
Maura terus menundukkan kepalanya dengan sesekali melirik kearah Erland. Laki-laki yang menyandang status sebagai suaminya itu terus diam, tak membuka suaranya sejak ia masuk kedalam mobil hingga mereka hampir sampai di kediaman orangtua Maura. Maura yang tak ingin memancing amarah Erland lebih dalam, ia juga turut menutup bibirnya rapat-rapat tanpa berniat bertanya penyebab Erland semarah ini dengan dirinya. Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pelantaran rumah keluarga Maura.
Tak seperti biasanya, Erland tak membukakan pintu untuk Maura, ia langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mertuanya itu meninggalkan Maura yang saat ini tengah mengigit bibir bawahnya dengan tatapan terus tertuju kearah Erland.
Helaan nafas saat ini keluar dari bibir Maura, "Salah apa lagi aku ini? Perasaan aku tidak berbuat salah deh. Apa mungkin gara-gara aku banyak jajan tadi? Hmmm kayaknya sih gak mungkin. Apa alasan lainnya gara-gara aku bertemu dengan Radit tadi? Pasalnya saat dia menghampiri aku dan Radit, wajah dia udah gak enak dipandang. Dia tadi juga sempat melotot saat aku ingin berkata sampai berjumpa lagi sama Radit. Sepertinya memang gara-gara itu deh, huh."
Maura memang tadi tidak peka kenapa Erland tiba-tiba marah dengannya. Tapi setelah ia pikir-pikir dan menelisik lebih dalam lagi dari kemarahan Erland tadi, ia sekarang bisa menegaskan jika alasan Erland marah karena dia cemburu dengan Radit.
Maura bergegas keluar dari dalam mobil tersebut, melangkahkan kakinya dengan lebar menyusul kepergian Erland. Ia tau suaminya itu saat ini tengah berada di kamar mereka, jadi tanpa harus bingung-bingun ia harus mencari kemana Erland berada, ia langsung saja menuju ke kamar.
Dan benar, seperti dugaannya tadi saat ia membuka pintu kamarnya ia bisa melihat laki-laki kesayangannya itu tengah duduk di balkon kamar. Terlihat jelas tubuh Erland dari sekat dinding kaca yang membatasi ruang kamar tidur dan balkon tersebut sehingga Maura bisa melihat keberadaan Erland dengan jelas dari kejauhan.
Maura menutup kembali pintu kamarnya, sebelum perlahan ia mendekati Erland. Bagaimana pun caranya, ia harus menyelesaikan masalah mereka malam ini juga.
Muara kini duduk disamping Erland, ia tau jika suaminya itu menyadari keberadaan dirinya tapi mungkin Erland yang masih marah dengannya, laki-laki itu sama sekali tak melirik kearahnya sedetikpun.
Cukup lama sepasang suami istri itu terdiam dalam keheningan sampai akhirnya Maura angkat suara terlebih dahulu.
"Sayang," panggil Maura dengan tangannya yang terulur, mengelus lengan Erland.
Namun sayangnya panggilannya itu tak di respon sedikitpun oleh Erland.
__ADS_1
"Sayang lagi marah sama aku ya?" tanya Maura. Tapi lagi-lagi tak ada balasan dari Erland yang membuat Maura menghela nafas panjang. Ia berharap semoga tuhan memberikan kesabaran yang lebih untuk menghadapi Erland yang lagi mode ngambek ini.
"Sayang kalau lagi marah sama aku, tolong kasih tau alasan kamu marah dan kesalahan yang sudah aku perbuat sama kamu. Jangan diam seperti ini karena kalau kamu diam terus, aku tidak akan pernah tau kesalahan aku dimana dan berakhir aku tidak akan memperbaiki sikapku. Dan bukannya kamu dulu pernah bilang kalau kita ada masalah harus segera diselesaikan dengan kepala dingin bukan malah saling mendiamkan? Kamu juga pernah bilang kalau kita harus saling terbuka satu sama lain. Jadi ayo katakan apa yang membuat kamu marah dan apa kesalahan yang sudah aku perbuat," ujar Maura panjang lebar dengan suara yang sangat lembut, benar-benar beda dengan Maura yang dulu.
Satu detik, dua detik hingga 5 menit tak ada balasan dari Erland kembali yang membuat Maura hampir frustasi.
"Ba---" belum juga Maura menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba suara Erland memotong perkataannya.
