
"Tapi aku maunya kita pisah. Aku gak mau hidup sama pembohong kayak kamu," ujar Maura yang sangat sulit untuk memaafkan Erland terlebih kata seseorang yang tadi datang menemui dirinya, orang itu berkata jika Erland sudah memiliki calon istri yang di pilihkan oleh kedua orangtua laki-laki itu sebelum mereka menikah. Yang artinya dirinya sudah menggagalkan perjodohan itu dan dia juga merasa jika sudah melukai orang yang telah dijodohkan dengan Erland, seperti yang di katakan oleh orang itu tadi. Bahkan menurut perkataan seseorang tersebut, perempuan yang ingin di jodohkan oleh Erland sampai depresi dan berniat untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Orang tadi juga sempat memohon kepada Maura jika mereka harus berpisah karena kalau tidak, perempuan yang di jodohkan dengan Erland akan terus mencoba mengakhiri hidupnya dia sampai dia berhasil merenggut nyawanya sendiri.
Maka dari itu Maura sebenarnya sangat dilema. Dirinya memang sangat sakit hati saat tau jika Erland telah berbohong dengannya, tapi jujur saja di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia tak ingin berpisah dengan Erland. Ia ingin sekali egois dengan mempertahankan Erland untuk tetap bersamanya, tapi dia juga tidak mau menjadi alasan seseorang mengakhiri hidup dia sendiri, yang berarti secara tidak langsung dirinya si pembunuh itu. Dengan cara mengizinkan Erland menikah kembali, itu bukan solusi yang tepat karena setiap hari pasti dia akan makan hati. Jadi lebih baik Maura memilih untuk mundur saja. Sakit memang tapi ia yakin rasa sakit itu hanya bertahan sebentar saja.
Sedangkan Erland, ia terus menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak mau! Aku tau aku salah Maura. Aku mengakui itu. Tapi aku mohon. Aku mohon maafkan aku, hukum aku dengan cara apapun tapi jangan dengan perpisahan. Aku tidak akan sanggup, sayang. Kamu sudah melekat dengan diriku. Aku tidak bisa. Aku tidak mau! Hiks, maaf maaf maaf. Maafin aku, sayang. Maafkan aku!" ujar Erland dengan suara bergetar bahkan tak urung air matanya keluar dari mata elang laki-laki itu.
Maura yang mendengar nada suara Erland dan merasakan ada cairan bening yang membasahi lehernya. Ia berhenti memberontak, mengerjabkan matanya berkali-kali untuk menyadarkan dirinya sendiri, apakah Erland memang sekarang tengah menangis? Atau hanya sekedar ilusinya saja?
Maura semakin menajamkan pendengarannya, dan kala ia mendengar suara Erland yang terus menerus meminta maaf dengannya dengan suara lirih, ia ternganga, sebelum ia dengan pergerakan cepat dan sedikit kasar melepas pelukan Erland. Dengan memegang kedua lengan Erland, ia menatap wajah Erland yang sudah memerah itu dengan air mata yang terus menetes membasahi pipi Erland.
"Er, kamu nangis?" entah apa yang ada dipikiran Maura saat ini. Padahal sudah sangat jelas ia melihat kondisi Erland saat ini, ia malah bertanya.
Erland tentunya tak menjawab ucapan dari Maura tadi. Ia justru meluruhkan tubuhnya, bersimpuh tepat di depan Maura.
__ADS_1
"Aku mohon maafkan aku. Aku mohon kamu jangan tinggalkan aku. Aku mohon kamu jangan meminta kita untuk berpisah. Aku mohon izinkan aku untuk menebus semua apa yang sudah aku lakukan kepadamu. Aku mohon kasih kesempatan aku. Aku mohon maaf kan aku. Maafkan aku," ujar Erland. Ia tak peduli jika harga dirinya saat ini ia pertaruhkan. Karena apapun akan ia lakukan agar rumah tangga terselamatkan. Dan baru kali ini Erland melakukan hal tersebut di depan seorang wanita, yang mungkin jika mereka benar-benar berpisah, Erland akan menjadi gila. Dan tak akan pernah kenal dengan yang namanya perempuan lagi. Karena jujur saja tanpa disangka-sangka Maura lah penyembuh luka didalam hatinya yang pernah menyebabkan dia sampai trauma.
