
Laki-laki yang tadi meneriaki nama Maura dan tak lama adalah Erland, ia kini melangkah lebar mendekati Maura juga laki-laki yang tak ia ketahui siapa laki-laki itu.
Maura yang tadi tersenyum dan ingin menyapa Erland, niatnya itu ia hentikan juga senyuman yang tadi ia ciptakan di bibirnya luntur seketika kala melihat wajah Erland yang tampak menyeramkan. Selama ia hidup bersama dengan Erland, baru kali ini ia melihat wajah Erland yang benar-benar menyeramkan seperti ini. Di tambah aura Erland yang membuat siapa saja bergidik negri. Tapi Maura tidak tau hal apa yang membuat suaminya itu memperlihatkan sisi mengerikan seperti ini? Apakah suaminya itu tengah marah kepadanya? Kalau iya, alasannya apa? Dan apa kesalahan yang tengah ia perbuat ini sangat fatal. Karena sejak dulu Erland selalu menjaga sikapnya walaupun semarah apapun dia ya walaupun ada satu momen Erland marah besar kepadanya tapi sepertinya kemarahan waktu itu tidak sebesar sekarang.
Erland yang sudah berdiri di hadapan sang istri dan Radit, ia menatap tajam Radit sebelum tatapan matanya berpindah kearah sang istri.
"Pulang sekarang!" ucapan penuh penekanan itu membuat Maura mati kutu, ia tak bisa berkutik sama sekali selain menganggukkan kepalanya. Tapi sebelum ia pergi, dirinya menatap kearah Radit kembali. Tidak enak bukan kalau tidak berpamitan dengan orang yang ia temui tidak sengaja tadi terlebih ia kenal orang itu.
"Radit, aku pulang dulu ya. Ahhhh satu lagi, anu ini aku mau lanjutin ucapanku tadi kalau aku kesini bareng sama suami aku dan ini orangnya," ucap Maura dengan menunjuk kearah Erland tapi ia tak berani menatap wajah suaminya itu yang berada di mode galak.
"Oh jadi kamu kesini bareng suami kamu? Baguslah karena akhirnya kamu gak pergi sendirian seperti dulu. Tapi tunggu, kamu nikahnya kapan? Kenapa tidak memberiku undangan pernikahanmu?" Tanya Radit yang semakin membuat Erland kebakaran jenggot. Tidak bisakah laki-laki itu tidak terlalu basa-basi dengan istrinya? Yakinlah Erland saat ini ingin mencabik-cabik wajah laki-laki yang sudah berani mengobarkan api cemburu di dalam tubuhnya, tapi sayangnya ia tak bisa melakukan hal itu karena saat ini dirinya berada di tempat umum yang tentunya akan langsung mencoreng nama baik dirinya, dan mungkin nama baik keluarganya juga nama baik keluarga Maura juga ikut tercoreng jika ia melakukan hal keji itu.
Maura yang mendapat pertanyaan pun ia menggigit bibir bawahnya dengan mata yang diam-diam melirik kearah Erland.
Saat Maura ingin menjawab pertanyaan dari Radit tadi, suara Erland lebih dulu terdengar, "Tidak perlu basa-basi. Lebih baik anda segera jauhi istri saya sebelum saya berbuat yang tidak-tidak dengan anda."
Ucapan itu tentunya Erland berikan untuk Radit.
"Saya hanya bertanya saja. Memangnya apa salah saya? Dan yang saya tanyai juga Maura, sepertinya ia juga tidak keberatan jika saya bertanya. Iya kan Maura?" ucap Radit dengan mengalihkan pandangannya dari Erland ke arah Maura.
__ADS_1
Maura hanya bisa diam dengan menundukkan kepalanya. Mau menimpali ucapan dari Radit, ia terlalu takut dengan Erland. Jadi dirinya memutuskan untuk, "Hmmm Radit. Sepertinya aku harus segara pergi. Bye semoga ket--- ahhh semoga tidak bertemu lagi."
Maura tentunya merubah perkataanya di akhir kalimat perpisahan tadi karena tatapan tajam milik Erland. Lalu tanpa menunggu Erland memerintahkan dirinya segara pergi untuk kedua kalinya, Maura langsung ngacir pergi dari hadapan suami dan Radit.
