
Tepat pada pukul 10 malam Erland baru keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh Maura yang berada di gendongannya.
Senyum manis pun tak luntur dari bibirnya setelah ia puas dengan keinginan yang sudah di penuhi oleh Maura. Istrinya itu memang baik sekali. Erland jadi tambah sayang kepadanya.
Sedangkan Maura, perempuan itu hanya bisa pasrah saja saat mendapat serangan dari Erland. Sudah tak apa jika badannya akan terasa pegal setelahnya yang terpenting ia bisa melihat Erland tersenyum kembali dan tentunya rumah mereka akan tetap aman, terhindar dari amukan Erland.
Erland menurunkan Maura dari gendongannya dengan sangat pelan. Dimana saat tubuh istrinya itu sudah menyentuh ranjang, baru lah ia melepaskan tubuh Maura.
Ia menaiki selimut sampai sebatas dada Maura. Memberikan usapan ke kepala Maura sembari ia berkata, "Istirahatlah dan terimakasih atas servisnya tadi. Love you sayang. Aku sholat dulu."
Erland menyematkan sebuah kecupan di kening Maura sebelum dirinya kembali masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu sebelum ia melaksanakan kewajibannya.
Sedangkan Maura, perempuan itu tidak melakukan apa yang di perintahkan oleh Erland tadi. Matanya masih terjaga dan sedari tadi menatap kearah Erland hingga suaminya itu telah selesai melaksanakan kewajibannya.
"Lho kok belum tidur," ucap Erland kala dirinya melihat Maura.
"Belum ngantuk," ujar Maura yang diangguki oleh Erland.
Laki-laki itu membereskan peralatan yang ia gunakan untuk sholat tadi. Dan setelah semuanya ia taruh kembali ketempat semula, Erland mendekati Maura. Merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
Ia menatap lekat wajah Maura kala perempuan kesayangannya itu memiringkan posisi rebahannya menghadap kearahnya.
Sepertinya untuk malam ini mereka tidak jadi makan malam dan memilih untuk berbincang-bincang terlebih dahulu sebelum mereka nanti tidur.
Untuk sesaat sepasang suami-istri itu saling pandang satu sama lain sampai tangan Erland kini bergerak, mengelus pipi lembut Maura yang otomatis usapan yang ia berikan itu membuat Maura memejamkan matanya.
"Cantik banget sih," ucap Erland dan dengan gemas ia mencubit pipi Maura.
"Awsss sakit tau sayang!" erang Maura dengan memukul lengan suaminya itu.
__ADS_1
Sedangkan Erland, bukannya ikut kesakitan karena pukulan yang mendarat di lengannya tadi, ia justru terkekeh kemudian ia mengikis jarak antara dirinya dan Maura, lalu ia meraih tubuh Maura, masuk kedalam pelukannya.
"Maaf sayang kalau sudah bikin kamu kesakitan. Siapa suruh kamu menggemaskan," ucap Erland.
"Sudah dari dulu kali, kamu saja yang baru menyadari jika aku ini menggemaskan," timpal Maura dengan tangan yang bergerak membalas pelukan dari Erland.
"Baiklah-baiklah aku percaya," ujar Erland mengalah. Kemudian setelahnya tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Mereka hanyut dalam kehangatan dari pelukan mereka saat ini.
Sampai suara Erland kembali terdengar.
"Sayang," panggil Erland.
"Hmmm?"
"Gimana kalau seumpama ada seorang perempuan yang tiba-tiba datang melamarku?" Pertanyaan tiba-tiba dari Erland itu membuat Maura langsung melepaskan pelukannya tadi dan dengan tatapan garangnya ia melihat kearah wajah suaminya.
"Apa kamu bilang? Kamu di lamar oleh perempuan lain?" ucap Maura dengan suara yang sudah naik satu oktaf.
"Huh, aku kira kamu tengah mengalaminya tadi. Lagian kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti itu sih? Kamu tidak berniat poligami kan?" tanya Maura curiga.
Erland memutar bola matanya malas.
"Tidak ada niatan sama sekali di benakku sayang kalau aku mau poligami. Sudah cukup kamu saja, satu untuk selamanya. Dan aku tanya masalah ini karena salah satu tuan muda di keluarga Abhivandya tadi di lamar oleh seorang perempuan," ucap Erland yang membuat Maura jadi teringat akan kejadian tadi siang yang Mamanya katakan jika memang ada seorang perempuan ingin melamar salah satu tuan muda di keluarga Abhivandya.
