
Erland menghela nafas panjang sebelum dirinya mendekati Maura. Sedangkan Meli, perempuan itu terdiam dengan mulut yang menganga lebar yang untungnya di halangi oleh telapak tangannya yang menutup mulutnya itu.
Ia tampak terkejut saat melihat wajah Erland yang sudah tak memakai masker juga topi seperti tadi. Erland tadi memang sempat melepas maskernya saat merasakan hawa panas kala melihat Maura di sentuh oleh banyaknya laki-laki tadi, sedangkan topinya lepas kala dirinya menghajar habis-habisan laki-laki tadi. Keterkejutan Meli tak berhenti di situ saja, ia lebih terkejut lagi saat dirinya tadi mendengar kata bahwa Erland adalah suami Maura.
"Pulang sekarang!" perintah Erland dengan mencekal lengan Maura lalu setelahnya ia menarik lengan itu untuk keluar dari dalam tempat laknat itu. Disusul oleh Meli.
"Masuk!" perintah Erland kala dirinya telah sampai di samping mobilnya dan pintu mobil sudah ia buka dengan kasar.
Maura tampak terdiam saja dengan menatap kearah dalam mobil tersebut dan kearah wajah Erland bergantian.
Erland yang tak merasa jika Maura akan mau masuk kedalam pun ia dengan terpaksa mendorong tubuh istrinya itu pelan sampai akhirnya Maura berhasil masuk kedalam mobilnya dan sebelum Maura turun lagi, Erland dengan cepat menutup pintu mobil tersebut.
Hingga saat Erland ingin menuju ke pintu kemudi, suara Meli menghentikan langkahnya.
"Tunggu!" Erland menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Dapat ia lihat jika di belakangnya ada seseorang yang ia tau jika dia adalah sahabat istrinya.
"Kenapa?" tanya Erland dengan wajah datarnya.
Meli tampak menggigit bibir bawahnya namun tak urung ia bertanya.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya apa nama kamu, Erland? Hmmm lebih tepatnya Erland Drake Abhivandya?" tanya Meli yang membuat Erland langsung mengatupkan bibirnya dengan kerutan di keningnya. Dengan otaknya yang berpikir, "Kenapa perempuan itu bisa tau namaku?"
"Anu begini, saya salah satu karyawan bapak yang kemarin baru saja melakukan sesi interview dan tadi pagi di terima di perusahaan bapak. Nama saya Meliya Anastasya," sambung Meli yang sudah merubah panggilannya yang tadi hanya memakai kamu sekarang sudah memakai bahasa formal.
Erland masih terdiam tapi matanya terus menatap kearah Meli, sebelum ia menganggukkan kepalanya saat dirinya mengingat wajah Meli yang kemari melakukan sesi wawancara dengannya.
"Saya sudah mengingat kamu. Dan saya ingatkah kamu jangan pernah ajak Maura ke tempat seperti ini lagi karena saya tidak mau kejadian tadi terulang kembali. Satu lagi, jangan beritahu Maura siapa saya sebenarnya. Kamu tidak perlu tau alasan saya menyebunyikan identitas saya dari Maura. Cukup kamu mengiyakan apa yang saya perintahkan tadi," ucap Erland yang diangguki oleh Meli.
"Kalau begitu, pulanglah dan terimakasih kamu tadi sudah berusaha untuk menjaga istri saya," ujar Erland yang benar-benar tulus dari hatinya yang paling dalam bahkan wajah datarnya kini terlihat tersenyum yang membuat Meli berdiri kaku di tempatnya.
"Saya pergi dulu. Dan kamu hati-hati di jalan," sambung Erland dengan menepuk pundak Meli yang berhasil menyadarkan perempuan itu dari keterbengongannya.
Meli yang menyadari jika mobil Erland telah melaju meninggalkan tempat parkir club' tersebut ia menghela nafasnya.
