
Di sisi lain lebih tepatnya di sebuah rumah sakit, terdapat seorang perempuan tengah menangis sesenggukan meratapi nasib sang ibunda yang baru saja di jatuhi hukuman 20 tahun penjara. Ya, dia adalah Orla. Perempuan yang merupakan putri semata wayang Mama Rina dan Papa Jaya itu sedari dibukanya persidangan tadi sampai akhirnya sidang selesai tak pernah sedetikpun ia mengalihkan pandangannya dari televisi yang berada didalam kamar inapnya. Walaupun ibundanya itu memang telah melakukan kesalahan besar, tapi Orla yang selaku putrinya selalu berdoa yang terbaik untuk ibunya saat sidang tadi berlangsung. Seburuk-buruk Mama Rina, dia tetap akan menjadi ibu Orla walaupun sampai mati sekalipun. Maka dari itu saat putusan hakim tadi di layangkan, tangisan Orla langsung pecah dengan tubuh yang terasa lemas. Ia tak menyangka jika Mama Rina akan di hukum puluhan tahun, ia kira hukuman yang akan di terima sang ibunda di bawah 10 tahun, tapi ternyata praduganya itu salah besar yang sekarang membuat Orla menangis sejadi-jadinya.
Untuk Papa Jaya, laki-laki itu tadi memang sempat melihat berjalannya sidang tentunya dengan lewat televisi juga sama seperti Orla. Tapi setelah ia melihat Mama Rina yang sempat menyangkal ucapan dari Maura tadi, Papa Jaya langsung pergi dari dalam kamar inap Maura dengan alasan ia harus menyelesaikan tanggungjawabnya untuk menuntaskan masalahnya sendiri yang sampai saat ini belum juga berakhir. Dan masalah itu apa lagi jika tidak berkaitan dengan perusahaannya yang sudah gulung tikar. Orla yang mengerti pun ia hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Padahal kenyataannya Papa Jaya pergi bukan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri melainkan ia sudah cukup muak dengan istrinya dan di situlah tekat ia ingin menceraikan Mama Rina semakin mantap. Hari ini ia akan mengurus perceraian dirinya dan Mama Rina.
Kembali lagi dengan Orla yang masih terus meneteskan air matanya dengan menatap kearah foto yang berada di layar ponselnya.
"Ma, Mama kenapa lakuin hal keji seperti itu? Apa Mama kira melakukan hal itu langsung bisa membuat sepasang suami-istri bercerai? Tidak sama sekali Ma! Jika takdir mereka mengatakan harus bersama selamanya mau Mama melakukan seribu cara agar mereka berpisah, tidak akan pernah berhasil. Hubungan mereka justru akan semakin erat. Ma, Orla tau Mama melakukan percobaan pembunuhan ini demi Orla agar Orla bisa bersama Erland. Tapi Ma, jika Mama sebelumnya berdiskusi dengan Orla tentang rencana Mama ini, demi Allah Ma, Orla tidak akan pernah mengizinkan. Orla lebih baik melepas laki-laki yang Orla cintai daripada harus kehilangan Mama. Setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi Ma. Mama akan bercerai dengan Papa dan Orla akan di bawa Papa ke luar negeri. Orla yakin saat kita hiks sudah pindah ke negara lain, Papa tidak akan pernah mengizinkan Orla untuk menginjakkan kaki Orla di negara ini lagi yang artinya Orla tidak bisa bertemu lagi dengan Mama. Hiks!" Air mata itu semakin deras membasahi pipi Orla.
Dengan kasar Orla menghapus air matanya itu. Namun ia tak mengalihkan pandangannya dari foto sang Ibunda.
"Ma, Orla tidak pernah membenci Mama. Orla hanya kecewa dengan tindakan Mama. Orla sangat sayang sama Mama. Maafin Orla, Ma karena secara tidak langsung Orla lah penyebab Mama masuk kedalam penjara. Orla sangat sayang Mama. Maafin Orla," sambung Orla diakhiri dengan ia memberikan kecupan yang cukup lama di layar ponselnya dengan foto Mama Rina di sana.
