PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 150


__ADS_3

Tak sampai 20 menit lamanya suara ketukan di pintu utama terdengar yang mana hal tersebut membuat semua orang mengalihkan perhatiannya ke arah pintu utama tersebut.


Mereka sangat yakin jika yang mengetuk pintu itu adalah Erland, seseorang yang mereka tunggu sedari tadi.


Salah satu maid kini berjalan untuk membuka pintu tersebut dan saat pintu itu terbuka, tebakan semua orang benar adanya. Ya, orang yang baru datang itu adalah Erland.


"Sore mbak," sapa Erland dengan sopan tak lupa memberi senyuman kepada maid yang sudah lama bekerja di rumah itu.


Maid tersebut membalas senyuman Erland.


"Selamat sore juga tuan muda. Silahkan masuk, tuan muda sudah di tunggu nyonya dan tuan didalam," ucap maid itu sembari membuka pintu utama itu semakin lebar.


"Terimakasih mbak," kata Erland sebelum dirinya melangkahkan kakinya, masuk kedalam rumah kedua orangtuanya. Dimana saat baru saja ia masuk, dirinya dibuat terheran dengan pemandangan yang tersaji di ruang tamu. Hingga ia yang berniat menghampiri kedua orang tuanya, niatnya itu ia hentikan bertepatan dengan langkah kakinya yang juga berhenti.


Erland menatap barang-barang yang jumlahnya tak sedikit itu di letakkan di lantai sebelum tatapan matanya berpindah ke kedua orangtuanya, kemudian berpindah lagi kearah tiga orang lainnya yang tentu saja sangat ia kenali wajahnya. Lagian siapa yang akan melupakan orang-orang yang membuat hidupnya seperti di kejar oleh rentenir, mereka membuat hidup Erland resah selama ini.


Tapi ia cukup penasaran ada hal apa mereka datang kesini? Dengan pakaian mewah seperti tengah menghadiri sebuah pesta lagi. Dan tunggu sebentar, sepertinya Erland pernah melihat baju yang dikenakan oleh Orla saat ini. Erland terus mengingat-ingat kapan ia pernah melihat baju tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari Orla. Hingga dirinya ingat, baju itu sama persis dengan baju yang di coba oleh istrinya tadi tapi ia tolak mentah-mentah.


Setelah mengingat model pakaian yang di kenakan oleh Orla, Erland kembali menatap kearah kedua orangtuanya dan kemudian berjalan mendekati mereka tanpa peduli jika Orla saat ini tengah salting karena sempat di tatap intens oleh laki-laki pujaan hatinya. Ke ragunan di hatinya tentang Erland yang juga akan menolak lamaran dirinya seperti kedua orangtua laki-laki itu hilang seketika dan berubah menjadi sebuah keyakinan kembali. Karena ia sangat yakin jika tatapan Erland tadi berarti jika laki-laki tersebut tengah terpesona dengannya dan ia juga yakin Erland akan menerima lamarannya itu.


Erland yang sudah menghampiri kedua orangtuanya, ia menyalami tangan mereka secara bergantian. Sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya di sebelah sang Daddy. Hingga posisinya kini berhadapan langsung dengan Papa Jaya, sebelum ia angkat suara, "Mommy, sebenarnya ini ada apa? Kenapa Mommy tadi suruh Erland kesini untuk meluruskan suatu hal? Memangnya Erland perlu meluruskan hal apa?"


Mommy Della menghela nafas panjang.


"Mommy rasa kamu cukup pintar untuk mengetahui situasi saat ini Erland tanpa Mommy ataupun Daddy beritahu kamu," ujar Mommy Della yang membuat Erland mengerutkan keningnya sebelum matanya kembali menatap ke sekelilingnya dan barulah ia sadar jika barang-barang yang ada di sekitarnya itu merupakan barang-barang seserahan.


"Ini semua barang-barang seserahan kan Mom?" tanya Erland dengan menunjuk barang-barang tersebut yang tentunya diangguki oleh kedua orangtuanya.


"Ehhh jadi benar. Kalau begitu siapa yang mau mengadakan acara lamaran atau menikah?" tanya Erland kembali yang membuat Mommy Della kini menyenggol lengan sang suami agar mengatakan secara langsung jika Erland lah yang saat ini tengah di lamar oleh seseorang.


