PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 26


__ADS_3

Waktu telah berjalan dengan cepat, sampai tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dimana Erland baru saja sampai di rumahnya.


"Assa---lamualaikum," ucap Erland dengan mata yang terbuka lebar kala ia melihat kondisi didalam rumahnya yang sangat-sangat berantakan. Piring kotor, gelas dan sampah makanan ringan bahkan ada remahan makanan yang tersebar di hampir setiap sudut rumah tersebut. Dan jangan tanya siapa pelaku yang sudah membuat rumah yang awalnya sangat rapi itu menjadi berantakan seperti kapal pecah seperti ini jika bukan Maura.


Erland memejamkan matanya dengan mengepalkan tangannya, sebelum ia berteriak, "Maura!"


Panggilan menggelegar dari Erland itu berhasil masuk ke telinga Maura yang tengah asik menonton sebuah Drakor di laptopnya.


Maura berdecak kala mendengar teriakkan tersebut.


"Haishhhh orang itu kenapa sudah pulang sih. Ganggu tau gak," gerutu Maura namun tak urung ia berjalan keluar dari dalam kamarnya, mendekati Erland berada.


"Bisa gak sih, kalau baru pulang kerja itu jangan teriak-teriak. Berisik!" ucap Maura dimana ucapan dari perempuan itu membuat Erland yang sedari tadi mengedarkan pandangannya, menyapu setiap keadaan didalam rumahnya itu teralihkan hingga ia kini menatap kearah Maura. Tapi baru beberapa detik saja ia melihat Maura, ia dengan cepat memejamkan matanya, sabar, batin Erland.


Beberapa saat setelahnya ia membuka matanya kembali tanpa peduli lagi dengan penampilan Maura yang cukup terbuka itu karena perempuan tersebut hanya memakai tank top ketat sampai belahan dadanya sedikit kelihatan dan celana kain yang sangat-sangat mini, mungkin celana itu lebih pantas jika di pakai anak-anak, pikir Erland.


"Apa yang kamu lakukan sampai rumah jadi berantakan seperti ini?" tanya Erland dengan tatapan tajamnya ia berikan kepada istrinya itu.


Maura kini mengedarkan pandangannya menatap keadaan rumahnya itu yang baru ia sadari jika sangat berantakan dan terkesan jorok.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, Maura?!" tanya ulang Erland penuh dengan penekanan. Dimana hal itu membuat Maura kini menggaruk kepalanya sebelum ia menjawab.


"Aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah ini," elak Maura.


"Jangan bohong Maura! Kamu seharian di rumah ini. Mana ada kamu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Dan jangan mengelak kalau ini semua adalah kerajaanmu. Jadi aku tidak mau tau, bersihkan rumah ini sekarang juga. Saat aku selesai mandi, rumah ini harus sama seperti sebelum aku tinggalkan tadi pagi," ucap Erland tak terbantahkan. Setelah mengucapkan hal tersebut, Erland langsung pergi ke kamarnya. Tak peduli dengan Maura yang tengah melontarkan protesannya, ia sudah cukup lelah menanggapi perempuan yang sayangnya istrinya sendiri itu. Niat hati, dirinya pulang agar bisa langsung mengistirahatkan tubuhnya, tapi sampai rumah dirinya malah di suguhkan pemandangan yang sangat tak enak ia pandang.


Maura yang sudah tak melihat tubuh Erland, ia menatap kembali ke sekelilingnya dan dengan berdecak ia mulai melangkahkan kakinya mengambil sapu yang terletak di pojok dapur.


Ia mulai menyapu dengan asal-asalan, maklum saja Maura baru kali ini memegang benda itu yang tentunya ia sangat kaku menggunakannya yang terpenting sampah-sampah yang ia buang sembarangan itu tersingkirkan dari depan rumah itu.


"Huwahhhh capek juga ternyata," ucap Maura yang sudah mendudukkan tubuhnya diatas lantai dengan bersandarkan dinding rumahnya sembari matanya terpejam, mengatur pernafasan yang tampak ngos-ngosan itu.


