PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 175


__ADS_3

Erland masih saja nempel dengan Maura saat keduanya sudah berada di dalam kamar Maura. Bahkan keduanya saat ini tengah duduk di salah satu sofa di dalam kamar tersebut.


Maura menghembuskan nafas dengan lelah. Sudah berulangkali ia menyuruh Erland untuk melepaskan pelukannya, tapi suaminya itu enggan untuk menuruti apa yang dia suruh.


"Mau sampai kapan kamu nemplok kayak cicak gini di tubuhku?" tanya Maura dengan melirik kearah Erland yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu Maura.


Erland sedikit menengadahkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah sang istri dan dengan senyuman ia menjawab, "Aku tidak akan pernah melepaskanmu."


Erland semakin mengeratkan pelukannya yang membuat Maura memutar bola matanya malas.


"Tapi gak gini juga kali. Yang ada kalau kamu kayak gini terus, aku gak bisa bergerak, gak bisa melakukan aktivitas seperti manusia biasa dan kemungkinan lain yang sangat fatal, aku akan mati karena kekurangan oksigen. Kamu mau aku mati dan kamu jadi duda?" ujar Maura yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Erland.


"Kalau gak mau, lepas sekarang pelukan kami ini." Lagi dan lagi Erland menggelengkan kepalanya.


"Kok geleng-geleng sih. Lepas lah. Aku udah mulai kesusahan bernafas ini," ujar Maura tak bohong sedikitpun.


"Tapi kalau aku melepaskan pelukan ini, kamu nanti akan pergi dari sisiku selamanya. Aku tidak mau hal itu terjadi sayang," ucap Erland dengan raut wajah sedih. Sumpah demi apapun, Erland saat ini lagi dalam mode bocil yang sangat ingin di manja.


"Astaga, pikiran kamu terlalu jauh banget sih. Aku kan tadi sudah janji gak akan kemana-mana apa lagi pergi dari kamu. Aku juga mengurungkan niatku untuk berpisah sama kamu. Jadi kamu tidak perlu takut kalau aku akan melakukan apa yang saat ini tengah berada di pikiran kamu itu. Dan percayalah aku bisa menepati ucapanku ini," tutur Maura meyakinkan.

__ADS_1


"Beneran?" Maura menganggukkan kepalanya. Sebelum ia mengangkat tangannya, menyodorkan jari kelingking ke hadapan Erland.


"Biar kamu semakin percaya, aku akan janji," ujar Maura.


Erland yang tadinya menatap kearah wajah Maura, tatapannya ia alihkan ke arah jari kelingking Maura. Dan lagi lagi, ia tersenyum untuk membalas janj kelingking Maura tadi.


"Aku pegang Janji kamu," ucap Erland. Kemudian setelahnya, Erland benar-benar melepaskan pelukannya tadi. Hal itu tentunya membuat Maura bisa bernafas lega.


"Oh ya sayang. Kata kamu tadi, aku perlu menjelaskan satu hal, kalau boleh tau hal yang ingin kamu ketahui dariku apa? Biar aku jelaskan, sejelas-jelasnya tanpa aku tutup-tutupi lagi," ucap Erland tanpa melunturkan senyumannya kala menatap wajah Maura. Tak lupa tangannya kini menggenggam salah satu tangan Maura. Demi apapun Erland saat ini bahagia, karena ia masih di beri kesempatan untuk melanjutkan hubungan rumah tangganya dengan Maura.


Sedangkan Maura yang tadi duduk lurus kedepan, posisi duduknya kini ia ganti menjadi menghadap kearah Erland.


Dan dengan penuh penasaran ia bertanya, "Begini. Aku hanya mau tanya. Apa sebelum kamu menikahiku, kamu sudah dijodohkan oleh kedua orangtuamu?"


"Hmmm tidak sama sekali. Kalau yang datang melamar sih banyak. Tapi tidak aku terima. Dan tentunya Mommy sama Daddy juga tidak menerima lamaran mereka karena mereka ngikut apa mauku," jawab Erland dengan jujur.


"Ehhh kamu banyak yang melamar?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Salah satunya perempuan yang kamu ceritakan waktu itu?" Lagi dan lagi Erland menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak merima lamaran dari salah satu dari mereka saja dulu?" tanya Maura penasaran.


"Karena aku tidak mau dan memang bukan jodohku. Dan ternyata jodohku si cantik yang aku temukan di jalanan yang sepi, malam-malam bawa koper lagi," ujar Erland dengan mencolek hidung Maura dengan gemas.


Sedangkan Maura yang flashback di masa-masa itu pun ia mencebikkan bibirnya.


