PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 35


__ADS_3

Erland yang sudah keluar dari dalam kamar pribadi Maura, ia masuk kedalam kamarnya sendiri. Dimana sesampainya dia di dalam kamar tersebut, ia yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi kala bayang-bayang kejadian tadi terlintas di memorinya hingga kepalan tangannya kini melayang dan mendarat sangat keras di tembok kamarnya. Kilatan amarah sangat jelas terlihat di wajahnya.


"Arkhhhh sialan sialan sialan!" erang Erland kembali meninju tembok tersebut berkali-kali sampai akhirnya di celah jari jemarinya kini mengeluarkan darah segar. Tapi hal tersebut tampaknya tak membuat Erland meringis kesakitan justru laki-laki itu kini mengacak rambutnya frustasi.


"Sampai kapan aku harus bersabar menghadapi sikap dia? Sumpah demi apapun aku capek!" teriak Erland memenuhi kamar tersebut. Ia sebenarnya sudah sangat ingin menyerah dan melepaskan Maura kembali tapi teringat akan pesan yang diberikan oleh sang Mommy jika semuanya bisa di perbaiki jalan satu-satunya ya perbaiki masalah yang tengah rumah tangganya itu hadapi bukan malah lepas tanggungjawab begitu saja. Layaknya seperti pepatah mengatakan, "Jika kukumu panjang maka potong kukunya bukan tangannya. Jika terjadi masalah putus egonya bukan putus hubungannya."


Dimana perkataan dari sang Mommy waktu itu membuat Erland kini menghela nafas kasar sebelum dirinya memilih untuk masuk kedalam kamar mandi. Mungkin dengan mengguyur tubuhnya di bawah shower akan membuat emosinya itu mereda. Toh tidak ada manfaatnya juga dia marah sampai harus melukai dirinya seperti ini karena tidak akan mempengaruhi Maura sedikitpun, perempuan itu tidak akan berubah saat melihat kemarahannya.


Beberapa saat setelahnya, Erland telah keluar dari dalam kamarnya dengan emosi yang sudah mereda.


Dirinya menatap kearah jam dinding di kamarnya itu dimana saat ini sudah menunjukkan pukul 10 malam yang artinya, Maura sudah berada didalam kamar mandinya hampir dua jam lamanya. Dimana hal tersebut membuat Erland kini bergerak menuju ke kamar Maura untuk memeriksa apakah istrinya itu sudah keluar dari dalam kamar mandi atau justru belum.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Erland masuk kedalam kamar tersebut. Ia mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut kamar itu tapi ia tak menemukan keberadaan Maura disana.


"Apa dia belum keluar dari kamar mandi?" tanya Erland pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Dan untuk menjawab pertanyaannya yang tidak akan mendapatkan jawaban jika dirinya tidak mencari tahu sendiri jawabnya itu, ia berjalan menuju ke arah kamar mandi dan lagi-lagi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia masuk kedalam kamar mandi yang tak di kunci. Dimana saat pintu itu sudah terbuka lebar, matanya terbelalak sebelum ia menutup kembali pintu kamar mandi tersebut dengan wajah yang sangat merah dan jantung yang berdegup kencang.


"Astagfirullah," gumam Erland dengan mengelus dadanya sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, menghalau bayangan yang baru saja ia lihat didalam kamar mandi tadi. Bayangan yang memperlihatkan tubuh Maura tengah terduduk dengan mata terpejam dibawah guyuran shower dan lebih parahnya lagi, ia melihat tubuh Maura yang tak memakai sehelai kain pun yang menutupi tubuh mulus perempuan tersebut.


"Apa orang mandi harus selama ini? Dan kenapa dia tadi menutup matanya? Jangan-jangan dia pingsan lagi?" gumam Erland penuh dengan tanya. Namun sayang sekali ia tak mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi.


