
"Papa," rengek Maura kala ia tak mendapat respon apapun dari laki-laki yang ia anggap sebagai Papa itu.
"Ahhhh iy---iya kenapa?" tanya Erland dengan gagap. Sudahlah lebih baik dirinya melakukan drama dengan berpura-pura menjadi Papa Maura.
"Papa kenapa tadi diam saja sih? Maura kan tadi tanya kenapa Papa geleng-geleng kepala, Papa tadi juga kenapa garuk-garuk kepala segala? Dan apa artinya mabuk? Maura tidak mengerti Papa," ucap Maura mengulang pertanyaannya tadi.
"Anu itu hmmmm kepala Pa---Papa gatal jadi Papa garuk," jawab Erland yang dibalas dengan kata Oh oleh Maura.
"Kalau arti mabuk apa?" tanya Maura kembali.
"Hmmm itu. Haishhh nanti aku jelaskan apa itu mabuk tapi ganti baju kamu dulu," ujar Erland. Karena terus terang saja dia lebih waspada dengan dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan napsunya jika harus terus menerus melihat tubuh polos Maura itu daripada harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari bibir Maura tadi.
Maura yang mendapat perintah dari Erland pun ia menganggukkan kepalanya kemudian ia melepaskan pelukannya tadi. Lalu setelahnya barulah ia berjalan menuju ke arah lemari pakaiannya. Ia menatap isi dari lemari tersebut sebelum dirinya kini berteriak, "Papa, Maura bingung mau pakai pakaian yang mana? Papa saja deh yang pilihin Maura baju dan Papa harus pakaikan ke Maura karena Maura belum bisa pakai baju sendiri!"
Erland yang sempat menghela nafas lega, dirinya dibuat terkejut kala mendengar permintaan dari istrinya itu.
"Papa!" rengek Maura.
"Anu itu pakai bajumu sendiri Maura. Biasakan mulai sekarang jangan manja, oke," ujar Erland tanpa menolehkan kepalanya kearah Maura sedikitpun, melirik pun tidak.
"Tidak mau. Aku maunya dipakaiin baju sama Papa!" ujar Maura.
"Berlatih lah untuk mandiri Maura."
"Tidak mau. Maura pokoknya mau di pakaiin baju sama Papa titik."
"Maura---"
__ADS_1
"Huwaaa Papa jahat Papa tidak sayang Maura lagi. Huwaaaaa!" teriak Maura dengan tangisannya bahkan posisi perempuan itu sekarang sudah duduk diatas lantai dengan kaki yang ia hentak-hentakkan.
Erland tampak memijit pangkal hidungnya. Ia tak mungkin kan kalau dirinya membiarkan Maura menangis terus seperti ini yang ada para tetangganya nanti akan mendemo rumahnya. Hingga akhirnya mau tak mau Erland harus mengalah. Ia kini memutar tubuhnya dimana lagi-lagi matanya harus ternodai dengan tubuh polos Maura. Tapi tak urung Erland berjalan menuju ke arah lemari yang ada dihadapan Maura saat ini sembari berkata, "Sudah, hentikan tangisanmu itu. Aku akan memakaikan baju untukmu. Dan segera lah berdiri lagi."
Maura yang mendengar perkataan dari Erland pun ia menghentikan aksi menangisnya tadi dengan mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Dan dengan tersenyum lebar ia kini berdiri dari posisi duduknya.
Sedangkan Erland, ia yang sudah mengambil sepasang baju tidur Maura pun ia memutar tubuhnya dan tanpa banyak suara, ia mendekati Maura. Kemudian tangannya kini memulai memakaikan baju Maura sebisa mungkin ia percepat karena wajahnya sudah benar-benar panas jika terus menerus harus melihat tubuh Maura itu.
Erland kini menghela nafas lega saat sepasang baju tidur tadi sudah terpasang di tubuh istrinya.
"Didalam kamar ini ac-nya dipasang berapa Celcius sih? Panas banget," gumam Erland.
Saat dirinya ingin beranjak dari depan Maura menuju ke salah satu nakas di samping ranjang untuk mengambil remote ac, tubuhnya lebih dulu di peluk oleh Maura yang membuat dirinya terpaksa harus menghentikan niatannya tadi.
"Kenapa lagi?" tanya Erland yang sudah tak tahan dengan suhu di tubuhnya itu.