"Ck, pertemuan yang benar-benar tidak romantis sama sekali, malah terkesan horor,," timpal Maura yang justru membuat Erland terkekeh di buatnya.


"Yang namanya jodoh mau dimana pun pasti akan bertemu sekali pun di tengah hutan. Lagian kenapa sih kamu tanya kayak gitu hmmm? Kamu takut jika aku berbohong dengan memalsukan statusku yang kamu pikir sudah beristri tapi aku ganti menjadi lajang, gitu?" tanya Erland curiga. Memang ya, satu kali orang yang sudah di bohongi akan sulit untuk percaya lagi. Tapi Erland dibuat bingung kalau Maura justru menimpali ucapannya tadi dengan menggelengkan kepalanya.


"Bukan begitu. Aku tau kok kamu masih lajang, kalau kamu sudah menikah tidak mungkin keluarga kamu se-welcome banget ke aku."


"Kalau alasannya bukan itu terus kenapa?" tanya Erland tak sabaran. Bahkan ia sekarang tengah menebak-nebak alasan sebenarnya Maura bertanya seperti tadi.


Maura kini menghela nafas panjang sebelum dirinya mulai angkat suara, "Jadi gini. Saat kamu pergi tadi setelah aku testpack, tidak berselang lama ada seseorang yang datang ke rumah kita. Awalnya aku tidak mau membukakan pintu untuk orang itu karena aku tidak mengenalinya. Tapi mungkin saat aku mengintip siapa yang datang, orang itu melihat keberadaanku. Dan saat itu, tiba-tiba saja ada satu kertas yang masuk lewat celah di bawah pintu. Kertas itu juga berisikan jika orang itu datang bukan untuk berniat jahat denganku. Tapi karena ingin mencarimu sekaligus ingin bicara denganku."


Maura menghela nafas lalu ia melanjutkan ceritanya.


"Tapi kamu jangan beranggapan jika aku langsung melakukan apa yang dia inginkan. Aku masih enggan untuk membuka pintu rumah kita. Hingga sekitar 5 menit satu kertas lagi masuk kedalam. Dan isinya tentu saja meyakinkan diriku jika dia itu bukan orang jahat. Bahkan dia meminta untuk berbincang-bincang denganku di luar rumah saja. Aku lagi-lagi mengintip kearah luar melalui jendela untuk memastikan jika keadaan di luar rumah aman untukku jika menemui dirinya. Dan untungnya di depan rumah kita tadi tengah diadakan acara pertunangan jadi setidaknya ada orang yang melihatku jika perempuan itu melukaiku. Jadi aku akhirnya keluar," sambung Maura.

__ADS_1


"Perempuan?" beo Erland yang diangguki oleh Maura.


"Heem perempuan yang menemuiku tadi. Perempuan itu juga sepertinya seumuran Mama sama Mommy Della. Aku juga lupa-lupa ingat dengan wajah perempuan itu yang sepertinya pernah aku lihat tapi aku lupa dimana. Tapi saat aku menemui dia, dia langsung tanya kamu dimana tanpa menyapaku terlebih dahulu. Tentunya aku jawab dengan seadanya saja. Dan tanpa aku persilahkan untuk duduk perempuan paruh baya itu sudah duduk terlebih dahulu di salah satu kursi depan rumah kita. Aku yang sebal karena merasa tak di hargai padahal akulah tuan rumahnya, aku langsung menyuruh dia untuk to the point. Dan disinilah dia mulai cerita tentang kamu dan anak dia yang tentunya saat itu juga aku tau ternyata kamu menyembunyikan identitas kamu. Tapi saat aku dengan semaksimal mungkin menahan rasa marah, kesal, sakit yang bercampur baur di dalam hatiku. Justru rasa sakit itu semakin menjadi saat perempuan paruh baya tadi mengatakan jika sebelum kita menikah, sudah di jodohkan dengan putrinya, tapi gara-gara kita menikah, perjodohan kalian gagal dan kata dia, aku lah di perusak hubungan kalian berdua. Dan dia meminta bahkan sampai memohon-mohon kepadaku untuk berpisah dengan kamu karena jika tidak anaknya akan terus menyakiti dirinya sendiri. Dan yang aku takutkan, jika putri dari perempuan paruh baya tadi berhasil mengakhiri hidup dia saat melihat kita terus bersama. Nah aslinya ini lah alasanku kenapa aku ingin berpisah dengan kamu tadi. Alasannya utamanya ya ini nih karena aku tidak mau membunuh orang yang aku sendiri pun tidak tau siapa orang itu," ujar Maura panjang kali lebar menceritakan semua yang ia alami tadi yang membuat dirinya ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok saking ia tak tau apa yang harus dirinya sendiri lakukan.


__ADS_2