
Tak ada kata lelah untuk Maura saat ini, sudah hampir 30 menit lamanya ia kembali memutari area pasar malam itu untuk kesekian kalinya. Kali ini ia hanya sendiri karena Erland, laki-laki itu ia suruh untuk istirahat saja. Ia merasa kasihan jika suaminya terus mengikuti dirinya. Dan berakhir lah ia jalan-jalan sendiri tanpa tau jika Erland di tempatnya yang sebelumnya tengah resah menunggu Maura kembali. Apalagi saat ia mencoba menghubungi Maura, hanya suara operator yang menyahuti panggilannya itu, memberitahu jika nomor yang ia tuju tidak aktif. Dengan perasaan khawatir yang dominan, Erland sampai tak bisa berpikir jernih lagi. Ia segara bangkit dari posisi duduknya dan segera meninggalkan tempat yang ia gunakan untuk istirahat sejenak tadi guna mencari keberadaan Maura. Padahal kalau dia sedang tidak khawatir dan pikirannya itu masih jernih, ia bisa tetap duduk manis di tempatnya dan mencari tahu informasi dimana istrinya itu berada, sedang apa dia dan kenapa tidak segara kembali menemuinya lewat salah satu anak buahnya yang mengikuti perginya Maura. Tapi sayang seribu sayang, pikiran untuk menghubungi salah satu anak buahnya itu tak terlintas di pikiran Erland.
Sedangkan orang yang menjadi sumber kekhawatiran Erland, dia saat ini tengah menunggu pesanannya siap. Perempuan itu menunggu sebuah makanan yang disebut jasuke itu dengan sesekali melahap makanan yang berada di tangannya. Tak lupa matanya terus berkeliling, mencari target makanan yang akan ia beli selanjutnya.
"Ini mbak makannya," ucap si penjual yang membuat Maura menolehkan kepalanya kearah depan. Dan dengan senyum yang mengembang Maura menerima makanan tersebut tak lupa ia membayar makanan tadi sembari berkata, "Terimakasih."
Lalu setelahnya ia melanjutkan aksinya selanjutnya, tapi sebelumnya ia menyerahkan satu cap jasuke tadi kearah salah satu anak buah Erland yang sedari tadi ia jadikan sebagai bodyguard dadakan untuknya.
Anak buah Erland itu hanya bisa pasrah di jadikan kacung oleh nyonyanya sendiri. Mau protes pun percuma karena yang jelas ia tidak memiliki hak dan jika ia melakukannya berarti ia akan kehilangan pekerjaannya. Dan ia tidak mau hal itu terjadi. Jika dirinya dipecat, dimana lagi ia akan mencari bos sebaik Erland? Jadi dirinya memilih pasrah saja dengan apa yang tengah terjadi kepada dirinya.
"Wahhhhh disini juga ada yang jual burger juga. Mau coba ahhhh kayaknya enak," ujar Maura lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya, mendekati stand makanan itu. Meninggalkan para anak buah Erland yang saat ini tengah melongo tidak percaya. Mereka kita jasuke tadi sebagai makanan penutup yang akan Maura beli, tapi ternyata siapa sangka jika perempuan yang merupakan istri bos mereka malah kembali membeli makanan lain tanpa menghabiskan dulu makanan yang tadi sempat ia beli.
"Terhitung sudah 12 kantong plastik yang ada di genggaman kamu yang sama sekali belum di sentuh oleh nyonya Maura. Dan beliau sudah ingin membeli makanan lagi. Saya penasaran apakah Nyonya Maura nantinya akan menghabiskan makanan ini semua tanpa sisa sedikitpun atau justru beliau membeli apapun yang ia mau karena beliau frustasi sebab terlalu banyak uang?" ucap salah satu anak buah Erland yabg berpawakan tinggi dengan rambut blondenya itu, sudah dipastikan jika laki-laki tersebut bukan orang asli dari negara Indonesia melainkan dari luar negeri.
