PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 105


__ADS_3

Sepasang suami-istri baru itu kini keduanya tengah berada di ruang tamu setelah menyelesaikan sarapan mereka tentunya kedua orang itu tak mandi namun langsung menikmati waktu luang mereka kala hari libur bagi Erland tiba.


Erland merebahkan tubuhnya menjadikan paha Maura sebagai bantalan kepalanya.


Dan dengan menatap wajah Maura dari bawah, ia berkata, "Ra, maaf aku sudah membuat kamu khawatir kemarin."


Maura yang sedari tadi menatap kearah televisi didepannya, tatapan matanya beralih menatap Erland dengan senyuman dibibirnya.


"Bukannya kamu bilang kemarin kalau jangan bahas masalah kemarin. Jadi sudah ya jangan bahas lagi," ucap Maura.


"Tapi aku---" Bibir Erland kembali terkatup saat jari telunjuk Maura menempel di bibirnya.


"Jangan bilang apa-apa lagi. Sudah cukup," ucap Maura. Dimana ucapannya itu diangguki oleh Erland yang membuat Maura kini mengalihkan pandangannya lagi menatap kearah televisi dihadapannya itu.


Sedangkan Erland, laki-laki itu memilih untuk menelusupkan wajahnya di perut Maura saat ia merasakan usapan lembut di kepalanya yang tentunya ia dapatkan dari sang istri tercinta.


Beberapa saat keduanya tak ada yang angkat suara hingga akhirnya Maura mulai berbicara.


"Er," panggil Maura yang dibalas dengan deheman oleh Erland saja.


"Aku mau bilang sesuatu ke kamu," ujar Maura yang diangguki oleh Erland sembari berkata, "Katakan apa yang mau kamu ucapkan."


"Hmmm Er, aku hmmm." Maura mengigit bibir bawahnya. Diantara malu dan juga takut Erland nanti akan marah jika ia mengatakan apa yang ingin ia katakan ini.

__ADS_1


"Aku apa sayang? Katakan saja tidak apa-apa," ujar Erland.


"Aku."


"Aku?" beo Erland yang gemas sendiri melihat Maura yang tak juga melanjutkan ucapannya. Bahkan wajahnya yang tadi sempat ia sembunyikan di perut Maura sudah ia perlihatkan kembali.


"Aku sudah memutuskan kalau aku akan memenuhi permintaan kamu waktu itu." Erland mengerutkan keningnya. Permintaan? Memangnya dia pernah minta apa dengan Maura? Perasaan ia tak pernah minta apa-apa atau mungkin dia lupa. Dan untuk membantu dirinya mengingat, Erland lebih baik bertanya saja kepada orang yang bersangkutan.


"Permintaan tentang?" tanya Erland.


"Tentang kamu yang minta aku untuk tidur satu ranjang dan satu kamar denganmu." Erland yang mendengar hal tersebut pun ia baru ingat akan permintaannya yang sempat gagal itu. Tapi walaupun begitu ia juga sempat terkejut akan ucapan Maura tadi.


"Kamu yakin mau melakukan permintaanku itu?" Tanpa ragu sedikitpun Maura menganggukkan kepalanya. Toh ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri jika Erland sudah kembali, ia akan berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka berdua agar tidak terjadi kesalahpahaman untuk yang kesekian kalinya.


"Kamu tau Ra, kalau kamu sudah mensetujui dan melakukan apa yang aku minta, maka kamu tidak boleh berubah pikiran lagi nantinya. Jadi lebih baik kamu pikirkan matang-matang lagi tentang hal itu. Jangan sampai ditengah jalan nanti kamu akan menyesal," ujar Erland. Ia kan juga tidak memaksa Maura untuk melakukan permintaannya itu, jadi daripada dirinya sudah diberi harapan dan berakhir dia dihempaskan lagi lebih baik ia benar-benar memastikan supaya tidak ada kekecewaan didalam hatinya.


Sedangkan Maura, ia menggelengkan kepalanya sembari berkata, "Tidak. Aku tidak akan pernah menyesal. Keputusanku ini juga sudah aku pikirkan secara matang."