Tentunya apa yang Erland lakukan itu membuat Maura terkejut setengah mati. Dan dengan cepat ia memegang kembali kedua pundak Erland, mencoba untuk membantu suaminya itu berdiri dari posisi bersimpuhnya.
"Apa yang kamu lakukan! Berdiri sekarang!" ujar Maura tak suka Erland terlihat lemah seperti ini. Apalagi saat ia tak bisa membuat tubuh Erland kembali berdiri.
Erland kini menengadahkan kepalanya, sehingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan Maura.
"Biarkan aku tetap seperti ini. Sebelum kamu menarik permintaanmu tadi. Aku tidak mau kita berpisah, Ra. Aku tidak mau," ujar Erland dengan bibir yang maju beberapa senti kedepan, bersiap menangis kembali.
"Baiklah-baiklah. Tapi kamu berdiri sekarang juga," pinta Maura pada akhirnya. Biarkan dirinya saat ini egois dengan mempertahankan Erland dan rumah tangganya. Karena setelah ia meyakinkan dirinya sendiri dan mencari jawaban apakah perpisahan adalah pilihan yang tepat? Ternyata ada keraguan yang sangat besar di dalam hatinya untuk menjauh dari Erland. Jadi ia memilih untuk mempertahankan Erland dan masalah ucapan dari seseorang yang bertemu dengannya tadi, mungkin ia akan bicarakan ke Erland. Karena ia yakin suaminya itu pasti mempunyai solusi untuk memecahkan masalah tersebut.
"Baiklah apa? Yang jelas lah? hiks," tutur Erland.
Maura kembali menghela nafas sesaat sebelum ia kembali berucap, "Baiklah aku tarik kata-kataku tadi yang ingin berpisah dengan kamu."
__ADS_1
Ucapan dari Maura tentunya membuat hati Erland langsung lega seketika. Bahkan bibirnya yang manyun kini tertarik keatas, membentuk sebuah senyuman.
"Tapi kamu tetap akan aku hukum. Supaya aku bisa benar-benar memaafkanmu kesalahan yang kamu lakukan ini." Tanpa pikir panjang Erland menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menjalankan hukuman yang kamu berikan," ucap Erland.
"Ya emang harusnya gitu. Jadi tunggu apa lagi. Kamu sudah dapat apa yang kamu mau kan, jadi berdiri sekarang sebelum aku berubah pikiran," ujar Maura yang membuat Erland dengan cepat berdiri dari posisi bersimpuhnya tadi. Dan saat ia sudah berdiri, ia langsung menerjang tubuh Maura, sampai membuat tubuh istrinya itu mundur beberapa langkah kebelakang. Untung saja Maura bisa menyeimbangkan tubuhnya, jika tidak sudah di pastikan mereka akan jatuh bersama.
Disela-sela pelukan Erland, laki-laki itu berkata, "Terimakasih sayang terimakasih."
Maura yang mendengar kata terimakasih yang terus Erland ucapkan tak urung membuat dirinya tersenyum. Lalu dengan membalas pelukan dari Erland, Maura berucap, "Sama-sama. Tapi ada satu hal yang perlu kamu jelaskan denganku."
Erland menganggukkan kepalanya, "Aku akan menjelaskan semuanya yang ingin kamu tau tentangku. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu. Aku akan selalu terbuka denganmu. Aku berjanji akan hal itu."
"Aku pegang janjimu itu. Tapi jika kamu melanggar, aku tidak akan segan-segan menggugat cerai kamu," tutur Maura tentunya dengan sebuah ancaman. Ucapan dari Maura tadi diangguki setuju oleh Erland, karena tentu saja Erland tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama.
__ADS_1
~Kasih tau kalau ada typo. Terimakasih 🙏~