
Maura yang mendengar gumaman Erland tadi ia tersenyum dengan suara hati yang berkata, "Please lah Er jangan gemesin kayak gini. Aku gak akan kuat Er!"
Maura menggigit bibir bawahnya untuk menahan kegemasan yang ingin sekali ia luapkan saat ini juga. Namun sebisa mungkin Maura harus menahannya. Dan dengan menghela nafas panjang, Maura melanjutkan langkah pelannya tadi sampai ia di depan ranjang Erland, ia merangkak naik keatas sana sepelan mungkin agar tak ketahuan. Tapi sayang seribu sayang, baru juga ia melangkahkan lutut dan kedua tangannya, Erland sudah menolehkan kepalanya kearah dirinya berada dengan salah satu alis yang terangkat.
Muara yang ketahuan tengah masuk kedalam kamar Erland tanpa permisi pun ia memperlihatkan cengiran kudanya sembari ia berucap, "Ops, ketahuan."
Erland mendengus kasar. Sudah dibilang bukan jika Erland saat ini dalam mode ngambek, jadi tanpa ia memperdulikan Maura yang justru tengah berbaring di atas ranjangnya, ia memilih untuk mengalihkan pandangannya lurus kedepan. Tapi bibir Erland tetap berucap, "Mau apa kamu kesini? Ketawanya kenapa berhenti? Bukannya kamu bahagia diatas penderitaanku?"
Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari bibir Erland membuat Maura kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gak gitu lho. Aku tadi ketawa bukan karena bahagia diatas penderitamu tapi aku ketawa karena lihat wajah kamu yang masam banget ditambah bibir kamu yang mengerucut seperti itu. Kan aku jadi---" Belum sempat Maura menyelesaikan ucapannya, suara Erland memutus perkataannya itu.
"Jadi pengen nampol gitu kan?" sambung Erland dengan menatap kearah Maura dengan lirikan mautnya.
Maura kini langsung merubah posisinya yang tadi rebahan menjadi terduduk.
"Ehhhh bukan gitu. Aku tadi hanya bercanda. Aku berani sumpah," ujar Maura. Dimana hal tersebut justru membuat Erland memutar bola matanya malas kemudian ia kembali menatap kearah depan tanpa menimpali ucapan dari sang istri. Ingat, Erland masih kesal dengan Maura.
Sedangkan Maura yang kembali diabaikan oleh Erland, ia semakin mengikis jarak antara dirinya dengan Erland hingga ia kini duduk di samping Erland. Tapi hanya berselang beberapa menit saja mereka duduk saling berdampingan, Erland justru menggeser tubuhnya, memberikan jarak yang cukup lebar antara dirinya dengan Maura.
Maura yang melihat aksi Erland, ia melongo dibuatnya. Tapi yang namanya Maura, ia tak akan pernah menyerah. Jadi dirinya juga ikut menggeser tempat duduk sampai lengannya kini menyentuh lengan Erland.
__ADS_1
Erland menatap sekilas kearah Maura yang dibalas cengiran oleh perempuan itu sebelum Erland kembali menggeser posisi duduknya dan diikuti oleh Maura. Aksi itu terus berlanjut hingga Maura capek sendiri.
"Er, udahlah ngambeknya. Dan sudah stop jangan geser lagi. Nanti kalau kamu geser, kamu akan jatuh," ucap Maura yang terdengar sedang memperingati Erland. Namun Erland mana peduli dengan ucapan dari istri laknatnya itu. Sehingga dengan posisi pandangannya yang masih menatap lurus kedepan tanpa melihat kearah sekelilingnya, ia menggeser kembali tubuhnya dan...
Bugh!
"Aws!" erang Erland kala bokongnya menyentuh lantai di kamar tersebut.
Maura yang melihat Erland tengah terjatuh pun ia tampak menghela nafas sebelum dirinya beranjak dari duduknya tadi kemudian mendekati Erland.
"Sudah aku bilang kan tadi kalau jangan geser posisi duduk kamu. Jatuh kan jadinya," omel Maura kala dirinya sudah berdiri dihadapan Erland.
Maura kini mengulurkan tangannya saat Erland tak kunjung berdiri dari posisi duduknya. Ia yakin laki-laki itu masih kesakitan saat ini. Jadi Maura dengan inisiatifnya sendiri berniat membantu Erland.
