PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 31


__ADS_3

"Astaga, Maura!" teriakan menggelegar dari Meli yang baru keluar dari dalam ruang makan membuat Maura berdecak dengan memberikan tatapan sinis kearah Maura, ia membalas ucapan dari sahabatnya tadi, "Apaan?"


Meli kini mendudukkan tubuhnya kala dirinya sudah berada di ruang tamu.


"Sumpah demi apapun aku gak nyangka kalau kamu bisa masak. Kalau aku tau dari dulu, aku bisa berguru sama kamu karena yakinlah Maura, masakanmu itu sangat-sangatlah lezat. Bahkan jika saja kamu tidak mengingatkanku untuk menyisakan makanan itu, pasti makanan itu sudah aku habiskan," ucap Meli excited. Ia sudah tak sabar untuk meminta tips and trik agar ia bisa mengolah masakan seenak makanan yang baru saja ia makan tadi.


"Itu bukan masakanku," jawab Maura yang kelewat santai. Dimana ucapannya itu membuat Meli mengerutkan keningnya.


"Hah? Kalau makanan itu bukan masakanmu, terus siapa yang masak. Gak mungkin kan kalau---"


"Ya, masakan itu diolah oleh Erland bukan aku. Lagian malas banget aku disuruh bergulat dengan bumbu-bumbu dapur yang ada aku nanti bau bawang lagi dan kuku-kuku cantikku ini akan rusak," ucap Maura sembari menunjukkan deretan kuku tangannya yang di hiasi nail art disana yang terkesan cantik dan menjadi sangat rapi juga bersih.


Meli yang mendengar ucapan dari Maura tadi, ia sebenarnya sudah tak heran lagi karena ia sangat tau tabiat dari sahabatnya itu. Tapi tidak ada salahnya kan kalau dia mengingatkan jika Maura bukanlah perempuan singel lagi tapi ada seseorang yang harusnya ia manjakan di rumah.


"Jangan gitu lah Ra. Kamu itu sudah menikah dan lebih baik kamu melayani suamimu bukan malah sebaliknya. Perlu kamu tau ya, Ra. Kalau kita melayani suami kita, kita akan dapat pahala yang sangat besar tapi sebaliknya jika kamu durhaka dengan suami kamu, contohnya seperti yang kamu lakukan ini yang sering sekali mengumpati suamimu, menjelek-jelekkan, dan aku yakin suamimu yang mengurus semua urusan rumah tangga. Nah dari perlakuanmu ini kamu akan mendapat dosa. Aku tidak ingin menggurui kamu tapi aku hanya mengingatkan karena surga kamu sekarang ada di suami kamu. Jadi bersikaplah baik kepada dia, sebelum kamu di laknat oleh tuhan. Hati-hati," ujar Meli mengingatkan kepada sahabatnya itu. Walaupun dia belum menikah, tapi ia sudah tau kewajiban seorang istri itu apa saja.


Maura yang mendapat peringatan dari Meli itu ia memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Dan aku tidak peduli dengan hal itu. Aku sudah cukup berdosa jadi untuk apa mengemis pahala dengan melakukan apapun yang laki-laki itu mau. Cih tidak sudi aku," ujar Maura yang otomatis membuat Meli mengelus dadanya sembari mengucapakan kata, "Astagfirullah. Sudahlah sepertinya sangat percuma peringatan yang aku berikan tadi. Manusia batu seperti kamu ini memang sangat sulit untuk di beritahu hal baik. Sudah lah aku mau pulang saja. Lama-lama sama kamu, aku juga akan semakin menambah dosa."


Meli berdiri dari posisi duduknya tadi dengan meraih tas kecilnya.


Maura yang melihat Meli sudah berjalan, perlahan menjauh darinya pun ia berteriak, "Jangan lupa nanti malam. Kita akan menambah dosa lagi!"


Meli mendengus. Niatnya ingin menjauhi dosa tapi ia lupa jika malam nanti ia akan menambah dosa itu. Haishhh menyebalkan, batin Meli.


