PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 33


__ADS_3

Erland terus mengawasi istirnya itu tanpa mengalihkan pandangannya kearah lain. Sedangkan Maura dan Meli yang tak menyadari jika ada seseorang yang tengah mengawasi pergerakan keduanya pun mereka masih saja asik berbincang-bincang.


"Kamu yakin gak bakal di marahin suami kamu Ra? Jujur saja walaupun aku tidak melihat wajah dan ekspresi dia tadi tapi kayaknya aku punya firasat kalau sebenarnya suami kamu itu tidak mengizinkan kamu untuk pergi ke tempat ini," ujar Meli. Ia benar-benar takut jika hubungan rumah tangga sahabatnya itu semakin tak ada kata harmonis lagi.


Maura mengambil gelas bir-nya itu lalu mencecapnya sedikit sebelum ia membalas ucapan dari Meli.


"Ck, sok tau banget sih kamu. Orang dia saja tidak tau kalau aku mau ketempat ini," ucap Maura yang membuat Meli kini mengerutkan keningnya.


"Lah kok gak tau sih Ra? Kamu gak bilang mau kemana sama dia gitu?" Maura menggelengkan kepalanya.


"Gak lah, untuk apa juga aku bilang sama dia. Tapi dia tadi sempat tanya mau kemana gitu."


"Terus kamu jawab apa?" tanya Meli penasaran dengan jawaban yang di berikan Maura untuk suami sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ya aku jawab bukan urusanmu gitu lah." Sumpah demi apapun jawaban Maura ini tak pernah terlintas dalam bayangan Meli. Ia pikir Maura akan memberi alasan kepada suaminya kalau dia akan ke suatu tempat. Tapi ternyata tebakannya itu tak sesuai dengan kenyataan.


"Keterlaluan banget sih kamu, Ra. Aku tau kamu menikah dengan dia tanpa rasa cinta sedikit bahkan aku yakin kamu sekarang tengah membenci dia. Tapi setidaknya hormati dia sedikit saja Ra. Jangan gini terus. Kalau kamu begini terus aku yakin dia akan muak dengan sikapmu. Sesabar-sabarnya suami kamu itu dia pasti ada batas kesabaran. Dan jika kesabaran dia sudah habis, aku yakin rumah tangga kalian tidak akan selamat. Dan setelah hal itu terjadi kamu pasti akan merasa kehilangan bahkan kamu akan menyesal. Jadi lebih baik kamu perbaiki hubungan kalian berdua deh. Ini hanya saranku saja jika kamu mau menerimanya syukur Alhamdulillah karena aku tidak mau melihat sahabatku menjanda tapi jika kamu tidak mau menerimanya ya sudah karena ini saranku yang terakhir akan aku sampaikan ke kamu. Nanti jika kamu mengeluh tentang rumah tanggamu, aku tidak akan memberikan saran apapun ke kamu karena terus terang saja aku sudah jengah dengan sikap kamu yang benar-benar egois seperti ini," saran Meli untuk yang kesekian kalinya. Ia saja sudah mengakui jika dirinya muak dengan sikap sahabatnya itu apalagi Erland?


Sedangkan Maura yang mendengar saran itu ia hanya merespon dengan memutar bola matanya malas sembari berkata, "Tidak akan ada kata penyesalan jika memang aku dan dia harus bercerai. Malah mungkin aku akan sujud syukur jika hal itu terjadi. Dan terimakasih atas saranmu itu karena aku tidak minat untuk melakukannya."


Setelah mengucapkan perkataannya tadi, Maura berdiri dari duduknya. Dan saat dirinya ingin beranjak dari samping Meli, lengannya dicekal oleh perempuan itu.


"Mau kemana?" tanyanya.


Meli yang melihat kepergian dari sang sahabat pun ia mendengus pelan. Tapi tak urung ia menyusul Maura. Ia tak mau terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu karena Maura sekarang sudah terpengaruh dengan minuman alkohol yang perempuan itu tadi minum terlihat dari jalannya yang sudah sempoyongan. Memang kadar bir yang dipesan oleh Maura hanya 4% saja tapi jika ia meminumnya berkali-kali pasti efek minuman itu tetap akan ia rasakan.


