PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 126


__ADS_3

Semua karyawan yang melihat kehadiran Erland di perusahaan menunduk, memberikan hormat kepada atasan mereka yang di balas dengan anggukan singkat oleh Erland. Semua karyawan sudah tidak terkejut lagi dengan penampilan CEO mereka yang terkesan sangat santai saat baru sampai di kantor, tak seperti beberapa bulan yang lalu saat Erland pertama kali berpenampilan tidak seperti biasanya, mereka menatap aneh laki-laki itu. Namun tak ada satupun dari mereka semua yang bertanya kenapa Erland berpenampilan tidak formal sama sekali. Mereka membiarkan saja toh perusahaan itu milik Erland jadi dia mau melakukan apapun bebas saja. Mereka juga tidak terganggu, malah senang karena saat Erland berpenampilan santai maka tingkat ketampanannya semakin menjadi, lumayan buat cuci mata untuk karyawati disana.


Erland telah sampai di lantai dimana dilantai itu ruangannya berada. Dan baru saja ia ingin membuka pintu ruangannya, suara Afif menghentikan niatannya tersebut.


"Bos!" Erland menolehkan kepalanya kearah Afif dengan salah satu alis yang terangkat saat Afif sudah berada di hadapannya.


Sekertarisnya itu tampak mengontrol nafasnya yang ngos-ngosan karena berlarian dari ruang meeting mendekati sang bos.


"Kenapa? Apa dia sudah datang?" tanya Erland.


Afif menatap wajah Erland dengan menganggukkan kepalanya.


"Sudah, malah sejak jam setengah 7 dan dia sekarang tengah marah ke bos karena menurut dia bos sudah telat dari waktu pertemuan," jelas Afif dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya bukan hanya Erland yang tengah di marahi oleh kliennya itu melainkan Afif juga. Bahkan sepertinya jika di bandingkan, Afif lebih parah terkena omelan dari klien tersebut.


Erland tampak menghela nafas panjang.


"Dia yang terlalu awal sampainya. Di jadwal yang sudah kamu berikan kepada saya kemarin, jika pertemuan ini akan di lakukan di jam 7 pagi. Jadi untuk apa dia marah? Bukannya kita tidak memiliki salah apapun ke dia. Dan katakan ke dia, jika masih mau marah-marah lebih baik keluar saja dari perusahaan saya dan pertemuan akan di undur. Satu lagi, jika dia masih kekeuh untuk melakukan pertemuan hari ini juga, suruh menunggu 10 menit lagi. Jika tidak mau, seret dia untuk pergi," ujar Erland seakan-akan tak ada beban sama sekali saat mengatakan hal tersebut. Ia seakan menganggap kliennya saat ini seorang musuh yang tidak perlu ia hormati. Toh yang mengharapkan kerjasamanya dulu adalah kliennya itu bukan dia. Dan dia tidak akan rugi jika kehilangan kliennya yang satu itu. Bahkan ia sangat berharap kliennya itu memang benar-benar pergi saja dan tak muncul lagi di hadapannya.

__ADS_1


"Tapi--- eh eh eh, bos!" teriak Afif kala melihat Erland justru langsung masuk kedalam ruangannya tanpa menunggu persetujuan dari Afif.


"Bos! Ini gimana! Bos!"


Tok tok tok!


Afif mencoba mengetuk pintu ruangan sang bos yang sudah terkunci itu. Ia paham jika bosnya itu sangat muak dengan klien yang akan mereka hadapi saat ini tapi masak iya ia harus mengusir kliennya itu, sungguh tidak sopan sekali.


Afif yang tak mendengar suara dari Erland yang menimpali ucapannya, ia mengacak rambutnya frustasi.


"Gila kali kalau aku harus melakukan pengusiran itu yang ada aku nanti langsung di depak dari perusahaan ini. Lagian aku dengar-dengar klien satu ini sudah melakukan kerjasama dengan perusahaan ini saat ayah bos Erland masih mengendalikan perusahaan ini. Haishhhh kalau begitu aku harus bagaimana?" gumam Afif.


