
Setelah drama dirinya yang terus merengek ke kedua orangtuanya yang berakhir dirinya pasrah pun, ia dan Erland saat ini tengah berada di jalan menuju ke rumah baru yang nantinya akan mereka tempati. Diantara dua orang yang berada di mobil yang sama bahkan duduk saling berdekatan itu tak ada yang mengeluarkan suaranya sedari tadi sampai mobil yang di jalankan oleh Erland telah sampai didepan sebuah rumah satu lantai yang cukup sederhana namun sangat asri.
"Turun," titah Erland sembari melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya.
Maura yang sedari tadi hanya memfokuskan dirinya pada benda pipih ditangannya itu, ia menatap keluar kaca mobil itu. Dengan mendengus kasar, ia keluar dari dalam mobil tersebut. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Erland atau membantu laki-laki itu untuk menurunkan barang-barang bawaan mereka berdua, Maura justru lebih dulu ngacir masuk kedalam rumah tersebut.
Erland yang melihat kepergian dari Maura, ia hanya memutar bola matanya malas dan memutuskan untuk mengeluarkan barang-barangnya dari bagasi mobil. Setelah semuanya selesai ia turunkan, Erland mendorong dua koper ditangannya untuk masuk kedalam rumah itu. Tujuan pertama Erland saat ini adalah ke kamarnya. Tapi saat dirinya baru saja masuk kedalam kamar itu, ia mengerutkan keningnya saat melihat Maura telah rebahan di atas ranjang di kamar tersebut.
"Ngapain kamu ada dikamar sini?" tanya Erland dengan bersedekap dada dengan mata menatap lurus kearah Maura.
Maura yang tadinya menutup matanya kini ia buka kembali dan setelah mendudukkan tubuhnya ia berdecak kesal saat melihat wajah Erland tak jauh dari dirinya.
"Ini kamarku jadi suka-suka aku lah. Dan harusnya yang tanya itu aku bukan kamu. Ngapain kamu ada disini?" Erland memutar bola matanya malas.
"Jangan mengklaim milik orang lain. Kamar ini adalah kamar milikku dan kamarmu ada di sebelah kamar ini. Jadi lebih baik kamu segera keluar dari kamarku sebelum aku seret kamu," ucap Erland yang melanjutkan langkah kakinya semakin masuk kedalam kamar tersebut tanpa memperdulikan tatapan leser yang dipancarkan oleh Maura.
"Mana bisa begitu. Itu tidak adil namanya. Aku yang lebih dulu masuk di kamar ini jadi kamar ini milikku," ucap Maura tak mau kalah.
"Yang beli rumah ini yang berhak menentukan semuanya. Kamu yang tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk membeli rumah ini lebih baik diam dan menuruti ucapan tuan rumah," ujar Erland yang berhasil membuat Maura terdiam seketika. Ia merasa jika Erland tengah mengingatkan posisi dirinya di rumah tersebut.
"Jadi kamu menganggap aku hanya numpang saja di rumah ini?"
__ADS_1
"Menurut kamu?" Maura mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tersulut emosi. Hingga tangannya yang sangat ringan itu bergerak untuk mengambil bantal yang berada di dekatnya lalu melemparkan bantal-bantal itu kearah Erland yang tengah sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
Erland yang tak tau jika ada serangan mendadak pun ia tak bisa menghindar sehingga bantal-bantal yang di lempar oleh Maura berhasil mengenai punggungnya. Tak sakit memang, tapi hal itu membuat Erland yang merasa terusik ketenangannya menghadap kearah Maura.
"Apa? Kamu gak terima aku lempari pakai bantal-bantal itu? Kalau gak terima maju sini. Kita duel," tantang Maura yang mulai memasang kuda-kuda.
Dimana hal tersebut membuat Erland justru memutar bola matanya malas.
"Gak penting banget duel sama kamu. Yang ada dengan satu jentikkan kuku aku saja kamu sudah kesakitan dan berujung nangis," ucap Erland kemudian ia memilih untuk kembali ke aktivitasnya sebelumnya.
"Oh sepertinya kamu meremehkanku. Rasakan saja ini!" Maura berlari menuju ke arah Erland dan saat dirinya sudah mengikis jarak antara dirinya dan laki-laki tersebut bahkan ia sudah melompat tinggi untuk memukul Erland. Tiba-tiba saja laki-laki yang tadinya tampak fokus dengan pakaian-pakaiannya, dengan gerakan cepat ia menghindar yang berakhir Maura yang tadinya ingin memukul Erland, ia justru memukul lantai alias ia terjatuh tertelungkup dengan cukup keras hingga ringisan keluar dari bibirnya.
"Awss." Maura dengan sekuat tenaga mendudukkan tubuhnya dengan mengelus siku yang tadinya akan ia gunakan untuk menyerang Erland.
"Gimana? Sakit?" ucap Erland dengan senyum penuh kemenangan.