__ADS_1
"Entahlah saya juga tidak tau. Kalaupun nanti memang nyonya Maura bisa menghabiskan semuanya berarti dia hebat dan makanan ini tidak terbuang sia-sia. Tapi jika Nyonya Maura melakukan ini hanya karena beliau bingung menghabiskan uangnya, maka tanpa beliau sadari beliau sudah membantu pedangan disini melarisi dagangan mereka. Semuanya bisa kita ambil positifnya jika memang apa yang kamu katakan tadi benar adanya. Dan daripada kita menebak-nebak, lebih baik kita kembali ikuti nyonya Maura. Jangan sampai beliau kenapa-napa jika kita semua tidak mau kehilangan pekerjaan kita," ujar anak buah Erland yang dijadikan babu oleh Maura tadi. Lalu setelahnya mereka berjalan mendekati Maura kembali. Namun baru saja melangkahkan kaki mereka, tatapan mata mereka menajam kala melihat ada seorang laki-laki yang berdiri disamping Maura. Dan tak berselang lama, mereka menangkap pergerakan di bibir laki-laki itu yang artinya laki-laki itu tengah mengajak Maura berbicara.
Sedangkan Maura yang tadi menatap ke sekelilingnya, ia dibuat terkejut saat tiba-tiba ia mendengar suara seorang laki-laki tepat disampingnya, terlebih orang itu mengenal namanya. Maura yang penasaran karena suaranya juga cukup tidak asing bagi telinganya, ia menoleh dan mendapati seorang pria tampan yang sangat ia kenali tengah tersenyum kepadanya.
"Long time no see, Maura," sapa laki-laki itu kembali dengan mengulang ucapannya sebelumnya.
Maura yang tadi melongo tak percaya kini ia mengerjabkan matanya.
"Radit?" ucap Maura memanggil nama laki-laki tersebut.
Tanpa basa-basi lagi Maura membalas uluran tangan dari laki-laki yang bernama Radit itu. Laki-laki yang pernah ia kagumi saat masa putih abu-abu dulu, mungkin orang-orang zaman sekarang menyebutnya sebagai crush. Dan tidak main-main, Maura mengagumi Radit selama 3 tahun, namun selama itu pula Maura tidak memiliki kesempatan untuk bersanding dengan laki-laki tertampan di sekolahnya dulu karena Maura tidak berani mengungkapkan isi hatinya dan berakhir ia menjadi pengagum rahasia seorang Raditya. Dan kenapa mereka bisa saling mengenal satu sama lain jika Maura seorang pengagum rahasia, maka jawabannya karena Maura dulu masuk kedalam organisasi OSIS yang di ketuai oleh Radit sendiri.
Dengan senyum canggung Maura kini berkata, "Aku baik. Gimana dengan kamu, sendiri? Baik kan?"
__ADS_1
Kedua tangan yang saling bertemu tadi kini terlepas setelah Maura membalas ucapan Radit tadi.
"Ya seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja. Oh ya kamu sama siapa disini?" tanya Radit dengan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ia tak menemukan seorangpun di dekat Maura.
Saat Maura ingin menjawab, suara Radit lebih dulu masuk kedalam indra pendengarannya.
"Jangan bilang kamu kesini sendirian. Astaga Maura, kamu ini tidak berubah ya sejak dulu suka banget jalan sendiri, malam-malam pula. Ini sudah kesekian kali aku katakan kalau anak perempuan itu tidak boleh pergi sendiri tanpa ada seseorang yang mendampingi dia apalagi di malam hari ini seperti ini karena sangat bahaya," ujar Radit tak habis pikir dengan Maura.
Sedangkan Maura, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan cengiran dibibirnya.
"Kamu salah paham Radit. Sebenarnya aku kesini itu tidak sendirian, tapi aku kesini sama su---"
"MAURA!"
__ADS_1
Teriakan menggelegar itu memutus ucapan Maura bahkan perempuan itu kini menolehkan kepalanya kearah sumber suara tak terkecuali dengan Radit yang turut menatap kearah seorang laki-laki yang kedua tangannya terkepal di samping badannya. Kobaran api amarah pun bisa ia lihat dari mata laki-laki tersebut. Tapi satu yang membuat Radit bingung, kenapa laki-laki itu menatap penuh permusuhan kepada dirinya padahal ia saja tidak kenal siapa laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya itu bahkan mungkin ini pertama kalinya mereka bertemu. Dan ia juga merasa tidak pernah membuat masalah dengan dia tapi kenapa tatapan itu di tujukan untuknya? Entahlah Radit juga tidak mengerti dengan laki-laki itu.