
"Terimakasih sayang terimakasih," ucap Erland tepat di samping telinga Maura yang tengah mengatur nafasnya. Laki-laki itu sangat-sangat bersyukur Maura bisa melewati proses melahirkan yang ia yakini tidak mudah itu dan tentunya mempertaruhkan nyawanya sendiri demi buah hati mereka. Erland berjanji dengan dirinya sendiri tak akan pernah menyakiti Maura entah secara lisan ataupun tindakan setelah melihat perjuangan Maura tadi. Jika ia mengingkari janjinya itu, ia bersumpah akan menghukum dirinya sendiri dengan hukuman yang setimpal mungkin dengan menyuruh preman atau Daddy-nya sendiri untuk melukai dirinya. Ya walaupun Erland tidak memiliki niatan untuk melukai Maura secara lahir ataupun batin, tapi ia tetap akan memegang janji yang tak akan pernah ia ingkari itu.
Maura yang mendengar bisikan dari Erland ia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari suaminya tadi.
"Tuan, Nyonya. Selamat atas kelahiran baby boy dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Babynya sangat tampan," ujar dokter yang membawa bayi laki-laki itu mendekati kedua orangtuanya. Tentunya niatnya itu agar sepasang suami-istri tersebut lebih tepatnya Erland melepaskan pelukannya dari sang istri karena saat ini harus bergantian dengan bayi laki-laki tersebut.
Dan benar saja jika cara tadi sangatlah ampuh untuk memisahkan Erland dari tubuh Maura untuk sementara waktu. Buktinya laki-laki itu sekarang langsung menegakkan tubuhnya lalu mengusap air matanya dengan kasar sebelum ia menolehkan kepalanya kearah Dokter yang saat ini sudah berada di sampingnya tengah meletakkan putranya diatas tubuh Maura.
Erland tampak tersenyum saat bayi laki-laki itu tengah mencari sumber asi di dada Maura sebelum fokusnya teralihkan saat suara dokter kembali terdengar, "Maaf tuan. Silahkan tuan potong tali pusarnya."
Erland terkejut mendengar perkataan dari dokter itu.
"Saya?" Dokter tersebut menganggukkan kepalanya sembari menyerahkan gunting kearah Erland.
"Dokter saja gimana yang motong. Saya takut nanti saya malah salah motong lagi dan berakhir melukai putra saya ataupun istri saya. Jadi Dokter saja yang sudah ahli. Tapi jangan sampai membuat dua kesayangan saya merasakan sakit ya. Kalau sampai salah satu dari mereka kesakitan akibat ini tali harus di potong, Dokter akan tau---" ucapan Erland yang ingin mengancam dokter di depannya itu terhenti kala merasakan tangannya di genggaman oleh Maura.
Erland menolehkan kepalanya kearah sang istri yang tengah menggelengkan kepalanya. Kode agar ia tak meneruskan ancamannya tadi.
"Kamu tenang saja. Aku yakin Dokter tidak akan menyakitiku ataupun putra kita. Jadi kamu jangan khawatir," ujar Maura dengan suara yang sangat lemah.
__ADS_1
Erland hanya bisa menghela nafas berat sebelum ia menganggukkan kepalanya. Mau mendebat istrinya, ia merasa kasihan karena saat ini bukanlah saat yang tepat untuk ia adu argumen dengan Maura. Jadi ia hanya bisa pasrah saja dan mencoba percaya dengan Dokter di depannya itu yang saat ini mulai mendekatkan gunting tadi ke tali pusar yang menghubungkan antara Maura dan baby boy. Walaupun begitu, Erland tetap menatap tajam kearah Dokter tadi yang justru membuat sang Dokter gerogi. Namun untungnya ia berhasil memotong tali pusar tadi dan kembali melakukan kegiatannya yang tentunya masih berkaitan dengan Maura.
Sedangkan Erland, ia cukup menghela nafas lega kala buah hatinya tak menangis saat Dokter melakukannya tadi begitu pun juga Maura yang tak meringis merasakan sakit seperti tadi yang artinya semua aman.
Beberapa menit sudah berlalu, semua kegiatan Dokter tadi pun sudah selesai semua begitu juga dengan baby boy yang sudah terlelap dalam bedongannya setelah Erland mengadzaninya tadi. Kamar Maura pun juga sudah berpindah ke ruang inap VIP khusus.
