
Hanya menempuh waktu penerbangan 1 jam 30 menit, Erland telah sampai di tanah kelahirannya saat ini tepat pukul 1 dini hari karena jadwal penerbangannya tadi sempat delay 30 menit. Dan tanpa membawa koper atau barang sedikitpun, Erland berjalan menelusuri lobby bandara. Dirinya bergegas menuju ke penitipan kendaraan tadi untuk mengambil mobil yang sebelumnya ia gunakan untuk pergi ke bandara itu. Jangan tanya mobil itu milik siapa jika bukan milik Afif, sang sekertaris. Sebelum dirinya pergi ke bandara tadi, ia sempat meminta kunci mobil sang sekretaris yang mana langsung di berikan oleh Afif yang tampaknya ia tau kenapa atasannya itu meminta kunci mobilnya. Jadi ia tanpa bertanya pun ia langsung memberikan kunci mobilnya itu kepada Erland dan tak masalah jika ia besok harus pulang menggunakan taksi. Toh dia tadi juga sudah diberi uang bonus oleh Erland jadi sekali-kali ia juga berbuat baik kepada atasannya itu tak masalah bukan?
Erland kini telah naik keatas mobil milik Afif, kemudian dengan mengganti pakaiannya terlebih dahulu dengan pakaian santai yang tadi sempat ia gunakan ketika dirinya pergi dari rumah, Erland baru menjalankan mobil tersebut kala ia sudah berganti pakaian. Untung saja kaca mobil Afif tidak bisa dilihat dari luar. Jadi cukup aman untuk Erland berganti pakaian didalam mobil itu.
Mobil Afif kini melaju dibawah kemudi Erland. Dan membutuhkan waktu 20 menit saja Erland telah sampai di kediamannya.
Erland keluar dari dalam mobil tersebut dan bergegas masuk kedalam rumah. Ia tak perlu mengetuk pintu agar Maura membukakan pintu untuknya, karena ia sendiri sudah membawa kunci cadangan rumah tersebut. Saat Erland sudah membuka pintu utama rumah sederhana tersebut, ia menghela nafas kala merasakan suasana yang sangat sepi disana. Tapi Erland tak ambil pusing toh ini kan juga sudah dini hari dan di jam-jam segini semua orang tengah enak-enaknya tertidur. Erland juga tidak berpikir negatif tentang Maura karena kondisi dirumah ini sangat rapi, masih sama seperti sebelum ia tinggalkan tadi yang berarti tidak ada maling atau orang jahat yang masuk kedalam rumah ini.
Erland kini berjalan memasuki rumahnya setelah ia menutup kembali pintu itu tak lupa ia juga sempat menguncinya. Dan tujuannya kali ini langsung ke kamar Maura.
__ADS_1
Dengan senyum yang mengembang, Erland membuka pintu kamar sang istri. Namun saat pintu itu terbuka lebar ia tak menemukan Maura di kamar tersebut yang mana hal itu membuat senyum Erland luntur seketika.
"Lho Maura kemana? Kok gak ada di kamarnya?" gumam Erland, celingukan mencari keberadaan Maura didalam kamar itu. Namun ia tak menemukan batang hidung perempuan tersebut, tak mungkin juga Maura saat ini tengah didalam kamar mandi karena pintu kamar mandi saat ini tengah terbuka.
"Apa jangan-jangan dia nginep di rumah Mommy sama Daddy ya? Atau kalau tidak dia ikut pulang ke rumah Mama sama Papa? Hmmm mungkin saja karena aku sangat yakin walaupun dia sangat kekeuh ingin pulang ke rumah ini tadi, keempat orangtua itu pasti tidak akan memberikan izin Maura begitu saja. Lagian mana mereka tega menyuruh anak perempuan yang masih gadis tinggal sendirian di rumah ini saat suaminya tidak ada. Huh, ya sudah lah. Besok pagi saja aku datang ke rumah mereka untuk menjemput Maura," ucap Erland. Padahal ia sengaja pulang secepatnya hanya untuk bertemu dengan sang istri. Tapi setelah ia sampai ehhh istrinya itu malah tidak ada. Ya sudah lah, mau bagaimana lagi? Toh dirinya besok juga bertemu dengan Maura. Dan lebih baik saat ini ia segera mengistirahatkan tubuhnya yang terasa akan remuk itu. Sehingga Erland kini berjalan menuju ke kamarnya sendiri. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung membuka pintu kamarnya. Namun betapa terkejutnya dia saat menemukan tubuh Maura tengah tertidur di atas ranjangnya.
Keterkejutan Erland hanya beberapa saat saja karena setelahnya senyum mengembang ia perlihatkan.
Erland kini berjalan dengan mengendap-endap, seperti seorang maling. Cara itu ia gunakan agar tak mengganggu tidur Maura. Hingga saat dirinya sudah berada di samping tempat tidur yang ditempati Maura, ia berjongkok di hadapan wajah sang istri yang sangat cantik dan terlihat begitu damai.
__ADS_1
Tangan Erland kini bergerak untuk mengelus rambut sang istri dengan sangat pelan sembari ia berucap, "Cantik sekali sih istriku ini. Good night sayang. Tidur yang nyenyak dan terimakasih sudah menunggu kepulanganku dan juga maaf sudah membuatmu menangis tadi."
Erland tampak masih menyesal karena untuk yang kesekian kalinya ia sudah membuat Maura menangis. Bukan menangis bahagia melainkan menangis karena kesedihan dan kesalahan yang Erland buat.
Erland tampak menghela nafas panjang sebelum wajahnya ia dekatkan ke wajah Maura, menyematkan sebuah kecupan di kening sang istri sebelum dirinya beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket itu.
Dan tak berselang lama, Erland telah keluar dari dalam kamar mandi dengan piyama yang melekat di tubuhnya. Ia menatap kearah Maura yang masih nyenyak tertidur dimana hal tersebut membuat bibir Erland kembali terangkat. Lalu tanpa menunggu waktu lama lagi, Erland bergegas mendekati ranjang, naik keatas tempat tidur tersebut tepat disamping tubuh Maura yang saat ini tengah memunggungi dirinya. Erland merapatkan posisi berbaringnya itu ke tubuh sang istri. Dimana setelah tak ada lagi sekat diantara mereka berdua bahkan tubuh bagian depan Erland sudah bersentuhan dengan punggung Maura, bahkan laki-laki itu ia lingkaran ke tubuh Maura. Dan dengan memberikan kecupan singkat di bahu Maura yang sedikit terekspos, Erland berbisik, "Love you."
Dimana bisikan dan kecupan yang diberikan oleh Erland membuat tidur Maura sedikit terusik. Bahkan tubuh perempuan itu kini bergerak, mengubah posisi tidurnya yang tadinya membelakangi Erland kini berubah menjadi menghadap ke arah sang suami dengan mata yang masih tertutup rapat. Menandakan jika Maura hanya terusik sesaat saja dan melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Erland yang melihat wajah Maura sudah tenggelam di dada bidangnya pun ia tersenyum geli, sebelum ia mengangkat sedikit kepala Maura dan menyelipkan lengan kanannya dibawah kepala sang istri. Ia akan menjadikan tangannya itu sebagai bantalan untuk Maura. Tak peduli jika tangannya nanti akan kebas yang terpenting Maura merasa nyaman.
Dimana setelah tangannya itu berhasil digunakan Maura untuk bantalan, ia kembali memeluk tubuh Maura kemudian ia ikut terlelap bersama dengan Maura, menjelajahi mimpi indah yang entah mimpi mereka sama atau justru berbeda.