
Sebuah notifikasi kini terdengar dari ponsel milik Erland. Dengan cepat Erland meraih ponselnya itu dan dengan senyum tipis Erland membuka pesan dari istrinya yang mengirimkan sesuatu yang ia inginkan tadi.
Erland kini menaruh ponselnya yang sudah memperlihatkan foto buku pernikahannya dengan Maura diatas meja agar ketiga orang yang duduk dihadapannya bisa melihat foto tersebut.
"Di foto ini adalah buku pernikahan saya dengan istri saya. Dan di album ini terdapat foto-foto pernikahan saya." Erland mulai membuka album foto tersebut sebelum ia menyodorkan album foto itu kehadapan orang disana.
Orla yang melihat foto pernikahan tersebut dengan bibir yang bergetar ia berucap dengan suara yang sangat lantang, "Tidak. Semua ini pasti sebuah kebohongan! Kalian semua pembohong besar! Erland sebenarnya belum menikah!"
Erland memutar bola matanya malas.
"Jika anda tidak percaya. Anda bisa cek sendiri ke daftar KUA," ucap Erland.
"Tidak mungkin! Gak, kamu pasti bohong! Kamu pembohong Erland! Aku benci sama kamu!" ucap Orla masih berteriak keras sembari berdiri dari duduknya.
"Saya tidak peduli! Saya malah bersyukur jika anda membenci anda dan akan saya ucapkan terimakasih atas kebencian anda ini," ujar Erland yang membuat Orla mengepalkan tangannya. Dan dengan perasaan sakit yang semakin lama semakin terasa menyakitkan, Orla berlari meninggalkan ruang tamu itu tanpa memperdulikan teriakan kedua orangtuanya yang memanggil namanya.
__ADS_1
Mama Rina, menatap penuh kebencian kearah ketiga orang yang menatapnya dengan biasa saja sebelum ia memilih untuk mengejar sang putri tanpa mengucapakan sepatah kata apapun. Sedangkan Papa Jaya, ia menatap tajam kearah Erland lalu berkata, "Saya pastikan jika kamu akan menyesal di kemudian hari. Camkan itu!"
Setelah mengatakan perkataannya tadi, Papa Jaya langsung pergi, meninggalkan ruang tamu sekaligus rumah keluarga Abhivandya tersebut. Dan kepergian dari Papa Jaya itu di tatap oleh ketiga orang keluarga Abhivandya itu dengan Erland yang berkata, "Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menyesali keputusan yang saya ambil."
Sedangkan Daddy Aiden dan Mommy Della menghela nafas lega.
"Huh akhirnya permasalah gila ini selesai juga," ucap Mommy Della.
"Selesai sih selesai tapi berhasil bikin Erland emosi," timpal Erland yang langsung mendapat tatapan dari kedua orangtuanya.
Erland tampak menghela nafas panjang.
"Hmmm sudahlah, berhubungan masalah ini sudah selesai Erland mau pulang. Dan Mom, Dad, jangan lupa kembalikan semua barang ini ke---" belum sempat Erland menyelesaikan ucapannya tadi, suara seseorang memutus ucapannya.
"Permisi tuan dan nyonya. Saya selaku orang suruhan dari keluarga Jaya diperintahkan secara langsung oleh Pak Jaya untuk mengambil barang-barang yang tadi sempat mereka bawa ke rumah ini," ucap laki-laki tersebut yang membuat Daddy Aiden, Mommy Della dan Erland ingin sekali tertawa, mereka kira keluarga Jaya itu sengaja meninggalkan barang-barang itu tanpa mau membawanya kembali. Jadi Erland tadi berniat untuk meminta kedua orangtuanya untuk mengembalikan barang-barang itu ke keluarga jaya saja. Tapi ternyata perkiraan mereka tadi salah besar. Mereka masih memikirkan barang-barang itu di sela mereka tengah marah kepada keluarga Abhivandya. Sangat lucu sekaligus memuakkan bagi keluarga Abhivandya. Toh mereka juga tidak akan menerima barang yang tak seberapa nilainya untuk mereka sehingga ketiganya menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari laki-laki tadi.
__ADS_1
Dimana saat laki-laki tersebut melihat anggukkan yang berarti sebuah persetujuan dari ketiga orang itu, ia mengajak rekannya untuk mengangkat barang-barang tersebut untuk ia bawa kembali ke kediaman keluarga Jaya.
