
Situasi didalam kamar itu benar-benar sangat sepi. Seperti tidak ada kehidupan di dalam kamar itu.
"Erland!" panggil Maura dengan melangkahkan kakinya semakin dalam lagi. Ia akan melihat setiap sudut di kamar tersebut, siapa tau Erland tengah duduk disalah satu sudut itu untuk meratapi nasibnya tadi malam. Tapi sayangnya setelah Maura melihat ke seluruh sudut ruangan itu ia tak menemukan keberadaan Erland. Hingga kakinya kini mengarah ke sebuah kamar mandi. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Maura langsung membuka pintu kamar mandi tersebut. Dan lagi, ia tak menemukan ada sosok Erland di dalam sana. Dimana hal tersebut membuat perasaan Maura menjadi sangat khawatir sekaligus takut jika Erland meninggalkan dirinya sendirian di rumah ini seperti waktu malam itu saat ia sudah berhasil memancing amarah Erland. Ia benar-benar takut kejadian tersebut terulang lagi kepadanya.
Maura yang sudah kalang kabut ia berlari keluar dari dalam kamar Erland, ia akan memastikan kendaraan suaminya masih ada di depan rumah mereka atau tidak.
Saat Maura sudah berada di hadapan pintu utama rumah tersebut dan saat ingin membuka pintu, niatnya terhenti kala ia melihat ada secarik kertas yang tertempel di pintu rumah tersebut. Maura memperhatikan kertas tadi sesaat sebelum ia membelalakkan matanya kala melihat ada nama Erland di bagian bawah baris kata yang tertuang didalam kertas tadi. Maura kini mengambil kertas tersebut kemudian membaca setiap baris tulisan yang ia tadi hanya lihat sekilas saja. Kemudian ia mulai membaca isi dari kertas yang ia sangat yakin kertas itu dari Erland.
"Pagi Ra. Maaf sebelumnya jika aku kurang sopan dengan memberikan surat ini untuk berpamitan denganmu karena aku tidak akan tega untuk membangunkan kamu saat masih tidur tadi. Aku pamit Ra, aku akan pergi untuk beberapa saat. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai telat makan. Kamu tidak perlu memasak jika kamu tidak bisa karena aku sudah meninggalkan beberapa uang untuk kamu gunakan sebagian biaya makan kamu selama aku tidak ada disitu. Uangnya aku taruh diatas nakas di samping tempat tidurku. Aku pamit dan maaf atas kejadian tadi malam.
^^^Erland..."^^^
Tubuh Maura lemas seketika setelah membaca isi dari kertas yang baru saja ia temukan tadi. Firasatnya sangat benar jika kejadian yang dulu pernah ia alami terulang kembali dimana Erland kembali meninggalkan dirinya sendirian di rumah ini tentunya karena kesalahan yang telah ia buat.
Air matanya yang tadi sempat terhenti pun kembali menetes dengan tangan yang kini meremas kertas tersebut sebelum ia dengan kasar membuka pintu utama rumah itu. Dengan harapan saat ia membuka pintu, ia bisa melihat motor Erland terparkir didepan rumah yang berarti surat yang baru saja ia dapatkan itu hanya sekedar gurauan yang Erland berikan kepadanya. Tapi sayang, saat ia membuka pintu dengan mata yang langsung ia tujukan ke arah biasanya Erland memarkir kendaraannya, ia tak menemukan kendaraan apapun disana. Dimana hal tersebut membuat tubuh Maura langsung luruh dan berakhir duduk diatas lantai.
__ADS_1
"Hiks Erland. Aku tau aku salah tapi aku mohon jangan tinggalin aku, Er. Jangan hukum aku seperti ini, Er. Aku minta maaf, Er aku minta maaf. Tolong kembali! Hiks," gumam Muara dengan merangkul kakinya sendiri yang sudah ia lipat. Entah kenapa ia merasa sangat hancur saat ini kala mendapatkan surat berisi kata pamit dari Erland. Ingin sekali ia menghubungi laki-laki itu, agar ia bisa meminta maaf dan membujuk Erland untuk kembali bersamanya. Namun ia tak mempunyai nomor telepon suaminya itu. Dimana hal tersebut benar-benar membuat Maura bingung harus mencari Erland kemana karena ia tak tau pasti kemana perginya Erland saat ini.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar menyesal. Jika aku tau akan seperti ini aku tidak akan menangis tadi malam saat Erland meminta haknya dan membiarkan dia untuk memilikiku seutuhnya. Dan sekarang aku harus cari dia dimana? Aku belum terlalu paham dengan jalanan di kota ini," gumam Maura dengan menatap lurus kearah jalan di depan rumahnya yang terbilang sangat sepi walaupun ada beberapa tetangga di sekitar rumahnya. Semua orang yang ada di perumahan itu memang sangat tertutup dan jarang ada yang keluar rumah jika tidak ada aktivitas penting, sangat berbeda dengan orang-orang lainnya yang sangat senang berkumpul dan menggosip, dan karena hal itulah Maura jadi sulit untuk bertanya ke tetangganya, apakah mereka melihat kemana perginya Erland tadi.
