
Maura mengigit bibir bawahnya selama rekaman video itu terus terputar sampai akhirnya selesai.
"Gimana? Kamu percaya kan sekarang. Siapa orang yang sudah masuk kedalam kamar ini sendiri tanpa di undang dan tanpa paksaan?" ucap Erland yang membuat Maura mencebikkan bibirnya lalu ia menyerahkan ponsel milik Erland tadi kepada laki-laki tersebut.
"Ck, ya kan aku gak sadar ngelakuin hal itu," ucap Maura. Sebenarnya ia sangat malu setelah melihat rekaman CCTV itu, tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa malunya itu.
"Tanpa kamu kasih tau, aku juga udah tau makanya aku tadi malam kekeuh buat balikin kamu ke kamar pribadimu karena aku sudah menebak pasti kamu akan menuduhku yang macam-macam seperti tadi. Tapi karena kamu kayak anak kecil yang dikit-dikit teriak, dikit-dikit nangis dan selalu ngintilin aku, benar-benar membuatku lelah. Dan mau sampai kapan kamu duduk diatas tubuhku? Kamu pikir tubuhmu itu tidak berat apa?" ujar Erland yang sudah merasa begah saat Maura tak kunjung turun dari atas perutnya.
Maura yang baru sadar pun ia menatap kearah bawah dan benar saja posisi dirinya masih diatas perut Erland. Dengan cepat Maura menjauh dari badan laki-laki itu menjadi duduk di atas ranjang tepat di samping Erland yang kini mendudukkan tubuhnya.
"Ya maaf aku gak sadar tadi. Lagian kenapa tidak dari tadi saja sih kamu ngingetin aku," ucap Maura.
"Kamu yang salah tapi kenapa kamu malah nyalahin aku? Bukannya mengakui," ujar Erland tak terima. Dia tadi sudah terkena tuduhan yang tidak-tidak oleh istrinya itu dan sekarang ia yang malah disalahkan. Dasar, wanita, batin Erland.
"Kan tadi aku sudah minta maaf yang artinya aku sudah mengakui kesalahanku. Tapi kamu kan juga salah karena telat mengingatkanku," tutur Maura yang masih saja tak mau kalah. Dimana hal tersebut membuat Erland kini menghela nafas, mungkin ia akan terus mengalah dengan manusia yang disebut wanita.
"Bodoamat lah, Ra. Capek lama-lama berdebat sama kamu. Tidak akan ada habisnya. Dan sesuai dengan perjanjian kita tadi. Jika kamu salah menuduhku maka aku berhak memberikan hukuman untukmu," ujar Erland.
Maura tampak menelan salivanya dengan susah payah. Mau menghindari hukuman yang akan di berikan Erland tampaknya akan percuma saja pasalnya laki-laki itu pasti akan tetap memastikan jika hukuman yang telah diberikan olehnya tetap Maura lakukan. Bahkan mungkin jika dia menghindar, kemungkinan paling besar Erland akan menambah hukuman yang sebelumnya laki-laki itu berikan.
__ADS_1
Maura berdehem sesaat sebelum dirinya kini bersuara.
"Apa? Hukuman apa yang akan kamu berikan kepadaku?" tanya Maura yang seakan-akan siap untuk menerima hukuman dari Erland tadi padahal sebenarnya ia tengah was-was dengan detak jantung yang terpacu sangat kencang. Takut hukuman yang Erland akan berikan itu memberatkan dan merugikan dirinya. Contohnya dengan Erland yang meminta agar dia memberikan tubuhnya, mahkotanya kepada laki-laki itu saat ini juga.
"Kamu yakin siap untuk menerima hukuman yang akan aku berikan ini?" tanya Erland dengan senyuman miring di bibirnya.
"Tentu saja. Memangnya apa yang harus aku takutkan. Toh aku yakin aku bisa melewati hukuman yang akan kamu berikan ini. Jadi cepatlah beritahu aku sekarang juga."
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk mendengar hukuman yang akan aku berikan ini. Baiklah kalau begitu dengar baik-baik ya." Maura memasang telinganya baik-baik, siap untuk mendengar perkataan Erland selanjutnya.