"Meli! Kamu dengar kan?" teriakan yang Maura lakukan untuk yang kedua kalinya itu membuat Meli kini menolehkan kepalanya kearah sang sahabat.


"Ck, iya-iya. Jam 7 aku jemput kamu," balas Meli yang dibalas dengan acungan jempol serta senyum pepsodent dari Maura sebelum perempuan itu kembali fokus dengan benda pipih yang sedari tadi di tangannya itu.


...****************...


Tak terasa waktu cepat berjalan, kini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, dimana setengah jam lagi Maura akan menikmati hiburan indah di hidupnya. Dan dengan balutan dress tanpa lengan berwarna merah merona yang sangat-sangat ketat di tubuhnya dengan belahan dada yang sedikit terlihat serta potongan dress yang sangat tinggi, jauh diatas lutut. Rambut sebahunya itu ia biarkan tergerai begitu saja, tak lupa riasan wajah yang sangat menor memberikan kesan kepadanya seperti tante-tante girang. Sangat jauh dari penampilannya sehari-hari yang terbilang cukup santai walaupun pakaiannya memang bikin kaum Adam tergoda dan tanpa riasan sama sekali yang justru membuat dirinya sangat cantik dan enak dipandang.


"Perfect," ucap Maura kala dirinya telah selesai menambahkan lipstik merah di bibirnya itu.

__ADS_1


Dan setelahnya, ia kini berdiri, melihat penampilannya dari pantulan kaca di meja riasnya. Ia tersenyum simpul saat ia puas dengan dandanannya saat ini.


"Uhhhh cantik banget sih aku," puji Maura yang tentunya untuk dirinya sendiri.


Setalah puas memandang penampilannya, Maura bergegas mengambil tas kecil dengan warna senada dengan dressnya itu kemudian ia keluar dari dalam kamarnya. Dimana saat dirinya baru keluar, bertepatan dengan hal itu, pintu utama rumah tersebut terbuka dan masuklah sesosok manusia yang merupakan suami Maura. Siapa lagi jika bukan Erland orangnya.


Erland awalnya sempat terkejut dengan penampilan Maura saat ini. Namun dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar lagi.


Sedangkan Maura yang tadi juga sempat menatap Erland, ia sekarang berlagak sok cuek kepada laki-laki itu. Dan dirinya memilih untuk duduk di kursi ruang tamu dan selagi ia menunggu Meli menjemputnya, dirinya menyibukkan diri kepada ponsel di tangannya. Namun beberapa saat setelahnya, terdengar suara Erland yang masuk kedalam telinga Maura.


"Mau kemana?" tanya Erland.


Maura yang awalnya menatap layar ponsel, ia mengalihkan pandangannya kearah Erland yang masih berdiri di depan pintu utama tersebut sesaat sebelum tatapan matanya kembali mengarah ke benda pipih tersebut. Namun tak urung, bibir Maura berkata, "Bukan urusanmu."


Erland yang mendengar jawaban dari Maura, tanpa ia sadari jika tangannya kini terkepal erat. Tapi saat dirinya kembali ingin angkat suara, Maura lebih dulu menyerobotnya.


"Tidak diperbolehkan mencampuri urusan satu sama lain sudah tertuang dalam surat perjanjian yang aku ataupun kamu sudah tanda tangani serta sudah kita setujui," ucap Maura seakan-akan mengingatkan Erland ke surat perjanjian itu.

__ADS_1


Dimana hal tersebut semakin membuat Erland tak suka saja. Tapi apa boleh buat, laki-laki itu juga tidak memiliki hak untuk melarang Maura pergi kemanapun perempuan itu mau karena lagi-lagi ia tak boleh mencampuri urusan Maura.


Setelah Maura mengucapakan perkataannya tadi, bertepatan dengan hal itu terdengar bunyi klakson mobil dari depan rumah tersebut. Maura yang tau jika itu adalah tanda Meli telah sampai pun ia tersenyum sembari berdiri dari posisi duduknya. Dan tanpa permisi atau berpamitan terlebih dahulu kepada Erland, Maura justru melewati suaminya itu dengan sikap acuhnya, seperti dia menganggap jika Erland itu kasat mata.


__ADS_2