Maura terus bengong seperti orang gila terlebih air matanya tak kunjung berhenti. Hingga tiba-tiba satu nama terlintas di otaknya.
"Keluarga Abhivandya! Aku harus kesana sekarang juga. Bukannya disaat jam-jam segini dia sudah mulai bekerja? Ya, aku harus kesana!" Maura segara berdiri dan dengan berlari kecil ia masuk kedalam rumahnya dan tujuannya saat ini adalah kamarnya untuk mengambil tas kecil, ponsel serta beberapa uang yang akan ia gunakan untuk ongkos pergi ke tempat tujuannya.
Namun baru saja ia ingin memesan taksi online, ia teringat sesuatu. Ia tak tau alamat keluarga Abhivandya itu dimana?
"Ahhhh aku tau. Papa! Ya, aku harus tanya Papa tentang alamat keluarga Abhivandya itu dimana. Pasti Papa tau alamatnya, semoga saja ya Tuhan," gumam Maura. Dan dengan tangan yang bergetar hebat, ia mencari kontak sang Papa. Saat sudah mendapatkannya, tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung menekan ikon telepon untuk menghubungi sang Papa.
Satu kali, dua kali hingga akhirnya untuk ketiga kalinya Maura mencoba menghubungi nomor sang Papa, Papanya itu akhirnya mengangkat telepon darinya.
π : "Halo sayang. Ada apa?" tanya seorang laki-laki paruh baya di sebrang telepon tersebut.
__ADS_1
"Pa, Maura minta tolong sama Papa. Papa mau kan nolongin Maura?" Tanpa di ketahui oleh Maura, sang Papa saat ini tengah mengerutkan keningnya.
π : "Minta tolong? Memangnya kamu sedang dalam masalah saat ini sayang?"
Maura menganggukkan kepalanya dengan raut wajah sedih yang tentunya tidak bisa dilihat oleh Papa Louis.
π : "Sayang, are you oke? Papa kayak dengar kamu lagi nangis? Kamu kenapa sayang? Dan kenapa pertanyaan Papa tadi tidak kamu jawab."
"Ya Pa. Maura baik-baik saja kok. Maura tidak sedang menangis hanya saja Maura tengah flu saat ini jadi maklum saja kalau suara Maura agak gimana gitu. Dan untuk pertanyaan Papa tadi, aku memang memiliki masalah tapi hanya masalah kecil saja. Oh ya Pa, Maura minta tolong sama Papa untuk memberitahu Maura alamat rumah keluarga Abhivandya berada. Papa tau kan alamat rumahnya dimana?"
Ucapan dari Maura tadi benar-benar membuat Papa Louis diseberang sana sangat terkejut. Bahkan tangannya yang ia gunakan untuk menandatangani berkas dihadapannya terhenti begitu saja dengan pena yang sudah jatuh diatas berkas tadi. Ia berpikir keras saat ini, kenapa putri satu-satunya itu menanyakan alamat rumah keluarga Abhivandya yang merupakan rumah suaminya saat sang putri memiliki masalah? Apakah masalah Maura ini berkaitan dengan salah satu keluarga Erland? Atau jangan-jangan hal yang selama ini Erland sembunyikan telah terungkap? Dan masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di otak Papa Louis saat ini.
...****************...
Kita kasih pelajar ke Maura dulu yuk hehehe biar tau rasa diaπ€ Yukkk Ahhh 50 like, nanti aku double up saat udah nyampai target. Dan kalau mau triple up dan seterusnya harus target dulu, nanti aku bakal tambahi. Jangan lupa juga buat VOTE, HADIAH dan KOMEN ya. See you next eps bye π
__ADS_1