PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 41


__ADS_3

"Pertanyaanmu sudah aku jawab dan daripada kamu bengong disini terus seperti ini lebih baik kamu segera mandi sana. Waktumu tinggal 15 menit lagi. Ingat konsekuensi yang akan kamu dapatkan jika kamu telat nanti," ujar Erland. Dimana setelah mengucapakan hal tersebut, ia menutup pintu kamarnya kembali hingga membuat Maura kembali tersadar.


"Tunggu sebentar, dia tadi bilang apa? Waktuku tinggal, 15 menit lagi. Aishhhh sialan!" umpat Maura yang masih saja tak bisa menghentikan umpatannya itu padahal itu salah satu hukuman yang harus ia jalani. Tapi berhubung Erland tidak mendengarnya, tidak masalah bukan jika Maura melakukannya?


Dengan perasaan dongkolnya Maura berjalan kembali kedalam kamarnya lalu segera membersihkan tubuhnya secepat kilat.


Hingga hanya butuh 12 menit saja dia telah selesai dengan kaos oblongnya yang menutupi celana hot pant yang tengah ia pakai sekarang. Dan dengan berlari kecil Maura menuju kearah ruang tamu. Dimana sesampainya dia di sana, sudah ada Erland yang duduk manis dengan ponsel ditangannya.


"1 menit lagi kamu telat tadi," ucap Erland yang menyadari kehadiran Maura sembari ia menaruh ponselnya ke atas meja di hadapannya sebelum ia menatap kearah Maura.


"Yang penting gak telat." Erland membalasnya dengan anggukan kepala saja.


"Duduk," perintah Erland dengan menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Maura yang sedari tadi berdiri karena ia tau jika Erland akan langsung menyuruhnya untuk berberes rumah ini pun ia kini mengerutkan keningnya tak percaya.


Erland yang tak melihat pergerakan Maura untuk segera duduk pun ia berdecak lalu tangannya kini terulur, kemudian menarik pelan lengan Maura yang masih diam berdiri disampingnya itu hingga duduk di sofa yang sempat ia tepuk tadi.


"Awsss sakit lah anj---" Erland memberikan tatapan tajam kepada istrinya itu kala Maura berniat untuk mengumpatinya.

__ADS_1


Maura yang mendapat tatapan tajam pun ia langsung menutup rapat bibirnya dengan memberikan sebuah cengiran.


"Hampir aja keceplosan," batin Maura.


Erland tampak menghela nafas sesaat sebelum laki-laki itu kini berucap, "Aku akan kasih tau kegiatan apa saja yang akan kamu lakukan hari ini beserta jamnya yang akan kamu mulai besok. Dengar baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya."


Maura tampak memutar bola matanya sembari berkata, "Iya-iya aku akan mendengar baik-baik."


"Oke, jadi mulai besok pagi kamu harus bangun pukul 4 atau setengah 5 pagi untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah sholat selesai, bersihkan badanmu serta bereskan kamarmu sendiri karena tadi malam aku lihat kamarmu benar-benar sangat kotor dan berantakan. Malu kan kalau sampai kalah dengan kamarku yang selalu bersih." Maura tampak berdecak. Bisa-bisanya suaminya itu membandingkan dirinya dengan dia yang jelas beda jauh lah. Ia akui kamarnya tidak serapi kamar Erland tapi setidaknya masih enak di pandang dan tidak ada sampah yang berceceran di lantai. Itu saja sudah kemajuan yang sangat baik untuk Maura pasalnya sebelum dia menikah, kamarnya selalu lebih berantakan bahkan seperti tempat pembuangan akhir sampah yang setiap paginya ada saja sampah memenuhi lantai kamarnya.


"Kamu paham kan sampai disini Maura?" Maura kini tampak mengangguk-anggukkan kepala.


Maura yang hanya bisa pasrah pun ia menganggukkan kepalanya.


"Dan berhubung sekarang sudah pukul setengah 8 kamu sapu dulu semua sudut rumah ini. Untuk urusan memasak hari ini biar aku saja," ucap Erland yang lagi-lagi mendapat balasan anggukan kepala dari Maura.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, bergerak sekarang untuk melakukan tugasmu," sambung Erland yang membuat Maura kini menghela nafas panjang sebelum ia kini berdiri dari posisi duduknya. Lalu melangkahkan kakinya untuk mengambil sapu. Sedangkan Erland, laki-laki itu bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka berdua.

__ADS_1


Keduanya tengah disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing dengan Erland yang sesekali mengawasi Maura dari dapur, ia menggelengkan kepalanya kala Maura tampak ogah-ogahan menjalankan hukumannya itu.


"Nyapu yang benar Maura!" teriak Erland untuk memberikan peringatan kepada istrinya itu.


Dimana hal tersebut membuat Maura kini menolehkan kepalanya kearah Erland sembari menjawab, "Iya!"


Setelah itu Maura mencoba untuk menyapu dengan baik dan benar walaupun ia tak tau cara menyapu yang benar itu seperti apa karena Maura selain hanya mengayun-ayunkan sapu itu dengan cukup keras, ia kini mendorong sapu itu keluar rumah tersebut seperti seseorang yang tengah mengepel lantai.


Erland yang sedari tadi mengawasinya pun ia tampak gregetan sendiri. Dan karena ia sudah benar-benar gemas ingin memperbaiki cara kerja Maura. Erland dengan terpaksa menghentikan acara memotong bahan masakannya itu dan ia memilih untuk mendekati Maura terlebih dahulu untuk memberikan contoh kepada istrinya.


Maura yang masih mendorong sapu pun kegiatannya itu terhenti kala ada seseorang yang berdiri di belakangnya dengan memegang kedua tangannya yang berada di gagang sapu tersebut sampai posisi mereka berdua terlihat seperti sedang back hug.


Maura yang sempat terkejut, ia kini menolehkan kepalanya kearah samping kanannya untuk melihat si pemilik tangan itu. Padahal tanpa ia lihat pun ia sudah tau jika orang itu adalah Erland. Memangnya siapa lagi karena yang ada di rumah itu hanya dirinya dan suaminya itu.


Erland tidak memperdulikan tatapan Maura yang tengah menatap lekat wajahnya itu, dirinya justru kini bersuara, "Kalau orang menyapu itu bukan di dorong ataupun diayunkan dengan kencang Maura tapi di ayunkan pelan-pelan. Seperti ini."


Masih dengan posisi yang sama, Erland memberikan contoh menyapu yang benar kepada istrinya itu yang masih saja tak mengalihkan pandangannya kearah wajahnya. Hingga karena Erland sebal, ia memperingati Maura, "Perhatikan sapunya Maura bukan wajahku," ucapnya.

__ADS_1


Dimana hal tersebut membuat Maura tersadar dari kekagumannya melihat wajah laki-laki itu. Dan dengan cepat juga dengan wajah memerah Maura mengalihkan pandangannya kearah pergerakan tangannya.


__ADS_2