
Saat Maura dan Erland tengah menikmati waktu mereka dengan perasaan bahagia akan kabar kehamilan Maura, di sisi lain tepatnya di rumah sakit AWA Hospital, Mama Rina baru memasuki kamar inap putrinya. Setelah mencoba menekan Maura agar segera bercerai dengan Erland namun rencananya itu gagal dan justru ia di pukul telak oleh perempuan itu, dirinya memilih untuk ke taman rumah sakit, menenangkan dirinya sendiri sembari ia berusaha meredakan rasa sakit di perutnya akibat tendangan dari Maura tadi. Dan setelah emosinya stabil lagi juga perutnya sudah sedikit mendingan, barulah ia menemui putrinya yang ternyata tengah bermain ponsel itu dengan bibit yang mengerucut beberapa senti kedepan. Dan entah putrinya itu sadar atau tidak dengan kehadirannya, Orla tetap saja tak mengalihkan pandangannya dari ponsel ditangannya itu.
Hingga Mama Rina, mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di samping brankar Orla, perempuan muda itu akhirnya melirik kearahnya sebelum ponselnya tadi ia taruh dengan sedikit kasar di samping tubuhnya.
"Kata Mama, Erland hari ini akan datang kesini untuk menjengukku. Tapi nyatanya sampai pukul 9, dia tidak kunjung muncul juga di hadapan Orla. Kemana dia, Ma? Dan Mama tidak bohong kan dengan ucapan Mama kemarin?" ucap Orla tanpa menatap kearah Mama Rina, dan justru tatapan matanya lurus keatas, melihat langit-langit di kamar inap tersebut.
__ADS_1
Diam-diam Mama Rina mengepalkan tangannya yang ia taruh di atas pahanya. Ucapan dari Orla tadi kembali memancing emosi yang tadi sempat redam itu. Namun sebisa mungkin Mama Rina harus menahan emosinya.
Dan dengan senyum yang ia buat-buat, tak lupa tangannya juga terangkat, mengusap rambut Orla, Mama Rina menjawab ucapan dari Orla tadi.
"Kamu sabar sebentar sayang. Toh jam 9 itu terhitung masih pagi lho. Dan apa kamu lupa jika Erland itu keturunan Abhivandya yang tentunya selalu super sibuk itu. Jadi mungkin dia ada pekerjaan yang tidak bisa dia tunda, jadi mau tidak mau dia harus menyelesaikan pekerjaannya itu dulu baru kesini deh. Sabar ya. Dia pasti kesini kok. Kamu tenang saja oke," ucap Mama Rina dengan nada bicara yang sangat lembut.
__ADS_1
"Orla tau jika dia orang yang super sibuk. Tapi dia kan sudah janji Ma, harusnya di tepati dong, tidak harus menunggu sore dulu baru kesini. Kalau orang janji tuh lebih baik datangnya lebih awal, bukan malah mengulur-ulur waktu seperti ini. Lagian dia kan bekerja di perusahaan miliknya sendiri, jadi dia bolos kerja pun juga tidak masalah karena tidak ada yang memarahi dia," ucap Orla yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Erland. Bahkan semalam tidurnya tidak nyenyak karena memikirkan ia harus bersikap seperti apa kepada Erland. Tapi tak sekali-kali Orla juga tersenyum kala membayangkan Erland yang akan memanjakan dirinya dan perhatian kepadanya.
"Kalau dia bersikap seperti yang kamu katakan tadi artinya dia akan mencoreng baik namanya, nama baik perusahaannya dan nama baik keluarga besarnya. Dia juga akan di cap sebagai atasan yang tidak profesional dalam bekerja dan tidak memberikan contoh yang baik kepada pegawainya. Jadi apa yang kamu katakan tadi memiliki resiko yang besar, Orla," tutur Mama Rina.
Orla semakin mengerucutkan bibirnya sembari berkata, "Ck, nunggu terus! Kapan giliranku yang di tunggu?"
__ADS_1
Orla benar-benar sangat kesal, kenapa semua yang berurusan dengan satu laki-laki yang sangat ia cintai yaitu Erland, ia di haruskan untuk menunggu laki-laki itu, selalu saja seperti itu. Dan hal tersebut benar-benar sangat melelahkan bagi Orla.