PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 156


__ADS_3

Dihari berikutnya, terjadi kehebohan di depan pintu keluar masuk AWA's hospital saat ada salah satu laki-laki yang memaksa untuk masuk kedalam rumah sakit itu padahal dirinya sudah di cegah bahkan tak sekali dua kali pihak keamanan mengusir dirinya dari mulai cara lembut sampai kasar sekalipun. Tapi tetap saja laki-laki itu yang tak lain adalah Papa Jaya masih memaksa untuk masuk kedalam.


Papa Jaya juga tidak mengerti kenapa pihak keamanan tidak mengizinkan dirinya untuk masuk. Padahal pengunjung lain saja keluar masuk dengan aman, tentram dan damai. Sedangkan dia, dipersulit. Bahkan hal ini terjadi mulai dari tadi malam setelah ia melakukan penyerangan secara tiba-tiba kepada Adam. Apa jangan-jangan yang mempersulit dirinya itu sebenarnya adalah Adam? Jika ia pikir, ada kemungkinan hal itu terjadi.


"Baiklah kalau kalian tidak mengizinkan saya untuk masuk kedalam, biarkan saya menemui Adam sekarang juga! Panggil dia untuk datang kesini!" Teriak Papa Jaya.


"Maaf dokter Adam tengah sibuk," ujar salah satu satpam tersebut.


"Yakin dia sibuk sekarang bukan karena dia takut dengan saya?" tanya Papa Jaya dengan senyum miringnya. Dimana ucapannya tadi tak di gubris sama sekali oleh satpam-satpam di hadapannya itu. Yang justru semakin memancing emosi Papa Jaya.


"Tidak datang kesini berarti saya anggap Adam memang payah. Tidak berani dengan saya? Kenapa takut kalah jika adu jotos dengan saya, iya Dam!" Papa Jaya terus berteriak agar Adam bisa mendengar teriakannya itu.


Tapi sayangnya semuanya sia-sia karena tak ada balasan sama sekali oleh orang yang ia tantang.


"Adam keluar kamu!" Papa Jaya tak pantang menyerah. Ia terus memanggil Adam hingga dokter Tristan yang berniat untuk menuju ke UGD, menghentikan langkahnya.


Ia menghela nafas saat melihat kegaduhan yang tengah terjadi itu. Ia tau siapa laki-laki yang tak diizinkan untuk menginjakkan kaki di rumah sakit tersebut karena tadi malam ia mendapat sebuah pemberitahuan dari grup khusus dokter, dimana pemberitahuan itu berisikan mereka harus mengusir seorang laki-laki yang memiliki rupa sama persis dengan laki-laki di depan sana.

__ADS_1


Tapi dokter Tristan juga tidak bisa membiarkan kegaduhan ini terus berlanjut karena yang ada semua pasien ataupun pengunjung lain merasa terganggu dengan kegaduhan itu. Dan satu-satunya cara agar laki-laki didepan sana bungkam yaitu mendatangkan Adam seperti yang laki-laki itu inginkan.


Dokter Tristan menguntungkan niatnya yang tadi mau ke UGD kini kembali memutar arah. Ia akan memanggil Adam terlebih dahulu saja.


Dimana saat dirinya sudah sampai di depan ruang kerja Adam, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung nyelonong masuk begitu saja. Tentunya kehadiran dirinya mengalihkan perhatian Adam yang awalnya menatap kearah lembaran kertas-kertas dihadapannya, beralih menatap kearah dokter Tristan.


Tapi ia hanya melihat sahabatnya itu sesaat saja karena setelahnya ia kembali menatap kertas-kertas itu. Namun tak urung ia juga berucap, "Ada apa?"


Tanpa disuruh terlebih dahulu dokter Tristan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang berada di hadapan Adam. Sebelum ia mengutarakan maksud dan tujuan dia datang ke ruang kerja sahabat itu.


"Dam, sepertinya tanpa aku beritahu kamu, kamu sudah tahu terlebih dahulu jika terjadi kegaduhan di depan rumah sakit ini. Sepertinya kamu harus segera mengatasi kegaduhan itu sebelum kita di demo oleh pengunjung lain. Kegaduhan ini juga sudah mengganggu ketenangan pasien loh. Jadi lebih baik kamu ke sana, temui dia karena dari tadi dia terus berteriak memanggil nama kamu," ucap dokter Tristan.


"Dia belum juga pergi dari sini?" Dokter Tristan menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya dia baru akan pergi jika sudah bertemu dengan kamu. Jadi ayolah untuk kebaikan bersama kamu mengalah saja dulu dan temui dia secepatnya." Adam tampak menghela nafas panjang. Sepertinya dia memang harus bergerak mengusir sendiri laki-laki gila itu. Karena benar apa yang dikatakan dokter Tristan tadi, jika dirinya masih membiarkan laki-laki itu terus melakukan kegaduhan pasti mereka lama-lama akan di demo oleh pengunjung lain dan pasien pun juga merasa terganggu. Adam tak mau hal itu terjadi. Sehingga Adam kini berdiri dari duduknya, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada dokter Tristan, ia berjalan meninggalkan ruang kerjanya beserta dokter Tristan yang saat ini tengah menghela nafas sebelum laki-laki itu mengikuti langkah kaki sahabatnya yang sudah lebih dulu pergi dari ruangan tersebut. Ia juga penasaran akan hal apa yang terjadi selanjutnya di antara Adam dan laki-laki pemberontak itu.


