PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 60


__ADS_3

Selagi menunggu Erland selesai menunaikan ibadah sholatnya, Maura berinisiatif sendiri untuk mempraktekkan apa yang sudah di ajarkan oleh Erland kemarin yaitu menanak nasi.


Menaruh ponsel serta peralatan sholatnya diatas meja makan, Maura mengikat asal rambut sepunggungnya itu menggunakan jedai yang sempat ia ambil bersamaan dengan ia mengambil ponselnya tadi.


Dengan penuh ketelatenan dan extra hati-hati Maura mulai melakukan kegiatannya itu step by step.


Sedangkan disisi lain, Erland yang sudah selesai melaksanakan ibadahnya, tanpa melepas atribut yang menempel di tubuhnya saat ini, ia langsung keluar untuk memanggil Maura agar istrinya itu masuk kembali ke kamarnya dan ia bisa mengajari tata cara sholat yang benar kepada Maura. Tapi saat dirinya membuka pintu kamar tersebut, ia mengedarkan pandangannya namun tak kunjung ia menemukan sosok Maura disana.


"Lah orangnya hilang kemana?" gumam Erland bertanya. Tapi tak urung dirinya kini berjalan menuju ke kamar Maura, siapa tau istrinya itu malah tidur kembali.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Erland langsung membuka pintu kamar tersebut dan lagi-lagi ia tak menemukan keberadaan Maura.


"Di kamar juga gak ada," ucap Erland sembari menutup kembali pintu kamar tersebut.


Erland terus mencari keberadaan istrinya itu di dalam rumah tersebut hingga pencariannya terhenti kala dirinya masuk kedalam ruang dapur.


Ia bisa melihat dengan jelas Maura yang tengah mempraktekkan apa yang kemarin ia ajarkan dengan bibir komat-kamit. Bukan, bukan karena dirinya sebal dengan Erland, tapi dia mencoba mengulang ucapan yang Erland kemarin katakan saat mengajarinya.

__ADS_1


Erland yang melihat hal itu tampak tersenyum. Setidaknya ada sedikit kemajuan dari diri Maura. Perempuan itu entah kenapa dari kemarin tidak membantah ucapannya dan tidak membuat masalah yang membuat kepala Erland hampir pecah. Tapi jujur saja, saat-saat seperti inilah yang Erland tunggu. Dan dirinya hanya perlu kembali bersabar untuk mengajari Maura banyak hal yang belum bisa istrinya itu lakukan. Terutama Erland mau jika Maura menjadi istri sholehah untuknya dan menjadi madrasah terbaik untuk keturunannya. Perlu kalian ketahui saja, walaupun Erland tak kalah bengis dengan saudara-saudaranya tapi kalau urusan agama, dia yang cukup pandai dari mereka. Ya walaupun dulu dia sempat tidak tertarik sama sekali dengan sang pencipta tapi semuanya seakan berubah total setelah dirinya melewati pengalaman hidup yang membuat dirinya hampir terpuruk. Dimana di fase paling terendahnya saat dia dikhianati oleh kekasihnya dulu. Dan disitulah Erland perlahan mulai berubah, semakin mendekatkan dirinya kepada sang pencipta bahkan dirinya menjomblo pun karena dia tidak ingin menambah dosa. Dan karena itulah saat bertemu dengan Maura, dia tidak meminta perempuan itu menjadi pacarnya tapi langsung menjadi istrinya. Alasan itu juga Erland melarang kata perceraian di rumah tangganya itu karena ia sangat yakin jika Maura bisa berubah seiring waktu berjalan. Bahkan dia tidak berniat untuk mencari perempuan lain walaupun didalam perjanjian pernikahan mereka tertulis jika mereka boleh menikah lagi. Satu saja sudah cukup untuk Erland dan Erland berharap perjanjian itu hanya sebuah tulisan semata saja dan tak akan pernah terjadi di kehidupannya.


Saat Erland tengah melamun, Maura yang sudah selesai dengan aktivitasnya, ia tersenyum sangat puas dan saat dirinya membalikkan badannya, ia sempat terkejut melihat ada Erland yang tengah berdiri tak jauh darinya.