"Sini aku bantu kamu berdiri," ucap Maura. Namun lagi-lagi dirinya hanya ditatap oleh Erland sebelum tatapan itu beralih ke tangannya. Dan beberapa detik setelahnya Erland berkata, "Tidak perlu, aku bisa berdiri sendiri tanpa bantuanmu."
Erland kini berdiri dari posisi duduknya setalah mengatakan perkataannya tadi untuk menolak niat baik Maura. Dan setelah dirinya benar-benar berdiri, ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya karena jujur saja ia membutuhkan ketenangan untuk saat ini.
Namun baru beberapa langkah saja, tubuhnya dibuat menegang kala ia merasakan ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya. Tanpa menoleh pun Erland tau siapa pemilik tangan itu jika bukan Maura lah orangnya. Tapi sumpah demi apapun Erland tidak menyangka jika Maura mau memeluknya karena yang selama ini melakukan skinship adalah dirinya. Bahkan ia tak peduli dengan perjanjian hitam diatas putih beberapa minggu yang lalu. Tapi lihatlah sekarang, Maura juga melakukan skinship tanpa ia minta. Apakah perjanjian itu akan segara dibatalkan atas persetujuan dari kedua belah pihak nantinya? Atau hal ini hanya sementara saja? Entahlah Erland juga belum tau kedepannya, yang terpenting kan Erland saat ini tengah bahagia tiada tara hanya gara-gara mendapat pelukan yang tak pernah ia sangka-sangka itu. Moodnya yang sudah hancur, rasa sakit di telinga, juga di bokongnya pun tiba-tiba hilang begitu saja bertepatan saat Maura tadi memeluk dirinya dari belakang. Namun Erland harus tetap stay cool sebelum ia mendengar kata maaf dari bibir Maura.
"Lepas," ucap Erland penuh dengan penekanan dan tentunya dengan sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak menyunggingkan sebuah senyuman.
__ADS_1
Maura menggelengkan kepalanya yang ia sandarkan di punggung Erland. Yang otomatis membuat Erland merasakan pergerakan dari kepala istrinya itu.
"Lepas!" perintah Erland kembali. Namun bukannya dilepas, Maura semakin mengeratkan pelukannya sembari berucap, "Aku tidak mau melepaskan pelukanku."
"Aku katakan sekali lagi. Lepaskan pelukanmu ini, Maura!"
"Aku tidak mau Erland!" balas Maura tak mau kalah.
"Jangan buat aku semakin kesal dan jangan sampai membuat aku bertindak untuk melukai kamu," ucap Erland yang tentunya hanya omong kosong semata. Mana tega ia melukai seseorang yang ia sayangi? Ohhh Erland tidak akan pernah melakukannya walaupun hanya di mimpi saja.
"Kalau kamu mau melukaiku, lukai saja aku," tantang Maura begitu mantap. Ia tak merasa takut jika ucapan Erland itu akan terjadi kepadanya. Tak apa jika memang dengan cara itu Erland bisa memanfaatkannya dan tidak ngambek lagi dengannya.
Tapi persetujuan dari Maura membuat Erland terdiam. Dan hal tersebut dimanfaatkan oleh Maura untuk berkata, "Aku minta maaf, Er. Aku akui kalau aku salah. Tidak seharusnya aku berkata seperti tadi walaupun hanya bercanda saja. Aku mengaku salah Er. Jadi aku mohon kamu maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga akan mengikuti apapun keinginan atau kemauan kamu asal kamu memaafkanku dan tidak marah ataupun ngambek sama aku lagi."
Erland semakin terdiam kala mendengar ucapan dari Maura tadi. Dirinya sepertinya tengah memproses apa yang diucapkan Maura sebelum akhirnya ia paham dengan maksud tersebut dan dengan senyum miring yang sanyangnya tak bisa Maura lihat ia berkata, "Benarkan kamu akan menuruti apa yang aku mau?"
Tanpa ragu sedikitpun kepada Erland, Maura menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku akan melakukan apapun yang kamu mau."
Erland semakin melebarkan senyumannya. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini jadi jangan salahkan dia jika dia meminta sesuatu yang lebih kepada Maura.
__ADS_1