
"Adam sudah tanya ke bagian pendaftaran dan benar jika ada pasien dengan nama Orla, Dad. Dengan keadaan dia yang saat ini tengah kritisi dan koma. Menurut informasi yang Adam dapatkan kalau dia mencoba untuk bunuh diri dengan memotong nadinya sendiri," ucap Adam kala ia kembali melakukan komunikasi lewat sambungan telepon kepada sang Daddy.
📞 : "Sudah bisa Daddy tebak. Pasti ada drama setelah penolakan tadi terjadi. Ya sudah lah, biarkan saja toh itu yang mau dia sendiri bukan karena ancaman dari kita atau kita sendiri yang melukai dia. Dan kamu tidak perlu khawatir mengenai keamananmu, istri dan anakmu. Karena Daddy sudah menyuruh anak buah Daddy untuk menjaga kalian begitu juga dengan keluarga Daddy yang lain. Dia bisa mengancam semua keluargaku dan dia juga bisa berniat melukai mereka, tapi Daddy tidak akan pernah mengizinkan dia untuk memegang keluarga Daddy seujung kuku pun. Dan terimakasih sudah memberitahu Daddy masalah ini. Maaf Daddy sudah terlambat menjagamu, Dam," ucap Daddy Aiden tentunya penuh dengan penyesalan karena sudah mengizinkan orang lain untuk melukai anaknya. Dirinya sendiri saja tidak pernah main tangan dengan keluarga, masak iya orang luar mau melakukannya. Tidak akan bisa jika mereka tidak mau diri mereka sendiri yang terluka karena sudah bermain-main dengan keluarga Abhivandya.
Sedangkan Adam, ia menggelengkan kepalanya, seolah-olah Daddy Aiden bisa melihat gelengan kepalanya itu.
"Daddy tidak perlu meminta maaf ke Adam karena semua yang terjadi barusan bukan karena kesalahan Daddy. Dan Adam ucapkan terimakasih karena Daddy selalu berada di garda paling depan untuk keselamatan Adam dan yang lainnya. Terimakasih Dad."
📞 : "Itu sudah menjadi kewajiban Daddy, Dam. Ya sudah kalau begitu Daddy tutup dulu ya teleponnya. Daddy rasa kamu memiliki pekerjaan lain di rumah sakit. Dan satu lagi kalau bisa kamu suruh satpam yang selalu menjaga rumah sakit untuk melarang laki-laki yang bernama Jaya itu masuk kedalam," ucap Daddy Aiden.
"Baik Dad. Akan Adam informasi kepada tim keamanan untuk memboikot laki-laki yang bernama Jaya itu untuk tidak masuk kedalam rumah sakit," balas Adam tentunya mensetujui perintah dari Daddy Aiden yang mengurutnya sangat bagus karena jika ia membiarkan laki-laki gila itu tetap berkeliaran di dalam rumah sakit ini, takutnya dia akan berulah lagi tidak hanya kepadanya melainkan dengan pengunjung di rumah sakit ini.
📞 : "Ya sudah kalau begitu Daddy tutup. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Dad."
Salam penutup itu menjadi tanda terputusnya sambungan telepon dari sepasang ayah dan anak itu.
Dimana setelahnya Adam langsung meluncur ke salah satu nomor yang merupakan nomor ketua keamanan di rumah sakit itu untuk memberitahukan perintah dari Daddy Aiden tadi.
Sedangkan disisi lain, Erland yang sedari tadi memeluk tubuh Edrea bahkan saat ponselnya berdering, tanpa melepaskan pelukannya itu, ia bisa menggerakkan tangannya untuk mematikan ponselnya tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang meneleponnya, kini akhirnya ia mau melepaskan pelukannya dari tubuh Maura setelah hampir dua jam lamanya ia nemplok seperti lem di tubuh istrinya itu.
__ADS_1
Maura yang sudah terbebas dari kungkungan Erland, ia merenggangkan otot-otot ditubuhnya sebelum dirinya angkat suara, "Gimana? Apa mood kamu masih berantakan?"
Erland yang tadi terdiam ia menolehkan kepala kearah Maura dan dengan kerucutan di bibirnya, ia menggerakkan tangannya. Mendekatkan jari jempol dan jari telunjuk yang masih ia berikan celah sedikit sembari ia berkata, "Sedikit."
Maura tersenyum melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil itu. Dan dengan gemas, Maura kini mengacak rambut Erland.
"Kamu mau merubah moodmu semakin baik lagi?" tanya Maura yang tentunya diangguki oleh Erland.
"Kalau begitu, mandilah. Dengan kamu mandi, perasaanmu akan damai. Dan kamu belum sholat isya lho sayang. Jangan karena mood kamu jelek, kamu jadi tidak sholat. Sana gih mandi dulu terus habis itu sholat, makan dan baru nanti kamu boleh menceritakan apapun yang kamu mau ceritakan yang bikin mood kamu tadi hancur. Tapi kalau kamu tidak mau menceritakannya, it's oke. Tidak apa-apa," ucap Maura dengan senyumannya. Dimana hal tersebut justru membuat Erland semakin mengerucutkan bibirnya.