Orla kini merasakan penyesalan yang cukup dalam. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri atas masuknya Mama Rina kedalam penjara. Andai saja dirinya tak mencintai Erland yang rasa cinta itu semakin lama tanpa ia sadari sudah menjadi sebuah obsesi semata yang membuat dirinya gelap mata, tak mempedulikan siapapun selain Erland pastinya Mamanya tak akan nekat melakukan hal keji seperti ini. Andai saja ia sadar jika saat ia masuk kedalam rumah sakit ini, Erland tidak akan pernah menemui dia karena Erland tidak pernah mencintainya dan sudah memiliki seorang istri, pasti ia tak akan bertanya kapan Erland akan menemuinya kepada Mama Rina sehingga tak membuat ibundanya itu merasa kasihan kepadanya dan mencoba menekan istri sah Erland. Andai saja Orla tau niat keji Mama Rina itu, mungkin Orla akan mencegahnya sehingga Mama Rina tidak akan terkena masalah dan berakhir di penjara. Dan andai saja waktu bisa di putar kembali, sumpah demi apapun Orla tidak ingin kenal dengan Erland agar ia tidak terobsesi dengan laki-laki itu dan pastinya semuanya akan baik-baik saja entah itu perusahaan sang ayah dan hubungan keluarganya, pasti akan baik-baik saja tidak seperti saat ini yang hancur karena ulahnya.
Orla terus berandai-andai karena waktu yang sudah berjalan tidak bisa ia putar ke belakang lagi. Nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan situasi seperti sebelumnya. Hanya ada penyesalan yang mengendap di hati Orla saat ini. Penyesalan yang tidak akan ada habisnya.
Saat Orla larut dalam tangis penyesalannya, pintu ruang inapnya dibuka oleh seseorang tanpa mengetuk terlebih dahulu yang membuat Orla dengan cepat menghapus air matanya dan ponselnya langsung ia taruh begitu saja di atas nakas.
Orla kini menegakkan kepalanya, menatap kehadiran seseorang yang semakin lama semakin mendekatinya. Ia pikir sang ayah yang datang tadi tapi ternyata seorang dokter yang sangat Orla kenali, yang tak lain dan tak bukan adalah Adam, Kakak pertama Erland.
"Bagaimana keadaan anda?" pertanyaan itu terdengar basa-basi tapi Orla tetap menjawab.
"Lebih baik daripada sebelumnya dok," jawab Orla dengan menundukkan kepalanya kembali. Ia tak kuasa melihat tatapan tajam dari Adam itu yang seakan-akan ingin menguliti dirinya hidup-hidup.
"Syukurlah kalau memang begitu," ucap Adam sebelum ia mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan, tampak tengah mencari seseorang.
"Dimana tuan Jaya?" tanya Adam yang otomatis membuat Orla menatap kearahnya.
"Pa---Papa sedang keluar ada hal yang perlu Papa selesaikan," ucap Orla dengan takut-takut.
Jawaban dari Orla tadi membuat Adam mengangguk-anggukkan kepalanya, sebelum tangannya yang sedari tadi berada di saku jas dokternya ia keluarkan bersamaan dengan ia mengeluarkan dua lembar kertas dari sana lalu ia serahkan kehadapan Orla.
Orla yang tak paham ia mengerutkan keningnya sembari menatap kearah kertas itu dan Adam secara bersamaan.
Adam yang mengerti kebingungan Orla pun ia berkata, "Cairkan cek ini untuk biaya hidup kalian di luar negeri. Memang tidak seberapa, tapi setidaknya bisa membantu kalian sebelum kalian mendapatkan pekerjaan disana. Kalian akan pindah ke Australia, right?"
Maura menganggukkan kepalanya.
"Daddy sudah menyiapkan sebuah rumah untuk kalian tinggali disana. Dan alamat rumahnya sudah tertera di kertas ini. Ambillah."
Ucapan Adam itu tentunya membuat Orla terkejut bukan main. Ia tak menyangka jika orang-orang yang telah ia ataupun keluarganya lukai entah dari segi hati ataupun fisik mereka, mereka masih baik kepadanya. Sumpah demi apapun, Orla semakin larut dalam penyesalan.
Saat Orla ingin membuka suara, Adam lebih dulu berucap, "Saya tidak menerima penolak!"