"Astaga, Er. Kamu ngagetin aja. Udah selesai sholatnya?" tanya Maura sembari mendekati ponsel dan peralatan sholatnya itu.


Erland yang baru tersadar dari lamunannya itu ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilayangkan oleh Maura. Dimana anggukkan itu pun juga dibalas dengan anggukan kepala oleh Maura.


"Oh ya, kamu tadi ngapain?" tanya Erland padahal tanpa ia tanya pun dia tadi sudah lihat apa yang tengah Maura lakukan.


"Oh itu, aku tadi sedang menanak nasi. Semoga saja kali ini hasilnya tidak gagal seperti kemarin lagi," ujar Maura yang membuat Erland tersenyum sembari tangannya bergerak untuk mengacak rambut Maura kala istrinya itu telah berada di hadapannya.


"Hmmm semoga saja. Oh ya Er, kamu jadikan mau ngajarin aku sholat?" tanya Maura yang terlihat jelas ia sangat antusias sekali. Entah kenapa dirinya bisa seantusias saat ini padahal dulu saja ia sangat malas jika pelajaran agama. Tapi kali ini ia merasakan ada yang berbeda dengannya. Apa mungkin karena yang mengajar bukan lagi seorang guru tapi seorang laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya? Atau mungkin Tuhan sudah mengetuk hatinya agar kembali mengingat sang pencipta? Hmmmm entahlah.


Lagi dan lagi Erland tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya. Dimana hal itu juga membuat Maura tersenyum. Namun senyumannya seketika luntur kala ia mengingat sesuatu.


"Tapi aku kan lagi halangan Er. Memangnya boleh belajar agama hmmmm maksudnya belajar tata cara sholat yang benar?" tanya Maura khawatir.

__ADS_1


"Tentu saja boleh sayang. Kita kan hanya belajar bukan mempraktekkan. Mungkin aku yang akan mempraktekkan kamu tinggal lihat saja kalau perlu kamu rekam biar kamu putar terus apa yang sudah aku ajarkan ke kamu. Entah itu gerakannya atau doanya. Kamu paham?" tanya Erland tak lupa dengan ia mengusap lembut kepala Maura bahkan tak segan-segan ia tersenyum kearah istrinya itu.


Maura yang mendapat panggilan sayang untuk yang kedua kalinya dan perlakuan lembut dari Erland, ia tampak menundukkan kepalanya dengan semburat merah di kedua pipinya.


"Astaga nih jantung baperan banget. Cuma di panggil sayang sama di elus-elus aja udah dag dig dug gak karuan seperti ini. Mana nih muka rasanya panas semua lagi. Arkkhhhhhhh! Gak, gak bisa aku diginiin. Huwaaaaa mau pingsan rasanya. Ya Tuhan!" teriak Maura histeris di dalam hatinya.


Erland yang melihat keterdiaman dari sang istri pun ia menepuk dua kali puncak kepala Maura dengan pelan sembari berkata, "Kamu kenapa diam saja, hmmm? Gak jadi belajarnya?"


Pertanyaan dari Erland tadi membuat Maura langsung menegakkan kepalanya.


"Ahhhh gak, gak papa. Belajarnya tentu jadi dong. Dimana kita mau belajar?"


"Di kamar---"


"Oh di kamar oke. Kita kesana," ucap Maura memutus ucapan dari sang suami. Dan setelahnya Maura bergegas menuju ke kamarnya dengan jalan yang sangat lebar. Ketahuilah, Maura saat ini tengah salah tingkah setengah mati dan sebisa mungkin ia menghindari Erland untuk sesaat agar suaminya itu tak menyadari jika dirinya tengah salting. Bisa malu tingkat kuadrat kalau sampai Erland menyadari hal itu.


Saat Maura ingin membuka pintu kamarnya, suara Erland menghentikan pergerakan tangannya tersebut.

__ADS_1


"Kita belajarnya bukan di kamar kamu, Ra. Tapi di kamarku."


"Ohh dikamar kamu. Oke." Tanpa menatap kearah Erland, Maura bergegas menuju ke kamar Erland lalu masuk kedalam ruangan tersebut, meninggalkan Erland yang tengah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman dibibirnya.


__ADS_2