"Ck, kalau dia pingsan dalam posisi dia basah begitu takutnya dia akan mati karena kedinginan. Tapi bagaimana caraku untuk menolong dia? Tidak mungkin kan kalau aku masuk kedalam kamar mandi itu lagi? Kalau aku sampai masuk, aku akan melihat tubuh polos dia untuk yang kedua kalinya. Dan aku laki-laki normal yang tentunya akan tergiur dengan tubuh dia. Haishhhh tapi aku juga tidak bisa membiarkan dia didalam dengan keadaan seperti itu. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" Erland benar-benar tidak memiliki ide sedikitpun untuk menolong Maura dengan cara ia tak melihat tubuh perempuan tersebut. Ingin meminta bantuan Meli, dia tidak memiliki nomor telepon perempuan tersebut. Lagian kalau dia meminta bantuan kepadanya belum tentu perempuan itu mau karena waktu sudah semakin malam seperti ini. Erland terus berpikir sampai akhirnya ia terdiam kala dirinya mengingat status dirinya.


"Tunggu dulu. Aku kan suami dia. Jadi tidak masalah dong kalau aku lihat tubuh polos Maura. Terus apa yang aku bingungkan kalau begitu? Karena kalau pun aku nanti khilaf juga tidak menjadi masalah dan tidak akan menjadi dosa besar karena kita sudah sah dalam mata agama dan hukum. Malah dapat pahala. Haishhhh dasar aku ini," ucap Erland dengan menepuk keningnya sendiri. Dirinya merasa bodoh karena sempat melupakan status dirinya untuk Maura tadi.


Dan karena dirinya sudah sadar akan siapa dirinya, dengan menyiapkan mental yang sangat besar dan sesekali menghela nafasnya untuk meredakan detak jantungnya itu, Erland kini membuka pintu kamar mandi itu dengan perlahan hingga...


Maura yang tadinya menutup matanya kini mata itu perlahan terbuka dan dengan memiringkan kepalanya untuk melihat Erland yang tampak bergetar dengan mata yang tertutup rapat.


Maura tampak tersenyum sebelum dirinya melangkahkan kakinya lebih mendekati Erland sampai akhirnya...

__ADS_1


Happ!


Maura memeluk tubuh Erland dari depan. Dimana aksinya itu membuat Erland memekik didalam hatinya.


Sedangkan Maura, perempuan itu justru mendengus aroma Erland tepat di leher laki-laki itu sembari berucap, "Hmmm wangi. Maura sangat suka baunya. Nanti kalau Papa sudah memakaikan baju ke Maura, Maura juga mau parfum yang Papa pakai. Boleh kan Pa?"


Ucapan dari Maura tadi membuat Erland mengerutkan keningnya. Perempuan tadi memanggilnya dengan sebutan apa tadi? Papa? Yang benar saja?


Erland kini memberanikan diri untuk membuka matanya lalu ia menolehkan kepalanya kearah Maura yang tengah bersandar di bahunya.


"Ra, kamu masih mabuk ya?" tanya Erland yang membuat Maura kini membuka matanya yang sempat ia pejamkan tadi karena saking menikmati harum di tubuh Erland.


"Mabuk? Mabuk itu apa Pa?" tanya Maura dengan wajah polosnya. Benar-benar terlihat menggemaskan seperti anak kecil saja.


Erland menggelengkan kepalanya, sebenarnya tanpa ia tanya pun ia sudah tau jawabannya jika Maura belum juga sadar dari pengaruh alkohol yang perempuan tadi minum.

__ADS_1


Sedangkan Maura yang melihat gelengan di kepala Erland pun ia kembali bersuara, "Papa, kenapa geleng-geleng kepala begitu?"


Erland tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ia harus melakukan drama pura-pura menjadi ayah Maura? Atau mengacuhkan semua yang dilakukan perempuan tersebut? Sumpah demi apapun Erland sangat bingung menghadapi orang mabuk yang baru pertama kali ia lihat saat ini.


__ADS_2