Dan karena Erland yang membahas hal tersebut, Maura jadi kepo dengan acara lamaran itu apakah berjalan dengan lancar atau tidak.
"Katanya Mama tadi memang ada seseorang yang ingin melamar salah satu anak bos kamu. Bahkan aku tadi juga lihat lho perempuan itu. Dia sangat cantik menurutku. Dia tadi juga sempat datang ke butik yang sama dengan yang aku dan Mama kunjungi tadi. Dan butik itu milik Kak Vivian yang berarti milik calon Kakak iparnya." Erland yang mendengarkan Maura memberikan pujian kepada perempuan gila itu, ia mencebikkan bibirnya tak terima.
"Perempuan seperti itu kok di bilang cantik sih sayang. Cantikan juga kamu, jauh malah," timpal Erland yang membuat Maura memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Iyain saja lah, biar gak ngambek. Oh ya sayang, aku kepo nih sama acara lamaran perempuan itu dengan salah satu tuan muda keluarga Abhivandya itu? Kamu pasti ada kan saat acara itu berlangsung?" Erland menganggukkan kepala.
"Kalau kamu ada disitu, kamu tau dong proses lamaran itu?" Lagi dan lagi Erland menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sangat malas jika harus membahas masalah pertunangan sialan itu. Tapi berhubung Maura yang bertanya ia akan menjawabnya walaupun dengan pergerakan kepala saja.
"Jadi gimana? Proses lamaran itu berjalan dengan lancar kan? Diterima atau tidak?" tanya Maura benar-benar kepo.
"Tentu saja---" Erland dengan sengaja menggantung ucapannya hingga memancing rasa penasaran Maura semakin tinggi.
"Tentu saja apa? Diterima?" tanya Maura.
"Tentu saja di tolak!" Ucapan dari Erland tadi berhasil membuat Maura melongo tak percaya.
Erland yang melihat bibir Maura terbuka lebar dengan mata yang terbuka lebar, tangannya bergerak, mengusap wajah istrinya itu.
"Tutup mulutmu ini sayang. Takut ada nyamuk yang nyasar masuk kedalam," ucap Erland dengan membantu Maura untuk menutup bibirnya.
Dimana hal tersebut membuat Maura tersadar dari keterkejutannya tadi.
Dan dengan mengerjabkan matanya, ia berkata, "Aku tidak salah dengar kan sayang? Kalau lamaran perempuan itu ditolak?"
Erland menggelengkan kepalanya.
"Tidak sama sekali. Apa yang kamu dengar tadi memang faktanya sayang. Lagian si perempuan itu sudah di tolak berkali-kali oleh tuan muda tetap saja masih nekat mendekati dia bahkan sampai lancang melamar dia. Lagian tuan muda juga sudah memiliki istri jadi dia memilih untuk setia ke istrinya saja daripada memilih perempuan yang belum tentu sebaik istrinya."
"Ehhhh si tuan muda itu udah memiliki istri?" Erland menganggukkan kepalanya.
"Astaga, apa dia tidak tau tentang status laki-laki yang tengah dia lamar?" Erland menggedikkan bahunya.
"Dan kamu tau sayang sebenarnya aku minta kamu untuk memfotokan buku nikah kita karena aku tadi sempat terkena imbas dari lamar itu. Tuan muda malah menyuruh perempuan itu untuk menikah denganku saja. Tentunya aku langsung menolaknya dengan memberikan bukti-bukti kalau aku sudah menikah dengan kamu dan akan selamanya menjadikan kamu satu-satunya," jelas Erland yang sempat membuat Maura terkejut dan ingin melontarkan omelan kepada suaminya itu. Tapi semuanya tak jadi ia lakukan saat mendengar kata lanjut dari Erland tadi yang membuat dirinya justru tersenyum lebar.
__ADS_1
"Uhhhh suamiku ini memang setia ya. Terimakasih sayang sudah tetap mempertahankanku disaat ada perempuan lain yang lebih segalanya dariku. Ahhh jadi tambah sayang," ucap Maura semakin mengeratkan pelukannya bahkan ia menelusupkan wajahnya di dada bidang Erland.
"Soal kesetiaan jangan di tanya sayang. Suamimu ini juaranya. Love you too," balas Erland dengan mengecup berulang kali puncak kepala Maura dengan sayang. Lalu setelahnya ia memeluk erat tubuh Maura dengan senyum yang mengembang.