Dimana saat ia baru saja masuk, ia langsung ditatap tajam oleh seorang perempuan yang tengah duduk dengan angkuhnya di salah satu kursi meeting.


"Dimana Erland?!" tanya perempuan itu yang membuat Afif menghela nafas panjang tapi tak urung ia menjawab pertanyaan dari perempuan tersebut.


"Harap tunggu 10 menit lagi. Pak Erland sedang bersiap diri," ujar Afif.

__ADS_1


"Apa? Tunggu 10 menit lagi. Yang benar saja! Saya sudah menunggu selama 30 menit lamanya disini! Kalian ini benar-benar menganggap remeh klien kalian!" bentak perempuan tersebut dengan sangat lantang bahkan saking murkanya ia sempat menggebrak meja di hadapannya hingga membuat Afif dan satu perempuan lainnya terperanjat kaget.


Lagi-lagi Afif menghela nafas panjang dengan tangan yang mengusap dadanya sebelum ia kembali angkat suara, "Jika anda tidak berkenan untuk menunggu, silahkan keluar dari ruangan ini sekaligus perusahaan ini."


Ucapan dari Afif semakin membuat perempuan tersebut semakin tersulut emosi. Hingga dengan langkah lebar, ia mendekati Afif yang sedari tadi masih berada di depan pintu.


Dan saat ia sudah berhadapan langsung dengan sekertaris Erland, ia menunjuk wajah Afif sembari berkata, "Ada hak apa kamu mengusir saya dari sini! Apa perlu saya ingatkan status kamu di perusahaan ini apa?! Kamu hanya seorang sekretaris! SEKERTARIS! bukan CEO jadi kamu tidak berhak untuk mengusir saya! Dasar rendahan!"


Afif mengepalkan tangannya menahan gejolak emosi yang sudah di ubun-ubunnya siap untuk meluap keluar. Tapi ia memilih untuk menahan emosinya itu. Tak ingin nama perusahaan ini tercoreng hanya karena ulahnya. Toh tanpa perempuan itu ingatkan tentang status dia, Afif juga sudah sadar diri. Tapi kan ia hanya disuruh oleh Erland agar mengusir perempuan itu jika masih marah-marah tak jelas. Jadi dia tidak salah bukan?


"Saya paham akan kedudukan saya di perusahaan ini. Tapi bukankan didalam perjanjian pertemuan kita kemarin anda mengajukan pukul 7. Jadi jika CEO saya telat bukan salah beliau tapi salah anda sendiri yang datang jauh lebih dulu dari jam pertemuan yang sudah disepakati. Dan saya bisa mengatakan perkataan saya tadi karena atas perintah atasan saya alias atas perintah Pak Erland. Jika anda masih ingin mencari keributan di perusahaan ini, silahkan untuk pergi," ujar Afif dengan suara tenang walaupun hatinya sudah bergemuruh ingin menampol bibir bergincu merah itu.


Perempuan itu mendelik tak terima.


"Kamu---"


Saat perempuan itu akan marah lagi dengan perlakuan Afif kepadanya, pintu ruang meeting terbuka yang membuat ketiga orang yang berada di dalam ruangan tersebut mengalihkan pandangannya kearah pintu berada. Dimana di balik pintu itu memperlihatkan Erland yang sudah berganti pakaian dengan pakaian formalnya disana.

__ADS_1


Dengan wajah tegas nan berwibawa, Erland masuk kedalam ruang meeting itu dengan melewati tepat di tengah-tengah antara tubuh Afif dan kliennya yang saling berhadapan tadi. Dan tanpa mengatakan sepatah katapun bahkan memberikan sapaan ke kliennya, ia melangkahkan kakinya menuju ke kursi meeting yang selalu ia duduki.


Sedangkan perempuan tersebut yang melihat Erland sudah duduk, ia memberikan tatapan tajam kepada Afif sebelum dirinya bergegas mendekati Erland dengan berjalan melenggak-lenggok yang membuat Afif maupun Erland muak melihatnya.


__ADS_2