"Siapa laki-laki tadi?" tanya Erland tanpa menatap sedikitpun kearah Maura. Walaupun begitu, Maura tersenyum karena Erland sudah mau bicara dengan dirinya.
"Kalau kamu mau tau siapa dia, lihat aku dong," ujar Maura sedikit merayu.
"Jangan membuang waktu. Cepat katakan siapa laki-laki tadi?" ucap Erland penuh penekanan.
Erland memejamkan matanya sesaat dengan kepalanya di kedua tangannya yang semakin mengerat. Ia berusaha untuk tidak lepas kontrol dan berakhir menyakiti Maura entah secara fisik maupun dari perkataannya. Jadi untuk sementara ia mengepalkan tangannya dengan kencang, sampai-sampai beberapa kukunya melukai telapak tangannya sendiri dan darah segar pun keluar dari luka yang ia buat sendiri. Tapi Erland tidak peduli dengan luka-luka tersebut karena yang lebih ia utamakan saat ini adalah emisinya sendiri yang harus segara ia turunkan.
Beberapa saat setelahnya helaan nafas panjang terdengar dan tak lama di susul dengan suara Erland yang terdengar parau, "Katakan siapa laki-laki tadi? Siapa laki-laki tadi yang bersamamu? Siapa laki-laki yang tadi kamu tatap? Siapa Maura siapa?"
Maura yang merasakan pergerakan dari Erland yang ia yakini jika suaminya itu telah menghadap kearahnya pun ia diam-diam tersenyum sangat tipis. Lalu kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Erland, dan bertepatan saat ia menatap wajah Erland, senyum yang tadi sempat tercetak di bibirnya luntur seketika kala melihat mata Erland yang sudah mengeluarkan air mata.
"Lho ehhh kok nangis?" tanya Maura gelagapan sendiri, tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menghentikan Erland yang tengah menangis secara tiba-tiba seperti ini.
__ADS_1
"Hiks siapa? Siapa hiks laki-laki tadi?" Air mata Erland semakin deras membasahi pipinya.
Maura yang sudah tak bisa berpikir lagi, ia langsung membawa tubuh Erland kedalam pelukannya, memberikan elusan di kepala serta punggung suaminya itu.
"Oke, aku akan menjelaskan siapa laki-laki yang bersamaku tadi. Mungkin kamu sudah tau nama dia karena aku tadi sempat menyebut dia dengan namanya. Laki-laki tadi adalah Radit, teman satu organisasiku dulu saat kita berdua masih duduk di bangku SMA. Kita yang berada di satu organisasi yaitu OSIS dan dia menjabat sebagai ketuanya sedangkan aku waktu itu menjabat sebagai sekretaris, alhasil kita saling bertemu dan jadilah kita akrab satu sama lain," jelas Maura yang sedikit membuat Erland tenang.
Laki-laki itu kini melepaskan pelukan dari Maura tadi, ia menatap wajah istrinya itu.
"Hanya sekedar begitu saja? Tidak lebih? Kalian tidak pernah pacaran kan sebelumnya?" pertanyaan berturut-turut itu membuat Maura yang dari tadi sibuk menghapus air mata Erland, kegiatannya itu terhenti dan dengan menjauhkan tangannya dari wajah Erland sembari memperlihatkan cengiran kudanya, Maura menjawab, "Kita memang tidak pernah berpacaran, tapi dulu aku sempat suka sama dia."
Bibir Erland kembali mengerucut, matanya pun sudah kembali berkaca-kaca.
"Kenapa kamu sempat suka sama dia sih?"
Maura menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Karena dia tampan, pintar, tegas, cool, ke---"
"Stop! aku gak mau dengar lagi! Kamu jahat Ra, muji cowok lain di depanku, suamimu sendiri," ujar Erland sebelum dirinya beranjak dari tempat duduknya untuk masuk kedalam kamar mereka, meninggalkan Maura yang melongo melihat kepergian Erland.
"Bukannya dia tadi yang tanya alasan aku suka sama Radit dulu? Tapi kenapa saat aku mengatakan alasannya dia malah ngatain aku jahat. Jahatnya dari mana coba?" gumam Maura.
__ADS_1
"Haishhhh dahlah gak tau, pusing," sambung Maura dengan mengacak rambutnya. Ia cukup frustasi menghadapai Erland yang tengah cemburu seperti ini.