__ADS_1
Orla kembali menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tadi memang berniat untuk menolak pemberian dari keluarga Abhivandya itu. Tapi sayangnya, ucapan tegas dan terkesan dingin dari Adam tadi berhasil membuat Orla mau tidak mau mengambil dua kertas tadi dari tangan Adam.
"Te---terimakasih," ujar Orla namun tak ada balasan dari Adam walaupun hanya sekedar deheman saja.
Laki-laki itu justru berkata, "Jika sudah pindah, jangan pernah kembali lagi."
Ucapan Adam itu sekaligus menutup percakapan antara mereka berdua, pasalnya setelah mengatakan hal tersebut, ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam ruang inap Orla. Tentunya kepergian dari Adam tadi tak lepas dari pandangan Orla sampai pintu kamar inapnya tertutup kembali yang membuat dirinya menghela nafas panjang sebelum ia menatap kearah dua kertas yang ada di tangannya.
Sedangkan Adam, di perjalanannya menuju ke ruang kerjanya kembali, ia terus ngedumel tak ada hentinya tentunya dumelan itu berkaitan dengan Orla.
"Cih, tampang memelas dia benar-benar sangat memuakkan. Andai saja dia tidak ada di dunia ini pasti hidup adikku tidak akan terganggu karena dia. Huh, dasar hama. Untung saja Daddy orang yang baik sehingga dia mau memberikan uang dan rumah untuk mereka gunakan, kalau tidak sudah bisa aku pastikan menerka di luar negeri akan menjadi gelandangan!" Inilah salah satu dumelan dari Adam. Laki-laki itu benar-benar sangat tak suka dengan keluarga Jaya yang sudah mengusik kehidupan Erland sekaligus karena masalah yang mereka timbulkan pekerjaan Adam harus terbengkalai karena dia memilih untuk menyelesaikan masalah yang menimpa Erland terlebih dahulu daripada pekerjaannya yang berakhir ia akan terus lembur mungkin sampai satu minggu full. Dan tentunya karena hal itu Adam menyalahkan keluarga Jaya yang secara tidak langsung mengurangi waktu ia berkumpul dengan keluarga kecilnya.
...****************...
Dering ponsel Daddy Aiden terdengar yang membuat atensi empat orang yang tengah duduk di satu meja yang sama mengalihkan pandangannya kearah ponsel Daddy Aiden yang tergeletak diatas meja tersebut.
Terlihat nama Adam lah yang berada di layar ponsel tersebut.
Daddy Aiden meraih ponselnya kemudian ia berdiri dari duduknya.
"Sebentar ya. Kalian lanjutin makan kalian. Daddy angkat telepon dari Adam dulu," ujar Daddy Aiden sebelum pamit keluar dari dalam restoran yang tengah mereka kunjungi.
Dua dari tiga orang yang di tinggal Daddy Aiden menatap kepergian laki-laki paruh baya tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya. Dan dua orang itu tak lain dan tak bukan adalah Mommy Della dan Erland. Sedangkan Maura, perempuan yang tak mempermasalahkan Daddy Aiden pergi hanya untuk mengangkat telepon dari salah satu putranya itu ia kembali sibuk dengan makanan di depannya yang sangat menggugah selera.
"Tadi telepon dari bang Adam kan Mom?" tanya Erland yang diangguki oleh Mommy Della.
"Yang Mommy lihat tadi memang nama Adam," balas Mommy Della.
"Kalau memang telepon itu dari bang Adam, kenapa Daddy harus menjauh segala? Kan bisa telepon di sini. Lagian bang Adam bukan orang lain yang memiliki topik pembicaraan penting yang harus Daddy dan bang Adam sendiri yang tau. Palingan bang Adam cuma tanya kabar saja bukan?" ucap Erland menaruh curiga dengan Daddy-nya itu.
Mommy Della tampak terdiam sesaat sebelum ia menggedikkan bahunya.
"Mommy juga tidak tau alasan Daddy kamu menjauh dari kita hanya untuk mengangkat telepon dari Adam. Tapi mungkin apa yang kamu katakan tadi ada benarnya juga jika ada hal penting yang perlu Daddy dan Abang kamu bicarakan lewat telepon yang kita tidak diperbolehkan tau," ujar Mommy Della yang mulai menyuapkan makanannya kembali.