"Seperti dugaanku tadi jika suami Maura itu adalah orang yang sama dengan orang yang aku curigai. Dan sepertinya aku tau alasan kenapa Pak Erland menyebunyikan identitasnya yang asli ke Maura karena mungkin dia ingin merubah Maura menjadi lebih baik lagi dan bisa hidup sederhana. Niat Pak Erland memang bagus tapi aku tidak yakin jika beliau memang bisa merubah Maura menjadi apa yang dia inginkan. Huh, semoga saja Pak Erland bisa menambah kesabarannya saat menghadapi Maura dan aku hanya bisa membantu beliau dengan doa agar semua keinginannya terkabul nantinya," ujar Meli sembari berjalan menuju ke mobilnya. Walaupun ia sedikit mabuk tapi ia bisa membawa mobil sendiri sampai ke rumahnya.
Disisi lain, Erland melanjutkan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan hanya butuh waktu 10 menit saja dia telah sampai di depan rumahnya.
Dengan membuka dan menutup pintu mobilnya dengan kasar, ia melangkahkan kakinya mendekati pintu samping Maura berada. Lagi dan lagi ia membuka pintu mobil tersebut dengan keras.
__ADS_1
Ia menatap wajah Maura yang sudah bangun dari tidurnya.
"Keluar!" perintah Erland dengan suara rendahnya tanda jika dia tengah marah saat ini.
Maura yang masih dalam mode mabuk pun ia menolehkan kepalanya kearah Erland. Menatap wajah laki-laki itu sangat lekat sebelum sebuah senyuman terbit di bibirnya.
"Wow ada laki-laki tampan disini. Ada apa hmmmm? Mau joget denganku ya?" tanya Maura dengan mengulurkan tangannya hingga menyentuh wajah Erland namun hanya sesaat saja sebelum Erland menepis tangan perempuan tersebut.
"Jangan pegang-pegang karena aku tidak tidak rela wajahku di pegang oleh perempuan yang sudah disetuh oleh banyak laki-laki. Jadi jangan membuang waktuku lagi. Keluar sekarang sebelum aku seret kamu!" perintah Erland. Jujur saja ia masih sangat-sangat marah dengan Maura. Siapa sih suami yang tidak marah jika melihat istrinya disetuh oleh laki-laki lain di depan mata kepalanya sendiri? Walaupun dia memang belum menaruh rasa dengan Maura tapi tetap saja ia tak ikhlas jika orang yang sudah sah ia jadikan istri harus bersentuhan dengan laki-laki yang tidak beradab seperti tadi. Oke fine jika orang yang menyentuh Maura itu seorang laki-laki yang memang perempuan itu sukai dan atas keinginannya sendiri juga saat Maura dalam keadaan sadar, mungkin Erland akan mendiamkannya karena itu sudah tertuang didalam surat perjanjian mereka. Tapi jika seperti tadi, Erland tidak akan segan-segan untuk mengamuk seperti tadi hingga sekarang ini.
Maura tampak menatap kearah sekelilingnya, ia baru sadar jika saat ini ia bukan lagi berada di tempat laknat itu tapi ia berada di dalam mobil seseorang yang belum ia ingat siapa orang itu.
"Ehhh ternyata kamu sudah membawaku keluar dari club'. Jadi apa sekarang kamu membawaku ke hotel agar kita bisa bersenang-senang berduaan saja tanpa ada yang menggangu?" ucap Maura yang masih ngelantur dengan alis yang naik turun.
Dimana perkataan dari Maura tadi membuat Erland menggeram kesal. Dan karena kesabarannya sudah benar-benar habis, Erland memaksa tubuh Maura untuk turun dari dalam mobilnya. Maura sempat mendesis kala lengannya ditarik paksa oleh laki-laki itu, namun Erland tak peduli. Laki-laki itu sekarang justru membawa Maura masuk kedalam rumahnya dengan langkah lebar, Erland kini membawa tubuh Maura ke kamar perempuan tersebut. Ia membuka pintu kamar tersebut dengan cukup keras hingga menimbulkan suara nyaring yang di timbulkan dari pintu kamar tersebut yang berhasil membuat Maura terkejut.
Namun dirinya lebih terkejut lagi saat tubuhnya seakan di dorong cukup keras hingga masuk kedalam kamar mandi.
"Bersihkan tubuhmu itu sekarang juga! Dan jangan keluar sebelum kesadaranmu kembali!" ucap Erland dengan tatapan tajamnya sebelum ia membanting pintu kamar mandi tersebut hingga tertutup rapat.
__ADS_1