"Oke-oke baiklah. Aku akan mengeringkan rambutmu," turut Erland yang otomatis membuat Maura kini melepaskan pelukannya dan dengan berlari kecil ia menuju ke arah meja riasnya. Diikuti Erland dibelakangnya.
"Ini Pa." Maura menyerahkan hairdryer kearah Erland yang langsung diterima oleh laki-laki tersebut.
Erland kini mulai mengeringkan rambut Maura yang sepertinya perempuan tersebut tengah menikmati kegiatan itu terlihat dengan dia yang memejamkan matanya sembari tersenyum sangat lebar. Dimana senyuman itu membuat Erland ikut menaikan sudut bibirnya.
"Kamu cantik kalau tidak banyak tingkah dan tidak menyebalkan, Ra," gumam Erland yang sayangnya masih bisa di dengar oleh Maura. Hingga membuat perempuan tersebut mendongakkan kepalanya sampai tatapan matanya bertemu dengan mata Erland yang juga tengah menatapnya. Cukup lama mereka saling pandang sebelum Maura memutus tatapan mereka lalu ia kembali menatap lurus kedepan dengan mempertahankan bibirnya yang tersenyum.
Dimana hal tersebut membuat Erland berdehem sesaat sebelum ia kembali melanjutkan kegiatannya tadi sampai akhirnya rambut Maura sudah tidak basah lagi.
"Selesai," ucap Erland.
__ADS_1
"Terimakasih Papa," balas Maura yang dibalas dengan deheman saja oleh Erland.
"Rambut kamu sudah tidak basah lagi jadi sekarang lebih baik kamu tidur. Sekarang sudah pukul setengah 11 malam, tidak baik anak perempuan tidur selarut ini," ujar Erland persis seperti seorang ayah yang tengah menasehati anaknya.
"Maura mau tidur tapi tidur sama Papa."
Uhukk!
Erland tersedak ludahnya sendiri kala mendengar permintaan dari Maura tadi.
"Ehhhh Papa kenapa?" Maura menepuk-nepuk pelan punggung Erland.
"Sudah cukup hentikan." Maura menurut saja dengan perintah Erland tadi. Namun terlihat jelas tatapan perempuan itu yang sepertinya tengah khawatir dengan keadaan Erland.
"Papa baik-baik saja kan?" tanyanya untuk memastikan.
"Ya, aku baik-baik saja. Sudahlah kamu tidur sana. Tidur sendiri saja oke." Maura yang tadi sempat memperlihatkan tatapan kekhawatiran kini tatapan itu berubah menjadi berkaca-kaca siap untuk menangis lagi. Dimana hal tersebut membuat Erland kini menghela nafas panjang.
"Oke fine aku akan menemani kamu tidur." Seakan seperti sulap, mata berkaca-kaca itu kini berubah menjadi berbinar. Bahkan bibirnya yang tadi sempat melengkung kebawah kini sudah terangkat keatas lagi memperlihatkan senyumannya.
"Kalau begitu ayo kita tidur sekarang Pa." Maura menarik lengan Erland yang membuat Erland kini berjalan mengikuti Maura.
Cekalan yang Maura lakukan tadi kini ia lepaskan saat telah sampai di samping ranjang. Maura lebih dulu naik keatas dan dengan menarik selimut sampai menutupi kakinya, Maura kini mengalihkan pandangannya kearah Erland yang masih setia berdiri di samping ranjang tersebut.
"Papa kenapa berdiri disitu. Ayo naik sini, buruan. Maura sudah mengantuk, Papa," ujar Maura.
"Iya-iya tunggu sebentar," ucap Erland lalu setelahnya ia perlahan duduk diatas ranjang. Dan baru saja dirinya merebahkan tubuhnya, sebuah tangan dan kaki sudah melingkar indah di tubuhnya itu yang membuat Erland sempat terkejut tadi.
__ADS_1
"Papa, jika Maura nanti sudah besar Maura pengen banget punya suami kayak Papa yang selalu menyayangi Maura, selalu menemani Maura bermain dan Maura paling suka kalau Papa mengeringkan rambut Maura seperti tadi. Maura sayang Papa. I love you, Papa," ucap Maura diakhiri dengan ia mengecup pipi Erland yang berhasil membuat tubuh Erland membeku di tempat.