"Kalau begitu hal penting apa yang mereka bicarakan?" Sumpah demi apapun, Erland benar-benar penasaran dengan topik pembahasan Daddy Aiden dan Kakak pertamanya itu.
"Mommy saja tidak tau jadi percuma kamu tanya ke Mommy karena kamu tidak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu itu. Dan lebih baik kamu tanya sendiri saja sama Daddy kamu nanti," ucap Mommy Della yang membuat Erland terdiam namun tatapan matanya kini mengarah tepat di pintu masuk restoran tersebut.
Sebelum tiba-tiba otaknya berpikir negatif tentang ayahnya itu, "Mom."
Mommy Della berdehem untuk menjawab panggilan dari Erland tadi.
"Mommy tidak curiga dengan Daddy?" Mommy Della menatap kearah Erland dengan salah satu alisnya yang terangkat.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Mommy Della tak mengerti.
"Bukam maksud Erland buat menuduh Daddy ya Mom. Tapi tiba-tiba Erland berpikir kalau orang yang saat ini tengah menelpon Daddy itu seorang perempuan alias selingkuhan Daddy. Dan karena Daddy tidak mau ketahuan selingkuh maka Daddy menyimpan kontak nomor perempuan itu dengan nama bang Adam," tutur Erland yang membuat Mommy Della memutar bola matanya malas.
"Daddy kamu tidak akan berani selingkuh Er. Orang yang dia telepon memang Adam tadi bukan orang lain seperti yang ada di pikiran kamu itu. Lagian kalau Daddy kamu memang memiliki selingkuhan, tidak masalah juga buat Mommy," jawab Mommy Della dengan santai.
"Kok begitu Mom? Mommy udah gak sayang lagi sama Daddy?" Mommy Della berdecak.
"Orang yang selingkuh lah yang sudah tidak sayang lagi sama pasangannya. Bukan malah orang yang di selingkuhi yang tidak sayang ke dia. Mommy bicara begini bukan karena Mommy gak sayang lagi sama Daddy dan menormalisasi yang namanya selingkuh. Demi kura-kura bisa terbang, Mommy tidak suka atau lebih tepatnya benci dengan orang-orang yang berselingkuh," ucap Mommy Della.
"Kalau begitu kenapa Mommy tadi santai saja saat Erland memiliki pemikiran jika Daddy selingkuh?"
"Ya karena Mommy percaya jika Daddy kamu tidak akan melakukannya. Terlebih kalau memang ucapanmu itu benar, berarti Daddy kamu siap-siap kehilangan pusaka dia selamanya!" ucap Mommy Della dengan menusuk satu buah sosis dengan pisau makan.
Hal tersebut membuat Erland bergidik negeri. Ternyata jiwa pembunuh ibunya itu tidak hilang sama sekali. Erland benar-benar takut jika ucapan Mommy Della itu menjadi kenyataan. Daddy-nya akan di melakukan sunat lagi bahkan sampai di pangkas habis oleh Mommy Della. Membayangkan saja sudah membuatnya linu, apalagi dia merasakan. Amit-amit semoga istrinya itu tidak memiliki pemikiran yang sama dengan Mommy Della walaupun ia bersumpah tak pernah mengkhianati Maura.
Tapi tak pernah Erland sangka, Maura yang sedari tadi sibuk makan ternyata dia juga menyimak percakapan diantara mereka berdua tadi sehingga ia kini bertepuk tangan yang membuat Mommy Della dan Erland bahkan beberapa pengunjung restoran menatap kearahnya. Tapi Maura tak peduli dengan tatapan mereka, ia sekarang justru mengacungkan kedua jari jempolnya untuk Mommy Della dengan berusaha menelan makanan yang berada di dalam mulutnya itu. Dan saat makanan itu sudah berhasil ia telan, Maura berkata, "Maura setuju dengan Mommy. Maura juga akan hal yang sama jika Erland berani selingkuh di belakang ataupun di depan Maura. Maura akan menghabis burung dia dan Maura akan berikan burung itu ke anak anjing tetangga."