Dengan langkah lebarnya Adam mendekati asal dari kegaduhan itu terjadi. Dimana kehadiran Adam tersebut membuat senyum miring dari Papa Jaya terlihat. Ia terus menatap ke arah Adam hingga putra pertama dari keluarga Abhivandya itu berhenti tepat di hadapannya, hanya terhalang oleh tangan dua satpam yang saling bergandengan, tentunya untuk melindungi Adam dari hal-hal yang berbahaya yang disebabkan oleh Papa Jaya nanti.

__ADS_1


"Akhirnya anak dari keluarga bajingan itu datang juga," ucap Papa Jaya sebagai sambutan atas kedatangan Adam.


Sedangkan Adam yang mempertahankan wajah datarnya itu diam-diam ia mengepalkan tangannya kala mendengar perkataan dari Papa Jaya yang sangat kelewatan itu. Tapi sebisa mungkin Adam tetap menahan amarahnya. Hingga dengan ketenangan yang masih melingkupi dirinya, ia berkata, "Apakah anda tidak salah memangil keluarga saya dengan sebutan bajingan tuan?"


Sikap tenang yang diperlihatkan oleh Adam itu justru semakin dan semakin membuat Papa Jaya emosi.


"Tentu saja. Memangnya ada sebutan lain yang lebih pantas dati kata bajingan? Saya rasa tidak ada," balas Papa Jaya yang langsung mendapat respon anggukkan kepala oleh Adam.


"Jika keluarga saya bajingan. Lalu bagaimana dengan keluarga anda sendiri? Bukankah lebih bajingan daripada keluarga saya. Ahhh atau malah keluarga anda itu keluarga sampah? Karena secara terang-terangan kalian mendekati adik saya hanya untuk menguras harta yang dia punya. bahkan kalian sampai ke tahap ingin melamar adik saya. Dan saat adik saya menolak lamaran kalian, kalian berlaga seolah-olah menjadi manusia yang paling tersakiti sedunia. Sampai menyalahkan keluarga saya segala tentang kejadian yang menimpa putri anda. Padahal kita tidak melukai dia sedikitpun dan dia sendiri yang melukai tubuhnya. Di terima atau di tolaknya sebuah lamaran itu merupakan sebuah konsekuensi yang akan kalian dapatkan jika kalian berani mengambil langkah itu. Adik saya juga menolaknya secara baik-baik dengan menjelaskan kalau dia sudah menikah. Tapi apa, kalian malah tidak terima akan fakta itu. Kalian juga sempat mengancam keluarga saya karena sudah berani menolak lamaran kalian. Jika semua kejadian ini kita laporkan ke pihak berwajib saya yakin anda akan masuk kedalam bui. Apalagi masalah penyerangan yang anda lakukan secara tiba-tiba kemarin kepada saya. Untuk bukti, gampang saja di rumah sakit ini ada CCTV dan di rumah keluarga saya juga ada CCTV. Jadi gampang untuk kita menjebloskan anda kedalam penjara," ucap Adam panjang kali lebar. Ia memang harus meluruskan tuduhan yang kemarin sempat menghebohkan semua orang yang ada di rumah sakit ini. Dimana ucapannya itu mampu membuat semua orang kembali percaya jika keluarga Abhivandya tidak pernah mencari gara-gara dengan orang lain melainkan mereka lah yang sering mencari gara-gara kepada mereka.


"Ahhh satu lagi yang perlu saya sampaikan ke anda," ucap Adam lalu setelahnya ia mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Papa Jaya. Dimana saat ia merasa sudah dekat, ia kembali angkat suara, "Lihat perusahaan anda saat ini yang mungkin sebentar lagi akan mengalami kebangkrutan."


Papa Jaya mendengar perkataan dari Adam, ia terkejut setengah mati. Pasalnya sejak kemarin ia tak memperhatikan perusahaannya bahkan telepon, pesan atau bahkan email ia abaikan begitu saja. Tapi ia tak akan percaya begitu saja, dirinya harus membuktikan sendiri dengan menelepon sekertaris sang putri. Namun baru saja ia menghidupkan layar ponselnya, ia langsung melihat banyaknya notifikasi yang masuk kedalam ponselnya. Tangannya bergerak dengan cepat membuka salah satu pesan di ponselnya itu. Dimana saat ia sudah membaca isi pesan tersebut, ia dibuat lemas. Karena pesan berisi sama persis seperti yang dikatakan oleh Adam tadi. Ya, perusahaan yang sudah ia rintis sejak lama tiba-tiba mengalami goncangan yang sangat besar sehingga membuat perusahaan itu rugi besar dan berpotensi bangkrut.


Papa Jaya yang sudah kalut pun ia berlari, meninggalkan area rumah sakit tersebut dan tentunya tujuannya kali ini yaitu langsung ke kantornya, melihat langsung kondisi kantornya itu.


Dimana kepergian dari Papa Jaya tak lepas dari pandangan Adam yang saat ini tengah tersenyum miring melihat punggung Papa Jaya yang semakin lama semakin menjauh itu. Sedangkan dokter Tristan, ia menggelengkan kepalanya sembari berucap, "Keluarga Abhivandya kok dilawan. Rugi sendiri kan jadinya."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, dokter Tristan memilih untuk menuju ke tujuan utamanya tadi yaitu UGD. Sedangkan Adam, laki-laki tersebut tentunya akan kembali kedalam ruang kerjanya karena tugasnya sudah selesai untuk mengusir orang gila yang sepertinya baru keluar dari RSJ itu.


__ADS_2