
Disela Erland menunggu Maura selesai mandi dan berganti pakaian, ia menyibukkan dirinya dengan ponsel di tangannya, memeriksa pekerjaannya yang tadi ia tinggal begitu saja. Hingga suara Maura masuk kedalam indar pendengarannya.
"Erland!" penggil Maura dari dalam kamar mandi.
Tanpa menjawab terlebih dahulu, Erland beranjak dari posisi duduknya di pinggir ranjang Maura itu lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
"Udah selesai?" tanya Erland saat dirinya membuka pintu kamar mandi tersebut. Dimana pertanyan dari Erland tadi dijawab dengan anggukkan kepala oleh Maura.
Erland yang melihat anggukkan itu, ia membuka pintu kamar mandi dengan lebar sebelum dirinya menghampiri Maura lalu menggendongnya kembali.
Maura yang di gendong oleh Erland, diam-diam perempuan itu mencuri-curi pandang kearah wajah Erland. Tapi sesaat setelahnya ia menyadari sesuatu yang berbeda dengan Erland.
"Kamu duduk disini dulu. Aku ambilkan kotak P3K," ujar Erland yang menyadarkan Maura dari keterbengongannya itu.
Maura kembali menatap Erland yang sibuk mencari kotak P3K didalam kamarnya. Dan saat itu pula Maura tau apa perbedaan dari Erland saat ini yaitu penampilan Erland yang cukup rapi dengan memakai kemeja putih yang bagian lengannya ia lipat sampai ke siku, celana kain juga sepatu pantofel hitam yang melekat di tubuh laki-laki tersebut.
"Kenapa dia pakai pakaian formal seperti itu? Apa itu adalah seragam yang diberikan bos-nya? Dan semalam dia tidur dimana? Ahhh satu lagi, kemana mobil yang dia pakai sehari-hari?" tanya Maura didalam hatinya.
Sedangkan Erland yang sudah mendapatkan kotak P3K itu ia mendekati Maura kembali lalu mendudukkan tubuhnya tepat di samping kedua kaki Maura.
Tanpa segan sedikitpun, Erland menaruh dua kaki itu di pahanya dan mulai mengobati luka di kedua kaki istrinya itu.
"Awsss," ringis Maura kala merasakan sensasi perih yang teramat saat Erland mengoleskan salep di kakinya tersebut.
__ADS_1
Erland tampak menatap wajah Maura yang tampak kesakitan sembari berucap, "Tahan, sebentar lagi akan selesai."
Maura hanya menganggukkan kepalanya saja untuk menimpali ucapan dari Erland tadi namun tak urung ia tetap saja mendesis dengan sesekali menggigit bibir bawahnya untuk mengalihkan rasa sakit yang tengah ia rasakan di kakinya itu.
Namun dirinya dibuat terdiam kaku kala melihat apa yang tengah Erland saat ini lakukan. Laki-laki itu yang sebenarnya sudah selesai mengoleskan salep ke kaki Maura, ia bukannya langsung mejauh tapi laki-laki itu justru meniup-niup pelan luka di kaki Maura tersebut.
Maura terus menatap apa yang tengah suaminya itu lakukan kepadanya. Sampai perhatian keduanya teralihkan saat mereka berdua mendengar bunyi...
Cruyukkk!!
Erland menatap Maura dengan salah satu alisnya terangkat. Sedangkan Maura, perempuan itu dengan cepat memegang perutnya yang tadi menghasilkan bunyi itu sebelum ia tersenyum kearah Erland.
"Tunggu disini. Jangan kemana-mana. Aku buatin kamu makanan dulu," ujar Erland.
"Kamu tadi memangnya makan apa? Beli bubur ayam yang selalu lewat depan rumah? Kamu saja bangunnya jam 7 dan tukang bubur ayam selalu keliling dijam 6. Kamu juga tidak mungkin makan masakan kamu itu kan, karena belum kamu cicipi saja semuanya sudah tumpah. Jadi tetap diam situ dan jangan berlagak menolaknya sebelum kamu nanti mati kelaparan," ujar Erland yang berhasil membungkam bibir Maura.
Erland yang sudah tidak mendengar balasan dari Maura pun ia menggelengkan kepala sembari melanjutkan langkahnya tadi.
