PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 38


__ADS_3

Masih dalam posisi Maura yang berada di atas tubuh Erland, tangan laki-laki itu kini bergerak mengambil ponselnya lalu mulai membuka sebuah aplikasi yang memperlihatkan rekaman CCTV diseluruh rumah tersebut. Rumahnya sih memang sederhana tapi semua fasilitas sudah terjamin semuanya.


"Mana buktinya? Lama banget deh," ucap Maura yang membuat Erland berdecak.


"Sabar bisa gak sih," balas Erland dengan tangan dan matanya yang terus fokus kearah ponselnya itu.


Setelah beberapa saat akhirnya Erland telah menemukan rekaman adegan yang di tangkap oleh CCTV di kamar Erland.


"Nih lihat baik-baik ya." Erland menyerahkan ponselnya tadi ke Maura yang langsung di terima oleh perempuan tersebut.


Maura menatap layar ponsel Erland yang kini tengah memperlihatkan dirinya yang tampak nyelonong masuk kedalam kamar Erland begitu saja.


Flashback on


Maura yang tadi sempat tidur, perempuan itu kini membuka matanya kembali hanya berselang 5 menit setelah Erland keluar dari kamar perempuan tersebut.


Maura meraba-raba ranjang di sisi kanannya sebelum ia menolehkan kepalanya kearah samping dimana ia tak mendapati seseorang yang tadi ia minta untuk menemani tidur.


"Papa kemana?" tanyanya pada dirinya sendiri yang masih menganggap Erland adalah sang Papa.


"Ck, Papa pasti lagi dikamar berduaan dengan Mama. Gak, gak boleh. Maura tidak boleh membiarkan Papa hanya berdua dengan Mama. Maura harus menyusul Papa dikamarnya."


Maura yang sudah bertekad pun ia turun dari atas ranjangnya kemudian ia segara keluar dari dalam kamarnya. Ia tampak bingung kala melihat rumahnya berubah bentuk seperti saat ini tapi didalam pikiran Maura saat hal itu terjadi, ia berpikir jika dia dan kedua orangtuanya sudah berpindah rumah. Jadi karena hal itu ia tak memikirkan perubahan dari rumah itu. Ia justru melanjutkan aksinya untuk mencari kamar Erland.


Dan karena posisi kamar Erland hanya bersebelahan dengan kamar Maura, perempuan itu langsung bisa menemukan kamar tersebut. Tanpa mengetuk pintu kamar itu, Maura membukanya. Dimana saat ia telah masuk kedalam kamar itu, bibirnya mengerucut kedepan saat ia melihat tubuh Erland yang ia anggap sebagai Papanya itu tengah memeluk tubuh sang Mama. Padahal kenyataannya yang tengah di peluk Erland itu sebuah guling saja.


Tapi yang namanya Maura tengah mabuk, dengan perasaan dongkolnya ia berjalan mendekati Erland, melepaskan pelukan Erland dari guling tersebut. Setelah ia berhasil melepaskan pelukan Erland itu, ia mendorong guling tersebut sampai jatuh dari atas ranjang.


"Pasti Mama sakarang tengah kesakitan karena jatuh dari atas ranjang. Syukuri siapa suruh rebut Papa dari Maura, wlekk." Maura memeletkan lidahnya untuk meledek guling tersebut, lalu kemudian dirinya kini naik keatas ranjang Erland. Ia menatap wajah damai laki-laki itu sesaat sebelum ia naik keatas tubuh Erland yang tengah telentang dan menidurkan tubuhnya dalam posisi tengkurap diatas tubuh suaminya itu.


Dimana aksi dari Maura tadi berhasil membuat Erland terbangun akibat terkejut tadi.

__ADS_1


"Astagfirullah. Maura," ucap Erland saat dirinya menatap kearah atas tubuhnya dan menemukan sang istri disana.


Maura yang tadi sudah menutup matanya, mata itu ia buka kembali lalu ia menengadahkan kepalanya agar bisa melihat wajah Erland.


"Lho Papa kok bangun sih?" tanya Maura dengan wajah polosnya yang sangat membuat orang ingin sekali menampolnya.


"Ya gimana gak bangun kalau kamu tiba-tiba rebahan di atas tubuhku begini. Lagian kenapa kamu kesini sih? Udah bagus tadi tidur di kamar kamu sendiri," ujar Erland yang membuat Maura kembali mengerucutkan bibirnya.


"Maura tadi kan sudah bilang sama Papa kalau malam ini Maura mau tidur sama Papa. Tapi saat Maura tadi bangun, Papa malah tidak ada disamping Maura dan malah memilih untuk tidur sama Mama," ujar Maura.


"Astaga perempuan ini. Sejak kapan aku nikah sama Mama kamu, Maura. Astaga. Kamu makin lama makin ngelantur saja. Sudahlah kembali ke kamarmu sekarang juga." Maura menggelengkan kepalanya dengan tangan yang kini memeluk erat tubuh Erland.


"Tidak mau. Maura mau tidur sama Papa titik. Maura tidak akan membiarkan Papa tidur sama Mama!" teriak Maura yang membuat Erland memejamkan matanya sesaat.


"Baiklah begini saja. Aku antar kamu ke kamar."


"Tidak mau Papa. Maura tetap mau disini," tolak Maura mentah-mentah.