"Hukuman yang harus kamu jalankan adalah hormati aku layaknya suamimu dan belajarlah untuk mengurus rumah tangga. Perlahan tidak masalah tapi setidaknya kamu mau belajar. Dan hukuman yang akan aku berikan ini berlaku selamanya," ujar Erland yang membuat mata Maura terbuka lebar sembari berteriak, "APA?!"
"Tidak. Aku tidak mau. Hukuman macam apa itu? Mana selamanya lagi. Kalau begitu bukan hukuman namanya. Sialan!" umpat Maura tak terima.
"Tidak akan. Aku tidak setuju dengan dua hukumanmu itu. Aku juga tidak mau menjalankannya," tutur Maura yang masih berusaha untuk menolak hukuman yang sangat berat untuk ia lakukan.
"Ohhhh sepertinya dua hukuman itu belum membuatmu puas. Kalau begitu aku akan menambah hukumanmu." Maura membelalakkan matanya.
"Kamu apa-apaan sih. Gak ya. Gak ada tambah-tambah lagi."
__ADS_1
"Lah bukannya kamu tadi protes karena hukuman yang aku berikan tidak memuaskan untukmu," ucap Erland.
"Bodoamat Er bodoamat. Anjir emang ya kamu," kesal Maura. Erland yang melihat wajah Maura tengah menahan kekesalan itu ia justru tersenyum. Ada kepuasan tersendiri di diri Erland kala dirinya berhasil membuat Maura kesal seperti saat ini.
"Jadi gimana? Kamu mau menerima dua hukuman yang sudah aku berikan tadi atau aku tambah hukumannya," ucap Erland yang membuat kedua tangan Maura terkepal erat. Tapi tak urung Maura memilih salah satu dari dua pilihan yang telah Erland berikan itu.
"Oke fine. Aku pilih dua hukuman saja. Tidak ada tambahan lagi, sudah cukup!" ujar Maura yang diangguki oleh Erland sebelum tangannya kini bergerak untuk kembali menepuk-nepuk kepala Maura sembari berkata, "Good girl."
"Jangan pegang-pegangan," ucap Maura dengan menyingkirkan tangan Erland. Sedangkan Erland, ia hanya menggedikkan bahunya sebelum ia kembali angkat suara.
"Hukuman yang aku berikan tadi berlaku mulai hari ini dan aku akan mengawasimu." Untuk yang kesekian kalinya Maura melongo tak percaya.
"Sekarang?" beo Maura yang diangguki oleh Erland.
"Kenapa harus se---"
"Tidak ada kata protes karena hukuman itu aku yang mengendalikan semuanya. Jadi kamu tidak berhak untuk protes meminta waktu dimulainya hukuman itu kapan," ucap Erland memutus ucapan dari Maura yang ingin protes karena dirinya belum siap untuk menjalankan hukumannya itu.
Ucapan Erland yang terdengar sangat tegas itu membuat Maura menghela nafasnya dengan kedua matanya terpejam untuk meredakan emosinya itu.
__ADS_1
"Oke-oke aku kalah. Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan hari ini," ujar Maura pada akhirnya.
"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi? Keluar dari kamarku sekarang juga dan bersiaplah karena aku akan memberikan kamu waktu 30 menit saja untuk membersihkan tubuhmu. Aku tunggu kedatanganmu di ruang tamu. Jika dalam waktu itu kamu belum juga selesai dengan segala ritual membersihkan dirimu maka saat itu juga dua hukuman tadi akan aku tambah menjadi tiga hukuman," ujar Erland yang membuat Maura kini mencebikkan bibirnya. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia turun dari atas ranjang milik Erland itu kemudian dengan menghentak-hentakkan kakinya tanda jika dirinya benar-benar kesal ia keluar dari dalam kamar suaminya itu diakhiri dengan ia menutup pintu kamar itu dengan sangat kencang, tak peduli jika Erland akan terkejut bahkan terkena serangan jantung sekalipun.