Sedangkan Erland, ia melanjutkan niatnya tadi untuk segera pulang ke rumah. Tapi sebelumnya ia menyempatkan diri untuk bersalaman dengan kedua orangtuanya dan menyematkan sebuah kecupan di salah satu pipi kedua orangtuanya. Dan setelahnya barulah dirinya benar-benar pergi dari ruang mewah kedua orangtuanya. Tentunya selama perjalanan pulang ke rumah, Erland terus ngedumel.
"Bisa-bisanya keluarga gila itu mau melamarku. Padahal sudah jelas aku menolak kehadiran mereka saat mereka berusaha mendekatiku. Huh dasar membuang-buang waktuku saja, sialan." Erland tak bisa lagi mengontrol bibirnya itu agar tak mengeluarkan umpatannya. Jujur saja emosinya memang sudah turun tapi tak menutup jika dia masih kesal dengan ketiga orang tadi.
Erland juga berharap dengan ia menolak mentah-mentah lamaran tadi dan juga mengungkapkan pernikahannya, mereka tidak akan lagi berani berniat mendekati dirinya lagi. Jika mereka masih saja mendekati mereka dengan wajah tebal mereka itu, Erland tidak akan segan-segan melakukan cara yang sedikit berbahaya untuk mereka. Entah itu dengan cara mencari tahu tentang rahasia kelam dari mereka bertiga atau dengan melukai fisik mereka. Semua itu akan Erland lakukan agar mereka benar-benar tak berani lagi mengusik hidupnya.
Tak terasa mobil yang dikendarai oleh Erland kini telah sampai di pelantaran rumahnya. Dengan cepat Erland turun dari dalam mobil tersebut. Lalu ia berlari kecil, membuka pintu utama rumah tersebut. Dimana saat pintu itu terbuka, ia langsung bisa melihat Maura tengah duduk disalah satu sofa ruang tamu mereka. Yap, Maura tadi bilang kalau dia sudah diantara pulang oleh sang Mama jadi Erland tidak perlu lagi untuk menjemput dirinya. Karena sekalian Mama Dian tadi ingin melihat rumah mereka. Sebenarnya bukan hanya Mama Dian saja sih yang tadi mampir ke rumah mereka, melainkan Vivian juga ikut. Jadilah setelah mereka tadi keluar dari restoran untuk makan siang, mereka langsung menuju ke kediaman Maura dan Erland, menghabiskan waktu mereka di rumah sederhana itu. Hingga pukul 4 sore barulah mereka pulang kembali ke kediaman mereka masing-masing.
Erland langsung berlari mendekati Maura, kemudian ia langsung menubruk tubuh istrinya itu ketika dirinya sudah mengikis jarak diantara dirinya dan Maura. Ia memeluk tubuh Maura dengan sangat erat, seakan-akan jika ia tak memeluk erat tubuh istrinya itu, Maura akan pergi darinya.
Sedangkan Maura, ia yang tadi berniat ingin menyambut kepulangan Erland, dibuat bungkam sekaligus khawatir dengan suaminya itu yang tingkatnya sangat jauh berbeda dengan tingkah Erland biasanya. Jika saat Erland pulang kerja, laki-laki itu pasti akan mengulurkan tangannya terlebih dahulu kearah Maura agar istrinya itu mencium punggung tangannya kemudian barulah Erland akan mencium Maura. Tapi kali ini, Erland langsung menerjang dan memeluk tubuh Maura. Dimana hal tersebut membuat Maura merasa jika masalah yang tadi sempat Erland hadapi dan sempat suaminya itu ucapkan lewat sambungan telepon tadi memang masalah yang cukup serius. Tapi untuk saat ini Maura tak ingin bertanya terlebih dahulu walaupun sebenarnya rasa keponya itu sudah meronta-ronta, memintanya untuk segera mengintrogasi Erland tapi ia bisa menahannya. Ia akan membiarkan Erland memeluknya seperti ini sampai suaminya itu merasa tenang dan barulah nanti ia akan bertanya kepada Erland tentang masalah laki-laki itu. Tapi jika Erland tidak mau menceritakannya kepada dirinya, Maura akan mencoba untuk mengerti.
Tangan Maura kini membalas pelukan dari Erland serta memberikan elusan di punggung suaminya. Siapa tau elusan yang ia berikan ini mampu membantu kegundahan Erland menghilang.
__ADS_1