Maura yang melihat tak ada pergerakan dari Erland dengan bibir yang semakin maju ke depan, Maura terheran sendiri. Tapi tak urung ia juga bertanya, "Kenapa tidak segara mandi. Dan ini bibir, kenapa semakin manyun?
Erland mendengus kesal, "Aku tidak mau mandi kalau tidak bersama dengan kamu."
Maura melongo mendengar ucapan dari Erland tadi. Tapi hanya sesaat saja sebelum ia memberikan pukulan pelan kearah lengan sang suami.
"Itu mah kamu mau modus namanya. Awalnya sih memang mandi tapi setelahnya olahraga bersama. Gak ah, kamu mandi saja sana sendiri. Lagian aku juga sudah mandi tadi," ucap Maura menolak ajakan Erland.
"Ck, kok nolak sih. Kamu gak lupa kan dengan perkataanku waktu itu jika kamu menolak ajakan suami maka kamu akan dosa. Lagian kenapa sih kalau berakhir nanti kita akan olahraga bersama? Kita udah sah suami-istri juga. Dapat enak, dapat pula pahalanya. Terlebih kamu juga bisa mengembalikan mood baikku sepenuhnya. Memangnya kamu mau lihat aku dengan wajah sebal seperti ini?" ucap Erland dengan sedikit memberikan rayuan kepada sang istri.
"Ya, iya sih aku akan dosa kalau nolak kamu. Tapi aku capek lho sayang seharian tadi jalan-jalan sama Mama dan Kak Vivian, pemilik butik tempat kita dulu mencari pakaian pengantin. Aku juga tidak mau melihat wajah kamu tertekuk terus seperti ini. Tapi apa tidak ada cara lain biar kamu bisa senyum lagi selain olahraga bikin baby?" tanya Maura dengan jujur.
__ADS_1
Erland menghela nafas dengan kekecewaan.
"Kamu beneran nolak permintaanku?" tanya Erland untuk memastikan. Dimana ucapannya itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Maura.
"Maaf ya, untuk hari ini saja kok aku menolaknya," ucap Maura yang membuat Erland berdecak. Lalu setelahnya tanpa mengucapakan sepatah kata lagi, ia berdiri dari duduknya kemudian ia bergegas pergi menuju ke kamarnya.
Dimana saat ia ingin menutup pintu kamar mereka, Erland dengan sengaja membanting pintu itu hingga menimbulkan suara nyaring yang membuat dirinya sendiri saja terkejut apalagi Maura. Perempuan itu sampai mengelus dadanya yang saat ini tengah berdegup kencang.
"Astaga itu anak kalau marah serem juga. Jadi takut kan. Ck, kalau kayak gini mau gak mau aku harus menuruti apa yang dia inginkan. Kalau sampai aku tetap kekeuh tidak mau melayani dia, bisa-bisa rumah ini nanti ambruk karena dijadikan pelampiasan amarah oleh Erland. Huh, ya sudah lah untuk kebaikan bersama. Kamu harus mengalah Maura," gumam Maura. Lalu dengan keputusannya yang sudah bulat itu, ia segera berjalan menuju ke kamar dirinya dan Erland.
Dimana saat ia sudah masuk kedalam kamar tersebut, ia langsung menuju kearah kamar mandi, mengetuk pintu dihadapannya itu.
Tok! Tok! Tok!
"Sayang, buka pintunya," teriak Maura.
"Gak mau. Untuk apa aku membuka pintu sekarang. Lagian aku sudah tidak memakai apa-apa dan mau mandi!" balas Erland yang jelas laki-laki itu kembali kesal hanya karena keinginannya itu tak di kabulkan oleh istrinya.
"Beneran gak mau bukain pintu nih?" Hening, tak ada balasan dari Erland di dalam sana.
"Ya sudah kalau memang tidak mau bukain pintu, aku tidur saja. Padahal aku tadi udah berubah pikiran lho. Tapi berhubung kamu---" Belum sempat Maura menyelesaikan ucapannya, pintu kamar mandi itu terbuka dan menampilkan Erland yang memang sudah tidak memakai apapun. Dan hal tersebut tentunya membuat Maura tersipu malu. Bahkan saking malunya, ia berniat untuk memutar tubuhnya membelakangi Erland. Namun belum juga ia melakukan niatannya tadi, lengan kekar Erland sudah lebih dulu melingkar indah di pinggangnya, menarik tubuhnya dengan sedikit kuat hingga tubuh laki-laki itu sekarang berdempetan dengan tubuh Maura sebelum Erland membawa tubuh istrinya yang sudah berada di dekapannya tersebut masuk kedalam kamar mandi tanpa menutup kembali pintu kamar mandi tersebut. Toh tidak ada orang lain yang akan mengintip aksi mereka itu. Dan saat pintu kamar mandi itu terbuka akan memudahkan Erland juga Maura jika ingin berpindah tempat olahraga mereka yang tadinya di kamar mandi ke atas ranjang di dalam kamar mereka.
__ADS_1