
Erland kini menatap wajah Maura yang sudah tertidur pulas dalam pelukannya. Tangannya kini bergerak untuk menyingkirkan rambut Maura yang menutupi sebagian wajah perempuan tersebut. Dimana saat rambut tersebut sudah ia singkirkan, sebuah senyum terbit di bibir Erland dengan tangan yang kini beralih untuk mengusap pipi Maura yang seperti ceri, bersemu merah yang terlihat sangat menggemaskan di mata Erland.
Erland menghentikan elusan di pipi Maura kala ucapan terakhir Maura sebelum perempuan itu terlelap terngiang-ngiang di telinganya.
"Maaf aku belum bisa menjadi seperti apa yang kamu inginkan dan maaf aku tidak bisa bersikap sama seperti Papamu. Mungkin Papamu akan sangat sabar menghadapi kamu tapi aku beda Ra, aku tidak sama seperti beliau. Aku tidak akan sesabar beliau, aku juga bisa lelah dan juga bisa habis kesabaranku jika kamu terus-terusan bersikap sesukamu di rumah ini. Oke, aku tidak masalah jika urusan rumah tangga kita aku yang urus entah itu masalah keuangan, memasak atau berberes sekalipun. Aku tidak mempermasalahkan itu, Ra karena aku hanya menginginkan kamu menghargaiku sebagai suamimu walaupun tak ada rasa cinta di hati kita berdua. Tapi setidaknya hargai aku, Ra. Aku hanya butuh itu darimu tidak lebih," ucap Erland mengungkapkan isi hatinya.
"Jangan bikin aku semakin lelah, Ra. Karena aku hanya laki-laki biasa yang bisa menyerah kapan saja. Dan semoga kamu cepat berubah. Aku memang belum mencintaimu tapi aku akan tetap menganggapmu sebagai istriku. Tidur yang nyenyak dan maaf karena aku sudah melanggar janji kita untuk tidak mengurusi urusan kita masing-masing juga maaf sudah merusak bahkan menggagalkan waktu bersenang-senangmu," ujar Erland.
Setelah mengucapkan perkataannya tadi, Erland menyematkan sebuah kecupan di kening Maura sebelum dirinya perlahan melepaskan tangan dan kaki Maura yang memeluk tubuhnya layaknya sebuah guling.
Erland menghela nafas lega kala dirinya telah berhasil menaruh tangan dan kaki Maura ke atas ranjang tanpa membuat tidur perempuan itu terusik. Kemudian Erland menaikkan selimut sampai dada istrinya itu, lalu setelahnya ia keluar dari dalam kamar Maura menuju ke kamarnya sendiri. Bohong jika dirinya saat ini mengaku tidak lelah, karena kenyataannya ia sangat-sangat lelah setelah seharian mengerjakan berkas-berkas yang tak ada habisnya itu dan setelah pulang bukannya mengistirahatkan tubuhnya tapi malah mengurusi istrinya yang tadi hampir di lecehkan oleh laki-laki sampai melayani istrinya itu yang berubah menjadi anak kecil lagi.
Erland yang sudah berada didalam kamarnya, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan dengan menatap langit-langit kamarnya ia bergumam, "Ya Tuhan tolong perluas hati hamba untuk lebih bersabar lagi untuk menghadapi semua rintangan dalam hubungan rumah tangga hamba ini. Dan hamba mohon ketuk hati Maura agar dia bisa berubah. Aamiin."
Erland kini menutup matanya setelah menggumamkan sebuah doa untuk kebaikan rumah tangganya kedepan.
__ADS_1
Tak terasa waktu kini berjalan dengan cepat, tugas bulan yang berjaga semalam kini telah digantikan oleh matahari yang menampakkan sinarnya. Dimana hal tersebut membuat seorang perempuan yang berada di salah satu kamar mengerjabkan matanya kala sinar matahari sedikit menerpa wajahnya dari celah jendela sampai mata itu kini terbuka lebar. Perempuan itu tampak terdiam sesaat sampai nyawanya terkumpul kembali, namun setelah ia benar-benar sadar dari alam bawah sadarnya itu, ia merasa ada sesuatu yang bersifat keras yang saat ini tengah ia timpa. Dan karena dirinya penasaran, ia meraba sesuatu dibawahnya itu.
"Kasurku kok jadi keras gini?" gumam Maura dengan menekan-nekan sesuatu yang ia tiduri tanpa melihatnya terlebih dahulu.