"Jadi begini Er. Apa yang kamu katakan tadi memang benar adanya jika di rumah ini tengah terjadi proses lamaran, ahhh tidak lebih tepatnya ada seseorang yang ingin melamar salah satu putra Daddy dan Mommy, dan orang itu adalah kamu," ucap Daddy Aiden yang membuat Erland melebarkan matanya. Tapi saat dirinya ingin menimpali ucapan sang Daddy, tangan Daddy Aiden terangkat, tanda jika Erland belum ia izinkan untuk angkat suara.


"Dan seperti yang kamu lihat, keluarga yang ingin melamar kamu sekarang duduk di hadapanmu. Mereka adalah keluarga Jaya." Erland menolehkan kepalanya dengan mengepalkan kedua tangannya kala tatapan matanya menyapu ke tiga orang yang duduk di hadapannya tersebut.


"Apa-apaan ini! Kalian berniat melamar saya?!" tanya Erland untuk memastikan sekaligus berharap jika semua ini hanyalah gurau yang tengah mereka buat.


Papa Jaya menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Benar, apa yang dikatakan kedua orangtuamu itu adalah sebuah kebenaran. Saya selaku ayah dari Orla ingin melamar kamu untuk menjadi suami putri saya," ucap Papa Jaya.

__ADS_1


Hingga...


Brakkk!


"Omong kosong macam apa ini?!"


Kelima orang yang berada di ruang keluarga bahkan sampai para art yang diam-diam menguping pembicaraan mereka terperanjat kaget saat Erland menggebrak meja dengan keras dan di susul teriak penuh amarah dari laki-laki tersebut.


Daddy Aiden yang sudah mengontrol degup jantungnya yang sempat berpacu dengan cepat, ia kini menatap kearah Erland yang ia sangat yakini jika putranya itu tengah emosi.


"Er, tenang," ucap Daddy Aiden yang berhasil membuat Erland menatap dirinya.


"Daddy bilang apa tadi? Erland suruh tenang? Yang benar saja Dad. Erland saat ini tengah di lamar oleh seseorang. Dan Daddy dengan enteng nyuruh Erland tenang! Tidak, Erland tidak akan bisa tenang. Dan Daddy sama Mommy, kenapa kalian tidak langsung menolak lamaran mereka? Kalian malah membiarkan mereka tetap disini, seakan-akan kalian menerima lamaran dari mereka!" Sumpah demi apapun Erland saat ini tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Kita sudah menolak lamaran mereka tadi Erland. Tapi mereka masih kekeuh, tetap mau melamar kamu dan ingin mendengar jawaban dari kamu secara langsung," timpal Mommy Della. Erland yang melihat tepat di dalam manik mata Mommy Della dan tak menemukan sebuah kebohongan di dalam mata indah itu, tentunya Erland langsung percaya karena tidak mungkin juga kan kalau ibunya itu akan berbohong kepadanya dan tetap menerima lamaran mereka saat kedua orangtuanya itu tau status Erland yang sudah memiliki istri bahkan mereka sudah sangat sayang dengan istri Erland yaitu Maura walaupun jarang bertemu.


Erland kembali menatap kearah ketiga orang yang masih bungkam itu tapi matanya tak sengaja melihat jika dua diantara orang tersebut tengah mengepalkan tangannya, sepertinya mereka tak kalah emosi dengan dirinya. Sedangkan perempuan yang duduk di antara dua orang paruh baya itu sudah menangis sesenggukan didalam pelukan sang Mama. Tapi Erland mana peduli, ia harus segara menyelesaikan permasalah ini.


"Baiklah jika kalian menunggu jawaban dari saya tentang lamaran ini. Saya, Erland Drake Abhivandya selaku orang yang kalian lamar menyatakan jika saya menolak secara tegas lamaran dari keluarga Jaya untuk diri saya sendiri. Tanpa mengurangi rasa hormat saya. Dan saya rasa ucapan saya ini sudah sangat tegas dan jelas jadi saya tidak perlu mengulanginya lagi!" ucap Erland dengan sangat lantang.


Dimana hal tersebut langsung membuat Papa Jaya berdiri dari posisi duduknya, Mama Rina yang semakin mengeratkan pelukannya kala Orla semakin menangis sejadi-jadinya.


"Alasannya karena saya sudah menikah dengan perempuan yang saya sayangi dan saya cintai," balas Erland.


"Tidak mungkin. Kamu pasti sedang mengada-ada kan? Atau kamu di hasut oleh kedua orangtuamu ini untuk berbohong ke kita?"


Erland menggelengkan kepalanya, "Tidak ada sebuah pernikahan yang sangat suci di jadikan bahan untuk membohongi seseorang. Saya sudah menikah tepat di tanggal 9 September 2022."