Erland yang sedari tadi melihat pergerakan kedua perempuan itu walaupun ia tak mendengar percakapan dari mereka tadi, lagi dan lagi tangannya terkepal erat saat melihat Maura sudah berjoget dibawah lampu disko dimana kedatangannya tadi langsung disambut oleh banyaknya laki-laki yang mengerubungi dirinya. Bahkan tak mengenal yang namanya risih, Maura menggoyangkan tubuhnya ke kanan-kiri dengan sesekali berjingkrak-jingkrak, senyum lebar pun turut menghiasi wajahnya. Tak hanya itu saja laki-laki yang mengerubungi tubuh Maura tak sekali dua kali mereka menyentuh pinggang perempuan tersebut. Walaupun terus saja Meli melepaskan tangan laki-laki yang menyentuh tubuh sahabatnya itu tetap saja mereka terus melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Sampai akhirnya ada salah satu laki-laki mendorong tubuh Meli setelah perempuan itu melepaskan tangannya dari pinggang Maura.


Meli yang sebenarnya sudah sedikit mabuk pun tubuhnya yang didorong tadi terjatuh diatas lantai hingga membuat dirinya meringis kesakitan dan beberapa orang yang tadi ikut menari menghentikan kegiatan mereka.


"Jangan menghalangi apa yang aku mau, bit*ch," ucap laki-laki tersebut menggelegar memenuhi club yang musik diskonya telah di matikan.


"Matamu bit*ch. Aku bukan wanita murahan seperti perempuan-perempuan yang bisanya kalian jamah. Dan perlu kamu tau orang yang kamu sentuh tadi adalah sahabatku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh dia!" ucap Meli yang tak kalah nyaring dari suara laki-laki itu bahkan ia kini sudah berdiri dari posisi jatuhnya tadi. Dan tanpa ada rasa takut sedikitpun, ia menatap tajam laki-laki yang tengah berhadapan dengannya.


"Kamu hanya sahabat dia yang tidak ada hak untuk melarang kita menyentuh dia. Dia saja tidak masalah kita sentuh. Kenapa kamu yang repot toh kamu juga tidak rugi jika dia kita sentuh bahkan kita rusak nantinya karena sejatinya sahabatmu itu sudah rusak diawal. Sama seperti katamu tadi jika kamu bukan wanita murahan seperti perempuan-perempuan disini yang artinya sahabatmu ini adalah wanita murahan yang tubuhnya selalu disentuh oleh laki-laki manapun," ujar laki-laki tersebut diakhiri dengan senyum miringnya.


Dimana perkara yang dilontarkan oleh laki-laki tersebut membuat tangan Meli terkepal erat. Ia tak terima jika sahabatnya dikatai wanita tidak benar seperti tadi. Dan karena dirinya sudah benar-benar emosi, tangan Meli mengayun, berniat untuk memberikan tamparan kepada laki-laki bermulut perempuan itu. Namun belum sempat telapak tangannya mendarat di pipi laki-laki tersebut, tiba-tiba saja ada sebuah bogeman yang lebih dulu mengenai pipi laki-laki itu hingga membuat dia tersungkur ke lantai dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.


Dan tanpa memberikan nafas kepada laki-laki itu, seseorang yang memberikan bogeman tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Erland kembali menerjang tubuh laki-laki itu. Memberikan pukulan bertubi-tubi sampai laki-laki tersebut sudah benar-benar tepar, barulah Erland tidak lagi melayangkan pukulannya.

__ADS_1


Namun sebelum dirinya beranjak dari atas tubuh laki-laki itu ia sempat berkata, "Jaga ucapanmu karena istri saya bukan wanita murahan seperti yang kamu katakan tadi. Dan jika saya mendengar kamu merendahkan istri saya lagi. Saya tidak akan segan-segan merobek mulutmu. Camkan itu," ujar Erland sembari menghempaskan cekalan di kerah laki-laki itu dengan kasar sebelum dirinya kini berdiri dan memutar tubuhnya hingga ia bisa melihat Maura yang menatapnya namun dengan tatapan seperti orang linglung. Maklum saja dia masih terpengaruh dengan minuman sialan itu.


__ADS_2