"Tidak. Kamu Papa Maura. Papa tega banget sih bohongi Maura dengan mengaku kalau Papa itu orang lain. Papa jahat!" ujar Maura dengan memukul-mukul dada Erland tak lupa air matanya yang kini mengeluarkan cairan bening serta isak tangis.


Erland kini mengusap wajahnya dengan kasar, oke fine dia akan mengalah lagi untuk malam ini.


"Baiklah-baiklah aku minta maaf sudah berbohong tadi. Tapi sebaiknya kamu ke kamarmu ya. Istirahat di sana saja," ujar Erland dengan merubah intonasi suaranya menjadi sangat lembut. Dimana hal tersebut berhasil menghentikan Maura dari aksi memukulnya tadi.


"Tapi Papa juga tidur disana." Erland hanya menjawabnya dengan anggukan kepala saja. Toh jika perempuan itu sudah tidur lagi, ia akan meninggalkan dia di dalam kamarnya seperti tadi.


Anggukan kepala dari Erland tadi langsung membuat senyum merekah Maura terlihat.


"Kalau begitu let's go Papa. Kita ke kamar Maura sekarang. Biar Mama disini sendirian." Erland yang penasaran siapa yang dimaksud Maura sebagai Mamanya pun ia kini mengikuti arah pandang Maura yang ternyata tertuju ke sebuah guling yang sudah tergeletak diatas lantai kamar tersebut.


"Lah dia menganggap guling itu sebagai Mamanya? Astaga, dia benar-benar gila," gumam Erland.

__ADS_1


"Papa! Ayo!" rengek Maura kala ia tak merasakan ada pergerakan dari Erland.


"Kamu oya ayo dari tadi tapi tidak pergi dari atas tubuhku mana bisa aku berdiri kalau begini caranya." Maura menatap posisi duduknya saat ini.


"Upss maaf Papa, Maura tidak ingat," ucap Maura sebelum perempuan itu turun dari atas tubuh Erland.


Dimana saat Erland sudah berdiri, tiba-tiba saja Maura menerjang tubuhnya dengan melompat hingga tangannya kini mengalung di leher Erland dan kedua kakinya ia lingkarkan di pinggang suaminya itu. Erland yang mendapat serangan mendadak itu pun tubuhnya hampir saja terhuyung ke belakang jika dia tadi tidak sigap menahan tubuhnya sendiri menggunakan tangannya sebagai tumpuan tubuhnya yang untungnya tangannya itu mendarat di ranjang empuk miliknya itu.


"Ayo Papa!" ucap Maura yang menyadarkan Erland dari keterkejutannya tadi.


Erland hanya bisa menghela nafas saja, dan dengan menggendong tubuh Maura ala koala ia membawa tubuh perempuan itu keluar dari dalam kamarnya.


Dimana beberapa beberapa saat setelahnya Maura yang sudah tidur kembali pun Erland buru-buru keluar dari dalam kamar istrinya itu. Tapi saat dirinya ingin masuk kedalam kamarnya sebuah tangan sudah melingkar indah di pinggangnya.


"Tuh kan Papa ninggalin Maura lagi," ucap si pemilik tangan tersebut. Dimana hal itu membuat Erland terkejut. Kenapa bisa Maura terbangun lagi dan ia tak menyadari pergerakan dari perempuan itu tadi?


Erland yang sudah tidak memiliki tenaga lagi pun ia melepaskan tangan Maura dari pinggangnya.


"Aku capek Maura dan lebih baik kamu kembali ke kamar kamu sekarang sana." Erland memberikan sedikit dorongan ke tubuh Maura.


"Tidak mau Papa." Erland tampak memejamkan matanya. Ia harus bertindak tegas sekarang. Dimana dengan niatnya itu ia kini terus mendorong tubuh Maura, menggiring tubuh perempuan itu hingga akhirnya masuk kembali kedalam kamarnya.


"Tidur sekarang dan jangan cari aku lagi!" ucap Erland sebelum ia menutup pintu kamar Maura.


Dan dengan berlari kencang Erland menuju ke kamarnya. Tak lupa ia mengunci kamar tersebut. Namun baru saja ia menghela nafas lega, tiba-tiba pintu itu terbuka dimana menampilkan wajah Maura dibalik pintu itu.


Erland yang sempat terkejut pun ia kini berjalan menuju ke arah Maura, melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya tanpa mengucapakan sepatah katapun.


Kejadian itu terus berulang, pintu kamar Erland yang sudah dipastikan terkunci tetap saja bisa di bobol oleh Maura entah dengan cara apa Erland pun juga tidak tau. Hingga akhirnya Erland yang terus berlari kesana kemari merasa lelah dan akhirnya ia menyerah. Membiarkan Maura mengintil di belakangnya seperti anak ayam. Dan saat dirinya merebahkan tubuhnya dengan posisi miring langsung di balik oleh Maura hingga telentang dan tanpa membiarkan Erland berubah posisi lagi, Maura langsung mendudukkan tubuhnya diatas tubuh Erland sebelum ia merebahkan tubuhnya diatas tubuh Erland persis seperti posisinya saat bangun tidur tadi. Dimana hal tersebut membuat Erland benar-benar pasrah dan membiarkan Maura melakukan apa yang perempuan itu inginkan.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2