Tapi belum jauh ia meninggalkan tempat kedua laki-laki itu berada, teriakan Erland masuk kedalam telinganya.
"Jangan lari-lari! Jalan pelan-pelan!" Ucapan itu seakan perintah yang memang harus Maura lakukan, sehingga dirinya yang sempat berlari tadi langsung berjalan biasa menuju pintu keluar area pasar malam tersebut, meninggalkan Erland yang tengah menatap tak santai kearah Radit.
"Saya peringatkan sekali lagi, jahui Maura jika anda tidak ingin rugi sendiri nantinya. Jangan pernah usik istri saya dan jika kalian bertemu lagi, jangan pernah bertegur sapa, anggap saja kalian tidak pernah bertemu sebelumnya! Tapi jika anda tidak melakukan apa yang saya katakan tadi, jangan salahkan saya jika bertindak nekat! Ingat baik-baik itu!" ujar Erland penuh dengan penekanan. Lalu setelahnya ia pergi menyusul Maura.
Sedangkan Radit, laki-laki itu menatap punggung Erland yang semakin menjauh dari dirinya. Ia hanya bisa menghela nafas dengan menggelengkan kepalanya.
"Mas," panggil penjual yang berada di belakang Radit.
Radit otomatis memutar tubuhnya sehingga ia berhadapan langsung dengan penjual tersebut.
"Ya mbak? Kenapa ya? Ahhh ya saya mau minta maaf atas keributan kecil yang tadi sempat terjadi disini. Maaf ya mbak," ujar Radit. Walaupun sebenarnya bukan salah dia sepenuhnya, tapi tetap saja Radit merasa tidak enak dengan penjual yang stand makanannya dijadikan tempat keributan tadi.
"Ehh tidak apa-apa mas. Mas tidak perlu meminta maaf ke saya. Saya benar-benar tidak apa-apa, hanya sedikit takut saja dengan tatapan masnya yang satu tadi. Tapi beneran sekarang saja sudah tidak apa-apa. Hanya sedikit bingung sih." Radit mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Bingung? Bingung kenapa mbak?" Perempuan yang sepertinya lebih muda darinya itu menggaruk tengkuknya yang ia yakini itu tidak gatal sebelum tangan kanannya yang membawa satu kantong plastik, ia angkat hingga Radit yang tadinya tidak menyadari jika perempuan dihadapannya itu membawa kantong plastik ia jadi tau sekarang.
"Saya bingung mas, burger yang mbaknya tadi pesan siapa yang akan bayar? Masak saya makan sendiri kan saya nanti akan rugi kalau begitu caranya," ucap perempuan tersebut dan tanpa sadar ia mengerucutkan bibirnya.
Radit yang melihat itu pun ia terkekeh sampai dua lesung pipinya terlihat. Tentunya hal itu membuat siapa saja terpesona akan ketampanan salah satu makhluk Allah itu. Tak terkecuali dengan pedagang tadi, ia sampai melongo melihatnya.
Sedangkan Radit, laki-laki itu langsung mengambil dompet yang berada di saku celananya kemudian mengeluarkan uang satu lembar senilai 100 ribu itu, kemudian ia menyodorkan uang tersebut kearah perempuan yang masih melongo itu.
Radit mengerutkan keningnya, "Mbak, Heyyyy mbak!" Radit melambai-lambaikan tangannya di depan wajah perempuan tersebut sampai akhirnya perempuan itu mengerjabkan matanya.
"Ahhh ya mas, ada apa?" tanya perempuan itu sedikit gelagapan.
Radit menggelengkan kepalanya, "Saya mau gantiin pesanan dari teman saya tadi mbak. Dan ini uangnya."
"Ah eh ohhh, oke mas. Ini makanannya. Tapi tunggu sebentar, saya ambilkan uang kembaliannya." Saat perempuan itu ingin melangkahkan kakinya menuju ke dalam stand makanan lagi, ucapan Radit menghentikan niatannya.
"Tidak perlu mbak. Kembaliannya buat mbak saja. Kalau begitu saya permisi. Mari," ucap Radit dengan sopan tak lupa ia memberikan senyumannya sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju dari stand makanan itu.
Sedangkan si penjual tadi, ia terus menatap kepergian Radit sembari berucap, "Udah tampan, dermawan lagi. Duh emakk mau suami kayak dia!"
__ADS_1