"Kalau memang kamu sudah menikah, mana buktinya? Kalau kamu tidak bisa membuktikannya berarti satu keluarga yang katanya terpandang ini sudah melakukan sebuah kebohongan yang benar-benar sangat memuakkan."


"Anda mau bukti?" tantang Erland.


"Tentu saja. Jadi mana buktinya." Erland langsung menunjukkan cincin yang melingkar indah di jari manisnya.


"Cincin ini adalah salah satu bukti di ikatnya hubungan saya dengan istri saya. Kalian mau bukti lagi, baiklah saya akan memperlihatkan semua bukti yang saya punya," ucap Erland lalu setelahnya ia memanggil salah satu maid di rumah tersebut.


Dimana saat maid itu sudah mendekati dirinya, Erland berkata, "Mbak boleh minta tolong ambilkan album foto pernikahan saya di kamar saya?"


"Baik tuan, saya akan mengambilkan sebentar," ucap maid tersebut sebelum ia bergegas menuju ke kamar Erland yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Dan kepergian dari maid tadi membuat Erland langsung merogoh ponselnya untuk menelepon Maura. Dimana telepon darinya itu langsung diangkat oleh Maura.


📞 : "Halo, Assalamualaikum, sayang. Ada apa?"


Suara Maura yang sangat jelas terdengar di telinga semua orang yang ada di ruang tamu itu semakin membuat Papa Jaya dan Mama Rian marah besar. Sedangkan Orla, hati perempuan itu semakin sakit kala mendengar Erland di panggil dengan sebuah sayang oleh perempuan lain. Rasanya hatinya saat ini tengah di tusuk dengan seribu pedang secara bersamaan.


"Waalaikumsalam. Sayang, apa boleh aku minta tolong sama kamu," ucap Erland.


📞 : "Tentu saja kamu mau minta tolong apa, suamiku!"


Sumpah demi apapun ucapan Maura ini justru membantu Erland menjelaskan tentang status mereka kepada ketiga orang yang sepertinya sudah mulai percaya akan fakta tersebut.


"Begini sayang. Aku minta tolong kamu untuk memfoto buku nikah kita."


📞 : "buku nikah kita? Untuk apa?" tanya Maura yang tentunya penasaran.


"Ada sesuatu yang perlu aku selesaikan dan hanya buku itu yang bisa membantuku," ucap Erland.


📞 : "Apa kamu sedang mengalami kesulitan sekarang? Jika iya, dimana kamu sekarang. Aku akan segera menyusul kamu," ucap Maura.


"Hanya ada sedikit masalah saja sayang jadi kamu tidak perlu menyusulku. Kamu cukup mengirimkan foto buku pernikahan kita."


📞 : "Baiklah kalau begitu kamu tunggu sebentar. Aku akan mengirim kamu foto buku pernikahan kita sekarang juga," ucap Maura yang sangat jelas terdengar jika perempuan itu tengah berlari saat ini.


"Baiklah, aku tunggu ya sayang. Bye sampai ketemu di rumah. Love you. Assalamualaikum."


📞 : "Iya sayang. Bye, love you too. Waalaikumsalam."


Setelah suara balasan dari Maura tadi sambungan telepon tersebut Erland tutup. Bertepatan dengan hal itu, maid yang Erland tadi suruh untuk mengambilkan album foto itu kini telah kembali dengan satu album foto ditangannya.


Dan setelah maid itu sudah sampai disamping Erland, ia menyodorkan album itu ke hadapan tuan mudanya sembari berkata, "Ini tuan album yang tuan minta."


Erland menganggukkan kepalanya dengan tangannya yang terulur mengambil album album foto tersebut.


"Terimakasih Mbak," ujar Erland yang dibalas anggukan kepala oleh maid tersebut sebelum dirinya menjauh dari ruang tamu.


Sedangkan Erland, ia menghela nafas untuk sedikit meredakan emosinya yang masih menggebu-gebu itu. Kemudian ia mendudukkan tubuhnya di samping tubuh sang Daddy kembali dengan menaruh album tadi di atas meja tepat dihadapannya. Ia akan diam terlebih dahulu, sampai Maura mengirimkan foto buku pernikahan mereka, barulah nanti ia akan angkat suara kembali.


...****************...

__ADS_1


Tolong kasih tau jika ada typo atau kesalahan lainnya karena dari Bab ini sampai Eps berikutnya belum aku revisi. Terimakasih 🙏


__ADS_2