Maura yang menahan rasa sakit di tubuhnya itu, ia menengadahkan kepalanya, menatap Erland penuh permusuhan. Dan tanpa menjawab pertanyaan Erland, ia berdiri dari posisi duduknya tadi lalu ia segera keluar dari dalam kamar laki-laki itu yang saat ini tengah tertawa puas melihat penderitaan dari Maura.
"Sok-sokan mau ngelakuin penyerangan. Baru juga mencium lantai saja udah meringis kesakitan apalagi kena bogeman," ucap Erland yang sengaja ia perkerasan agar Maura yang sudah keluar dari kamar tersebut mendengarnya.
Dan sepertinya keinginan dari Erland tadi terkabul, pasalnya perempuan itu sekarang tengah mengumpati dirinya dengan segala macam perkataan kotor dan semua nama-nama hewan keluar dari bibirnya dengan kaki yang melangkah menuju ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Erland tadi.
__ADS_1
Dimana saat dirinya sudah masuk kedalam kamarnya, ia menatap ke sekeliling ruangan tersebut yang bercat putih. Kamar itu memang lebih kecil dari kamar Erland tadi tapi masih oke-oke saja untuk Maura.
"Not bad sih yang penting ada kamar mandi di dalam kamar ini. Karena aku gak sudi jika harus berbagi kamar mandi dengan laki-laki sialan itu. Suami durjana, sialan!" keluar sudah kata-kata mutiara dari bibir Maura untuk yang kesekian kalinya sebelum dirinya kini merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tersebut dan kembali menutup matanya. Hari ini adalah hari yang benar-benar sangat melelahkan untuk seorang Maura. Jadi ia akan mengistirahatkan badan dan hatinya yang terus ngedumel menyumpahi Erland.
Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dimana Maura telah tidur selama 4 jam lamanya. Ia menggeliatkan tubuhnya dengan mata yang perlahan terbuka.
"Jam berapa ini?" beonya. Dan dengan tatapan yang menyipit serta tangan yang menggaruk perutnya yang terekspos, ia melirik kearah jam dinding.
"Lah udah jam 7 ternyata. Pantas saja nih perut keroncongan," ujar Maura dengan mendudukkan tubuhnya. Memang benar jika dirinya bangun karena perutnya yang meronta-ronta ingin diisi olehnya. Alhasil, Maura kini turun dari atas ranjang dan keluar dari kamarnya.
Satu kata yang menggambarkan suasana rumah itu saat ini yaitu sepi. Entah kemana Erland berada, ia tak tau dan tak ingin tau.
Dan dengan menggedikkan bahunya acuh, Maura bergegas menuju kearah dapur. Ia membuka satu persatu laci serta lemari penyimpanan makanan yang ada di dapur tersebut yang tak ada isinya sama sekali alias kosong melompong.
"Si Erland gak masak kah? Kok gak ada makanan sama sekali di sini," gumam Maura yang berharap jika Erland tadi sempat masak untuknya.
"Apa jangan-jangan dia tadi masak tapi masakan dia habis dimakan dia sendiri lagi. Ck, sialan. Benar-benar suami durjana. Kalau gak ada makanan sama sekali di sini, aku harus ngisi ini perut pakai apa? Aku gak akan bisa tidur lagi kalau dalam posisi lapar," sambung Maura. Ingin sekali dia memesan makanan dari sebuah aplikasi tapi ia sadar jika saat ini ia tak memiliki uang sepeserpun. Kedua orangtuanya tadi sudah menyita semua fasilitas yang mereka berikan saat sebelum menikah. Erland pun yang selaku suaminya belum memberikan dia uang seribu rupiah pun. Ada sih uang mahar, tapi sayang jika ia harus memecahkan figura yang membingkai indah uang maharnya itu.
Mata Maura berbinar kala dirinya melihat ada lemari pendingin yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Mungkin didalam kulkas itu ada makanan yang bisa aku makan. Kalau tidak ya bahan makanan lah yang bisa buat aku olah menjadi makanan ala kadarnya buat mengganjal perut," gumam Maura sembari melangkahkan kakinya mendekati kulkas tersebut. Dan dengan semangat dan penuh harap, Maura membuka pintu kulkas tersebut. Dimana senyuman yang mengembang di bibirnya tadi seketika langsung luntur dan digantikan dengan mulut yang menganga lebar. Hingga...
__ADS_1
"ERLAND SIALAN!" teriak Maura menggema di seluruh rumah tersebut. Ia benar-benar tidak menyangka jika laki-laki yang menyandang status sebagai suaminya itu belum menyiapkan apapun yang bisa mereka makan. Kalau tau begini, bukankah sebaiknya Erland menunda kepindahan mereka tadi bukan malah memaksa untuk segera pindah. Kalau begini caranya, Maura akan mati kelaparan malam ini juga.