"Kamu benar-benar yakin?" tanya Erland kembali memastikan.


"Iya, sayang. Aku sangat-sangat yakin." Erland tersenyum lalu setelahnya ia kembali memiringkan tubuhnya menghadap kearah perut Maura dan menenggelamkan wajahnya di perut rata istrinya itu sembari berucap, "Terimakasih dan aku harap kamu tidak berubah pikiran."


"Tidak sama sekali," balas Maura dengan tangan yang bergerak untuk mengelus rambut sang suami.

__ADS_1


Dimana usapan lembut itu membuat Erland nyaman sehingga lama kelamaan ia terlelap dalam pangkuan Maura.


Maura yang merasakan deru nafas Erland yang teratur pun, lagi-lagi ia tersenyum. Dan dengan membiarkan Erland tertidur diatas pahanya, Maura perlahan mengambil ponselnya sendiri yang sedari tadi ia letakkan diatas mejanya.


Jari lentiknya itu bergerak menuju ke aplikasi kamera untuk memotret Erland saat ini.


"Gemes," gumam Maura kala dirinya melihat hasil jepretannya tadi. Dimana hasil itu ia akan jadikan sebagai wallpaper ponselnya. Ia tak peduli jika ada yang bilang dirinya bucin atau sejenisnya yang terpenting dia sekarang bahagia bersama suaminya yang super duper tampan dan sabar itu. Jadi ia tak akan memperdulikan omong orang lain dari sekarang. Biarkan saja.


Setelah ia mengganti wallpaper ponselnya itu, ia teringat sesuatu. Ingatannya itu saat ini tertuju ke salah satu ucapan Edrea kemarin jika Erland telah kembali kalau bisa dirinya memberikan apa yang di inginkan oleh Erland dan salah satunya adalah dengan memberikan tubuhnya atau hak Erland kepada laki-laki itu.


Maura tampak mengigit bibirnya. Apakah ia harus mengikuti ide dari sang adik ipar itu atau tidak? Kalau dia mengikuti ide tersebut, ia harus memulai darimana? Masak iya dia akan bertingkat seperti wanita gatal di luar sana yang ada Erland nanti akan ilfil dengan dia. Tidak, tidak Maura tidak mau Erland ilfill dengan dirinya. Tapi apa yang harus ia lakukan jika dirinya ingin melakukan ide dari Edrea itu? Sumpah demi apapun Maura yang tidak memiliki pengalaman apapun diatas ranjang saat ini ia seperti orang bodoh hanya karena ia memikirkan cara menarik dimata Erland. Dan selama ia pernah menonton film dewasa dan juga berbeda kali melihat secara langsung orang yang tengah berhubung saat di luar negeri dulu. Tapi sejauh yang ia tau, yang memulai duluan adalah sang laki-laki bukan si perempuan. Jadi masalah ranjang Maura masih remidi.


"Apa aku tanya ke Edrea saja ya?" tanya Maura pada dirinya sendiri sembari mengetuk-ngetukkan ponselnya ke dagunya.


Tapi sesaat setelahnya, ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak-tidak. Gila saja aku bertanya masalah begituan dengan Edrea. Yang ada aku nanti digoda habis-habisan sama dia. Atau aku tanya sama Mama aja ya?" Lagi dan lagi Maura menggelengkan kepalanya.


"Mama sebelas dua belas dengan Edrea. Jadi bertanya dengan Mama bukan solusi yang tepat," ujar Maura.


"Kalau begitu aku harus apa dong? Apa aku cari situs dewasa yang memperlihatkan si perempuan yang memulai duluan? Ahhhh mungkin itu ide yang bagus," sambungnya. Kemudian tangannya kini bergerak ke situs dewasa itu mencari film ++ yang akan ia jadikan referensi dirinya nanti jika dirinya benar-benar mantap akan melakukannya.


Dan untung saja saat ia berucap tentang masalah ranjang itu, Erland tengah tidur sangat nyenyak jika saja tidak, mungkin Maura akan di tertawai oleh Erland atau malah laki-laki itu langsung hilang kendali sama seperti malam lalu yang berakhir penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2