"Tapi tunggu dulu. Kalau yang ada di bawahku saat ini adalah kasur, kenapa aku bisa naik turun kayak gini? Atau jangan-jangan---" Maura dengan cepat mendudukkan tubuhnya dimana saat ia sudah duduk, ia bisa melihat apa yang menjadi alas dirinya tidur dan duduk saat ini yang ternyata tubuh seseorang. Dan siapa lagi kalau bukan Erland lah si pemilik tubuh itu.
"Apa? Sudah puas kamu semalaman tidur di atas tubuhku?" tanya Erland.
"Hah? Apa kamu bilang? Aku tidur diatas tubuhmu semalaman? Yang benar saja? Jangan bohong ya kamu. Palingan kamu yang modus, toh ini juga lagi di kamarku. Jadi kamu ngaku saja deh, kamu mau mencari kesempatan dalam kesempitan kan?" ujar Maura. Walaupun begitu ia masih saja duduk diatas tubuh Erland.
"Cari kesempatan dalam kesempitan, matamu. Sudah jelas-jelas ini dikamarku juga. Lihat baik-baik disekitarmu kalau kamu tidak percaya jika yang kamu masuki saat ini adalah kamarku." Seperti yang dikatakan oleh Erland tadi, Maura kini mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling kamar tersebut dan benar saja jika dirinya saat ini bukan berada di dalam kamarnya melainkan ada di kamar laki-laki itu. Tapi ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi sampai ia masuk kedalam kamar tersebut karena ia benar-benar lupa akan kejadian semalam.
"Udah percaya kan sekarang? Dan sudah bisa di simpulkan kalau kamu lah yang semalam modus agar bisa dekat-dekat denganku," ujar Erland membalik ucapan Maura tadi. Dimana hal tersebut membuat Maura mencebikkan bibirnya.
"Mana ada begitu. Sorry to say ya, aku gak minat buat modus ke kamu," ujar Maura.
__ADS_1
"Halah ngakunya gak minat. Lupa apa yang sudah kamu lakukan tadi malam, hah? Masuk kedalam kamar orang tanpa permisi dan tiba-tiba naik ke atas tubuhku yang lagi tidur. Dibalikin ke kamar kamu, kamu balik lagi kesini mana pakai acara nangis-nangis segala lagi. Itu yang namanya gak minat buat ngelakuin yang namanya modus?" semprot Erland. Sudah tidak heran lagi jika Maura sudah sadar dari pengaruh alkohol pasti mereka akan ribut seperti ini.
Sedangkan Maura yang masih tak percaya dengan ucapan dari Erland pun ia menggelengkan kepalanya.
"Jangan mengarang cerita kamu ya. Jika aku melakukan hal itu kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali?"
Erland memutar bola matanya malas.
"Gimana kamu mau ingat kalau kamu semalaman mabuk berat. Makanya kalau mau minum itu tau takaran. Kalau bisa malah tidak sama sekali karena kamu kalau sudah mabuk sangat-sangat merepotkan. Dan kamu mau bukti kamu sendiri yang jalan ke kamarku kan? Aku akan kasih bukti itu biar matamu itu terbuka lebar dan tidak lagi mengatakan jika aku lah yang membawamu kedalam kamar ini," ujar Erland yang membuat Maura sempat terdiam saat Erland membahas soal mabuk. Namun sesaat setelahnya ia tersadar kembali dari keterdiamannya tadi lalu ia berkata, "Kalau kamu punya bukti keluarkan sekarang. Aku tidak takut dan aku yakin kamu lah yang membawaku masuk kedalam kamar ini bukan aku sendiri yang mau masuk kedalam."
"Oke, aku akan membuktikannya jika tuduhanmu itu tidak benar. Dan jika bukti itu sudah aku keluarkan dan kamu sudah salah menuduhku, aku akan memberikan hukuman kepadamu. Gimana kamu berani tidak? Kalau tidak berarti cemen," tantang Erland yang membuat Maura merasa tertantang.
"Oke aku akan menerima hukuman itu jika memang aku salah menuduh Tapi jika aku benar, kamu yang akan mendapat hukuman dariku," ujar Maura yang membuat Erland diam-diam tersenyum sangat tipis hingga tak terlihat oleh Maura.
"Deal." Erland menyodorkan tangannya yang langsung disambut oleh Maura.
__ADS_1
"Deal," balas Maura tanpa ada keraguan sedikitpun. Walaupun ia tak sadar dan tak ingat kejadian tadi malam saat ia mabuk tapi ia yakin kalau dirinya tidak mungkin masuk kedalam kamar itu tanpa paksaan sang suami.