laki-laki itu pun juga sudah menelusup masuk kedalam bajunya.
"Arkhhhh! Sabar dikit bisa tidak sih. Astaga," ucap Edrea. Jika Leon terus memberinya sentuhan seperti ini yang ada ia akan tergugah dan berakhir mengabaikan pesan dari Kakak iparnya tadi.
"Kamu sudah memancingku sayang. Jadi aku tidak akan bersabar lagi." Edrea memejamkan matanya sesaat, merasakan tangan Leon yang sudah berada di salah satu buah dadanya. Sialan memang suaminya itu tidak tau apa jika dirinya ingin membalas pesan dari Kakak iparnya?
"Huft tenang Rea. Tenang. Dan cepat selesaikan balasan pesanmu," batin Edrea menetralkan dirinya yang perlahan mulai terlena oleh aksi Leon itu.
Ia menggelengkan kepalanya sesaat untuk fokus kembali dengan tujuan utamanya tadi dan dengan cepat tangannya meneruskan acara mengetik kata demi kata lalu ia segera mengirimnya. Dimana setelah ia selesai membalas pesan dari Maura, ia langsung melempar asal ponselnya itu yang untungnya mendarat di sofa yang tak jauh darinya. Dan setelahnya ia berpindah posisi menjadi duduk di pangkuan Leon, mengalungkan tangannya di leher sang suami sebelum bibirnya mendarat di bibir Leon hanya sekilas saja karena setelahnya kepala Edrea, ia tenggelamkan di ceruk leher Leon dan dengan usilnya ia memberikan kissmark di sana yang membuat Leon menggeram tertahan.
__ADS_1
Aksi dari Edrea tadi benar-benar membuat Leon sudah tidak sabar lagi berolahraga di atas ranjang dengan istrinya itu. Dan dengan cepat ia menggendong tubuh istrinya ala koala, bergegas menuju ke lantai dua dimana kamar mereka berada.
Sedangkan disisi lain, Maura yang tanpa merubah posisi terbaringnya langsung menyambar ponselnya kala mendengar nada notifikasi pesan masuk. Maura segera membuka pesan tersebut kala sudah melihat nama Edrea lah yang tertera di layar ponselnya.
Maura membaca balasan pesannya itu dengan teliti agar ia tak kelewat tips apa saja yang adik iparnya berikan untuknya.
📨 : Edrea Dekpar
"Pakai bikini ehhh salah pakai lingerie. Nah Kakak pakai itu saja aku jamin bang Erland langsung tergoda. Kalau tetap saja tidak tergoda rayu saja dia. Tenang jangan menganggap diri Kakak wanita murahan hanya karena menggoda bang Erland. Ingat, bang Erland itu suami Kakak bukan laki-laki lain di luar sana. Jadi amanlah kalau Kakak mau menggoda bang Erland. Itu juga sering Rea gunakan. Karena yakinlah suami itu paling suka kalau di goda sama istri sendiri apalagi saat pakaiannya seksi pasti mereka langsung tancap gas buat olahraga di kasur tidak peduli pagi, siang atau malam sekalipun. Karena laki-laki itu ibaratnya kucing yang lihat ikan langsung di makan."
Balasan dari Edrea tadi membuat Maura mengangguk-anggukkan kepalanya sembari berkata, "Lingerie ya? Baiklah. Tapi tunggu dulu. Aku kan tidak punya baju itu. Dulu sih punya satu tapi saat ketahuan Mama, langsung di bakar itu baju. Jadi gimana dong? Mau beli? Mahal harganya sampai ratusan ribu kan sayang uangnya. Tapi kalau tidak beli gimana aku bisa melakukan ide yang sudah Rea berikan tadi."
__ADS_1
Maura berpikir keras. Ia akan mendapat pakaian itu dimana? Apa dia harus merepotkan adik iparnya lagi untuk meminjamkan pakaian itu kepadanya karena dia sangat yakin Edrea memiliki pakaian itu.
Muara menggelengkan kepalanya, "Tidak. Masak aku sudah merepotkan Edrea untuk membantu mendapatkan ide, aku juga harus meminjam baju yang katanya Mama adalah pakaian haram itu ke dia. Tapi kalau tidak, aku mendapatkan dari mana? Ya Tuhan hanya karena masalah ingin memberikan hak kepada Erland saja bikin pusing begini. Ini juga salah kamu sih Ra, kenapa waktu Erland sudah meminta haknya kamu malah menghentikan aksinya. Haishhhh."
Maura memijat pelipisnya karena terasa berdenyut nyeri. Hingga tiba-tiba otak cerdiknya itu memikirkan satu nama yang mungkin bisa ia mintai tolong. Dan dengan cepat tangan Maura kini bergerak, mencari kontak nomor orang yang berada di otaknya itu siapa lagi kalau bukan sang sahabat, Meli. Dia satu-satunya orang yang mungkin bisa ia andalkan dalam masalah ini. Ia akan meminjam pakaian haram itu kepada sang sahabat yang ia tau jika Meli suka sekali mengoleksi pakaian haram tersebut.
Dengan gerakan cepat, Maura mengetikkan satu persatu kata lalu ia kirimkan ke Meli.
Dimana saat pesan itu sudah terkirim dan di terima bahkan sudah di baca oleh Meli, membuat perempuan yang saat ini tengah santai di sebuah cafe di dalam mall dan tengah meminum kopi, menyemburkan kopi yang baru saja ia sesap itu hingga membuat beberapa orang yang berada di sekitarnya menatap jijik sekaligus heran dengannya. Namun Meli tidak peduli dengan tatapan orang-orang disekitarnya. Ia justru tanpa mengucapakan sepatah kata pun langsung berlari keluar dari dalam sebuah cafe tersebut. Dan tujuannya kali ini ke toko yang menyediakan pakaian haram tersebut.
Meli tersenyum kala melihat berbagai model lingerie yang berada didalam toko yang saat ini tengah ia masuki.
__ADS_1
Dan dengan melangkahkan kakinya untuk mengambil keranjang kecil yang akan ia gunakan untuk menampung barang belanjaannya ia bergumam, "Daripada pinjam lebih baik aku belikan saja. Anggap saja ini sebagai kado pernikahan yang aku berikan untuknya. Lagian pakaian ini aku yakin pasti untuk menarik napsu Pak Erland, masak iya dia mau melakukan hal itu dengan memakai pakaian bekasku, takutnya Pak Erland nanti tidak suka dengan bau parfumku atau malah lebih parahnya lagi dia mencari tahu aroma dari Lingerieku dan saat menemukan siapa si pemilik lingerie itu, dia malah menjadikan aku istri keduanya, kan bisa bahaya nanti. Aku tidak mau ya, walaupun aku gila laki-laki tampan tapi aku tau diri untuk tidak merebut laki-laki orang apalagi suami sahabat sendiri, bisa-bisa aku langsung dibunuh sama Maura kalau hal itu terjadi. Hih amit-amit."
Meli bergidik ngeri membayangkan keberingasan Maura jika ia menjadi pelakor di rumah tangganya. Tapi bayangan itu hanya sesaat saja sebelum Meli melanjutkan niatnya tadi yaitu membelanjakan pakaian haram untuk sang sahabat. Tak tanggung-tanggung Meli memilihkan pakaian haram untuk Maura dengan mode yang ter-seksi yang terjual di toko itu. Dan tentunya tak hanya satu atau dua potong saja ia membelikan Maura lingerie melainkan sampai 10 potong. Sangat niat sekali bukan Meli ini membantu sang sahabat. Dan usahanya ini perlu kita apresiasi.