Erland yang mendengar penuturan dari Maura, matanya terbuka lebar dan secara refleks ia menangkupkan kedua tangannya tepat di pusakanya yang tentunya tertutup oleh celana yang tengah ia kenakan. Wajahnya pun sudah memerah menahan ngilu yang kembali menyenangnya.
"Sa---sayang kok kamu ngomong gitu sih? Dan kenapa kamu ikut-ikutan Mommy?" ucap Erland dengan takut.
Maura kini mengalihkan pandangannya kearah Erland namun ekspresi wajahnya seketika langsung berubah menjadi galak yang membuat Erland kesusahan menelan salivanya. Apalagi Maura saat ini tengah menunjuk dirinya menggunakan garpu yang tengah perempuan itu pegang.
"Kenapa memangnya? Tidak boleh? Laki-laki yang selingkuh itu memang harus di sunat sampai habis. Biar mereka tau rasa. Toh rasa sakit yang di timbulkan dari sunatan itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kita-kita ini kaum wanita rasakan! Dan siapa suruh punya burung baperan. Jadi jangan salahkan aku jika membunuh burungmu itu kalau kamu mendua!" ucap Maura tentunya suaranya itu bisa di dengar oleh orang lain yang mejanya tak jauh dari meja makan mereka. Dan ucapan dari Maura tadi langsung mendapatkan tepuk tangan dari perempuan-perempuan disana yang setuju dengan perkataan dari Maura tadi. Sedangkan para laki-laki, mereka dengan kompak menundukkan kepalanya tak lupa tangan mereka pun juga berada di posisi yang sama seperti yang dilakukan oleh Erland tadi. Seakan-akan nasib dari burung mereka sudah berada di ujung tanduk.
Maura yang mendapat tepuk tangan pun ia tadi sempat terkejut sebelum ia memberikan cengiran kudanya kepada orang-orang disekitarnya. Sedangkan Mommy Della saat ini sudah terkekeh melihat orang-orang disekitarnya yang tengah memperlihatkan ekspresi yang sama. Benar-benar sangat lucu dimata Mommy Della. Sebelum tatapan Mommy Della berpindah kearah Erland. Dan saat ia menatap kearah putranya itu, tawanya semakin meledak. Tangannya pun kini bergerak untuk memukul-mukul punggung Erland yang saat ini tengah menyandarkan wajahnya diatas meja makan disana.
"Hahaha, astaga Erland wajah kamu. Hahaha," ucap Mommy Della dengan satu tangannya yang lain memegangi perutnya yang kram akibat banyak tertawa.
Sedangkan Erland, ia menatap sekilas kearah sang ibunda sebelum tatapan matanya kembali lurus kesamping. Ia benar-benar lemas hanya mendengar ancaman dari istrinya tadi.
Maura yang sudah menatap kembali kearah suaminya itu, ia tak tega melihat ekspresi wajah Erland sehingga dengan lembut tangannya bergerak, mengelus rambut Erland.
"Kalau kamu tidak mau kehilangan burung kamu, jangan nakal ya. Jadi anak baik oke," ujar Maura dengan nada suara yang sangat lembut.
Erland menganggukkan kepalanya.
"Mau peluk tidak." Maura kini merentangkan kedua tangannya yang berhasil membuat Erland menegakkan tubuhnya kemudian ia menganggukkan kepalanya lagi.
"Kalau mau peluk deketan sini." Tanpa banyak bicara, Erland langsung menyeret kursi yang ia duduki tadi mendekat kearah Maura. Lalu setelah tidak ada jarak lagi diantara dirinya dan sang istri, ia langsung kedalam pelukan Maura. Ia tak peduli jika dirinya berpelukan di depan umum. Toh dia pelukan dengan istrinya sendiri bukan dengan orang lain apalagi istri orang lain.
Mommy Della yang tadinya tertawa ngakak, ia kini menghentikan tawanya itu dengan jari-jari tangannya menghapus air mata yang sedikit keluar di sudut matanya tentunya di sebabkan karena tawanya tadi. Tapi tak urung bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman sembari ia berkata, "Persis seperti Daddy-nya. Sama-sama takut istri."
__ADS_1