Sampai mata itu kembali terbuka kala ia mendengar suara pintu kamar Erland.


"Gimana? Sudah bersih kan?" tanya Maura.


"Tidak terlalu bersih seperti tadi pagi tapi mendingan lah," jawab Erland yang membuat Maura mencebikkan bibirnya.


"Terserah lah yang penting rumah ini sudah tidak ada sampah seperti tadi. Dan karena aku sudah menyelesaikan tugasku, sekarang giliran kamu yang mengerjakan tugasmu." Erland mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Tugas?" Maura menganggukkan kepalanya.


"Yap dan tugas kamu adalah masak. Aku lapar dari tadi siang aku belum makan sama sekali hanya makan cemilan saja yang aku beli di supermarket depan," ujar Maura.


Erland memutar bola matanya malas. Kata Maura tadi pagi, asalkan perempuan itu di tinggali bahan makanan, dia akan memasak apapun yang ia bisa. Tapi ternyata saat semua bahan makanan sudah lengkap masih saja perempuan itu lebih memilih untuk menahan laparnya dan memilih untuk membeli cemilan yang tidak akan mengganjal rasa laparnya. Tapi tunggu sebentar, Maura beli makanan dengan uang siapa? Jangan bilang...


"Kamu beli cemilan pakai uang yang aku berikan tadi pagi?" Dengan wajah tak bersalahnya, Maura menganggukkan kepalanya. Dimana hal tersebut membuat Erland menghela nafas.


"Habis berapa?" tanya Erland kembali. Ia pikir mungkin Maura hanya menghabiskan paling banyak 50 ribu saja tapi ternyata...


"200 ribu."


"Apa?!" Maura meringis mendengar suara teriakan dari Erland tadi.


"Cuma 200 ribu doang, Er. Ini hanya seperempat biaya yang aku keluarkan saat beli cemilan karena biasanya aku menghabiskan 1 juta. Jadi tidak masalah lah," ucap Maura.


"Tidak masalah katamu. Astaga cari uang 200 ribu itu susah Maura! Dan jangan bandingkan pengeluaranmu yang dulu dan sekarang. Sudah aku tegaskan berkali-kali kalau kamu sudah bukan lagi Maura yang dikelilingi dengan harta kedua orangtuamu yang melimpah itu tapi kamu itu sudah menjadi seorang istri yang harusnya memikirkan besok pagi mau makan apa dengan uang yang aku berikan agar 1 bulan uang 2 juta itu cukup untuk kita hidup sehari-hari. Tapi kamu... astaga ya Tuhan!" Erland mengusap wajahnya dengan kasar. Baru dua hari ia menjalani hidup rumah tangga dengan Maura tapi kepalanya terasa mau pecah. Bagaimana jika selamanya ia hidup dengan Maura tanpa perempuan itu mau merubah kebiasaan buruknya itu. Sudah dipastikan mungkin dirinya akan stress.


Dan dengan menatap wajah Maura dengan tangan yang terkepal erat, Erland memilih untuk pergi dari hadapan Maura daripada dirinya nanti lepas kendali sampai berakhir melukai Maura yang merupakan alasan dirinya emosi saat ini.

__ADS_1


Sedangkan Maura yang melihat kepergian dari Erland pun ia menatap punggung yang berjalan menuju ke dapur dengan menggaruk kepalanya.


"Bukannya dia tadi marah tapi kenapa sekarang malah pergi gitu saja tanpa melanjutkan aksi marah-marahnya?" gumam Maura bertanya-tanya sendiri. Namun beberapa saat setelahnya ia menggedikkan bahunya acuh lalu setelahnya ia memilih untuk menuju ke arah kamarnya. Membersihkan tubuhnya adalah tujuannya sebelum nanti ia akan makan malam karena ia yakin kepergian Erland tadi untuk membuatkan makanan untuknya seperti yang ia perintahkan tadi.


__ADS_2