Dengan cekatan Erland menyiapkan bahan makanan yang akan ia masak nantinya setelah dirinya sampai di dapur tersebut sebelum ia memotong bahan makanan tersebut. Setelah semuanya siap, Erland mengambil gas yang tadi sempat ia copot dan mulai memasangnya kembali. Dan saat gas itu sudah ia pasang, ia mulai memasak.
Pergerakan lincah dari Erland sedari tadi tak luput dari pandangan Maura yang tadi menyusul kepergian Erland menuju dapur. Namun perempuan itu saat ini tidak masuk ke dalam dapur melainkan ia mengintip aktivitas Erland dibalik tembok pembatas antara ruang tamu dan dapur tersebut.
"Ternyata aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Erland. Dan sayangnya aku perlu mengakui jika aku masih hidup ketergantungan kepada Erland. Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika harus hidup sendiri. Aku masih terlalu riskan jika melakukan apapun sendiri," gumam Maura dengan helaan nafas panjang. Ia harus mengakuinya saat ini jika dirinya masih terlalu payah untuk hidup mandiri. Satu hari ditinggal oleh Erland saja ia sudah melukai dirinya sendiri, bahkan hampir membuat rumah ini terbakar karena ulahnya yang benar-benar sangat teledor. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya di tinggal Erland satu minggu akan jadi apa dia dan tentunya rumah ini, yang pasti dia sudah tiada mungkin dan rumah ini akan menjadi abu.
__ADS_1
Erland yang tengah sibuk dengan masakannya itu, matanya tak sengaja melihat Maura yang hanya kelihatan sedikit dan tampaknya istrinya itu tengah melamun saat ini. Sehingga Erland kini berjalan mendekati Maura.
Dan saat dirinya sudah berdiri dihadapan Maura, ia berkata, "Kenapa disini? Bukannya aku tadi bilang tunggu saja di kamar kamu. Nanti kalau makanannya sudah siap aku akan antar kesana."
Maura tampak terkejut mendengar suara Erland sampai lamunannya tadi tersadar. Kemudian ia menatap kearah suaminya itu yang saat ini tengah memandangnya dengan salah satu alis yang terangkat.
"Hmmm anu itu. A---aku haus, ya aku haus. Aku mau minum," ujar Maura. Lalu setelah mengucapakan perkataannya tadi Maura berusaha untuk berjalan melewati Erland, terus terang saja ia malu saat dirinya ketahuan tengah mengintip suaminya tersebut.
Erland yang melihat Maura tengah kesusahan berjalan pun ia menghela nafas kemudian laki-laki tersebut mendekati Maura dan tanpa permisi terlebih dahulu, Erland meraih tangan kanan Maura dan melingkarkan tangan tersebut ke lehernya.
Maura yang terkejut ia menatap Erland penuh dengan tanda tanya.
Erland yang paham pun ia berucap, "Akan aku ambilkan kamu minum. Kamu duduk saja."
Erland memapah tubuh Maura tanpa mau mendengar penolakan dari sang istri itu yang sempat berkata, "Gak perlu Er. Aku bisa ambil sendiri kok. Dan lebih baik kamu fokus ke masakan kamu saja. Aku tidak apa-apa."
"Duduk anteng disini. Jangan membantah!" perintah Erland kala dirinya sudah mendudukkan tubuh istrinya itu disalah satu kursi makan di sana. Maura hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Toh jika dirinya menolak seperti tadi, Erland juga tidak akan mendengarkan dirinya sama seperti tadi.
"Mau minum air putih, susu, teh, kopi, coklat panas atau jus?" tanya Erland kala dirinya sudah berada didepan kulkas.
"Hmmm air putih dingin saja," jawab Maura yang diangguki oleh Erland.
Laki-laki itu kini menyiapkan satu gelas air putih dingin sesuai dengan permintaan dari Maura.
__ADS_1
"Nih minum," ucap Erland. Maura menatap gelas tersebut sebelum tangannya bergerak untuk mengambil gelas tersebut. Dimana setelah gelas tersebut diterima oleh Maura, Erland kembali ke depan kompor lagi tanpa berniat menunggu ucapan terimakasih yang terlontar dari bibir Maura. Toh dia tidak berharap istrinya itu mengucapakan kata-kata itu, jangan ditanya karena apa sudah jelas karena watak Maura itu sangat sombong yang mungkin tidak pernah mengatakan kata tolong ataupun terimakasih kepada orang lain. Jadi untuk apa Erland mengharapkan hal itu jika hal itu tak akan pernah terjadi.