Maura yang tengah di suapi oleh Erland, tampak sesekali tersenyum kala melihat dua keluarga dari dirinya dan Erland tengah mengerubungi baby boy yang berada di dalam gendongan Daddy Aiden yang tak mau melepaskan cucunya sedetikpun. Katanya baby boy akan menangis jika turun dari gendongan atau di ambil alih oleh yang lainnya. Padahal hal tersebut tidak benar sama sekali. Itu hanya alasan Daddy Aiden saja agar ia lebih lama meminang cucunya.
"Ihhhh pipinya lho gembul banget. Pengen gigit jadinya," ucap Yola yang juga berada di rumah sakit setelah sang suami mengabarkan jika Maura akan melahirkan. Tak hanya ada Yola dan dua pasang orangtua Erland ataupun Maura saja di sana melainkan ada Vivian juga suami dan putrinya.
"Setuju banget. Pipinya gembul dan bibirnya pink banget. Kalau ini mah bisa dibilang ganteng sekaligus cantik," celetuk Vivian menambahi ucapan dari adik iparnya tadi.
Brakkk!!!
Pintu ruang inap Maura di dobrak dari luar. Tentunya hal tersebut membuat orang-orang yang berada di dalam ruang inap tersebut terkejut bukan main dan mengalihkan pandangannya kearah pintu kecuali Daddy Aiden yang memastikan jika cucunya tidak menangis dengan cara menimang-nimangnya.
Semua orang yang melihat siapa pelakunya hanya bisa menepuk keningnya sebelum Mommy Della berniat untuk beranjak dari tempat duduknya, menghampiri pelaku pendobrakan pintu tadi, orang tersebut justru sudah lebih dahulu berlari menuju ke arah Maura dan Erland dengan teriakan nyaringnya.
"Aunty!!!" Erland memejamkan matanya kala telinganya terasa berdenging akibat teriakan maut dari Anya. Ya gadis kecil itulah pelaku dari pendobrak kamar inap milik Maura tadi.
__ADS_1
"Swet---" Baru juga Erland ingin menasehati Anya, suara derap kaki yang sepertinya tengah berlari kini masuk kedalam ruangan itu. Yang lagi-lagi mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan inap tersebut kecuali Anya yang tengah mengedarkan pandangannya, seperti tengah mencari sesuatu di ruangan itu tanpa memperdulikan dua orang yang baru masuk kedalam ruangan tersebut. Karena tanpa melihat pun Anya tau siapa mereka jika bukan sang Daddy yaitu Zico dan pengasuh barunya.
"Kalian kenapa ngos-ngosan begitu? Habis di kejar anjing?" celetuk Adam yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Ck, sayang mana ada anjing di rumah sakit. Ada-ada saja kamu," timpal Yola.
"Ya kan siapa tau," ucap Adam.
"Bukan di kejar anjing bang, tapi noh keponakan kamu. Setelah kamu telepon tadi untuk memberitahu Maura mau melahirkan dan yang ngangkat telepon dia, dia langsung kabur dari rumah tau gak," jelas Zico dengan berjalan mendekati keluarganya mencoba mencari tempat duduk yang masih kosong.
Dan saat ia melihat ada satu tempat duduk kosong di samping Vivian, ia langsung mendudukkan tubuhnya di samping sang Kakak tak lupa kepalanya yang hampir meledak itu ia sandarkan di bahu Vivian.
"Sweetie kabur?" Zico menganggukkan kepalanya.
"Tapi sama baby sitternya kan tadi kaburnya?" tanya Adam dengan menatap kearah perempuan yang masih berada di ambang pintu tengah mengatur nafasnya.
"Gak. Dia sendiri kaburnya. Entah apa yang ada di dalam otak tuh anak. Dia kabur saat baby sitternya nyiapin air buat dia mandi. Dan dia kaburnya kayak maling gak, jalannya mengendap-endap biar satpam dan orang-orang di rumah yang lain gak lihat dia. Parahnya lagi, dia kabur hanya dengan jalan kaki," ujar Zico dengan diakhiri ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Semua orang yang berada disana tak terkecuali dengan Daddy Aiden terkejut bukan main dengan penuturan yang disampaikan oleh Zico tadi.
__ADS_1